Menangis Dikejar-kejar Debt Collector demi Mewujudkan Passion

Yeah, hidup mungkin akan terasa indah kalau saja kita bisa bekerja mencari sekeping nafkah sesuai dengan passion yang kita miliki. Bekerja mencari nafkah sesuai dengan bidang yang kita cintai dengan sepenuh sukma. Bekerja dalam irama dan langgam yang pas banget dengan nurani keinginan kita.

Passion. Mungkin ini elemen yang paling krusial untuk menemukan pekerjaan yang menyenangkan. Yang akan membuat setiap hari Senin pagi kudu dipeluk dengan penuh kegairahan. Meski untuk mencapainya, seseorang harus berkejar-kejaran dengan debt collector. Seperti dalam kisah yang sebentar lagi akan saya sajikan.

Karena itu, sebelum meneruskan membaca blog ini, mari kita bersulang sejenak dengan secangkir kopi susu hangat di pagi hari. Sambil berteriak bersama-sama : Yes We Love this fucking Monday !!

Menemukan passion dalam derap pekerjaan yang kita lakoni memang terasa begitu menggugah. Seseorang bisa merasa kehilangan dimensi ruang dan waktu kala ia bersenyawa dengan detil pekerjaan yang ia cintai.

Ia akan selalu merasa menyesal mengapa jam 5 sore terlalu cepat datang…… Ia selalu tak sabar menunggu hari Senin tiba, sebab bekerja baginya bukan bekerja : tapi sebuah ritual maut yang terasa begitu nikmat. Membuncahkan adrenalin. Menebarkan kegairahan yang terus menjalar.

Itulah kenapa mengejar passion dalam hidup; dalam bekerja; selalu merupakan sebuah perjalanan yang layak direnggut betapapun penuh risiko.

Dan persis jalan seperti itulah yang coba dijemput oleh anak muda bernama Muadzin Jihad, yang menulis pengalamannya dalam buku berjudul keren : Follow Your Passion – Kisah Perjalanan Manusia Mimilih Hidup, Memenuhi Panggilan Hati.

Alkisah anak muda bernama Muadzin Jihad ini adalah lulusan Teknik Elektro UI (sebuah jurusan yang amat prestisius dari kampus ternama. Masuk ke Elektro UI konon sama sulitnya dengan masuk ke Harvard University).

Dengan bekal sarjana elektronya, ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional dibidang telco. Ia kemudian berkarir disitu selama 14 tahun lamanya – hingga ia menemui titik kejenuhan dan keletihan psikis yang menusuk (belum lagi perjalanan macet setiap hari dari rumahnya di Depok ke kantornya di Sudirman, Jakarta).

Krisis eksistensialis pelan-pelan menyeruak : ia sama sekali tak merasakan passion dalam pekerjaannya; dan jiwanya terasa kosong.

Ia kemudian memutuskan resign kala usianya sekitar 35-an, untuk menekuni dunia wirausaha – sebuah bidang yang sudah lama menjadi keinginannya. Ia mencintai kegiatan menciptakan sesuatu secara mandiri dan kemudian menjualnya kepada para pelanggan.

Dengan modal pinjaman KTA (Kredit Tanpa Agunan yang iklan SMS-nya tak pernah berhenti itu), ia memulai beberapa bisnis sekaligus (mulai dari rumah makan, laundry, salon hingga jualan kopi).

Sayangnya : passion yang dikerjakan dengan serampangan akan meninggalkan tragedi yang begitu pahit. Hampir semua bisnisnya gagal, dan ia terjerat hutang (plus bunga KTA yang mencekik) hingga 500 juta ke bank penyedia KTA.

Babakan hidup berikutnya sarat dengan duka dan airmata : tiap hari puluhan Debt Collector mengejar; mencaci maki; menggedor pintu rumahnya di malam hari; hingga istrinya hanya bisa menangis pilu di sudut rumah dalam malam yang terasa begitu kelam.

Bukan hanya rumahnya yang disatroni debt collector dengan muka bengis itu. Berkali-kali ia “disergap” oleh barisan lelaki sangar itu di kantor tempat ia menjalankan bisnisnya. Ketika ia menutup HP-nya untuk menghindar, debt collector itu lantas menelpon dan meneror seluruh anggota keluarga dia, termasuk mertua : dengan makian yang membuat hati teriris-iris.

Passion itu ternyata amat mahal harganya; begitu mungkin Muadzin berbisik pahit dalam hatinya. Dan matanya merah berkaca-kaca.

Tapi Tuhan tak pernah tidur. Doa dan keteguhannya pelan-pelan menemui hasil. Salah satu bisnisnya (dari beberapa bisnisnya yang gagal) yakni berjualan kopi lewat kedai gerobak menemukan sukses. Dari hanya satu gerai, kedai ini pelan-pelan tumbuh hingga menjadi 400 gerai. Namanya Semerbak Coffeee.

Semerbak Coffe rasanya memang enak. Namun yang lebih penting : kopi inilah yang akhirnya menyelamatkan Muazdin dari kejaran debt collector yang tak kenal ampun. Setelah bertahun-tahun dicicil, akhirnya semua hutang plus bunga berhasil dia lunasi di tahun lalu. Ia lega lantaran penagalaman mengerikan dengan debt collectors telah berlalu.

Kini Muadzin menemukan passion dan kegairahan dalam setiap hari kerjanya : mengelola gerai kopinya yang terus tumbuh. Passion plus profit hasilnya memang hidup yang mak nyos. Ia juga senang karena setiap hari hanya perlu 20 menit bersepeda ke kantornya di Depok (ia selalu bersepeda ke kantor).

Yang menarik, istrinya juga menemukan jalur passion yang mirip. Istrinya yang bernama Jaumil Aurora juga lulusan elektro UI. Ia juga sempat berkarir selama 13 tahun di perusahaan telco di Singapore dan Jakarta dengan tawaran gaji yang menjulang. Namun ia juga akhirnya memilih resign, untuk mengejar passion-nya sebagai penulis. Lebih spesifik lagi : penulis skenario film.

Aurora memang punya hobi menulis. Ia kemudian belajar dan menekuni dunia penulisan skenario; dan kini sudah lebih dari delapan skenario film ditulisnya. Tentu ia menemukan getaran passion dalam dunia barunya ini. Bukan saja itu. Ia bisa bekerja dari rumah, menulis, sambil dekat dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil.

Kisah Muadzin dan istrinya Jaumil Aurora mungkin potret pasangan muda yang terasa begitu indah. Perjuangan mereka berjibaku menemukan passion adalah kisah romantisme sejati : tentang bagaimana keduanya saling menebar cinta dan kasih sayang demi menggapai impian bersama.

Memang, seperti terbaca dari kisahnya, perjalanan menebus passion juga bukan tanpa risiko. Pengalaman pahit nan getir mungkin menghadang di setiap sudut. Namun dampak dari passion yang berhasil direngkuh juga amatlah menggugah : jiwa terasa penuh dan hidup terasa nikmat.

Maka benar kata sebuah pepatah : life is too short. There is no reason NOT to follow your passion.

Jadi mari kita kembali bersulang, sambil berbisik dalam hati : Yes, I will follow my passion. Yes, I will catch my dreams. Oh yeaahhh.

Photo credit by : Andy Bullock @flickr.com

Related Post

Perusahaan – Perusahaan Terbaik untuk Dijadikan Tempat Bekerja Bagi Anda yang memilih berkarir sebagai pekerja profesional (karyawan), maka pilihan tempat atau perusahaan untuk bekerja merupakan sebuah pilihan yan...
2 Rahasia Besar Dibalik Sukses Bisnis Online Dengan jumlah pengguna internet yang kian meningkat pesat (sekitar 40 juta pada tahun 2012), maka online business merupakan salah satu sektor yang pot...
Opportunity Cost : Kesalahan Terselubung yang Bisa Menghancurkan Sejarah Hidup Anda Opportunity cost mungkin secara sederhana bisa dipahami seperti ini : kerugian fatal yang terjadi gara-gara kita tidak melakukan sesuatu. Atau juga s...
44 comments on “Menangis Dikejar-kejar Debt Collector demi Mewujudkan Passion
  1. Superb sharing Pak Yod, orang yang mau membarter comfort zone mereka demi mengejar passion adalah orang2 yg langka. Dan kebanyakan orang2 berpengaruh dalam sejarah muncul dari cara2 seperti ini, sebut saja Soichiro Honda. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah luar biasa ini. Sukses untuk kita semua

  2. Cerita yang luar biasa, dibalik kesuksesan Semerbak Coffe (dulu punya keinginan jadi agen franchise-nya), ternyata tersimpan derita yang teramat dalam.

    “Tuhan tak pernah tidur”, memang hanya keteguhan dan doa adalah kuncinya. Kalau Pak Dahlan bilang “Kerja,Kerja,Kerja” maka saya bilang “Kerja, Kerja, Kerja, jangan lupa Doa”.

    SEMANGAT HARI SENIN.

  3. Keputusan yang berani…..memberi inspirasi untuk tetap menghidupkan passion…..saya sekarang sedang mengumpulkan energi untuk segera mengambil keputusan besar dalam hidup saya…thanks.

  4. Super sekali Om! very inspiring…. btw, boleh dunk di-share, apa sih passion itu?semisal sy hobi nulis+ngomong, apa berarti passion sy di dunia penulisan (sbg writter) dan training?
    please di-share ya 🙂
    tks a lot mas bro!!

  5. Pada akhirnya kita berada pada sebuah sudut perenungan: “Nikmat Tuhan Manakah yang akan engkau Ingkari?” Semoga dengan artikel yang inspiratif ini kita selalu dekat denganNYA, meski kita berkali-kali meninggalkanNYA. Alhamdulillah. Terimakasih Pak Yodh.

  6. Waduh… Makasih banyak Pak Yodhia udah mengulas buku saya. Terus terang saya merasa tersanjung 🙂

    Terimakasih juga untuk rekan2 yang sudah baca dan komen. Untuk beberapa pertanyaan, terutama untuk mas Wahyu & mas Zaky, jawabannya ada di buku saya. Hehe.. bukan promosi, tapi memang kalo dijelasin di sini bakalan ga muat text-box nya 🙂

    Salam sukses untuk Anda semua!

  7. WHAT A TREMENDOUS STORY!

    Benar2 sangat menggugah kita untuk terus mengikuti kemana passion kita. Saya jadi ingat dengan taglinenya Rene Suhardono di buku Your Job is not Your Career. Bunyinya “Find your passion, live a life of action, build our nation”. Yes I am going to.

    Salam Superb!

  8. Masuk ke Elektro UI konon sama sulitnya dengan masuk ke Harvard University

    Ah masa? Sekarang ada jalur PPKB pak, yang penting sekolah favorit walaupun nilai raport pas-pasan kemungkinan besar masuk. Masuk UI sudah gampang sekarang, jadi sudah engga prestisius lagi. Kalo mau prestisius ya NUS dan NTU di Singapore atau STEI-nya ITB. Saya cuma ngomong fakta lho ya

  9. saat kegairahan itu datang, begitu banyak angan2 yang indah membangkitkan edrenalin motivasi yang tinggi.

    namun begitu, terkadang kita hanya melihat kesuksesan seseorang tanpa melihat perjalanan di balik kesuksesan itu.

    banyak yang mencoba untuk meraih passionnya sendiri tapi sedikit yang bisa bertahan, hanya dengan sabar dan keyakinan yang kokoh kesuksesan dapat diaraih.

  10. Wah merinding bacanya……. setelah tahu dia pemilik Semerbak Coffe.
    Mungkin mas Muadzin salah satu yang selamat dari hutang, yang lain – sengsara karena hutang.

    Yuk Hutang untuk hal yang Produktif

  11. To : Mas Reza.

    Kalau melihat usia Mas Muadzin Jihad yang diatas 35 tahun, seharusnya sih beliau masuk UI sekitar +/- 18 tahun yang lalu, dan dimasa itu memang tidak mudah untuk diterima di UI (harus lewat jalur UMPTN / PMDK)dimana saingannya dari seluruh Indonesia.

    Berbeda mungkin dengan saat ini, dimana memang ada beberapa jalur untuk masuk UI (walaupun semuanya setahu saya tetap harus melalui tes yang diseleggarakan oleh UI).

    Tapi kalau membandingkan masuk UI dengan Harvard memang saya rasa agak berlebihan. Karena menurut saya masih lebih mudah masuk UI dibanding masuk Harvard. (Kebetulan saya juga lulusan UI).

  12. Pelajaran penting yang dapat diambil adalah cerita diatas, adalah kesiapan kita dalam menjalani keputusan yang kita buat.

    karna bila tidak diimbangi kesiapan dan kematangan kita mengelola keputusan yang kita ambil kita akan dihadapkan oleh situasi seperti mas muadzin.

    Namun lebih penting lagi adalah semangat memperjuangkan untuk meraih impian dengan sabar dan tekun ibadah, sehingga impian muadzin dapat terwujud.

    Disitu jelas terlihat, jika manusia mau berdo’a tuhan akan memberi jalan.

    thanks mas yodia untuk sharring ceritanya.

    salam.

  13. Wahyu (5) : ya benar kira-kira begitu. Mudahnya, passion itu hobi yang produktif….yang bisa menghasilkan.

    Hobi pelihara burung perkutut >> ya mestinya bisa bikin ternak burung perkutut.

    Hobi gowes ke pegunungan >> ya harusnya bisa bikin bisnis paket wisata gowes ke gunung2 di seluruh nusantara.

    Hobi nyanyi >> ya salurkan passion dan hobi itu dengan bikin sekolah nyanyi untuk anak-anak.

    Hobi browsing internet >> ya harusnya juga bikin online store dong.

    Jadi ringkasnya >> passion = hobi + profit.

  14. Teringat kembali saya keluar dari posisi direktur di umur 42 thn dan start my own business. Sekarang saya mempunyai waktu sendiri, dan bisa olahraga tiap pagi tanpa macet ke kantor.

    Benar, harus ada pengorbanan, tekat dan PASSION….

  15. Alhamdulillah, pak yodi semakin mantab hati saya, saya sangat suka sekali bepergian dan ibadah di tanah suci, semenjak sma saya sangat memimpikan itu, dan alhamdulillah sekarang benar benar terwujud, saya punya bisnis travel haji umrah, terima kasih

  16. Terima kasih Pak Yod…atas ilmu…dan Inspirasi2 anda yang sangat menggugah…jiwa dan semangatku untuk mengejar impianku.

  17. To Mbak Fanny :

    Terimakasih sudah mengingatkan kalau ia masuk UI sekitar 18 tahun yang lalu, dan memang sangat berlebihan apabila masuk UI disetarakan dengan masuk Harvard.

    Dan perihal masuk UI harus melalui tes, sekarang ada jalur undangan yang tidak perlu tes, hanya berdasar nilai raport saja.

    PPKB adalah jalur undangan yang boleh dibilang jalur “pasti masuk” bagi yang bersekolah di sekolah favorit. Berdasar pengamatan saya, masuk UI sudah tidak sesusah seperti dulu.

  18. Islam adalah agama yang lebih dulu mengajarkan bagaimana seseorang untuk menjadi orang yang sukses dalam hidupnya, Alquran mengajarkan bahwa di dunia manapun kita hidup, dibidang apapun kita berada, yang penting adalah barokah (berkah).

    Maka berdo’alah sebagaimana do’anya para nabi terdahulu ” Rabbi anjilni munjilan mubaarakan wa anta khairul manjiliin ” Amiin…

  19. luar biasa menggugah, namun pertanyaannya adalah apakah setiap orang memiliki passion?
    lantas jika memang semua memiliki passion bagaimana kita mengetahui passion kita.?

    Mohon pencerahannya bpk2…..

  20. Senang membaca tulisan Mas Yodhia dan Muadzin. Dua-duanya penulis hebat yang saya jarang lewatkan tulisan-tulisannya

    Memang seru nih kalau membahas hubungan passion dan keberhasilan. Sayapun sudah mengalaminya selama 5 tahun lebih. Meninggalkan zona nyaman, untuk bisa mendapatkan cara hidup yang kita inginkan sendiri.

    Betapa indahnya waktu berlalu 2-3 tahun pertama dimulai dengan kerja keras dan “bertapa”, sampai teman dan keluarga terlupakan dan melupakan kita. Untungnya saya bisa memulai semuanya hampir tanpa hutang sama sekali. Jadi semua sumber daya diri bisa lebih fokus dalam mengejar cita-cita.

    Sekarang baru terasa enaknya. Bisa 2-3 bulan gak perlu lagi rutin ke kantor, bisa kerja remote dari rumah, udah ada yang bisa diminta kerjakan ini dan itu. Yang pasti bisa milih-milih kapan mau macet-macetan. Pikiran merdeka, hidup akan merasa lebih merdeka

    Salam salut buat Pak Yodhia dan Muadzin. Semoga bisa menginspirasi Indonesia

  21. seorang Sarjana Elektro lulusan PTN nomer satu, meninggalkan Comfort zone dan pekerjaan ber-image ‘wah’, hanya untuk start over dari NOL lagi untuk kemudian berwirausaha secara mandiri.

    Pilihan yg sulit dan gak populer buat seorang sarjana, seorang yg punya Ijazah dengan ‘merk’ TOP.
    Gak semua Sarjana punya keberanian seperti ini, yg kebanyakan budayanyanya lebih milih ‘cari aman’ dengan berkarir di PNS.
    Keamanan finansial dapet + Gengsi/prestise juga dapet.

    semoga makin banyak sarjana di Indonesia yg bisa mengikuti jejak Bang Muadzin..

    salam

  22. Artikel ini melecutkan semangat saya lagi untuk tetap berjuang di passion saya. Rasanya seperti bergetar seluruh tubuh setiap menemukan semangat itu.

  23. saya harus beli bukunya nih. Kondisi mas Muadzin mirip dengan saya sekarang ini. smoga dengan buku ini bisa menginspirasi saya dan kluarga saya untuk bisa passion. Alhamdulillah hari ini saya nemu nih artikelnya mas Yodhia. semoga menjadi barokahNYA. aamiin. salam sukses selalu. trims.

  24. Pengalaman yang memberikan inspirasi, besar kemungkinan karena merupakan solusi dari pengalaman/permasalahan banyak orang. Dengan berbagi pengalaman benar2 akan membantu banyak orang.

    Pengalaman pribadi, dalam menghadapi pedih nya hidup hanya bisa dihadapi dengan dekat dengan NYA ( Dengan sungguh sungguh percaya akan kekuasaan NYA dan mengamalkan ajaran ajaran Rosul NYA tentang menghadapi masalah hidup di dunia)

Comments are closed.