Ketika Sang Toyota Terkapar Penuh Luka

camry-2010-re.jpgMalam yang muram tengah menggelayuti kota Tokyo yang megah. Di salah satu sudut ruangan markas besar Toyota, Akio Toyoda tampak tengah terpekur dalam sembilu kepedihan yang mendalam. Akio adalah cucu langsung sang pendiri, Kiichiro Toyoda, dan ia belum genap dua tahun diangkat sebagai CEO Toyota, perusahaan mobil terbesar di dunia.

Namun malam itu terasa begitu meletihkan. Akio sadar reputasi perusahaan yang didirikan sang kakeknya itu kini tengah terpelanting dalam tebing kehancuran. Wajah Akio sungguh terasa sendu, dan ia hanya bisa menatap gelapnya malam dengan penuh rasa masgul. Semilir angin malam yang membelah kota Tokyo tampak kian terasa membeku.

Akio Toyoda layak tenggelam dalam duka. Minggu-minggu ini Toyota memang tengah didera masalah terberat yang pernah ada dalam sejarah panjang 70 tahun kehidupannya. Di Amerika dan Kanada, pasar mobil terbesar didunia dan juga bagi Toyota, perusahaan ini harus menarik ulang jutaan mobilnya yang laris, termasuk Prius, Camry dan Corolla. Ada sejumlah masalah serius dengan pedal gas-nya.

Berita itu sungguh terasa mengejutkan. Bagaimana mungkin Toyota, sebuah simbol kualitas dalam industri mobil dunia, bisa meloloskan begitu banyak mobil dengan mutu yang amat memilukan? Bagaimana mungkin perusahaan yang selama ini memiliki reputasi yang begitu wangi bisa terpelanting dalam tragedi kegagalan produk yang begitu masif? Ya kenapa semua ini bisa terjadi?

Ada tiga jawaban yang ingin dihidangkan disini. Dan tiga jawaban yang sebentar lagi akan kita kunyah bersama ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana semestinya meracik dan mengeksekusi strategi bisnis.

Jawaban pertama adalah ini : tragedi Toyota ini tak lain tak bukan adalah buah kesuksesan Toyota sendiri. Dengan kata lain, Toyota sejatinya hanya menjadi korban dari pertumbuhan bisnis yang terlalu cepat ia alami. Dalam lima tahun terakhir ini dunia memang tercengang dengan pertumbuhan penjualan mobil Toyota di seluruh dunia, terutama di pasar Amerika. Apalagi ketika tahun lalu General Motor — produsen utama mobil di Amerika – kolaps. Kejadian ini langsung melejitkan produksi mobil Toyota ke peringkat satu dunia.

Namun ternyata Toyota belum siap menjadi nomer satu. Toyota merasa gamang. Pertumbuhan bisnis yang terlalu pesat itu membuat sistem produksi global Toyota gelagapan. Memang pihak Toyota dengan cepat membangun banyak pabrik mobil di Amerika untuk mengimbangi permintaan pasar yang terus tumbuh dengan pesat. Namun membangun pabrik dengan terlalu cepat demi memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh ternyata membuat banyak lubang disana-sini; dan persis disinilah tragedi kegagalan mutu itu mulai terjadi.

Jawaban kedua berkaitan dengan yang pertama : ketika memutuskan membangun banyak pabrik mobil di Amerika, pihak top manajemen di Jepang sadar bahwa itu harus segera diimbangi dengan penyiapan SDM yang tangguh. Begitulah, mereka lalu mengirim ratusan teknisi terbaiknya untuk mengajari para pekerja Amerika tentang sistem produksi dan filosofi mutu Toyota yang amat terkenal itu.

Namun mengajari konsep budaya mutu Toyota kepada para pekerja Amerika itu tidak bisa selesai dalam sekejap. Sementara tuntutan kecepatan produksi terus menyergap. Akibatnya bisa ditebak : ditangan para pekerja Amerika yang belum sepenuhnya mahir, maka konsep mutu Toyota yang legendaris itu ibarat macan yang terluka.

Jawaban terakhir adalah ini : strategi cost efficiency yang terlalu agresif. Harap diketahui, tiga tahun terakhir ini pihak top manajemen Toyota di Jepang memang mengkampanyekan strategi penghematan biaya di semua lini, termasuk dalam aspek desain dan produksi. Strategi ini sejatinya bagus buat mengendalikan biaya, namun tampaknya top management Toyota agak kebablasan. Beberapa waktu sebelum tragedi penarikan mobil itu, sebenarnya sejumlah supplier sudah mengeluh. Mereka bilang kadang terpaksa menurunkan mutu barang pasokannya demi memenuhi seruan cost efficency dari para petinggi Toyota di Jepang.

Jawaban yang terakhir ini membawa pesan yang sederhana namun lugas : penghematan biaya memang bagus, namun jika terlalu agresif dilakukan maka mutu produk selalu akan menjadi korban. Dan jika itu terjadi, dampaknya bisa terasa amat menyakitkan, persis seperti yang dialami Toyota hari-hari ini.

Demikianlah tiga faktor alasan yang mungkin bisa menjelaskan kenapa Toyota terpelanting dalam tragedi cacat produksi yang demikian memilukan. Akio Toyoda harus segera mengurai tiga akar masalah ini, dan segera menerapkan solusi secara cepat dan sigap (dan bukan dengan sikap lamban seperti yang ia pertontonkan tiga minggu belakangan ini).

Sebab jika krisis ini dibiarkan berlarut-larut, maka nama Toyota yang begitu harum bisa pelan-pelan lenyap ditelan angin malam kota Tokyo yang kian terasa membeku.

Note : Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi bagus tentang quality management dan six sigma, silakan KLIK DISINI.

NOTE :
Mau update artikel2 mencerahkan seperti diatas langsung melalui smartphone Anda? Langsung saja invite PIN BBM saya : 572F4CDE. Atau invite + save no WA saya di 0812 8644 8789. Bagi yg invite, akan saya berikan BONUS tiga ebook bagus tentang mindset, kebebasan finansial dan cara meraih karir impian. Slide BiruPakar Hijau

31 comments on “Ketika Sang Toyota Terkapar Penuh Luka
  1. Secanggih apa pun sistem dan mesin yang dimiliki oleh perusahaan sekelas Toyota, ternyata tetap menyisakan ruang yang besar bagi faktor SDM sehingga masih membuka celah besar bagi terjadinya human error.
    Menyajikan produk yg bermutu dibarengi dgn strategi cost reduction menjadi pilihan terbaik bagi perusahaan meskipun sekaligus sebagai pilihan tersulit untuk diwujudkan… CEO yang handal mampu mensinergikan mutu produk yg tinggi dengan biaya yang hemat….tentunya dgn inovasi dan kreativitas…

    Trima kasih pak Yodhia atas pencerahan pagi hari ini..

    http://orangkantoran.wordpress.com

  2. Jika demikian keadaannya, masih relevankan ‘The Toyota Way’ untuk kita jadikan referensi dalam membangun satu budaya perusahaan yang berorientasi keunggulan dan kesempurnaan…

  3. Thanks artikelnya Mas, sarapan pagi yang mengesankan mengingatkan tentang strategi bisnis yang harus tumbuh alami bukan karbitan, membangun visi dan misi bersama bukan visi dan misi sebagian orang saja. Bravo blog stategi manajeman

  4. Memang Zaman sudah bergeser dan tidak ada istilah low cost hight impact yang ada saat ini hight cost hight impact. ini merupakan pelajaran yang berharga buat AKio Toyoda dimana dengan strategi cost efficiency tanpa sengaja menurunkan kwalitas produk mereka dan bahkan bukan penghematan yang mereka dapat melainkan pemborosan besar2an.
    Thanks

  5. mentransfer culture yang dianut bangsa Jepang, ternyata tidak mudah. ada nilai-nilai tertentu yang tidak bisa dengan mudah diadopsi oleh bangsa amerika.
    culture harus menjadi jiwa bagi sdm-sdm yang baru, bukan hanya semacam slogan yang dimengerti. karena culture khususnya quality culture yang belum sepenuhnya mengendap dalam jiwa sdm baru di AS, kesalahan seperti toyota ini bisa terjadi.
    nice article mas.

  6. Keluar dari masalah culture, cost-efficiency dan human error. Dalam dunia bisnis, bukan hal yang muskyil jika kita bertaruh bahwa ada semacam konspirasi demi menjatuhkan sang bayi yang meraksasa (dan ada celah disana)?

    Menimbang tipe-tipe relasi konspirasi menurut Dan Brown:
    1. Tipe The Da Vinci Code — konspirasi didalangi orang di luar lingkaran inti diskursus
    2. Tipe Digital Fortress — orang yg dianggap objek konspirasi, ternyata malah subjek utamanya
    3. Tipe Angel and Demon — didalangi orang terdekat objek konspirasi

    Halaaah, nglantur! Terlalu jauh ya, Mas Yodh? :mrgreen:

  7. Mas Yodhia…
    Ada tambahan informasi juga mengenai Toyota di Amerika… Politik Bisnis…
    mau ‘ngga mau… suka tidak suka… politik bisnis berperan besar dalam cerita Toyota di Amerika…
    kita bisa baca background penarikan ini berkaitan dengan kondisi per-mobilan di amerika sendiri… cerita ini disinyalir kuat sebagai usaha proteksi terhadap industri otomotif yang memang sedang terpuruk dengan serbuan TOYOTA dan HONDA dari JEPANG…
    Jadi, TPS, Toyota Way, and other tools are still in Kaizen process…

  8. Pelajaran yang keempat adalah, Customer Satisfaction di Toyota adalah nomer 1.
    Jarang-jarang perusahaan menggelontorkan Dananya sampai bermilyar-milyar US$ hanya untuk memperbaiki minor change pada pedal gas tersebut.

    dan ini ada dua versi dari Sudut pandang Customer :
    1. Costumer yang Pintar akan mengatakan : Ternyata membeli produk Toyota adalah sesuatu hal yang harus, karena sampai after sales saja masih diperhatikan.

    2. Costumer yang biasa-biasa saja atau kurang dari itu akan mengatakan bahwa rugi beli Toyota.

    Dan inilah Strategi yang harus diluncurkan Toyota agar Customernya tidak lari kemana-mana, dan memnag sekarang ini eranya sudah berubah dari Produk Driven ke Market Driven : Siapa pemenangnya, ya dialah yang bisa memenagkan hati Customer (market).

    Salam,

  9. there is nothing at the top, toyota perlu pahami ini
    ditengah puncak2nya kesandung oleh kesalahan sendiri
    apa artinya puncak jika mobil ditarik ???
    diatas puncak masih ada puncak yg lbh tinggi
    saya kira toyota way punya ilmu untuk belajar ksatria samurai
    dgn tarik mobilnya jgn lihat recall mobilnya, tapi keberanian untuk menarik, malu
    ,rugi, reputasi jatuh dan mulai dari bawah lagi ini way yg sangat bijak
    pertanyaan yang gak pernah recall produk mobil apalagi makanan minuman obat wah berabeh tuhh

  10. Setuju mr didit, ini emang ada sedikit intrik politik bisnisnya, saya tdk berpihak, krn saya sendiri tdk bekerja di toyota, dan untuk intrik beginian USA emang jagonya, justru USA yang tidak siap kehilangan superioritasnya, mereka selalu menjaga momentum untuk di katakan yang terhebat, sehingga image negara adidaya tetap melekat.Padahal menurut sebuah teori jika hanya terus bertahan dg excuse dan beropini…pada dasarnya seperti kayak orang bertinju….yang hanya bertahan menunggu jatuhnya (KO), yg seharusnya dilakukan USA adalah memukul balik menyerang (evaluasi dan melakukan inovasi). Saya jadi teringat dengan kejadian di 8 mile, atau tragedi challanger, mereka (USA) justru melepaskan opini dg kejadian tersebut, dan benar…itu hanya sementara, karena akhirnya kejadian sesungguhnya terungkap (pada akhirnya betapa malunya mereka dg kejadian sebenarnya). Yang ada dalam toyota way, TPS, adalah sebuah pemikiran2 yang luar biasa…kenapa harus malu mengakui hal ini, mending kita ambil positipnya, bukan langsung menjastifikasi bahwa pemikiran2 Toyota Way dan TPS di pertanyakan…..karena pada akhirnya terlihat buktinya…..

  11. Febri (13) : teori black swan sejatinya lebih ditujukan untuk memberitahu bahwa tidak ada kepastian dalam dunia investasi…..bahwa dalam setiap situasi tertentu pasti akan muncul “kejutan” yang membuat semua perhitungan yang seolah-olah pasti benar, ternyata salah.

    Mungkin relevan juga teori itu diaplikasikan disini. Dibalik sistem produksi toyota way yang katanya penuh kepastian, ternyata pada momen tertentu mengalami “kejutan” atau “penyimpangan”, dan akibatnya terjadi ledakan cacat mobil secara masal.

  12. Pak Yodhia yang saya hormati,

    Mau tanya tapi diluar arikel Pak ya, karena bulan ini dikantor saya lagi sibuk masalah yosedome (perampingan pekerjaan, pekerjaan yang tidak ada kaitannya dengan hoshin (company target) akan di scrab.

    Mohon saran, kalau diproduksi kan kita mengenal istilah Takt Time dan Cycle Time, sehingga bisa diketahui waktu kerja/proses per MP disetiap aktivitas itu berapa dan diuntungkan kerjanya sudah sesuai dengan SOP sehingga setiap hari bisa tahu hari ini akan mengerjakan apa.

    tapi kalau di officekan agak susah, kadang buat proposal project saja butuh waktu lama, kalau orang office juga kadang ngenet juga (seperti sekarang ini), alias pekerjaan orang office susah diketahui Man Hournya.

    Pertanyaan Saya adakah referensi atau saran Bapak, bagaimana cara menghitung Man Hour yang dibutuhkan untuk “orang Office”.

    Salam,

  13. hmmmm menarik,
    tapi bagimana kalo terbalik?
    yang terlihat tidak seperti yang dimaksud.
    seperti matahari dilihat terbenam di dunia belahan sana sedang disini matahari baru akan terbenam. dengan objek matahari yang sama.
    for me, is simple
    don’t too fast judging the issue
    don’t too slow taking the opportunity
    see with your eyes and hear with your ears for any possibility.
    why eyes and ears ada ‘s’ nya?
    see by yourself

  14. ehm….jadi teringat kembali pepatah mengatakan : “Tak ada gading yang Retak “.
    Satu lagi utk mengilustrasikan kejadian diatas adalah prinsip : “Keseimbangan”.

  15. saya pikir ini pasti ada udang di balik batu,
    pasti ini salah satu taktik politik negeri amerika untuk menjatuhkan imej dari Toyota untuk menyelamatkan Perusahaan kendaraan mereka yang sudah di ambang kebangkrutan dan mengemis meminta bantuan kepada pemerintahnya,
    benar atau tidaknya,, biar sejarah yang menjawabnya..

  16. menarik nih… strategi lanjutan bwat toyota yang udah ngalamin gagal produk… mestinya langkah pertama, benerin ntu pedal remnya. kedua investigasi, siapa yagn bertanggung jawab. yang ketiga, ya perbaikan di struktur yang terkait dengan kegagalan. keempat, di bagian standar kualitas harus lebih diperhatikan…

  17. Pingback: Ketika Sang Toyota Terkapar Penuh Luka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!