Hidup Ini Seringkali Tak Seindah Omongannya Mario Teguh

Ada sekeping nada kegetiran dalam judul kalimat tulisan kali ini. Hidup pada akhirnya memang selalu menggelinding : kadangkala kepahitan menyergap, meninggalkan duka yang menyelinap.

Sukses barangkali memang sederhana : bagaimana kita bisa memiliki pekerjaan yang mantap secara finansial, punya rumah sendiri yang memadai, dan bisa membiayai anak-anak untuk makan dan sekolah. Syukur bisa punya mobil sekedar dipakai untuk kondangan, pergi ke mal atau liburan ke luar kota.

Motivasi dan petuah-petuah sukses memang akan terasa manis untuk didengar kala kita sudah merasakan kesuksesan itu sendiri.

Namun kala kita tengah terpuruk dalam hidup yang serba pas-pasan, kicauan motivasi sukses itu acapkali terasa seperti ilusi yang perih untuk dirasakan.

Barangkali pada akhirnya, respon kita akan petuah-petuah motivasi sukses itu juga amat tergantung pada mindset yang kita miliki dalam menjalani hidup.

Namun mindset yang “menolak datangnya rezeki” diam-diam sering menyelinap dalam alam bawah sadar kita.

Contohnya begini : saat blog ini membahas tema tentang berapa penghasilan minimal untuk hidup memadai, dan jumlahnya minimal harus 15 juta/bulan; tiba-tiba ada yang komen begini : mas, uang bukan segalanya dalam hidup ini.

Look, kalimat sederhana itu sebenarnya pertanda yang powerful untuk melacak mindset Anda. Melacak alam bawah sadar Anda. And sadly, kalimat itu merepresentasikan gambaran seperti ini : raga Anda seolah-olah sinis terhadap uang.

Dan sejumlah studi empirik tentang sukses menunjukkan, pola kalimat seperti benar-benar akan menjauhkan Anda dari rezeki yang diharapkan. Sebab : what you think is what you get.

Jika yang bilang “uang bukan segala-galanya dalam hidup ini” adalah orang dengan penghasilan 40 juta/bulan, mungkin kalimat itu akan punya makna indah. Namun kalau yang bilang, gajinya masih pas-pasan, ada dua kemungkinan. Pertama : ia mau menyembunyikan kekurangannya. Yang kedua: ia mau menghibur diri. Dua-duanya alasan yang antik.

Poinnya adalah ini : dalam membayangkan rezeki, pikiran kita harus hati-hati. Jangan terlalu sering bergumam, berpikir dalam hati, atau berucap sesuatu yang justru makin menjauhkan Anda dari rezeki yang berkelimpahan.

Sebab hukum tarik menarik hadir disitu. Makin kita menanamkan “rasa sinis” terhadap uang, terhadap kekayaan dan terhadap pesan kesuksesan, maka believe me : hidup kita akan MAKIN dijauhkan dari rezeki yang berkelimpahan.

Oke, mari kita lihat contoh yang lain. Suatu saat, ada tulisan di blog ini yang membahas tentang hitung-hitungan biaya hidup yang makin tinggi karena inflasi; tiba-tiba ada yang berkomentar begini : “Wah rumus perhitungannya bagus. Namun Anda lupa, matematikanya Allah SWT selalu punya jalannya sendiri”.

Komentar yang jenius. Dan segera harus disertai dengan kalimat ini : Anda harus bergerak nyata untuk mengubah nasib hidup Anda (sebab Tuhan tidak akan mengubah nasibmu jika Anda sendiri tidak berubah).

Look. Saya sering membaca komentar di blog ini yang nadanya mirip seperti itu : mari semua kita serahkan nasib kita pada Yang DIATAS (saat dihadapkan pada kondisi keuangan yang kian bikin kepala pening).

Namun yang bahaya ini : Anda pasrah pada Yang Maha Memberi Rezeki, tapi Anda TIDAK BERBUAT PERUBAHAN APAPUN untuk membuat nasib hidup Anda lebih baik.

Sebab, melakukan hal yang sama berulang-ulang setiap hari, sambil berharap agar kondisi keuangan keluarga makin membaik adalah ILUSI.

Dan kian menggelikan, ketika ketidak-berdayaan untuk merubah nasib itu disembunyikan dibalik kalimat indah nan sakti : matematikanya Allah SWT selalu punya jalannya sendiri mas.

Mungkin respon komentar yang lebih baik, yang lebih menunjukkan mindset positive adalah seperti ini : “Harga rumah memang makin tinggi mas. Namun saya yakin jalan rezeki sudah diatur YANG DIATAS. Dan untuk menjemput rezeki itu, bismillah, mulai bulan depan saya akan melakukan perubahan nyata dan signifikan dalam kehidupan dan pekerjaan saya”.

Kalimat positive seperti diatas mungkin merefleksikan mindset yang lebih terbuka terhadap tantangan hidup. Dengan spirit mindset seperti itu, judul tulisan ini mungkin bisa kita ubah menjadi :

Saya yakin hidup ini jauh lebih indah dibanding omongannya Mario Teguh.

Salam super dari saya. Super Ramadhan. Super Barokah.

Download buku bagus tentang PASSION disini.

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download Sekarang.

Related Post

Jika Anda Suka Hidup Susah dan Miskin, Tulisan ini Tidak Perlu Anda Baca Tulisan saya minggu lalu yang berjudul : “Kenapa Saat Berusia 55 Tahun, Anda Harus Punya Tabungan Minimal 3 Milyar”, banyak di-share oleh pembaca dan ...
Satu Kata Ajaib yang akan Mengubah Hidup Anda untuk Selamanya Tanpa sadar, waktu sering berlalu dengan sangat cepat. Hari berganti, bulan berlalu, dan tahun datang silih berganti. Lalu, adakah perjalanan waktu...
Mengapa Hidup Saya Susah dan Pas-pasan? “Mengapa hidup saya susah dan pas-pasan?” Kalimat ini saya temukan dalam daftar kata kunci yang sering ditanyakan ke Google. Saya menemukannya dari da...
44 comments on “Hidup Ini Seringkali Tak Seindah Omongannya Mario Teguh
  1. Ini emang udah HUKUM ALAM pak..?

    Tung Desem Waringin juga pernah bilang Rahasia ini.

    Kata Kata yg kita Keluarkan dari Lidah adalah Hidup dan Mati kita.

    Bila kita bilang MATI maka kita akan Mati

    Bila kita bilang KAYA maka kita akan KAYA

    Bila kita bilang SULIT maka kita akan SULIT

    Mulut kita yg cuma 1 ngga akan haram kalau hanya memakan makanan haram, karena semuanya juga akan keluar melalui kotoran,

    Tapi, Kata kata yg Keluar dari Mulut itulah yg bisa membunuh kita dan menajiskan orang lain.

    Bagaimana menurut pak Yodhia. Benarkan..?!

  2. Terima kasih Pak Yodhia untuk tulisan yang selalu menarik untuk dibaca di awal minggu seperti ini untuk semakin memotivasi semnagat kerja.

    Sebagai praktisi ‘project management’ dan ‘process improvement’, saya setuju bahwa kita harus selalu melakukan ‘continuous improvement’.

    Kalau boleh ‘sharing’ sedikit, untuk melakukan ‘improvement’ biasanya kita harus melakukan analisa, yang salah satunya bisa berupa Fishbone Analysis. Komponen yang dianalisa adalah 6M:

    1. (Machine (technology)
    2. Method (process)
    3. Material (Includes Raw Material, Consumables and Information.)

    4. Man Power (physical work) / Mind Power (brain work)
    5. Measurement (Inspection)
    6. Milieu/Mother Nature (Environment)

    Jadi mungkin saja di satu ‘waktu’ terdapat ‘improvement’ yang disebabkan perbedaan ‘waktu’..

    Misalnya, penjualan di suatu rumah makan meningkat minggu lalu ‘waktu’ turun hujan (karena lokasi rumah makan cukup dekat dengan perkantoran sehingga orang-orang ‘malas’ untuk pergi jauh untuk cari makan siang-nya).

    Itu berarti root cause dari improvement tersebut adalah dari Mother Nature (Environment) yang di luar kendali kita.

    Nah, tentunya kita menginginkan perubahan terus menerus ke arah yang lebih baik dan tidak hanya berharap ‘improvement’ hanya secara ‘sporadic’ dari Mother Nature.

    Kita dikarunia akal pikiran untuk bisa mencari potensi-potensi ‘improvement’ lainnya..

    Have a great weekdays teman2

  3. Selamat pagi pak yodh…

    Alhamdulillah masih diberikan kesempatan membaca artikel blog bapak yang segar ini..

    Mungkin saya termasuk orang bapak anggap nggak optimis terhadap tulisan bapak terkait standart gaji minimal 40 juta dijakarta untuk hidup layak …

    karena berkomentar menyerahkan pada yg diatas/matematika Allah hitunganya beda… dan saya merasakan sendiri matematika Allah memang luar biasa

    saya melihat ortu saya, yg hanya seorang guru SD didaerah terpencil (dulu belum ada sertifikasi guru seperti sekarang,,atau pendapatan dari les)

    kalo dihitung matematika,,gajinya nggak akan cukup membiaya kuliah 4 anaknya sekaligus (umur kami selisih 2 tahunan)..

    dan kami bisa melaluinya dengan bahagia dan indah.. dan dulu kami belum mengenal mario teguh.. dan sekali lagi kami percaya…

    kebahagian terletak pada keberkahan harta,bukan banyak sedikitnya harta .. dan tentu harta yang berkah dan lebih banyak itu lebih baik….

    Salam hangat pak yodh… hidup itu akan terasa indah bila hati kita penuh dengan rasa syukur… matur sembah nuwun…

  4. Bung Yodya……
    memang Allah SWT sudah menentukan takdir kita,,,,tapi
    Kita bisa kok memilihnya 🙂 it means kalo kita g move on ya g bakalan dapat apa2 selain kerugian (quotes by Quraisy Shihab)

    sepakat dengan jalan pikirannya Pak

    great breakfast 4 today

  5. Keluarga besar yang sakinah yang memberikan pengorbanan untuk keluarga lainnya. Sedekah, Syukur & Ikhtiar. InsyaAllah memperlancar rejeki. Terimakasih Pak Yodh.

  6. sharing sedikit……..th 1997 gaji saya 700rb thp…..skrng alhamdulillah sudah berlipat dr standard pak yodya

    Dalam perjalanan…..butuh kerja keras dan ikhlas krn semua ada waktunya……Gusti Allah ngak tidur

    Saat ini saya penuh syukur atas pencapain ini…….jgn lupa doa orangtua mustajab. ..sharing lah perjalanan hidup dengan mereka…semoga keberkahan atas kita semua

  7. Artikel yang menarik pak …….

    Namun semuanya tergantung bagaimana kita menarik informasi untuk menjadi persepsi kita …..

    Walhasil, info bisa menjadi cibiran, intropeksi diri atau bahkan memotivasi …. betul pak?

  8. Hal-hal seperti ini akan sangat menarik dibahas. relatifitas menjadi kunci dari beberapa hal yang disampaikan. perlu dibelah pada sudut pandang apa saatnya menyampaikan hal-hal yang cukup sensitive ini.

    tapi melihat secara keseluruhan, tulisan Pak Yodhia memang keren.
    Salam super!

  9. Terima Kasih Pak Yodha,
    Tulisannya selalu memberi perspektif baru bagi saya, membuka wawasan saya agar lebih kritis dalam menghadapi hidup

  10. hidup adalah petualangan,

    jika kita tidak siap berpetualang ya … jangan hidup

    bukan hanya semangat untuk maju yang harus diperlukan tapi juga

    harus ada komitmen dan tujuan yang jelas kenapa kita harus hidup

    dengan itu kita akan senantiasa haus akan tantangan2 hidup

    dan senantiasa bersyukur atas apa yang di dapat