100 Langkah untuk Tidak Miskin : Ayunan Langkah Jitu untuk Membuat Anda Makmur

Anda orang idealis dan ingin ikut membantu program pemberantasan kemiskinan di tanah air? Ada satu cara paling jitu yakni : membuat diri Anda sendiri untuk tidak masuk golongan orang miskin.

Benar sodara-sodara, jangan sampai kebangkitan kelas menengah Indonesia yang riuh rendah ini meninggalkan Anda jauh di belakang. Jangan sampai lentingan kemakmuran yang terus melaju di negri ini, meninggalkan Anda terpuruk dalam bayang-bayang kemiskinan.

Dalam sajin kali ini, saya mau berbagi beragam langkah ampuh yang bisa membuat kita tidak jatuh miskin. Kalau Anda mau miskin, jangan teruskan membaca tulisan ini. Kalau mau makmur, ya monggo. Silakan di-seruput dulu teh hangatnya.

Sajian kali ini sejatinya berangkat dari sebuah buku keren berjudul : Untuk Indonesia yang Kuat : 100 Langkah untuk Tidak Miskin. Buku ini ditulis oleh financial independent panner kondang Ligwina Hananto.

Dalam buku bagus ini, Ligwina Hananto mengeskplorasi pentingnya kesadaran finansial bagi keluarga muda kelas menengah di Indonesia.

Kesadaran pengelolaan keuangan keluarga yang rapi dan jitu sungguh krusial. Agar kita tidak terus termehek-mehek dalam urusan finansial : tabungan cuma 5 juta perak (oh), mau nyicil rumah ndak sanggup (ah), dana pendidikan anak belum kepikir (doh), apalagi boro-boro beli emas untuk investasi (dah).

Bagian yang paling menarik dari buku itu saya kira adalah ketika Ligwina mendedahkan 100 Langkah untuk Tidak Miskin. 100 langkah ini dimulai dari no 1 (yang paling basic), terus meningkat ke langkah 50 (menuju makmur) hingga langkah 100 (dimana financial freedom tergapai dengan penuh kegemilangan).

Dalam sajian ini, saya coba mengulik beberapa langkah saja yang dibeberkan dalam buku itu; lengkap dengan nomer urutnya (so, urutannya melompat-lompat karena nomer urutan saya ambil sesuai yang ada dalam buku).

Langkah 1 : Memiliki Penghasilan. Ini langkah pertama paling basic yang dicantumkan dalam 100 langkah untuk tidak menjadi miskin. Benar sekali, punya penghasilan (sukur jumlahnya besar) adalah langkah paling awal dan hakiki untuk merancang kemakmuran. Kalau ndak punya penghasilan, mau makan apa?

Lalu, berapa penghasilan yang memadai itu? Kebetulan saya sudah pernah membahasnya disini (Berapa Penghasilan Minimal untuk Hidup dengan Layak?). Bocoran jawabannya : 15 juta per bulan. Jangan terkejut dong.

Langkah 5 : Utang Kartu Kredit Lunas Setiap Bulan. Nah ini nih. Faktanya, sekarang banyak karyawan/manajer/pengusaha yang terjerat utang kartu kredit dengan beban bunga yang oh tega nian kau cekik leherku.

Yang salah ya yang pegang kartu kredit, bukan bank-nya : gesek sana, gesek sini, seolah-olah uang dari langit akan turun untuk melunasinya. Memang uang dari hongkong??

Langkah 38 : Mampu Menyisihkan 20% Penghasilan Bulanan untuk Investasi. Wah sedap ini. Apalagi jika Anda sudah punya penghasilan 15 juta sebulan seperti syarat diatas. Artinya, tiap bulan Anda bisa alokasikan 3 juta untuk investasi (entah untuk beli emas atau reksadana).

Dengan fasilitas auto debet, kita bisa secara otomatis mengalokasikan dana setiap bulan untuk investasi (auto debet membuat kita lebih disiplin).

Jika dibelikan reksadana, setiap bulan 3 juta, mulai usia 35 tahun hingga pensiun di usia 56 tahun, maka hasilnya bisa amat mencengangkan (dengan asumsi pertumbuhan reksadana sama seperti 20 tahun terakhir).

Tapi mas, saya ndak sanggup menyisihkan 3 juta per bulan. (*Lalu mendadak hening. Langit terasa muram. Dan pandangan mata kosong menatap masa depan yang terasa begitu panjang*).

Langkah 62 : Mencapai Total Aset Lancar Rp 1 Milyar. Aset lancar artinya mudah di-uangkan seperti emas, tabungan dan reksadana (tidak termasuk tanah dan rumah).

Wah saya ndak mungkin mendapatkan uang segitu besar mas”.

HATI-HATI dengan ALAM BAWAH SADAR ANDA. Kalau reaksi kalimat seperti itu yang muncul di benak Anda persis ketika membaca langkah ke 62 diatas, maka bielieve me, Anda memang tak akan pernah mencapainya.

INGAT, reaksi dalam hati adalah indikasi mindset dan alam bawah sadar Anda. Kalau reaksi Anda negatif, bisa jadi itu pertanda bahwa mindset Anda memang akan terus membawa Anda dalam jalur kemiskinan dan kekurangan.

Kalau reaksi Anda ketika membaca langkah ke 62 adalah seperti ini : “Hmm….banyak juga ya….namun Insya Allah saya akan mampu mencapainya sebelum usia 40 tahun…..”, maka alam semesta akan mendengarkannya, dan pelan-pelan akan menuntun Anda untuk benar-benar meraihnya.

Langkah 100 : Penghasilan Pasif Lebih Besar daripada Pengeluaran Bulanan. Ini langkah terakhir, dan inilah yang disebut sebagai “financial freedom”. Anda duduk leyeh-leyeh, uangnya terus mengejar Anda (bukan Anda yang terus menerus mengejar uang. Cape deh).

Penghasilan pasif mungkin bisa didapat dari bunga deposito, puluhan ruko yang disewakan, seratus kamar kos-kosan di Jogjakarta, bisnis yang sudah berjalan sendiri karena sistem sudah solid, atau mungkin juga karena Anda dapat warisan sawah 10 hektar dari bokap di kampung.

Demikianlah sejumlah langkah dari 100 langkah untuk menuju kemakmuran.

100 langkah yang diuraikan dalam buku itu mungkin perlu di-laminating dan dibaca berulang setiap enam bulan sekali : jadi reminder agar kita terus bekerja dengan cerdas dan keras untuk menggapai financial freedom yang sejati.

Selamat bekerja teman-teman. Take your steps to reach your financial dreams.

Photo credit by : Leland Fransicsco @flickr.com

Baner Tools
36 comments on “100 Langkah untuk Tidak Miskin : Ayunan Langkah Jitu untuk Membuat Anda Makmur
  1. sajian yang renyah mas,segera meluncur ke toko buku,hanya sedikit pertanyaan mas

    saya termasuk masuk ke perangkap step 5, tapi bukan karena konsumtif, tapi karena modal bisnisnya dari kartu kredit, beberapa kali gagal tapi sekarang sudah mulai lancar

    tinggal pandai pandainya mengelola cash flow

  2. Soal keuangan, terutama keuangan keluarga, “it is easier said than done”, tahu teorinya, paham harusnya bagaimana, tapi sulit implementasinya. Contohnya, banyak yang tahu penggunaan kartu kredit berlebihan itu berbahaya, tetapi tetap saja banyak kelas menengah yang terjebak hutang kartu kredit.

    Kenapa? Karena keuangan pribadi atau keluarga menyangkut faktor emosional dibandingkan teknis, seperti: gengsi, harga diri dan pengendalian diri. Faktor emosional ini yang sulit dirubah.

  3. Masalah Finansial selalu menarik untuk dibahas. betapa jerat-jerat kemiskinan selalu mengintai dari hiruk pikuk kehiudpan yang selalu berubah.

    Menurut saya, MEMBACA (belajar) juga merupakan salah satu pilar untuk lepas dari jerat kemiskinan.
    Bukankah dengan banyak membaca akan banyak tahu?

    dan orang yg tidak banyak membaca biasanya orang yg tidak banyak tahu.

    padahal tidak banyak tahu identik dengan kebodohan.

    dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan…hohohohoh. :)