Kenapa Perilaku Konsumtif dan Gaya Hidup Tidak Sehat itu Mudah Menular?

Kenapa perilaku yang konsumtif itu mudah menular? Jawabannya mudah : karena secara instingtif, manusia itu sangat mudah untuk berperilaku latah.

Teman-teman saya pakai Android. Saya harus pake juga dong. Tetangga kanan kiri saya sudah pakai Avanza/Ertiga/Jazz, maka saya harus beli mobil juga dong.

Dalam behavior science, istilah latah itu acap disebut sebagai “social proof” atau “social imitation”. Dan puluhan studi empirik kian menegaskan betapa manusia itu sangat mudah untuk meniru perilaku orang lain. Sangat rentan untuk jatuh dalam perangkap social imitation.

Ilustrasi berikut mungkin bisa menggambarkan bagaimana proses penularan perilaku itu terjadi. Alkisah, ada seorang anak muda yang berasal dari latar belakang yang relatif bersahaja.

Selepas lulus kuliah, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar dengan kantor pusat yang megah di bilangan Thamrin, Jakarta. Dalam beberapa minggu pertama bekerja, ia mengalami sejenis “cultural shock”.

Bukan apa-apa. Rekan-rekan kerja yang ada di kantor elit itu rata-rata memakai baju yang keren (atau blazer yang mahal) plus tas kerja branded (entah ori atau KW2, yang penting branded).

Hampir semua teman kerjanya juga memakai gadget keluaran terbaru : entah bermerk iPhone seri 5s, Xperia Z atau Samsung Galaxy S4.

Pelan-pelan anak muda dari latar keluarga yang sederhana itu dipaksa melakukan “proses akulturasi budaya kerja”.

Perilaku konsumtif rekan-rekan kerjanya itu memberikan “hidden presure” yang kuat bagi dirinya. Kalau tak pake gadget baru, ia akan jadi seperti “anomali” – terasing; sebab itu ia terpaksa harus pakai juga.

Para peneliti behavior science menyebut, hidden pressure dari rekan-rekan sekeliling adalah alat ampuh umpuh untuk mengubah perilaku seseorang.

Peer pressure yang tersembunyi (tidak kelihatan secara eksplisit tapi bisa dirasakan) adalah alat ampuh “to deconstruct behaviors”.

Proses social imitation terjadi disitu. Keinginan anak muda itu untuk selaras (conformance) dengan norma perilaku sekitarnya membuat ia harus juga meniru perilaku rekan-rekan kerjanya.

Pelan namun pasti, anak muda itu akan menjalani gaya hidup dan perilaku yang sama dengan rekannya : konsumtif dan snobbish (snobbish artinya : gaji ndak tinggi-tinggi amat, tapi gaya hidup sok keren. Gadget harus keluaran terbaru. Tas harus branded).

Uraian yang mirip diatas juga terbukti dalam studi yang dilakukan oleh Harvard Medical School : berteman dan bergaul dengan orang yang overweight (gendut, tinggi kolesterol) akan membuat Anda juga punya peluang besar ikut-ikutan gendut dan tinggi kolesterol. Dengan kata lain : gendut (obesitas) itu menular.

Note : pasien serangan jantung meningkat pesat di kota-kota besar di tanah air karena gaya hidup yang tidak sehat. Overweight dan kegemaran makanan tinggi kolesterol (gorengan, sup kaki kambing, kuah nasi padang, sup buntut, cumi bakar, mi instan, fried chicken, es durian) adalah pemicu utama.

Penjelasan dalam studi itu juga mirip dengan uraian diatas : bergaul dengan orang-orang overweight dan tidak peduli kolesterol akan memberikan “hidden pressure” agar kita juga meniru perilaku mereka.

Pelan-pelan kita juga berusaha conform dan meniru perilaku makan orang-orang tinggi kolesterol disekitar kita : makanan apa saja dihajar bleh, tak peduli isinya junk food atau lemak bertumpuk. Yang penting rasanya mak nyus.

Studi itu juga menulis, orang-orang yang overweight dan tinggi kolesterol itu, selain pola makannya ngawur, juga punya gaya hidup yang bodoh : tidak banyak gerak, terlalu banyak duduk, dan malas olahraga.

Bergaul dengan orang-orang seperti itu akan membuat kita berpiran seperti ini : ah mereka saja tidak pernah olahraga kok, saya ndak melakukan ya ndak apa apa toh. Normal tho.

Perasaan seperti itu pelan-pelan akan membentuk perilaku dan habit yang mendorong diri kita untuk juga malas olahraga, dengan tumpukan lemak bersemayam dalam tubuh kita.

Proses social imitation kegendutan dan gaya hidup tidak sehat berjalan dengan pola seperti itu.

Dari uraian diatas, saya ingin mengajak Anda semua untuk merenung sekarang juga : coba pikirkan teman atau rekan kerja sekantor di sekeliling Anda.

Identifikasikan siapa saja diantara mereka yang punya gaya hidup cenderung konsumtif, dan menjalani pola hidup tidak sehat. Bayangkan di benakmu sekarang, siapa saja mereka itu.

Pelan-pelan jauhi mereka, dan ambil jarak. Sebab bergaul intens dengan mereka hanya akan membuat Anda tertular : bergaya konsumtif dan menjalani pola hidup tidak sehat.

Sebab sering tanpa kita sadari, perilaku itu sangat mudah menular melalui proses “social imitation”.

Karena itu, selalu kenanglah kalimat ini : your preers and friends will reshape your behavior and habits.

Photo credit by : Leland @flickr.com

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download DI SINI sekarang juga. Atau klik gambar di bawah.

Related Post

Business and Beyond : Cara Sederhana nan Ampuh Menggapai Keberlimpahan Hidup Ada banyak jalan menuju Roma. Dan ada juga jalan penuh kesederhanaan untuk menggapai keberlimpahan hidup. Inilah pesan kuat yang coba dihembuskan buku...
The Power of Positive MINDSET Putaran jarum jam terus berjalan, dan roda kehidupan terus berkelana. Lalu, disela-sela perjalanan waktu itu, kita mungkin punya sekeping angan untuk ...
Berapa Rata-rata Penghasilan Orang Indonesia Saat Ini dan Apa Implikasinya Bagi Hidup Anda? Ya, berapa rata-rata penghasilan per bulan orang Indonesia saat ini? Angka rata-rata ini mungkin bisa Anda jadikan benchmark, apakah penghasilan An...
31 comments on “Kenapa Perilaku Konsumtif dan Gaya Hidup Tidak Sehat itu Mudah Menular?
  1. ditempat lain, jika kita bergaul dengan orang2 sukses maka pelan2 tanpa terasa kita ikut gaya hidup sukses mereka? (dan juga termasuk ikut perilaku komsumtif mereka :mrgreen: )

  2. adigum serupa juga mengatakan bahwa kita tidak bisa mengubah perilaku dan karakter orang-orang disekitar kita, tapi kita bisa memilih siapa disekitar kita yang akan berpengaruh terhadap karakter kita.

  3. Lingkungan memang harus diwaspadai..
    Agamamu tergantung sama Agama saudaramu, itu bukan ungkapan, namun Hadits Nabi..sangat klop dengan artikel diatas..

  4. Ya pak,paling menydihkan sering saya lihat gaya kehidupan karyawan lebih wah ketimbang atasan.

    Kadang ada asisten rumah tangga yg pakai alat komunikasinya udah pakai BB, sedngakan atasannya cukup merk jadul.

    Padahal sang asisten belum tentu memanfaatkan BB itu dengan benar, paling bikin makin konsumtif saja.

  5. ingat lagu yang berjudul “Tombo Ati” (Opik) ‘ berkumpulah dengan anak soleh’ , supaya kita jadi orang soleh.
    benar juga ya hehehe………….

  6. kemarin diliatin sama teman kerja foto2 rekan kerja 6 th yang lalu badannya masih kerempeng, imut-imut ha..ha…pokoknya lucu kalu dibandingkan dengan kondisi sekarang yang sudah pada “mapan” alias maju kedepan hi..hi…hi…

    banyak faktor yang membuat teman2 pada “mapan”, seperti: meningkatknya pendapatan berimbas pada pola hidup yang berubah, trus cara menyalurkan stress (tekanan beban kerja) yang disalurkan lewat “makan” yang berlebihan tanpa diimbangi olahraga.

  7. Hm… biasanya di balik kebiasaan/tren, ada peluang. Kebiasaan negatif pun bisa menciptakan peluang positif.

    Baiklah, action apa yang bisa kita lakukan untuk mengimbangi perilaku konsumtif di atas? action yang positif dan menguntungkan, loh ya… 😀

  8. Ini yang saya ga suka dari orang Indonesia, latah. Mau tanya pak Yodhia, apakah faktor negara maju atau berkembang mempengaruhi kelatahan manusianya?

    Saya dikasih tau saudara saya yang pernah tinggal di Eropa dan beberapa negara maju lainnya kalo masyarakat sana semisal ada trend baru mereka juga mengikuti, tapi paling hanya beberapa saja, tidak sebanyak di Indonesia ini.

    Mungkin salah satu cara mengurangi kelatahan ini bisa jadi dengan memajukan negara tercinta kita ini.

  9. wah, latah ini jadi semacam pedang bermata dua ya? di sisi laen, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan sales penjualan barang. di sisi laen bisa menjerumuskan ke bad habits :p

  10. Reza (14) : tidak begitu. Fenomena LATAH TERJADI di semua negara. Ini fenomena universal. Kalau ndak ada fenomena ini, maka tidak akan ada TREN (tren dalam musik, desain, busana, lagu, dll).

    Jadi bukan soal dari negara mana. Di manapun di dunia, sikap latah terjadi.

  11. Saya setuju bung Yod, bahwa lingkungan akan sangat berpengaruh kuat. Tidak bisa dipungkiri. Seberapa besar kita berkutat dalam lingkungan yang konsumtif, maka dsitulah kita akan merasakan berapa banyak kita telah menjalani kehidupan itu. Hanya kita yang tahu.

  12. Saya bersyukur pernah ikut Green SuperCamp, lebih belajar tentang menghargai diri sendiri dan percaya kalau apa yang benar tidak perlu persetujuan orang lain 😀

    Terima kasih atas penguatannya Mas Yodhia, semoga bangsa kita bukan bangsa imitasi… 😀

  13. Percayalah, meninggalkan teman yang buruk akan diganti dengan teman yang lebih baik, yang bisa membawa kita ke hidup yang lebih baik pula. Sekali lagi, hidup itu pilihan. 🙂

  14. Dengan memilih komunitas yang tepat, maka potensi kebaikan yang ada dalam diri kita akan bisa kita optimalkan….

    Tapi sayang terkadang kita tidak punya pilihan lain…

    misal Lingkungan kerja kita atau tetangga komplek rumah kita cenderung konsumtif mau nggak mau kita menjadi bagian dari mereka…

    mudah2xan kita senantiasa dimudahkan dalam mendapat lingkungan yang baik..

    matur nuwun pak Yod artikelnya….

  15. Bener banget, social proff ini juga dimanfaatkan para pelaku bisnis besar juga. Mereka membuat seakan-akan banyak orang yang beli, banyak orang yang berpartisipasi untuk memancing lebih banyak orang lagi untuk bergabung…

    contoh sederhana tepuk tangan di seminar. cukup dimulai 1-2 orang bisa semua orang ikut bertepuk tangan!

  16. Benar sekali. Hal tersebut juga terjadi pada saya mulai saya merantau untuk kuliah sampai bekerja. Namun ketika sudah berkeluarga, hal tersebut bisa saya rem karna lebih banyak waktu untuk keluarga daripada bergaul.Jadi ya memang lingkungan(pergaulan) berperan besar

  17. Saya teringat dengan pesan orang tua saya “berteman dengan tukang minyak maka kamu akan bau minyak, dan berteman dengan tukang minyak wangi maka baumu akan wangi”
    Saya setuju sekali dengan pepatah itu.

    Akan tetapi sebagai generasi muda yang maju, saya juga punya prinsip “Baik atau buruknya kita bukan dari atau karena orang lain tapi dari diri kita sendiri”
    Dari pada kita terus mengutuk perilaku orang lain yg buruk marilah kita memulai kebaikan di dalam diri kita masing-masing.

    “Lebih baik kita mulai menyalakan lilin dari pada mengutuk dalam kegelapan”

    Salam sukses mulia,

  18. LATAH mungkin sudah kultur masyarakat Indonesia… mulai dari paud, gelombang cinta, tas branded, bb, etc. Kebijakan pemerintah dg kemudahan “kredit” dan tameng “harga diri” di mata manusia yang lainnya, membuat seseorang sangat latah dan konsumtif dengan iklan yang ada… AKU JUGA HARUS DUNK…

    Sedikit orang yang mempunyai karakter kuat tidak latah dengan trend yang berkembang..Apakah kita kurang berkarakter jadi mudah latah ato latah adalah karakter qta…

    Tarik nafas dan tahan sampai hitungan 10, sebelum qta memutuskan untuk ingin jg barang sperti ttg sebelah… butuh enggak yaa…
    Putuskan yang terbaik untuk Anda dan orang tercinta di sekitar Anda

  19. Sip, good article. Untuk mengingatkan kita untuk berani punya prinsip. Untuk mengingatkan kita juga, bahwa tubuh dan jiwa ini akan kita kembalikan dalam keadaan sehat dan bersih, seperti awalnya kita hadir di muka bumi ini.

  20. yup berteman dgn penjual minyk wangi kita akan trbaqa harum, bgt pula kl qt brtman dgn tukan besi mka kita akn kena bara api, pasti ad kwmurangn jd smg qt bs mngmbil sisi positifnya.

Comments are closed.

Pilih Kaya atau Misqien?

Dapatkan Buku yg Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Financial Freedom yg Barokah. GRATIS!