<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Menguji Kompetensi dengan Assessment Center</title>
	<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/</link>
	<description>Sajian renyah tentang management skills + business strategy</description>
	<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 08:30:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: Sugiharta</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5715</link>
		<author>Sugiharta</author>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 17:25:18 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5715</guid>
		<description>bisa minta contoh kuesioner atau tes uji kompetensi, khususnya di bidang pelayanan makanan dan minuman?

mohon bantuannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bisa minta contoh kuesioner atau tes uji kompetensi, khususnya di bidang pelayanan makanan dan minuman?</p>
<p>mohon bantuannya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yodhia Antariksa</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5055</link>
		<author>Yodhia Antariksa</author>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 11:37:32 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5055</guid>
		<description>@ Andrias (# 9), kalau assesment center ini memang lenih pas untuk posisi manajerial. Untuk posisi ini, validitas tes ini sangat tingi; artinya hasil skor test memiliki korelasi yang erat dengan kinerja dia di lapangan (real jobs). 

Kalau dia skornya jelek, dia memang ternyata kurang kapabel menjadi manajer.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Andrias (# 9), kalau assesment center ini memang lenih pas untuk posisi manajerial. Untuk posisi ini, validitas tes ini sangat tingi; artinya hasil skor test memiliki korelasi yang erat dengan kinerja dia di lapangan (real jobs). </p>
<p>Kalau dia skornya jelek, dia memang ternyata kurang kapabel menjadi manajer.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ndhut</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5053</link>
		<author>Ndhut</author>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:05:44 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5053</guid>
		<description>Salam kenal Mas Yodh, saya sangat tertarik dengan kompetensi ini. Saya juga sedang menyusun silabus kompetensi. Tetapi kami fokuskan untuk hard skill. Baru dalam tahap mapping job process dan selanjutnya masuk tahap definisi dan perumusan metode assessment. Mohon sharing ilmunya ya. Makasih. Sukses buat Mas Yodh. Artikel2 nya bagus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal Mas Yodh, saya sangat tertarik dengan kompetensi ini. Saya juga sedang menyusun silabus kompetensi. Tetapi kami fokuskan untuk hard skill. Baru dalam tahap mapping job process dan selanjutnya masuk tahap definisi dan perumusan metode assessment. Mohon sharing ilmunya ya. Makasih. Sukses buat Mas Yodh. Artikel2 nya bagus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andrias ekoyuono</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5050</link>
		<author>andrias ekoyuono</author>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 11:03:25 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5050</guid>
		<description>Pertanyaan saya mungkin klasik pak,
gimana menjembatani gap antara tes dengan kondisi nyata ? Maksud saya, kadang hasil tes tidak mencerminkan kemampuan sesungguhnya dari seseorang dalam menghadapi masalah nyata</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan saya mungkin klasik pak,<br />
gimana menjembatani gap antara tes dengan kondisi nyata ? Maksud saya, kadang hasil tes tidak mencerminkan kemampuan sesungguhnya dari seseorang dalam menghadapi masalah nyata</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tian ni mas</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5047</link>
		<author>tian ni mas</author>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 18:23:42 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5047</guid>
		<description>waduh,,semoga kita sama2 sukses di bisnis ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>waduh,,semoga kita sama2 sukses di bisnis ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ade Isyanah</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5046</link>
		<author>Ade Isyanah</author>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 07:47:48 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5046</guid>
		<description>Alhamdulillah dpt ilmu baru ttg assesment.
Thanks pak Yodhia, tulisan2 bapak sangat bermanfaat, semoga jadi amal jariyah buat bapak, amin..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah dpt ilmu baru ttg assesment.<br />
Thanks pak Yodhia, tulisan2 bapak sangat bermanfaat, semoga jadi amal jariyah buat bapak, amin..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sugi</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5045</link>
		<author>sugi</author>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:18:36 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2009/10/26/menguji-kompetensi-dengan-assessment-center/#comment-5045</guid>
		<description>Assessment center dapat berupa tes-tes diatas, tapi yang lebih sering adalah rater 180° atau 360°, dimana atasan, rekan sekerja, bahkan bawahannya menilai seseorang sampai dimana level kompetensinya berdasarkan kemus kompetensi yang telah disusun. Dari profil kompetensi jabatan, dapat diketahui seberapa besar 'gap' antara kompetensi yang dimiliki dengan yang dipersyaratkan oleh jabatan. 'Gap' itulah yang harus menjadi fokus development.

Sebenarnya competency-based HR management (CBHRM) sangat praktis, obyektif dan 'terbuka'. Tapi memerlukan sumberdaya yg besar, antara lain mengidentifikasi indikator2 perilaku setiap kompetensi (generic, leadership, managerial, teknis), meng-kuantifikasi-kan hal2 yang kualitatif, dan akhirnya mensosialisasikan kepada seluruh karyawan (karena karyawan dapat menjadi asesor). Jadi dalam CBHRM berpendapat bahwa semua karyawan dapat memiliki kesempatan pengembangan dirinya.

Kemudian muncullah Talent-based HR management, yang tidak memerlukan sumberdaya yang besar, karena hanya mengidentifikasi 'bakat terpendam' yang kriteria2nya hanya perlu dipahami oleh asesor (psikolog) melalui pengukuran psikotest. Dari job character, dapat diketahui apakah talent yang dimiliki seorang karyawan ‘match’ dengan job character, seperti di biro jodoh. Yang ‘no match’ akan divonis tidak perlu di-develop, hanya buang2 waktu dan biaya. Fokus development hanya pada yang ‘match’.

Dari yang saya baca, kalau untuk perusahaan Jepang, talent-based diterapkan pada saat rekrutment calon2 karyawan, selanjutnya pengembangan kompetensi dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan Amerika, mau enaknya, cari yang sudah jadi, memakai competence-based untuk merekrut ahli-ahli Indonesia? Maunya ikut2an tren, beralih ke talent-based, biar praktis. Tapi mau dikemanakan orang2 yang ‘no match’?
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assessment center dapat berupa tes-tes diatas, tapi yang lebih sering adalah rater 180° atau 360°, dimana atasan, rekan sekerja, bahkan bawahannya menilai seseorang sampai dimana level kompetensinya berdasarkan kemus kompetensi yang telah disusun. Dari profil kompetensi jabatan, dapat diketahui seberapa besar &#8216;gap&#8217; antara kompetensi yang dimiliki dengan yang dipersyaratkan oleh jabatan. &#8216;Gap&#8217; itulah yang harus menjadi fokus development.</p>
<p>Sebenarnya competency-based HR management (CBHRM) sangat praktis, obyektif dan &#8216;terbuka&#8217;. Tapi memerlukan sumberdaya yg besar, antara lain mengidentifikasi indikator2 perilaku setiap kompetensi (generic, leadership, managerial, teknis), meng-kuantifikasi-kan hal2 yang kualitatif, dan akhirnya mensosialisasikan kepada seluruh karyawan (karena karyawan dapat menjadi asesor). Jadi dalam CBHRM berpendapat bahwa semua karyawan dapat memiliki kesempatan pengembangan dirinya.</p>
<p>Kemudian muncullah Talent-based HR management, yang tidak memerlukan sumberdaya yang besar, karena hanya mengidentifikasi &#8216;bakat terpendam&#8217; yang kriteria2nya hanya perlu dipahami oleh asesor (psikolog) melalui pengukuran psikotest. Dari job character, dapat diketahui apakah talent yang dimiliki seorang karyawan ‘match’ dengan job character, seperti di biro jodoh. Yang ‘no match’ akan divonis tidak perlu di-develop, hanya buang2 waktu dan biaya. Fokus development hanya pada yang ‘match’.</p>
<p>Dari yang saya baca, kalau untuk perusahaan Jepang, talent-based diterapkan pada saat rekrutment calon2 karyawan, selanjutnya pengembangan kompetensi dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan Amerika, mau enaknya, cari yang sudah jadi, memakai competence-based untuk merekrut ahli-ahli Indonesia? Maunya ikut2an tren, beralih ke talent-based, biar praktis. Tapi mau dikemanakan orang2 yang ‘no match’?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
