Dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang strengths-based approach, atau pendekatan yang bertumpu pada keunggulan/kekuatan positif yang telah dimiliki untuk melesat lebih tinggi. Sebuah paradigma pemikiran yang mau mengatakan bahwa kita hanya akan bisa terus maju kalau kita lebih berfokus pada strengths kita, dan bukan kelemahan.

Cuman tantangannya, mengajak mindset kita berfokus pada kelebihan yang sudah ada, pada keberhasilan yang sudah diraih; dan bukan melulu pada kelemahan yang negatif bukan soal yang mudah.

Dan jujur tantangan itu memang tidak mudah ditaklukkan, namun bukan berarti mustahil dikendalikan. Dalam tulisan kali ini kita akan menjelajah bagaimana cara mengubah mindset kita menuju strengths-based approach, dan bagaimana cara mengenali strengths (kekuatan) yang ada pada diri kita.

Berpikir tentang kelemahan dan kekurangan memang lebih mudah dilakukan. Kita mungkin lebih gampang menyebut kesalahan atau kekurangan orang lain (ah, mungkin kita terlalu sering melakukannya). Sebaliknya, barangkali kita agak bingung jika diminta menyebut apa kelebihan rekan kita (coba renungkan apa saja kelebihan atasan Anda sekarang? Atau kekuatan yang pada rekan kerja Anda).

Studi memang menunjukkan kita cenderung lebih mudah menunjuk kelemahan orang lain, dibanding menyebut kekuatannya. Contoh : kebanyakan mata orang tua akan langsung tertuju pada angka merah di raport anaknya; meskipun angka merah itu hanya satu pelajaran; dan sembilan mata pelajaran lainnya mendapat angka delapan. Dan ah, waktu untuk mengapresiasi sembilan pelajaran itu mungkin hanya 3 menit, sementara waktu untuk “menceramahi” angka yang merah untuk satu