panel-re.jpgMinggu lalu, Michael D. Ruslim, CEO Astra International yang murah senyum itu mendadak diundang oleh malaikat untuk meeting di alam baka sana. Banyak yang terkejut dengan wafatnya sang komandan ini. Segera setelah ini Astra International dihadapkan pada proses succession planning : atau tentang bagaimana sebuah perusahaan mengelola proses pergantian para key players-nya.

Astra International, salah satu perusahaan di tanah air yang punya reputasi kinclong dalam proses pengembangan human capital-nya, mungkin telah memiliki kepiawaian tersendiri dalam menggodok para future leadersnya mereka. Bersama pengalaman Astra, disini kita barangkali bisa berbagi tiga catatan penting mengenai bagaimana seharusnya sebuah perusahaan meracik strategi career planning mereka.

Catatan yang pertama : sucession and career planning memang jauh lebih mudah dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang memiliki size besar (terlebih jika mereka punya lini bisnis yang banyak). Alasannya sederhana : perusahaan dengan size besar akan memiliki banyak posisi manajerial – dan dengan itu akan lebih mudah merotasi pegawainya dalam rangka proses pengembangan.

Astra International beruntung sebab mereka memiliki size yang besar dan anak perusahaan yang beragam. Dengan mudah mereka kemudian bisa mendesain plot pergerakan karir para manajernya – sebab pilihan pergerakannya sangat variatif.

Proses semacam itulah yang juga dilakukan oleh perusahaan dengan skala global seperti GE dan Unilever. Dengan size yang besar dan skala yang bersifat global, mereka dengan mudah merotasi para pegawainya untuk melakukan pergerakan karir di berbagai posisi di belahan negara yang berbeda (dan ini sangat bagus buat pengembangan pengalaman manajerial para eksekutifnya). Proses rotasi karir semacam ini juga relatif mudah dilakukan oleh sebuah perusahaan yang memiliki banyak cabang seperti industri perbankan dan telekomunikasi.

Sebaliknya, jika perusahaan Anda hanya berupa pabrik kecil dengan jumlah pegawai yang terbatas, maka career planning mungkin akan menjadi sebuah kemewahan. Sebabnya sederhana : jumlah posisi manajerialnya sangat terbatas. Jadi pergerakan karirnya hanya ada dua pilihan : menunggu sang bos pensiun, atau pindah ke perusahaan lain dengan size yang lebih besar.

Catatan yang kedua : proses penggemblengan karir para manajer sebaiknya juga disertai dengan pendidikan berjenjang yang sistematis. Disini perusahaan mesti mendesain kurikulum pelatihan terpadu yang ditujukan secara berjenjang mulai dari level asmen, manajer, senior manajer hingga level direktur.

Astra telah lama menerapkan proses pendidikan berjenjang semacam itu untuk menyiapkan para leadersnya. Mereka punya program bernama Astra Basic Management Development Program untuk para calon manajer tingkat dasar; kemudian secara berjenjang mereka juga punya Astra Middle Management Development Program hingga Astra Advance Management Development Program.

Masing-masing program ini memiliki kurikulum yang jelas, dan durasi penyelenggaraannya berlangsung antara 20 – 30 hari tergantung jenjangnya. Dalam pendidikan yang mirip mini MBA ini, para peserta diberi materi manajemen yang ekstensif, studi kasus, penugasan kelompok, dan beragam tugas presentasi. Program ini wajib diikuti sebelum karyawan dapat dipromosikan ke jenjang berikutnya. Jadi hasil pendidikan ini juga digunakan sebagai salah satu kriteria penilaian promosi.

Catatan yang terakhir : untuk menggembleng karir para future managers and leaders, sebuah perusahaan mestinya juga punya pusat pendidikan (semacam learning center) yang terpadu dan dirancang dengan profesional. Banyak perusahaan di tanah air yang telah memilikinya, seperti Danamon Learning Center, Pusat Pendidikan dan Pelatihan BRI, dll. Astra sendiri telah memiliki insitusi semacam ini bernama Astra Management Development Institute (AMDI).

Yang membedakan AMDI dengan lainnya mungkin adalah lembaga ini telah benar-benar berperan sebagai “strategic partner” bagi perjalanan bisnis di Astra; dan memainkan peranan penting dalam mengidentifikasi, mendidik dan memilih siapa yang layak menjadi top executive di Astra International.

Esa hilang dua terbilang, demikian bunyi sebuah pepatah lama. Astra mungkin telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun dengan sistem pengembangan SDM yang kokoh, Astra pasti dengan mudah bisa menyiapkan para generasi penerus yang tak kalah cemerlangnya.

Note : Jika ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang HR strategy dan Human Capital, silakan KLIK DISINI….

Photo credit by : ctd @ flickr.com