Kenapa Akses Internet Sebaiknya Dilarang di Ruang Kerja dan Perkantoran?

Ya, sebab diam-diam kegiatan mengakses internet ternyata telah “merampas” ribuan jam waktu produktif para karyawan di segenap penjuru dunia. Berapa jam waktu di kantor yang Anda habiskan untuk surfing beragam situs yang tak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan? Dan kini, ketika setiap orang sepertinya tengah tergelincir dalam Facebook euphoria, maka makin banyak waktu dan energi yang terbuang untuk kegiatan yang hanya membuang waktu belaka.

Tengoklah hasil survei berikut, yang di lakukan di Inggris. Workers who spend time on sites such as Facebook could be costing firms over £130 M (atau lebih dari Rp 2 trilyun!!) a day, a study has calculated. According to employment law firm Peninsula, 233 million hours are lost every month as a result of employees “wasting time” on social networking sites.

Temuan diatas sebenarnya bukan hal yang aneh. Coba mari kita berhitung. Katakanlah, Anda rata-rata melakukan browsing pada jam kantor selama dua jam per hari – klinang klinong di dunia maya yang ndak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kalaulah gaji Anda per bulan sebesar 5 juta rupiah, maka tanpa sadar Anda telah mengkorupsi “waktu produktif” dan “uang perusahaan” dimana Anda bekerja sebanyak Rp 250 ribu per bulannya (ini belum termasuk pemborosan bandwith internet yang Anda gunakan dengan gratis). Itu kalau cuman dua jam per hari. Kalau empat jam? Dan kalau semua karyawan melakukan hal yang sama?

Masih mending kalau klinang klinongnya bersangkutan dengan dunia keilmuan (ya, misalnya kegiatan membaca blog ini…..). Sialnya, mayoritas karyawan melakukan browsing sekedar untuk membaca detik.com, atau detikhot, atau melakukan chatting, youtubing dan facebooking……yang semuanya ndak punya hubungan langsung dengan pekerjaan. Yang lebih menggetirkan, banyak karyawan pada jam kantor melakukan browsing sekedar untuk melihat foto-foto mak nyus Rahma dan Sarah Azhari (nah bener kan, Anda langsung meng-klik foto-foto itu……gambarnya keren banget ya….hehehehe).

Atau ini yang lebih keren lagi : beberapa orang setiap hari hanya bekerja untuk kepentingan kantornya selama setengah hari; dan sesudah makan siang, suntuk di depan meja komputer – seolah-olah serius menuntaskan pekerjaannya. Padahal ia sibuk menjalankan bisnis online pribadinya, kasak-kusuk di dunia maya menjajakan jualannya secara online. Betapa “hebatnya” orang ini : pada jam produktif di kantor, dengan menggunakan fasilitas kantor, melakukan kegiatan bisnis secara online untuk kepentingan menambah penghasilan pribadinya. Wow that’s really creative, right? Wrong.

Sejumlah orang bilang, akses internet tetap harus dibuka supaya setiap karyawan bisa terus menambah wawasan dan pengetahuannya. Hmm, sounds good. Namun kalau memang mau belajar dengan serius, nyaman dan dengan perenungan yang mendalam, saya kira media buku dan perpustakaan adalah tempat yang jauh lebih baik. Dan rasanya dulu sebelum ada internet, wawasan kita tetap bisa berkembang dengan baik-baik saja……

Yang lain juga bilang, akses internet tetap diperlukan sebab supaya kita bisa terus mengikuti perkembangan iptek yang melaju dengan pesat. Ini jaman Web 2.0 bung, era informasi….. Wuih heroik benar, rasanya. Namun sebentar…. dulu pada tahun 1700-an sebelum ada internet, sebelum ada telpon, rasanya perkembangan ilmu dan pengetahuan juga tak kalah menggetarkan dibanding saat ini (di tahun itulah puluhan figur raksasa dalam bidang iptek muncul). Dan oh ya, Albert Einstein melahirkan karyanya yang fenomenal itu sebelum ada www.blahblahblah.com. Dan banyak sejarawan kita bilang, mutu intelegensia para pelajar pada era Belanda dulu lebih bagus dibanding saat sekarang (padahal saat itu murid SMP dan SMA-nya belum mengenal apa itu Friendster dan Facebook…….).

So what gitu lho? Ya, what-nya jelas sak jelas-jelasnya: Anda setiap hari masuk ke kantor dan dibayar oleh perusahaan Anda untuk bekerja; bukan untuk menghabiskan waktu secara sia-sia untuk melakukan browsing, blogwalking dan facebooking. Kalau mau menjelajah internet, ya di rumah saja, setelah jam kantor dan dengan fasilitas milik sendiri.

Jadi kesimpulannya juga jelas : selain fasilitas email, mulai sekarang sebaiknya kantor-kantor atau perusahaan menutup akses internetnya untuk semua karyawan – mulai dari level atas sampai bawah. Hentikan kesia-sian dan pemborosan waktu produktif yang dilakukan demi dan atas nama era informasi, zaman digital, era kemajuan online, dan blah-blah lainnya. Shut down internet and facebook access in every corner of your office.

Dan pesan saya untuk Anda semua : segeralah kembali bekerja setelah membaca tulisan ini dan tutuplah semua halaman situs yang tengah Anda buka. Anda juga tak perlu repot-repot membaca atau menuliskan komentar di bawah tulisan ini karena itu hanya akan membuang-buang waktu produktif Anda. Please get back to your job. Right NOW !!

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, strategy, marketing dan HR management, silakan datang KESINI.

Photo credit by : Ever Jean under creative commons license.

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download DI SINI sekarang juga. Atau klik gambar di bawah.

59 comments on “Kenapa Akses Internet Sebaiknya Dilarang di Ruang Kerja dan Perkantoran?
  1. Ada yg ngitung juga akhirnya. Yg seperti itu memang bikin kecanduan. Saya ini contohnya. Berhubung nggak pakai fasilitas kantor,…yg jebol ya kantong sendiri. Omong2 ini jam 1 pagi je pak. Baiklah, saya tutup. Tidur.

  2. makasih banyak Mas Yod.. bener tuh… meski ada manfaatnya jelas mudhorotnya jauh lebih banyak. makasih lagi telah mengingatkan banyak orang… betapa masih ringkihnya rasa kita…

  3. hahaha…padahal saya baru saja masuk ngeadd pak yodhia as friend di Fesbuk… bener juga ya..tapii…tapiiii…salah juga gak papa, gak semua negatif kok, buktinya pengakses web ini jadi makin banyak aja…thank Pak Yodhia

  4. wah klo saya sih kurang setuju mas, kenapa?karena tergantung dengan jenis pekerjaannya itu sendiri. teman saya contohnya. dimana dirinya kesulitan untuk mengerjakan kantor karena facebook dan YM ditutup oleh bagian IT perusahaan. perlu diketahui posisi teman saya adalah Assistant brand manager dimana diperlukan branding perusahaan melalui facebook yang sedang trend saat ini dan YM untuk efektifitas komunikasi dengan pihak distributor….. lebih tepatnya mungkin pembenaran-pembenaran para pegawai kli yah…
    beruntung saya adalah seorang wiraswasta jadi nggak kena tegur deh…hehehehe.

  5. Memang, saat ini saya merasa, bahwa internet banyak merampas waktu produktif kita. Jadi perlu pengaturan dalam hal manajemen internet. Tim Ferris malah menganjurkan untuk hanya sekali-kali membuka email. 🙂

  6. senin pagi nyampe kantor..
    nyalain komputer.. cek e-mail..
    baca posting barunya pak Yodhi..

    klo internet kantor d putus g bs berkunjung kesini dunks..

  7. saya rasa kita tidak perlu menyalahkan facebook. yang perlu kita benahi adalah BEING tentang facebook. saya bagian dari orang yang merasakan manfaat facebook. mungkin karena saya berada di posisi sales & marketing.
    kalo kita menganggap bahwa facebook punya peran besar terhadap melemahnya produktifitas maka akan berlaku pula untuk seluruh teknologi yang ada di dunia ini.
    lihat saja, saya pernah memergoki seorang karyawan yang melakukan pembicaraan dengan pacarnya selama lebih dari 2 jam gara-gara esia membobardir dengan Rp. 1000/jam. apa saya bijak menyalahkan esia? Bakrie telcom tentu saja menangkap peluang bisnis dan tidak bisa saya salahkan.
    yang diperlukan adalah memberikan kesadaran akan MANFAAT teknologi dalam kehidupan termasuk pekerjaan.
    saya rasa artikel ini tidak bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi. maaf, mas yodhia saya bersebrangan dengan Anda dalam hal ini. terimakasih.

  8. Tulisan yang lugas dan sangat jujur !
    Salut Mas Yodhia, walaupun tidak akan saya ikuti:).
    Karena sayapun melakukan hampis semua yang dipaparkan diatas, cuma bedanya adalah ada benang menrah yang nyata dari kegiatan browsing dan blogging dengan kontribusi saya di kantor. Kebetulan juga sih memang kami bergerak di industri IT semi entertaintment yang justru harus selalu melek dan update pekembangan di dunia maya, terutama dunia Web 2.0 untuk kemudian dipelajari dan diramu menjadi produk dagangan kantor 🙂

  9. Hal it memang benar, kembali lagi ke masing2 orangnya. Tetapi beberapa perusahaan sudah cukup smart mengatasinya, misalnya hanya membuka akses beberapa situs saja yang diperlukan, atau membuka akses internet ketika jam pulang kantor.

    Bahkan kalau kantornya sedikit bermodal menggunakan system yang canggih seperti Microsoft Dynamics misalnya, perusahaan bisa mengcustom misalnya orang baru bisa mendapatkan akses internet dan email setelah tugas-tugas utamanya selesai, karena desktop laptop/pcnya juga ter-lock.

    Nice sharing pak.

  10. *Pembelaan diri :*

    Di kantor, facebook, friendster, dan YM ditutup kok. Saya sendiri aksesnya pake jaringan dan laptop pribadi. Lebih untuk komunikasi dengan suami dan anak2 yang tinggal beda kota.

    Kalo pengen akses social network, pasti saya lakukan di rumah, setelah pulang kantor. Blog walking juga pake jaringan pribadi setelah tugas kantor beres ato lagi istirahat siang seperti sekarang. Itu pun cuma ke blog2 yang top markotop seperti blog ini.

    Search web untuk urusan kantor ya pake komputer dan akses yang disediakan kantor donk. Memang harus profesional, bro…

  11. haha. akhirnya ketauan juga. tapi gimana lagi Mas, lah wong lagi seneng namanya juga euphorias. sebagai orangtua yang baik, melihat anaknya lagi seneng mempermainkan barang baru dibiarin saja kale, entar juga ketemu titip jenuhnya. segala sesuatu hanya menyenangkan diawalnya saja. tapi apa itu bener? memang merugikan perusahaan ya!

  12. Mas Yodhia, saya pikir solusinya tidak perlu se-ekstrim itu, karena solusi yang demikian sepertinya terlalu reaktif.

    Menyangkut akses internet ini, menurut saya yang paling penting adalah menanamkan kesadaran kepada seluruh pegawai to access the internet for the right purpose at the right time.

    Kalau akses internet diblok, bagaimana harus melakukan market research? bagaimana harus mendapat contoh kontrak? bagaimana harus mendapat contoh materi training?

    Kalau di kantor saya, semua konsultan bebas mau browsing apapun tanpa ada batasan, asalkan Key Performance Indicators bisa terpenuhi semua. Jadi yang KPI-nya bagus, silakan nonton Youtube atau utak-atik Facebook, tapi yang KPI-nya jeblok… dengan penuh kesadaran akan membatasi sendiri akses internet yang tidak perlu sampai angka KPI-nya naik kembali.

    Mungkin sistem pendekatan seperti itu akan lebih efektif. Karena katanya kan untuk membunuh satu tikus di dalam lumbung tidak perlu dilakukan dengan membakar lumbungnya sampai habis. CMIIW.

  13. mas yod..di vietnam sini semua komunikasi udah pake gratisan dari skype..perusahaan bisa menghemat puluhan juta sebulan buat komunikasi dari internet daripada bayar telpon. itu baru satu company gimana kalo 300 company disini..berapa milyar bisa dihemat..heee..emang serba salah sih benernya..trus ada cerita lagi..boss saya marah waktu jemput tamu VVIP yang request lagu tertentu dan saya beli original CDnya di toko..dibilang gak kreatif lu..kenapa gak download dari internet dan suruh orang IT burn lagunya to CD..nah lho..internet lagi…haaaaa

  14. Mas yod…sebuah kondisi yang bisa di “maklumi”, selagi gratis kan?? apalagi kehadiran si internet ini masih sangat baru di banyak kalangan in our country.
    Efisiensi memang perlu dan mesti, tetapi bukan dengan meniadakan si internet dari kantor/ruangan, yukkk cari solusi………menurut saya:) Begini aja deh..kantor sediakan sebuah ruangan khusus internet untuk karyawan dengan 5 unit komp, pasti gak ada orang yang tahan lama2 di ruangan tersebut, karena “takut” terlihat si boss yang selalu lewat ruangan itu dan pastri karyawan lain nunggu antrean untuk klik-klak.

  15. saya setuju sama pak yod coz terlalu fokus sama internet bikin krjaan kita jadi terbengkalai (ini pengalaman pribadi saya) padahal tahun ini sya punya banyak target n project. tulisan pak yod bkin sya tambah sadar. thanks anyway.

  16. Hmm … Saya adalah pegawai, untungnya kantor kecil. Jadi yang ngurus IT juga saya sendiri. Saya kerja memang 50-80% dari jam kerja, tapi untuk sisa waktunya saya 2x lebih cepat dari pegawai lainnya.

    Saya juga merasa bersalah, melanggar moral saya sendiri. Koq jam kerja yang harusnya bekerja 100%, koq malah Facebook-an sambil baca blog Pak Yodhia.

    Dalam beberapa bulan, saya berniat untuk berhenti bekerja dan memulai usaha baru. Pada saat itu mungkin posisi saya sudah berbeda, bukan pegawai lagi, namun saya masih tidak setuju bila akses internet diputus karena kemungkin pegawai macam saya.

    Saya rasa masih ada solusi lain yang lebih ‘win-win’ agar produktifitas tidak terganggu, namun juga tidak merugikan perusahaan. Mungkin di log/monitor atau tinjauan kerja pegawai tiap beberapa kurun waktu?

  17. @ Arif Rachman, ya memang bagi kalangan sales & marketing atau penyedia jasa lainnya, facebook justru merupakan tool yang amat berguna untuk “mempromosikan” produknya.

    @ Piter Silitonga, ya solusi itu baik dan sejumlah perusahaan sudah menerapkannya.

  18. Masak iya sih orang bisa kecanduan internet..? YM, facebook, friendster, youtube? termasuk blog ini.. kalau pengalaman saya sih..itu biasanya pertama2 aja..abis itu juga bosen..Kalo saya pribadi sih..karena pekerjaan saya konsultan, internet menjadi vital banget, dan ternyata setelah ada YM, perusahaan saya bisa menghemat biaya telpon sampai 50% lebih. Dan bagi saya, hei orang kan punya akal untuk menentukan mana yang terbaik buat dia..mau internetan terus..atau melakukan hal yang lebih produktif bagi dirinya sendiri.

  19. tokh klaim biaya internet perusahaan sudah all in, termasuk urusan perusahaan via ftp dari seantero unit bisnis dan sekali-sekali sedikit bandwidth dipakai enjoy for fun untuk keseimbangan “fresh” otak gitu, mohon dimaafkanlah. sing penting banget capaian kinerja tidak mengecewakan owner, gitu kali..

  20. Dalam satu sisi ada benernya juga tapi kita bisa lihat konteks dari pekerjaan itu, semuanya tergantung dari kesadran kita masing2 bisa menempatkan diri, dan tahu akan situasi dan kondisinya. Jika kita main intrnaet pada saat jam kerja itu juga ga etis dan tidak bagus untuk efektivitar kerja kita, dimana kita kan kehilangan waktu kerja kita belum lagi klo kita sambil ngrumpi dengan temen sekantor berdasarkan survey yang pernah saya lakukan dikantor saya dari 3 bulm kita bekerja hanya 63 hri waktu yg kita lukukan untuk bekerja jadi 17 hari lagi waktu yg kita buang sia-sia .

  21. Pa Yodhia, memang betul sekali kalo internet cuma buat browsing nggak ada nilai tambah apalagi tidak ada kaitan sama sekali dengan pekerjaan. Orang tidak main internet pun kalau memang kecanduan ngrumpi, sms tentu akan curi – curi waktu buat telpon, sms. Lah yang kecanduan rokok dan kebetulan tidak boleh merokok diruang kerja ya curi waktu untuk menghisap rokok. Kalau dihitung – hitung memang kembali lagi pada etos kerja pegawai sendiri, termasuk kode etiknya.

    Masalah penggunaan internet untuk keperluan pribadi, juga sebetulnya masalah mental juga. karena bukan hanya internetan, barang inventaris kantor pun ada yang masih merasa milik pribadi..:) mungkin sangking rasa memilikinya tinggi ya ?

  22. Saya baca tulisan ini di rumah, any way saya juga termasuk yang sering buang waktu hanya untuk sekedar browsing pada jam kerja, thank’s telah diingatkan.

  23. waduh…, sayang lho membuang salah satu business environment yang super canggih ini di lingkungan kantor. Mungkin harus kita lihat dari sisi lain, misalnya dari fungsi management dalam membuat planning yang benar2 target oriented dan dinamis dalam pemberdayaan Human Capitalnya, membuat spirit para karyawan dalam berkarya dan berkolaborasi sehingga menghasilkan karya-karya yang innovative.
    Kalau sudah aura itu yang terasa dikantor, maka orang akan bisa lebih menghargai waktu kantornya, dan internet benar-benar menjadi common office tools yang untuk membantu pencapai targetnya itu.

    Jadi kelemahan terbesar yang saya lihat adalah banyak management yang tidak bisa mengsinergikan business environment ( people, planning, technology, system, values, role, policy, procedure, partner, client dsb ) dalam mencapai goal and target perusahan, sehingga semua resources tersebut tidak mempunyai arti yang significant.

    Jadi bisa ditanya kembali, sebenarnya salah siapa jika orang akhirnya berinternet ria, klik sana, klik sini just for killing time (yang dibayar perusahaan tiap detiknya ) karena merasa tidak ada target yang harus dikejar. ‘Ruang kreativitas’ juga tidak ada, planning dan target perusahaan tidak jelas sehingga karyawan membangun opini sendiri2 atas situasi dan kondisi kantornya. Saya yakin banyak deh, situasi kantor yang seperti itu.

    So, akhirnya saya meyakini survey yang pernah dibahas oleh mas Yodhi, bahwa sebenarnya perusahaan hanya di drive oleh 30% karyawannya, dan saya pikir mereka itu adalah para business driven yang berada di lingkungan management dan profesional yang menempati posisi strategic. Nah, kalau mereka gagal melaksanakan fungsinya, maka berlakulah kalimat mr. Covey, ” if you fail to plan, you plan to fail”, dan itu berlaku kepada kegagalan fungsi internet sebagai bagian dari business environment.

    -peace-

  24. Wah mati donk perusahaan kalo akses internet ditutup. Perusahaan tempat saya bekerja adalah UKM yg berorientasi export. Jadi kami sangat perlu akses internet untuk komunicasi dengan buyer dan relasi bisnis lainnya. Selama ini kami sangat tergantung dengan internet untuk email, browsing, YM, Skype …etc…etc..intinya saya sangat tidak setuju kalo akses internet ditutup..Maaf agak berseberangan…hehehe

  25. Weit bos Erik sudah murka!!!, jangan-jangan pengalaman pribadi nih.
    Btw ada benernya juga artikel ini, sejak ada internet paling tidak 30 % waktu kerja setiap pekerja tersita oleh website maupun facebook, dengan alasan informasi dan wawasan. Sayangnya ngga setiap orang bisa secara bijak memanfaatkan itu.
    Sekarang ini era informasi (katanya), sayangnya lagi saking banyaknya informasi banyak orang ngga bisa fokus untuk mendapatkan informasi apa yang seharusnya masuk ke otak dia.
    Tapi Saya juga setuju dengan salah satu komentar disini “don’t blame it on internet or facebook” karena korupsi waktu itu tetap ada walaupun ngga ada akses internet sekalipun.
    Gimana sih ko plin plan ? ngga juga sebetulnya, kesimpulannya kembali ke agama (keyakinan) masing-masing jika Internet / Facebook ngga bermanfaat jadilah ngga bermanfaat sebaliknya kalau kita yakin itu bermanfaat, bergunalah ia.

  26. huahahahahah, saya baca postingan ini di Acerpoint [Malang Olympic Garden] waktu nunggu temen mau ganti laptop. Kebetulan di AP ada WiFi-nya jadi nggak waste time dong Mas? ehheheh

    Artikel Mas Yod ini memang selalu cerdas mengundang perdebatan. Jadi asyik ngebahasnya terus ketagihan dan ga bisa melawan diri sendiri untuk tidak “ngomel” disini. Kalo di NLP mas Yod ini dah berhasil mrakteking salah satu teknik Hypnotic Pattern Language yang namanya “Don’t Pattern”. Ngomongnya sih jangan, eh malah bikin orang secara “hipnotikal” justru kebelet pengen ngasih komen. Hehehehe sip sip sip. Saya sampe malu sendiri diliatin customernya Acer karena ketawa ketiwi ndiri.

    Sebenarnya saya setengah setuju sama ide mas Yod kalo di lihat dari sudut pandang pekerjaan saya. Sehari-hari saya sebagai trainer dan bagian pengembangan produk, jadi nyari-nyari ide dan bahan salah satunya bisa kami lakukan dengan surfing di Internet dan ini sangat membantu. Hanya saja kalau pas surfingnya nggak diplaning dulu jadinya kita cuman lompat dari satu link ke link lainnya. Hingga akhirnya terdampar kemana2 termasuk saya nemuin blog inipun juga begitu prosesnya.
    Jadi yaaaa manfaat-manfaat nggak gitu lah……
    Salam semangat Mas..

  27. Kalo saya sih lebih mendukung orang tetap bisa akses internet di kantor. Selain menambah wawasan juga supaya mereka bisa kunjungi blog saya hehehe…. 🙂

  28. waduh.. jangan dong pak…
    kalo internet di kantor ditutup semua dari level atas sampai bawah…
    divisi saya sepertinya bakalan protes tuh pak.. karena kami sering mengakses situs-situs pemerintah, update informasi peraturan ketenagakerjaan, peraturan pajak, survey-survey untuk biaya cost living di beberapa negara, mencari informasi training, korespondensi dengan vendor, dsb…

    dan kalau menemui error di komputernya, mereka tinggal googling mencari penyebab dan solusinya di internet.. lumayan mempercepat selesainya trouble yg terjadi, jadi tidak selalu mengandalkan divisi it…

    btw saya baca web bpk, dan kasih komen ini bukan di hari & jam kerja di kantor lo pak… ini saya sambil selonjoran kaki di rumah…. sekarang hari libur kan? hehehehe… 😀
    peace pak 🙂

  29. Kalau memang di kantor masih bisa browsing, blogwalking atau facebooking, tandanya dengan gaji sekian, si karyawan gak perlu masuk 5 hari seminggu kan…. cukup 2 hari aja, sisanya di rumah ngajarin anak ngaji misalnya, nemenin sholat atau makan siang bareng sama keluarga.

  30. Ga bisa disamaratakan dong! Bagaimana halnya dengan pekerjaan yang kami geluti sekarang di bidang media. No internet, no berita! Jadi jangan asal ngomong dan judge dong!

  31. kalian ini gimana sih! dibilangin jangan komentar dan langsung kerja malah tetep koment! jadi kebuang dah tuh produktifitas kerja
    Oya, mas yudi! baca sekali laghi tulisan mas Yodhia, yang disinggung adalah yang tidak ada hubungannya dengan produktifitas kerja (youtubing,facebooking). klo anda surfing untuk kerja, mencari “ilmu” ya itulah guna Internet!

  32. kok saya kurang setuju ya dengan pelarangan2 tersebut.. karena saya mungkin termasuk orang yang lebih melihat result oriented.. kalau memang karyawan tersebut dapat menyelesaikan pekerjaannya sebelum waktu yang ditentukan.. saya rasa gak salah dia bisa mengakses internet dan bermain-main facebook sebentar..
    yah anggap aja reward perusahaan buat karyawan dalam bentuk lain selain duit lah..
    atau mungkin jalan tengahnya akses internet dibuka hanya pada jam2 tertentu semisal pagi, atau pada jam istirahat, atau pada sore hari..

  33. Saya sangat setuju, ada tapinya, saya hanya menggunakan hot spot (wifi) dan konek ke internet di luar jam kerja tapi masih di kantor. Nah, yang sperti ini boleh kan?. Tapi di jam-jam produktif jelas dong. masih ada tapinya, yang nyerempet curi-curi waktu itu kadangkala asyiknya browsing and surfing di internet.
    Sukses buat karyawan yang giat dan tetap gunakan waktu produktif melakukan tanggungjawab di tempat anda bekerja.
    Salam, dan sukses selalu buat Yodhia antariksa dengan blog strategi+manajemen dan lainnya.

    Salam,

    cafestudi061

  34. Pingback: Manajemen SDM « Djokokristianto’s Blog

  35. SETUJU!
    Saya udah kehilangan banyak waktu produktif saya untuk menulis hanya untuk browsing sesuatu yang nggak penting! Saya sadar sekali, tapi saya masih juga tidak bisa melawan.

    Sekarang waktunya BERUBAH ATAU MATI!

    Terima kasih untuk artikelnya. Saya mau matiin akses internet fastnet unlimited saya yang murah, tapi malah meracuni.

    Semoga bisa…

  36. IMHO…
    Semua tergantung kebutuhan bisnis perusahaan sepertinya. Adapula perusahaan yang hanya mampu memenuhi tuntutan ‘peningkatan kemampuan / kualitas diri pegawainya’ hanya dengan memberikan fasilitas internet, yang ujung-ujungnya semakin pintar pegawai tersebut untuk ‘ngecap’ ke client dengan ilmu barunya yang dia peroleh dari internet. Dari internet pegawai malah bisa menemukan/membaca teknologi mutakhir dari belahan dunia manapun, tau best practice & banchmark dari yang pegawai tersebut cari, download ebook gratis (so tambah ilmu secara gratis – jika ebooknya dibaca).

    Tidak bisa pukul rata untuk setiap pegawai pelarangan penggunaan internet. Yang sedikit idealnya, memang dari pihak perusahaan membantu pegawainya untuk tidak ‘korupsi waktu (untuk surfing)’ dengan mengunjungi situs-situs yang memang dirasa-rasa tidak ada gunanya untuk karyawan dan perusahaan, yaitu dengan menutup akses ke beberapa situs tertentu.

  37. Saya setuju pak Haryo, sadar ama KPI masing2 aja..kalo masih jeblok internet jadi hal yg mudharat, kalo target udah tercapai ato melampaui target alias KPI beres ya enggak apa2 juga cari inspirasi dgn browsing and surving terlepas dari pekerjaan saya sbg pengelola Pengetahuan di perusahaan (KM Manager)…apalagi kalo yg di akses yg banyak manfaatnya dunia akhirat…Intinya tulisan Mas Yodhia ok, tapi seperti setiaji enggak bakalan saya ikutin ; )

  38. gimana ya mas, menurut saya sih lebih baik result oriented

    saya klo ke pegawe sih terserah, mo seharian buka facebook ama youtube juga gapapa, asalkan hasil yang dia berikan sesuai dengan target yang saya tentukan. IMHO, Semua orang punya proses kerja yang beda2, ada yang emang bisanya serius 100%, ada yang bisanya nyantai.

    Apapun proses usahanya yang penting hasil kerjanya toh? ada juga yang sering online tp kerjaannya selalu cepet beres & hasilnya memuaskan. Nah udah gitu apakah kita harus paksa dia untuk kerja terus sampe 8 jam 100%? menurut efisiensi kerja sih iya, paling 1 bulan juga cabut dia

    yah hrs ada win-win solution mas, perusahaan ga bisa selalu jadi pihak yang paling untung, termasuk dalam hal internet.

  39. Wah….buat pimpinan kantor yg tahu IT, tentu akan memblok situs situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan kantor. Toh IT saat ini sangat memungkinan untuk itu. Jadi Pegawai hanya bisa membuka situs yg berhubungan dengan pekerjaannya.

  40. saya rasa bukan internetnya yang salah…
    internet perlu adanya, dan mmang penuh dgn wawasan, hal-hal yang anda sebutkan diatas adalah dampak buruknya ketidakselarasan dalam me-manage internet dengan benar.

    contohnya:
    “Sialnya, mayoritas karyawan melakukan browsing sekedar untuk membaca detik.com, atau detikhot, atau melakukan chatting, youtubing dan facebooking……yang semuanya ndak punya hubungan langsung dengan pekerjaan. Yang lebih menggetirkan, banyak karyawan pada jam kantor melakukan browsing sekedar untuk melihat foto-foto mak nyus Rahma dan Sarah Azhari (nah bener kan, Anda langsung meng-klik foto-foto itu……gambarnya keren banget ya….hehehehe)”

    solusi:
    gampang aja kok kalo mw ngatasin mslah kyk gini:
    – untuk blokir situs2 ndak jlas, pakai Antiporn, ato blokir aja DNS standard dgn mengganti ke DNS Nawala
    – kalo mw spaya situs2 tertentu tdk dibuka kyk FB Twitter n dkk kan bsa diblokkir aja, edit aja host windowsnya, ada kok tekniknya googling aja.

    [setidaknya cara preventif n solusinya dgn cara 1 gratis no cost no fee alias GRATIS bro, kcuali antipornnya wajib bli hhe]

    Intinya:
    Segala sesuatu ciptaan manusia pasti ada baik buruknya kok, itu dah MUTLAK, dan sifat fundamental ciptaan manusia. Segala sesuau bsa dicegah, kalo mw aja orang monitoring pc2 pekerjanya kan gampang, ada kok software2 bertebaran disana-sini untuk memonitoring aktivitas client pc pada suatu jaringan. Meski mmang ngak 100% smpurnya stidaknya tidak menjadikan internet kambing hitam dan bisa menanggulangi masalah 😀

    kalo segala sesuatu yg buruk tidak diperbaiki tapi ditindas untuk apa ada perkembangan, kan perkembangan adalah perbaikan akan suatu hal yg msh kurang / minim, coba lihat artikel yg anda buat ini:

    ====================================================================
    http://strategimanajemen.net/2011/12/26/bagaimana-rasanya-bekerja-di-google/
    ====================================================================

    diartikel itu anda menunjukan bahwa setiap perusahaan harus maju dan mengenal IT & Perkembangan yang seharusnya lewat pemberian pelayanan dan infrastruktur sewajar-wajarnya kpd pekerja disuatu perusahaan…

    kalo perusahaan menyediakan Nursery Room,Fasilitas fitness yang lengkap,Menyediakan fasilitas home theater tpi sarana internet ngak ada internet perusahannya GAPTEK donkz?
    btul ngak? (ngak jga siih 🙂

    (saya bukan ahlinya (malah msh pelajar, jdi ngak terlalu ahli lah) cma saya merasa aneh mmbaca artikel ini seolah2 internet sumber “masalahnya”, meski pakai kata “sebaiknya” di judul postingan anda tpi scara tdk lngsung anda memprovokasi pola pikir seseorang n kalo bsa suatu artikel trutama menyangkut khayalak bnyk sebaiknya jgn terlalu “subjektif”, boleh menyampaikan suatu pola pikir lain tpi, kalo bsa disertai dgn cara2 preventif bukan mengesampingkan dan mengkambing hitamkan:)

    sekian…
    jangan mrah bro 🙂
    ini komentar bwat saling membangun stu ma yg lain XD

Comments are closed.

Pilih Kaya atau Misqien?

Dapatkan Buku yg Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Financial Freedom yg Barokah. GRATIS!