The Toyota Way : Proses Membangun Perusahaan Kelas Dunia

lexus-is-250c-convertible-2010-front-nose-mainre.jpgKini Toyota telah menjelma menjadi perusahaan mobil terbesar di dunia – melibas pabrikan raksasa seperti General Motor, Volkswagen ataupun Peugeot. Salah satu dimensi kunci yang membuat nama Toyota menjadi demikian harum barangkali adalah kualitas produk yang dihasilkannya.

Darinya kita mengenal konsep seperti Toyota Lean Manufacturing, Kaizen (perbaikan berkelanjutan) ataupun juga “just in time inventory”. Dari sinilah kemudian, kita juga mengenal beragam merk mobil dengan kualitas kelas dunia, mulai dari sang legenda Totoya Camry, Toyota Fortuner hingga Lexus.

Lalu, rahasia apa yang membuat nama Toyota terus menjulang? Tulisan kali ini mencoba mengeksplorasi jawabannya.

Dan jawaban itu mungkin secara komprehensif dapat disimak dalam sebuah buku yang amat memikat berjudul The Toyota Way : 14 Management Principles from  the World’s Greatest Manufacturer yang ditulis oleh Jeffrey Liker. Dalam buku ini dibentangkan sejumlah prinsip kunci yang membuat Toyota menjadi apa yang seperti kita kenal saat ini. Dalam kesempatan ini kita akan mencoba menengok empat prinsip diantarata.

the_toyota_way_1re.jpgPrinsip pertama yang membuat Toyota menjadi legenda adalah ini : long term philosophy. Atau sebuah prinsip yang senantiasa disandarkan pada filosofi jangka panjang. Mereka selalu mencoba mengambil keputusan manajemen berdasar perspektif jangka panjang, dan bukan sekedar demi keuntungan finansial jangka pendek semata.

Kisah riset mereka untuk menghasilkan mobil hibrid pertama di-dunia dengan merk Toyota Prius misalnya; dibangun dengan pemikiran janga panjang akan masa depan bumi. Meski mungkin upaya ini tidak menghasilkan banyak profit, namun mereka dengan intens melakukan ikhtiar untuk mampu menghasilkan mobil dengan emisi gas buang nol (zerro emission). Sebuah impian yang tentu saja didasarkan akan long term perspective.

Prinsip kedua yang juga mereka jalankan adalah : The Right Process Will Produce the Right Results. Inilah sebuah filosofi yang banyak mendasari proses produksi (manufacturing) Toyota yang legendaris. Dalam prinsip ini mereka selalu mencoba membangun sebuah proses produksi yang sempurna demi menghasilkan beragam produk mobil dengan mutu yang tak terkalahkan.

Disinilah lalu dikenal sejumlah pendekatan semacam heijunka atau sebuah ikhtiar untuk membangun proses produksi yang mampu meminimalkan waste; serta tidak memberikan beban berlebihan kepada mesin ataupun tenaga manusia (overburden process). Pendekatan lain yang juga muncul adalah kaizen atau sebuah upaya terus menerus untuk melakukan perbaikan (constant improvement) melalui standarisasi proses yang sistematis dan mudah di-observasi.

Prinsip ketiga Toyota Way adalah : Add Value to the Organization by Developing Your People. Melalui prinsip ini Toyota senantiasa mendedikasikan sumber daya yang melimpah untuk pengembangan kompetensi para karyawannya. Para leader dan teknisi terus digodok hingga tingkat master. Para master inilah yang kemudian akan memastikan bahwa setiap Lexus atau Camry yang diproduksi, semuanya sesuai dengan acuan standar mutu yang telah ditetapkan.

Yang menarik, proses pengembangan SDM ini juga dilakukan secara intensif kepada para mitra (supplier) Toyota. Mereka mengenalnya sebagai Toyota Supply Chain Network. Setiap supplier yang ada dalam alur ini selalu mendapatkan semacam “intervensi pelatihan dan pengembangan” dari Toyota untuk memastikan semua mitra tersebut memiliki mutu SDM dan produk yang sejajar dengan standar Toyota.

Prinsip keempat atau terakhir yang diuraikan dalam buku ini adalah tentang : Continuously Solving Root Problems to Drive Organizational Learning. Dalam prinsip ini kita dikenalkan dengan pendekatan Toyota yang berbunyi : Genchi Gebutsu (atau sebuah prinsip yang mengajak kita untuk selalu “turun ke lapangan” dan melihat proses secara menyeluruh demi memahami situasi/akar masalah dengan lebih komprehensif). Melacak akar masalah – dan bukan sekedar gejala atau simptom – adalah kunci bagi terbangunnya sebuah proses operasi yang ekselen, dan juga keunggulan kinerja.

Tak pelak buku The Toyota Way ini menawarkan beragam pelajaran yang menarik tentang bagaimana membangun sebuah perusahaan dengan kinerja unggul. Jika kita belum sanggup membeli sebuah sedan Lexus, mungkin buku ini bisa menjadi semacam hiburan berharga tentang bagaimana merancang sebuah mobil dan perusahaan kelas dunia.

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, marketing dan HR management, silakan datang KESINI.


NOTE :
Mau update artikel2 mencerahkan seperti diatas langsung melalui smartphone Anda? Langsung saja invite PIN BBM saya : 583 4191B. Atau invite + save no WA saya di 0812 8644 8789. Bagi yg invite, akan saya berikan BONUS tiga ebook bagus tentang mindset, kebebasan finansial dan cara meraih karir impian. Slide BiruPakar Hijau

28 comments on “The Toyota Way : Proses Membangun Perusahaan Kelas Dunia
  1. Pingback: Twitter Trackbacks for The Toyota Way : Proses Membangun Perusahaan Kelas Dunia | blog strategi + manajemen [strategimanajemen.net] on Topsy.com

  2. Karena Anda akan bermimpi,
    mimpikanlah yang indah.

    Karena Anda akan berpikir,
    pikirkanlah yang besar.

    Dan karena Anda akan bekerja,
    kerjakanlah yang terbaik.

    Tidak ada kedamaian di jalan
    yang setengah-setengah.

    Hidup dan bekerjalah untuk
    menjadi yang terbaik dalam
    melakukan yang Anda lakukan.

    Dalam kesungguhan itulah,
    mudah-mudahan Tuhan merahmati kita,
    dan menyegerakan jawaban
    bagi semua doa kita.

  3. laaa, akhirnya datang juga :) ini yg dulu buat aku tertarik ama bapak yg satu ini. jadi pembahasannya berangkat dari contoh kasus riil. yg lain memang riil, cuman contoh kasusnya ga diangkat. kaya ceritanya nissan, google, apple. like it Mr. Yodhia :)

  4. semangat pendokumentasian dalam segala hal terus digalakkan. mulai dari urusan yang sepele, sebut saja misalnya buku kuliner, sampai toyota way, samsung way dan tentu saja way-way yang lain. sebagai seorang yang suka baca, tentu saja layak untuk bersyukur. sebab dari dokumen (buku) kita bisa mengambil kebijakan.

  5. Met pagi Mas yodhia….setelah baca paparan diatas, saya selalui ingat prinsip PDCA (Plan Do Check Action)…..
    Oke Mas terima kasih banyak pemaparannya, semoga menambah inspirasi dipagi ini sebagai modal untuk selalu produktif.

  6. prinsip kaizen ini jg dipakai dlm keseharian org jepang, ada peribahasa di jepang “apabila tdk bertemu seorang kawan selama 3 hari, lihatlah ada perubahan apa sj dlm dirinya”…inilah kaizen yg dlm kosakata bhs inggris tdk diketemukan, ttp dlm islam qt menemukannya dlm kata “ihsan”.
    terimakasih pak yodhia…nice artikel

  7. Febri (3) : ya karena Lexus juga merupakan produksi Toyota. Mobil Lexus khusus untuk kelas premium; dan supaya brand-nya lebih kokoh, pihak Toyota hanya memberi nama Lexus (tanpa embel-embel Toyota).

  8. ini jadi buku wajib di dalam training saya, peserta suruh baca selama 6 jam, kemudian merangkumnya…tapi semenjak kasus toyota kemaren, tentang recall jutaan unit toyota, saya menjadi bertanya-tanya, apakah konsep kualitas dan improvement itu hanya wacana belaka…

    tolong luruskan ini Pak Yodhia….

  9. Ya… Toyota perusahaan besar dan hebat.
    Terutama tentang Mobil Hybrid.
    Hanya buku tersebut mungkin kurang relevan dengan bisnis kecil.
    Cobalah beberapa buku manajemen ini: (yg sangat saya sukai)
    First, Break All The Rules (Marcus Buckingham)
    The Ten Commandment (Bill From)
    Tribes (Seth Godin)
    Small is The New Big (Seth Godin)
    Priblem Solving (Ken Watanabe)

    semoga bermanfaat:)

    regards…

  10. Sependapat dengan pak Yohan (12). Di salah satu artikel yang saya baca di Bloomberg Business week (maaf saya lupa edisinya), ternyata Toyata “overdosis” menggunakan senjata andalan mereka, Kaizen. Proses peningkatan mutu yang diharapkan dapat terjadi dengan pemangkasan waktu produksi berbalik menjadi senjata makan tuan. Setelah itu terjadilah “cacat” produksi yang mengharuskan Toyota me-recall hampir sebagian besar produk mereka di benua Amerika.

    Mohon diluruskan jika saya salah …

    salam//…

  11. Buku-buku how to yang bersampul keras yang berkata:
    “Beginilah cara kami melakukannya…”
    Mungkin harus dikaji ulang tentang apakah itu benar-benar bermanfaat.
    Itulah kenapa buku-buku berlabel “Way” begitu banyak.
    Tapi tetap saja tidak berguna karena bos adalah bos.
    Keputusan bos adalah kebijaksanaan perusahaan.
    Karyawan mengerjakan tugas-tugas.

    Sudah saatnya membuat keputusan tentang kemana anda melangkah.
    Bukan membayangkan dari hari ke hari tentang diri anda dalam kisah orang lain di sebuah buku bersampul keras…

    Saya percaya anda bisa melakukannya, terutama untuk orang yang anda cintai

    Regards…,,,

  12. Salam sukses…
    Saya kebetulan bekerja di TOYOTA, thanks bos…atas ulasannya.
    Saya hanya mau menambahkan, sebenarnya hanya ada 2 inti dari TOYOTA WAY :
    1. Continuous Improvement
    2. Respect for people
    Dari kedua itulah semua berkembang menjadi bagian-bagian yang detail seperti yang bos Yodhia paparkan diatas…
    Thanks dan sukses selalu..

  13. Buku ini memang bagus dan menginspirasi.
    Tetapi namanya manusia, nobody’s perfect!
    Dengan segala macam standarisasi proses produksi yang dilakukan Toyota tetap saja perusahaan itu kecolongan. Banyak produk mereka yang ditarik di Amerika dan Eropa karena mengalami cacat produksi pada masalah rem.

  14. Lean Manufacturing—or often simply “Lean” is a production practice, operational strategy, and management philosophy initially developed by Toyota, which is widely credited with fuelling their growth from a small manufacturer to the world’s largest automaker. Lean strategies have since grown into a full-fledged, independent and comprehensive business philosophy applied by many successful companies around the globe.

  15. Saya bekerja dari salah satu pabrik PMA Jepang yang masuk dalam Toyota Supply Chain Network. System Qualitas Toyota pun saat ini diadopsi melengkapi Standar Internasional untuk otomotif ISO/TS 16949.

    Sekiranya terjadi recall, semua biaya dibebankan ke perusahaan penyuplai part penyebab kegagalan produk tersebut.

    Begitulah cara Perusahaan Jepang menjaga komitmen dan nama baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!