riverre.jpgFenomena terbangnya manusia-manusia cerdas nan brilian dari sebuah negeri (biasanya dari negeri berkembang) ke negeri lain yang ribuan kilometer jaraknya (rata-rata negeri maju) acap disebut sebagai human capital flight. Modal insani (human capital) yang harganya amat mahal dan berperan penting bagi kemajuan sebuah bangsa, mendadak lenyap tak berbekas. Mereka terbang jauh melintas benua.

Dalam skala yang masif, terbangnya sumber daya manusia brilian itu disebut sebagai brain drain. Atau hilangnya kumpulan otak cerdas yang ramai-ramai hijrah ke negeri lain yang lebih menjanjikan : ke negeri seberang tempat dimana land of hope masih bisa diejawantahkan.

Indonesia bukan satu-satunya negeri yang mengalami fenomena brain drain. Dua negeri lain juga mengalami hal ini, dengan skala yang lebih fantastis : India dan China.

Yang paling mencengangkan adalah India. Sejak tahun 50-an hingga hari ini, jutaan manusia cerdas dari India hijrah ke Amerika. Namun dampaknya juga mengejutkan : profesor kelahiran India selalu menjadi figur dominan pada hampir semua perguruan tinggi top di Amerika. Demikian juga, nama-nama berbau India selalu mendominasi pos penting pada hampir semua perusahaan teknologi papan atas di Amerika.

Karena itu, kalaulah ada kebijakan semua anak keturunan India harus keluar dari Amerika, maka hampir pasti ekonomi negeri adidaya itu seketika limbung. Sebab brain drain dari India itu telah berperan amat penting bagi kemajuan tekenologi dan ekonomi negeri besar itu.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, Indonesia juga punya banyak kasus brain drain. Kita misalnya, melihat bagaimana anak kelahiran Medan menjadi profesor top di Amerika. Atau ada juga anak negeri ini yang menjadi dewa dalam salah satu satu perguruan top di Jepang. Banyak juga anak-anak cemerlang negeri ini yang berkiprah di Eropa, dan menduduki pos penting di sejumlah organisasi.

Mengapa terjadi brain drain? Jawabannya sederhana : infrastruktur di dalam negeri yang belum tertata dengan elok. Banyak dari manusia brilian – yang rata-rata berprofesi sebagai saintis/peneliti itu, menemukan fasilitas riset disini yang belum optimal mendukung kiprah mereka.

Alasan lain tentu saja : penghasilan. Bekerja sebagai peneliti di negeri seberang menjanjikan penghasilan yang sangat memadai. Yang tak kalah penting : mereka menemukan ruang untuk terus mengembangkan potensi keilmuannya.

Lalu apa solusinya? Sederhana juga : pihak pemerintah harus segera membenahi infrstruktur riset disini; dan juga secara agresif memberikan reward yang atraktif bagi para peneliti yang telah teruji dalam kancah dunia. Pemerintah China – lantaran kemajuan ekonominya – telah secara agresif melakukan kebijakan ini.

Mereka menjanjikan dana riset yang hampir tak terbatas, gaji yang besar dan fasilitas riset kelas dunia, guna menarik para peneliti cemerlang mereka yang malang melintang di jagat Amerika dan Eropa. Hasilnya menarik : terjadilah fenomena reverse brain drain. Maksudnya, ribuan insan brilian China yang telah berhasil di negeri seberang itu ramai-ramai pulang kampung untuk membangun tanah airnya. Reverse brain drain adalah fenomena indah yang layak kita impikan.

Solusi lain adalah ini : mengharapkan agar ada diantara periset itu yang memiliki jiwa advonturir (semangat petualangan) untuk membangun lembaga riset unggul di dalam negeri. Artinya, periset itu tetap berjibaku membangun kegiatan riset kelas dunia di negerinya sendiri, meski terus disergap beragam keterbatasan.

Sangkot Marzuki, profesor biokimia hebat kita itu, adalah salah satu contohnya. Meski telah menduduki posisi prestisius di University of Melbourne, ia memilih pulang dan membangun Lembaga Biomolekuler Eijkman, yang berlokasi di Salemba, Jakarta. Di tengah segala keterbatasan, ia tidak menyerah. Hasilnya, lembaga itu kini telah diakui dunia. Terry Mart, anak negeri ini yang jadi dosen Fisika UI juga melakukan hal serupa. Ia tetap memilih berkiprah di UI sambil terus menulis riset kelas dunia di jurnal-jurnal internasional.

Kita mungkin membutuhkan sosok periset dengan spirit semacam itu guna menghindari fenomena human capital flight. Bagaimanapun kejadian brain drain dan human capital flight acapkali membuat negeri asal mereka menjadi kian kehilangan.

Saya percaya suatu hari nanti, fenomena reverse brain drain juga akan hinggap di negeri ini. Itulah momen dimana ribuan anak cemerlang yang telah berkiprah di negeri seberang akan berbondong-bondong pulang, dan membangun ibu pertiwi.

blog-di-fb-biru.jpg

Photo credit by : Nick Holland @ Flickr.com