Kisah tentang Pekerja Kantoran yang Pindah Kuadran menjadi Juragan

Diam-diam sebenarnya banyak pekerja kantoran – bahkan yang sudah mapan – yang berhasrat membangun usaha sendiri. Kejenuhan menjalani rutinitas masuk kantor jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore (kadang hingga jam 8 malam) mungkin menjadi salah satu pemicu (belum lagi jika suasana kantor yang suka bikin bete).

Potensi penghasilan yang lebih mak nyus juga membuat banyak pekerja kantoran pengin buka bisnis sendiri (ya, daripada lelah nunggu kenaikan gaji yang entah kapan datangnya. Pas udah datang, naiknya cuman 4 %. Doh #kepala mendadak puyeng mikirin biaya hidup yang makin mahal#).

Namun proses pindah kuadran dari pekerja kantoran menjadi juragan ternyata bukan hal yang mudah. Disana ada bentangan perjalanan yang berliku nan terjal. Nah di pagi yang cerah ini, kita mau menikmati sepotong kisah tentang anak muda yang berjibaku menjahit impiannya : mimpi pekerja kantoran yang ingin menjadi juragan.

Jreng, jreng. Anda semua sudah siap menikmati sajian renyah ini?

Kisah ini dimulai dari kehidupan anak muda bernama Adhika Dirgantara (sebuah nama yang keren). Ia lulusan sarjana ilmu informatika dari Binus (Universitas Bina Nusantara). Dulunya ia bekerja di bagian IT perusahaan Pfizer, sebuah perusahaan farmasi tenar berskala global. Gajinya juga ndak jelek-jelek amat, 5 juta per bulan.

Namun ia merasa, ritual pergi pulang bekerja sungguh meletihkan. Kantornya di Sudirman Jakarta, sementara ia tinggal di Bekasi. Setiap pagi ia berangkat kerja naik sepeda motor : menembus lautan kemacetan yang setiap saat menghadang selama 1,5 jam. Pulangnya juga sami mawon. Wah kalau begini, saya bisa tua dijalan dong, begitu ia membatin.

Bekerja di perusahaan besar yang penuh dengan birokrasi juga membuat ia merasa tak bisa bebas berkreasi. Terlalu banyak aturan dan hirarki. Ia juga cuma pekerja kelas rendahan. Ia jadi merasa sekedar sekrup dari perusahaan tempatnya bekerja. Sekedar menjadi sekrup dari mesin kapitalisme global yang terus menderu.

Kalau hidup kayak gitu terus, kok rasanya ndak asyik ya. Begitu ia kembali membatin. Kayak sayur lodeh tanpa garam. Hambar begitu. Hmm.

Begitulah pada usia 25 tahun, setelah tiga tahun menjadi pekerja kantoran, ia memutuskan untuk resign. Resign gitu lho (hayo siapa yang mau ikutan resign, ngacung).

Dengan bekal tabungannya, ia langsung buka usaha dibidang konsultan IT (sebuah pilihan yang lumayan pas dengan keahliannya). Namun ternyata ia hanya bisa dapat satu klien dengan nilai projek sekitar 30-an juta. Setelah itu NOL besar. Ndak ada lagi order masuk.

Pelan-pelan usaha konsultannya itu bangkrut. Kenapa? Sebab ia tidak memiliki keahlian untuk MENJUAL kepada calon klien (catatan : ini banyak terjadi pada teman saya yang juga ingin buka usaha menjadi konsultan manajemen. Dikira mencari klien itu gampang. Emang klien dari Hongkong).

Adhika lalu banting setir. Dengan modal tabungannya yang tersisa ia kemudian membuka bisnis toko tinta isi ulang. Ruko sudah disewa. Barang-barang sudah dipajang. Brosur promosi sudah disebar. Toh ternyata usaha ini hanya berjalan 6 bulan, dan lalu bangkrut lagi. Pembelinya sepi (hasil evaluasi menunjukkan lokasi ruko yang tidak strategis, terlalu sempit sehingga terkesan tidak bonafid, dan kalah dengan pesaing yang ada di jalan yang sama, dengan toko yang lebih megah).

Dua kali gagal. Hmm. Tabungan makin tipis. Hmm. Orangtuanya juga mulai panik. Hmm. (iih, kok ehm-ehm terus sih).

Ditengah-tengah situasi yang kepepet itulah, mendadak muncul “eureka momment” : aha, saya kan bisa bikin website, dan saya kan asli Pekalongan yang jago bikin batik (the power of kepepet itu ternyata ampuh juga ya).

Begitulah, ia lalu memadukan dua elemen vital itu yakni : kemampuan membikin website dan jaringan kenalannya dengan para juragan batik Pekalongan, untuk membuka bisnis online jualan batik. Lalu abrakadabra : lahirlah online store batik paling keren se Indonesia.

Alhamdulilah, karena keahliannya dalam internet marketing, dan akses yang luas akan produk-produk batik yang bagus dengan harga relatif murah, ia bisa membuat bisnis yang ketiganya ini SUKSES. Omzetnya sudah besar. Dan bahkan ia kini juga melebarkan bisnis online-nya untuk berjualan emas batangan (alhamdulilah, sukses juga).

Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisahnya. Pertama, makin muda usia ketika Anda memulai usaha, makin bagus. Anda jadi punya cadangan waktu yang agak panjang ketika harus menghadapi kegagalan demi kegagalan (Adhika memutuskan resign dan memulai bisnis sendiri di usia 25 tahun, usia yang tergolong masih belia).

Kedua, kegagalan adalah sebuah lelakon yang kudu dijemput tanpa rasa takut berlebihan. Jika Anda berani sukses, mestinya juga harus berani gagal. Adhika mengalami dua kali kegagalan, dan ia tetap terus jalan (dan bukan ragu lalu kembali lagi menjadi karyawan. Kembali menjadi sekrup).

Ketiga, mimpi yang mau dijahit itu harus terus dikibarkan : mimpi menjadi juragan sukses. Adhika bilang, tanpa mimpi itu mungkin ia mudah menyerah kalah. “Impian yang berkibar-kibar itu yang membuat saya bisa terus bersemangat menjalani semua tantangan”.

Ia mengucapkan kalimat itu di hadapan saya dengan penuh keyakinan. Saya kemudian hanya bisa memeluknya erat-erat. Sebagai kakak kandungnya, saya cuman bisa merasa bangga.

Goodluck, my young brother !!!

Photo credit by : AnNamir @flickr.com
NOTE :
Mau update artikel2 mencerahkan seperti diatas langsung melalui smartphone Anda? Langsung saja invite PIN BBM saya : 583 4191B. Atau invite + save no WA saya di 0812 8644 8789. Bagi yg invite, akan saya berikan BONUS tiga ebook bagus tentang mindset, kebebasan finansial dan cara meraih karir impian. Slide BiruPakar Hijau

76 comments on “Kisah tentang Pekerja Kantoran yang Pindah Kuadran menjadi Juragan
  1. “Jika anda berani sukses, mestinya juga berani gagal.”

    Words! Masih blum berani pindah kuadran, sementara side job dulu untuk membentuk client base. :)

    Thanks for sharing pak.

  2. weh, diulas lagi, bikin keki aja ;)

    faktor yg gak kalah penting dalam pindah kuadran adalah keluarga; ortu yg tetep ‘kalem’ meskipun anaknya jumpalitan, sodara2 yg tetep asyik mendukung seperti sampeyan, istri yg fully support tanpa mengeluh.

    saya terberkahi dengan keluarga dan lingkaran yg seperti ini. satu-satunya cara untuk membalas dukungan seperti ini adalah dengan pembuktian dan itu semua masih terus berproses secara mengasyikkan.

    terima kasih mas atas dukungannya yg tiada henti, it means a lot.

    u rock! :)

    Salam,
    Adhika
    http://outletdinar.com/investasi-emas-bagi-pemula

  3. Selamat

    Anda sukses memilih jalan hidup.menentukan pilihan hidup di usia muda kadang butuh suport dari berbagai pihak terutama keluarga dan mungkin jg teman.

    saat menentukan pilihan di usia muda,memang msh banyak waktu untuk berbenah,termasuk jika mengalami resiko gagal.

    bahayanya adalah jika dia putus asa dan pindah haluan jd kary lagi,maka dia sdh kehiilangan momen emas dlm karir.

    disitulah dibutuhkan suport agar kita tetap fokus pada pilihan hidup.

    Salam.
    Wahyudi
    http://www.gmunews.com

  4. Sy baca komentar-komentarnya mengenai kegagalan seseorang bila lgsg memutuskan kembali menjadi karyawan bila bisnis tidak berhasil.

    Bicara memang mudah, tapi kita juga harus memikirkan keluarga. kondisi tiap orang berbeda.

    Bila memang setelah sekian lama bisnis blm menghasilkan, lalu keluarga harus makan apa?

    Mas andika beruntung pny keluarga yg bs support, tp bnyk org diluar sana yg gk pny itu dan hny bs bermimpi :(

  5. kisah yang sangat inspiratif Pak.
    terima kasih atas suntikan motivasinya.
    saya jadi makin semangat untuk memulai bisnis sendiri di usia semuda mungkin, kalau perlu di usia remaja.

    Hehe
    salam super

  6. Salam mas Yodhia dan teman2 pembaca blog ini,
    Seperti tulisan lain bertema sama, sy kurang setuju dengan asumsi lebih baik jadi “juragan” ketimbang karyawan kantoran. Pendapat itu seperti itu dan yg jadi asumsi artikel ini sangat bias, karena tantangan dan faktor keberhasilan di dua profesi ini sangat-sangat bervariasi.

    – Lebih cepat pindah kuadran lebih baik? Bagaimana kalau “modal” – semua resources yg diperlukan- belum memadai? Bagaimana kalau karier di perusahaan lebih menjanjikan? Bagaimana kalau sekali gagal, adalah “one way ticket”, awal dari keterpurukan orang itu dan keluarganya? Karena, tidak ada yang bisa menjamin berbisnis pada akhirnya (dgn beberapa kali gagal) bisa sukses . .
    – Bagaimana bila pelajaran kedua (berani sukses dan berani gagal) dan ketiga (soal mengejar mimpi) diterapkan di dalam karier pekerja kantoran? Bukankan bisa berpotensi mendapatkan gaji/karier yg lebih baik, suasana yang lebih enjoy, etc, etc….?

    Kesimpulan saya, ketiga pelajaran yg dipetik dari kisah di artikel ini, bisa diterapkan sama persis untuk berkarier di perusahaan.
    Jadi, kenapa harus pusing soal juragan atau bekerja kantoran?

    Salam

  7. Terimakasih atas kisahnya. Persiapan pindah kuadran memang kudu matang. InsyaALLAH, jalan terang segera dibukakan untuk kita semua. Amin.

  8. enaknya pas pindah kuadran itu kalo masih bujangan (he..he). ga ada beban ga ada tanggungan, coba kalo sudha berkeluarga sudah punya bini dan anak2, kalo gagal risiko-nya tambah besar karena harus menghidupi orang lain.

    kalo bujangan ? gagal, yo gagal sendiri.. risiko ditanggung sendiri, kalau kelaparan (bangkrut) yo kelaparan sendiri. heheh :)

  9. Saya sudah mengenal mas Adhika, karena termasuk pelanggannya di outlet dinar, selamat ya mas Adhika, cerita yang dibuat Pak Yodia sangat menarik dan inspiratif…

  10. Inspiring… makasih pak Yodhia untuk sharing di awal pekan ini.. semakin memotivasi..

    saya juga lagi merintis untuk pindah kuadran.. dari pekerjaan yang saat ini masih sy geluti, di bidang Penerbangan (sesuai dengan kuliah) ke bidang yang jauuuh ga nyambungnya :) saat ini juga saya lg membangun usaha Salon Muslimah di Tangerang,hehe.. ga nyambung sama kuliahan kan :D

    Salam

  11. Artikel anda cukup inspiratif, dengan pesan inti ” mumpung masih muda coba banyak peluang untuk mengejar mimpi ”
    Saya bangga menjadi karyawan kantoran sekaligus merintis usaha untuk menambah uang saku. Dua peran ini saya lakoni karena saya pikir kalau 2 sumber bisa seiring sejalan kenapa harus resign dari status karyawan.

  12. woalah adiknya to…xixixii…semoga saya bisa segera menyusul…lelah menghadapi jalanan Ibukota dan alasan yg hampir sama, selain itu enaknya bisnis krn saya bebas berekspresi…hanya tinggal keberanian yg harus dipupuk…mohon doa nya ya Pak…

  13. setuju dengan pendapat Dhika faktor yg terpenting

    “faktor yg gak kalah penting dalam pindah kuadran adalah keluarga; ortu yg tetep ‘kalem’ meskipun anaknya jumpalitan, sodara2 yg tetep asyik mendukung seperti sampeyan, istri yg fully support tanpa mengeluh.”

    sy sudah siap tetapi keluarga belum siap untuk pindah kuadran…sedang dalam proses..berharap cepat terwujud :D

  14. Good inspiration…..setidaknya saya sudah menyiapkan payung sebelum hujan, karena apapun bisa terjadi jika bekerja di sektor swasta, sehingga jika hujan deras, saya sudah siap payung, tanpa perlu cari dan beli payung dulu…..salam

  15. beruntung yg memulai dengan punya “sangu”.. tp bukan berarti yg memulai dari “nol puthul” harus mlintir..

    “Your focus determines your reality.”

  16. salam semua…
    mas Yod,…
    bisa kasih tulisan yg inspiratif ga buat temen2 yg kerja kantoran…?
    krn kan belum tentu semua org bisa berwira usaha…
    dan menurut ku banyak juga para pekerja kantoran yg dengan penghasilan ngga tinggi2 amat tp itu sudah merupakan masil yg optimal dr mereka…

    trima kasih ya….
    salam sukses, bahagia n sejahtera..

  17. seperti yang familiar dengan nama adhika dirgantara deeeh…
    *pura-pura ndak ingat ahhh… ;o) ..sukses ya bro… dan makasih tulisannya mengingatkan kembali masa-masa hunting di masjid istiqlal, pasar baru dan bundaran HI… ;o)

  18. Cerita inspiratif yang dikemas dgn gaya bahasa yg renyah.

    Menurut sy, apapun usaha atau kerjanya, jika orang tua dan keluarga mendukung dibelakang, ins.Allah lebih berkah dan semoga lebih lapang rizkinya. Semangka!

  19. Sy juga termasuk orang yg punya keinginan besar mempunyai bisnis sendiri dan keluar dari kantoran sejak saya lulus dr kuliah sampai saat ini, tapi memulai bisnis memang tidak semudah menceritakan kesuksesan orang lain.

    Saya hanya ingin sharing ketika sy gagal dalam memulai bisnis, saat itu saya memutuskan keluar dari pekerjaan dan berusaha memulai bisnis dengan keluarga, beberapa bisnis telah kami coba tapi keberuntungan belum memihak ke kami sehingga kami gagal dan benar2 jatuh, tidak sampai disitu saja karena tidak ada pemasukan, tabungan kami habis, barang2 dirumah habis, hutang banyak karena harus minjam kesana kemari untuk biaya hidup sehari-hari.

    sekali lagi ini hanya sharing bukan berarti saya atipati terhadap orang yg mempunyai keinginan membuka bisnis sendiri, saat inipun impian sy belum berkurang sedikitpun.

    kenyataannya kita harus sudah benar2 siap dan harus sudah tau kemana arah tujuan kita sehingga dapat meminimalisasi kemungkinan2 terburuk..

    Saya Ucapkan selamat untuk orang2 yang sudah sukses dan berhasil menggapai impiannya karena tidak mudah mencapai apa yg anda capai saat ini..

    salam
    Joy

  20. Menanggapi komentar Pak Taufiq Amir:

    Memang ada benarnya bekerja kantoran lebih menjamin daripada jadi juragan.
    saya lebih pro dengan Pak Taufiq toh karir yang diharapkan bisa dicapai tanpa harus takut gagal. Menjadi juragan bisa dijadikan alternatif atau kerja sampingan. Jika kita mampu / bijaksana dalam mengatur waktu, biaya dll nya, bukan tidak mungkin kita bisa sukses di keduanya.

    Semua tergantung garis tangan :)

    salam,
    Didin A

  21. Saya salut diusia muda sudah cepat mengambil langkah dan keputusan

    sementara saya ibu dari 3 orang anak yang masih remaja dan pra remaja serta sorang karyawati dan suami yg hanya seorang guru.

    Sampai saat ini belum berani melangkah pada impian sudah ada sejak lulus kuliah….wach kapan saya bisa mengambil keputusan yg tepat yach…..good for idea

  22. Salam kenal semuanya,

    Saya boleh numpang sharing? Saya 27 tahun, belum berkeluarga, dan baru november tahun lalu pindah kuadran dari karyawan menjadi pengusaha.

    Jujur aja, mungkin saya agak ‘curang’ dalam memulai bisnis sendiri. Kebetulan orangtua mempunyai PT yang tidak pernah diurus, gak nyewa ruang kantor, dan ga ada karyawan, kerja kalau ada proyek aja. jadi saya ‘manfaatkan’ PT tersebut untuk saya jadikan wadah hukum.

    Sampai saat ini alhamdulilah masih lancar-lancar saja, dan bahkan sejak bulan lalu jumlah karyawan sudah 4 orang (mulai bulan lalu saya ‘menyewa’ salah satu ruangan di rumah orang tua untuk dijadikan kantor).

    Kalau dilihat sekilas, orang lain pasti mikir, “ah kamu enak, ada PT punya orangtua, nyewa kantor di rumah orang tua, sama aja boong itu”. Tapi pada kenyataannya gak seenak itu, karena saya sudah tidak bergaji lagi, dan orang tua pun tidak memberikan bantuan finansial (jadi kalo sewaktu jadi karyawan tgl 25 pada seneng, sekarang saya malah jadi pusing tiap tanggal segitu hehe), modal awal praktis hanya dari sisa tabungan saya saat menjadi karyawan dengan gaji 2 jutaan per bulan.

    Awalnya mulai sendirian, terus saya dibukakan jalan karena akhirnya kenal dengan orang yang punya koneksi ke percetakan-percetakan dan juga ke usaha-usaha pengadaan suvenir serta merchandise. Jadi saya dan dia sepakat, saya yang jualan, dia yang ngurus produksinya hingga nentuin harganya.

    Modal gak terlalu besar, karena saya gak produksi, gak nyetok barang, tetapi hanya menjadi ‘makelar’ untuk jasa-jasa orang lain, atau biar lebih enak nyebutnya, saya ‘jualin’ barang-barang atau jasa dari usaha orang lain. Meskipun pada akhirnya memutuskan untuk meng-hire sales karena saya butuh perpanjangan tangan untuk memperluas prospek klien.

    jalan 3 bulan tanpa kantor, meeting dengan tim biasanya di suatu tempat, ngeprint proposal dan ngirim email penawaran di tempat print atau warnet, dan syukurnya kebetulan bisnis yang saya pilih itu mempunyai tingkat permintaan yang lumayan (pasti ada aja yang mau cetak brosur, poster, undangan, dsb) dan dari rekan saya yang punya koneksi ke percetakan itu saya bisa dapet harga yang cukup bersaing, setidaknya apabila dibandingkan dengan usaha sejenis yang namanya lebih terkenal.

    Mulai dari incar dan tawarin ke teman-teman sendiri, lama kelamaan dapet juga klien perusahaan-perusahaan bahkan sebelum saya sewa ruang kantor.

    Intinya, (maaf terlalu panjang), tidak perlu harus selalu jalanin bisnis dimana kita produksi sendiri, tidak harus juga punya kantor, dan harus rajin-rajin cari koneksi vendor-vendor, dan selalu mulai mencari prospek dari melihat sekitar kita dulu.

    segitu saja sharing dari saya, maaf terlalu panjang, dan saya sih tidak condong apakah lebih baik menjadi karyawan atau juragan, yang paling penting lihat kondisi dan kebutuhan diri masing-masing :)

  23. pak jadi inget taon kemarin ..usia 27 sy risgn dr optik terbesar di indonesia..lalu total buka usaha optik sendiri..modal nekat..ngepress…akhirnya sy bertahan 2 bulan ..walau omset lumayan tp bingung mangemennya+capek+rata2 custamer di angsur..

    skrng gabung di LSM namun tetap berbinis kacamata panggilan(PASIF)…

    pak bagaimana sy bisa lebih smangat lagi…total lagi ..untk terus berbisnis sendiri…

    sy bth smangat n konsistensi….minta rumusnya pak?

  24. Asoka (48) : kiatnya, sering-sering baca tulisan di blog ini….:)

    Banyak pencerahan dan inspirasi penambah spirit. Atau browsing tulisan-tulisan lama di web ini. Banyak yang isinya relevan dengan kasus Anda.

  25. Tulisan yang inspiratif. gaya nulis yang ringan dan membumi. saya senang dengan cara anda menutup tulisan. Mak jedeeeeer gitu…

  26. Bekerjalah untuk memajukan Agama Allah, pasti Allah akan mengutamakan engkau dalam setiap usahamu

    Sodaqoh

    Minta doa kepada kedua orang tua, sampai beliau benar benar Ridho pada usahamu, walaupun sedikit rasa tidak percaya pada engkau, atau curiga, atau waswas.. itu akan menyulitkan langkah usahamu..

    regards,

    isnan
    savannah photography

  27. Salut mas… dan membakar semangat saya lagi…

    Saya masih belum berhasil utk pindah kudaran. Saat ini saya masih berstatus BangsaWan (Bangsa Karyawan). Sudah pernah nyoba usaha “sampingan” konveksi namun hanya bertahan 3 bulan, mungkin krn niatnya sampingan jadi rezekinya juga disamping terus:)

    Setelah recovery selama setahun (nglunasi hutang). Saya ngutang lagi utk buat usaha baru (Server Pulsa), alhamdulillah bisa berkembang dan sudah bersiap2 rekrut karyawan.

    Tapi keburu berlaku regulasi dari Operator Selular utk membatasi area penjualan, sehingga omset langsung merosot dan hampir mau ditutup usahanya.

    Dari pegalaman gagal ini, yg saya rasakan kalo mau serius diusaha yg sifatnya rintisan harus fokus.

    Mungkin kalo resign jadi karyawan ceritanya akan berbeda.

    Karena saya belum berani resign utk selanjutnya rencananya (jika modal cukup) saya mau beli usaha yg sudah difranchisekan saja sampai bisa berkembang (lebih dari satu), baru berani resign dan buat usaha yg lain.

    Mohon do’anya… Terima kasih.

  28. Lagi-lagi tulisannya Inspiring,
    Jika ingin menjadi entrepreneur, keputusan resign memang tepat. Selain bisa fokus pada usaha kita, juga tidak membebani perusahaan kita karena tindakan kita yang mendua.

    Trims pak Yodhia

  29. Saya sebenarnya sedang menjalani upaya yang dilakukan oleh adik Anda sekalipun usia sudah menjelang kepala 5. Postingan Anda sangat menginspirasi kami. Terima kasih. Semoga keberhasilan Adik Anda bisa menular kepada saya. Amien!

  30. Cerita yang inspiratif. Salut dan selamat untuk Pak Dhika.

    Kalau kisah saya mungkin tidak begitu dramatis karena saya dari awal memang sudah memutuskan untuk membangun usaha.

    Walaupun saya pernah mengalami gagal beberapa kali, saya tetap memilih berwiraswasta karena lebih menginginkan kebebasan berpendapat untuk berkreasi yang dibatasi hanya oleh imajinasi.

    Indonesia memang kekurangan “entrepreneur” yang benar2 bisa memajukan ekonomi sekaligus menambah kesejahteraan rakyat. Semoga cerita Pak Dhika bisa menjadi inspirasi untuk para entrepreneur, pebisnis yang sedang merintis dan yang akan muncul diantara benih2 para pemuda/i Indonesia.

  31. balance formula
    work hard + play hard + pray hard

    bukan tergantung cerita yang menceritakan kesuksesan seseorang ,
    tetapi bagaimana pribadi masing” membangun terus menerus motivasi untuk mencapi impian sampai impian tsb bs kita dapat …

    bp. andhika bisa sukses dan pasti kita semua juga bisa sukses

    ” dengan ataupun tanpa ” dukungan kita justru harus bisa melakukan pembuktian dengan cara positive .

    semangaaaat untuk kalian semua
    God bless ur life :)

  32. Dahsyaaattt……saya jg lg meniru org2 macam ini,kl karyawan trs yg makin kaya siboz kita naik gaji 1 th sekali pkai demo lg.bosan jd bangsa krywan.Pergi pagi plng ptng gaji pas pasan bdn pegal pegal.salam sukses

  33. Yaa ampuun..

    1 almamater sama saya :D

    tapi saya baru kerja 2 tahun aja udah gak betah.. memilih wirausaha aja walau dapetnya masih recehan. hhe..

    sempet terlintas dipikiran buat balik ngaryawan lagi.. cuman, artikel ini udah ngingetin saya lagi akan cita-cita dan impian saya..

    makasih ya ilmu dan inspirasinya..

  34. Nice story…. Ceritanya hampir sama .. Cuman saya baru aja mau mulai..Dan saya mau pindah manuver ke usaha batik juga.. Batik milik keluarga sendiri malah.. Udh kerja 7 bulan di Telkom Akses Bandung ngurusin pembangunan infrastruktur Fiber Optic (kerja salah jurusan-basic kuliahnya System Informasi ) tapi mau balik kampung ke Ngawi jawa Timur..mudah2an bisa ketularan sukses .. Amiin

  35. Super Sekali..

    Harus ada Nyali ni buat nyoba Hal Baru,….
    Berdoa Jangan Lupa..
    Jangan Lupa Pada Siapa yang Memberi jalan Rezeki…
    Memberi Kesehatan Saat Kita Berjuang..
    Memberi Ide_2 Baru dalam Berfikir..
    Karna Manusia Hanya Bisa berusaha Dan Berdoa..

    Selanjutnya …

    Trima kasih..

  36. jangan pernah putus asa, manusia di beri tenaga dan keyakinan akan adanya Tuhan.. jangan takut nanti makan apa, jangan takut nanti dapet apa, selama tenaga itu di gunakan untuk usaha.. dan satu lagi…..tenaga di bantu oleh cerdas..

    keren sekali artikel nya.. salut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!