Apakah Start Up Bubble di Tanah Air Pada Akhirnya akan Meletus?

Apakah pertumbuhan dramatis start up di tanah air pada akhirnya akan menuju bubble yang kemudian pecah meletus? Meninggalkan triliunan dana investor dalam buih fatamorgana?

Dan kenapa sebuah barisan startup bisa jatuh terpelanting dalam kenestapaan?

Mari kita bedah topik ini sambil ditemani secangkir kopi susu hangat dan setangkup roti bakar.

Beberapa minggu lalu, Qlapa, sebuah online marketplace untuk produk-produk kerajinan tangan (handicraft) akhirnya memilih bubar setelah gagal mendapatkan penjualan produk yang menjanjikan.

Selain Qlapa, sejatinya sudah banyak start up di tanah air yang tutup.

Dulu ada ecommerce Rakuten Indonesia yang akhirnya juga tutup. Lalu ada layanan virtual assitant yang sempat happening, namun lalu diam-diam mati, yakni HalloDiana dan YessBos. Ada juga online store punya Indosat, dengan nama Cipika yang gugur sebelum terkenal.

Lalu ada juga yang sudah lama mati seperti Inapay (layanan pembayaran rekber), Lamido (ecommerce), Paraplou (online fashion) dan Valadoo (layanan travel online), Shopious (online fashion store) hingga Wavoo (aplikasi kecan).

Mungkin Anda tak pernah mendengarnya semua. Wajar, karena mereka memang mati hanya dalam hitungan bulan.

Arena start up business sejatinya adalah ladang pembantaian yang brutal.

Data yang pernah ditulis majalah bisnis global Forutune Magazine menyebut bahwa tingkat kegagalan start up itu bisa menyentuh angka 90%. Scary.

Dibalik kisah sukses start up seperti Instagram, Pinterest atau Dropbox, ada ribuan lain yang gugur – dan jarang diberitakan di media (karena mungkin malu dan tak mau dipublikasikan).

Sayang memang, kisah start up yang acap muncul di media adalah yang sukses – dan jarang ada cerita mendalam tentang kenapa start up gagal. Padahal acapkali kita bisa belajar lebih banyak dari kisah kegagalan, dan bukan kisah sukses.

Tentu saja, barisan start up yang gugur akan selalu datang : menjemput duka yang kelam.

Sebagai data saja, dalam industri jual beli mobil, saya menghitung ada lebih dari 10 start up (antara lain mobil123, carmudi, carsome, rajamobil hingga cintamobil.com).

Dalam industri kesehatan, ada banyak bubble yang mengintai sebab dalam pasar yang belum jelas ini, sudah muncul lebih dari 10 start up (antara lain : HaloDoc, TanyaDok, KlikDokter hingga GoDok. Nggak sekalian diberi nama Go-Dok Banyu saja).

Sementara dalam fintech, ada lebih dari 70 start up baru yang bermain (mulai dari Kredivo, UangTeman, Gopay, Dana, hingga UtangMertua.com). Nama start up yang terakhir adalah karangan saya sendiri.

Lalu kenapa sebuah start up pada akhirnya bisa jatuh terpelanting dalam kebangkrutan? Berikut tiga faktor utama yang bisa menjelaskan kenapa barisan start up kolaps.

Start Up Fail 1 : Business Model Tidak Jelas

Istilah business model mungkin bisa disederhanakan menjadi cara monetize, atau bagaimana start up itu mendapatkan pemasukan dan profit.

Kita bisa ambil dua contoh layanan start up besar yakni Shopee dan Gopay.

Sejauh ini business model Shopee masih belum jelas benar. Layanan mereka mayoritas masih gratis, dan bahkan beberapa kali memberikan layanan free ongkir. Burning money rate-nya masih tinggi dan kalau pasokan dana menyusut, mereka bisa pelan-pelan mati seperti Rakuten Indonesia.

Layanan Gopay juga sejauh ini masih gratis. Fee kepada merchant juga sebagian besar masih gratis.

Bahkan mereka gila-gilaan membakar uang miliaran dalam bentuk cash back (istri saya jadi mau install Gopay gara-gara banyak cash-back. Ada banyak ibu di tanah air yang saya yakin melakukan hal serupa).

Namun business model Shopee dan Gopay masih belum memberikan road-to-profitability yang jelas.

Titik paling krusialnya adalah ini : kalau Shopee dan Gopay mulai mengenakan fee untuk layanannya (tidak lagi gratis dan tidak ada lagi cash back atau free ongkir), apakah jutaan pelanggannya tetap mau bertahan?

Business model yang kurang konkret ini juga terlihat pada sejumlah start up medical atau kesehatan yang saya sebut diatas. Bagaimana cara mereka mendapatkan pemasukan, dan apakah model pemasukan yang mereka angankan benar-benar sustainable?

Business model atau cara monetize yang tidak jelas acapkali membuat start up berguguran. Sebabnya simpel : skema pemasukan tidak ada, sementara pengeluaran makin segede gaban.

Lama-lama oksigen akan habis, dan akhirnya jenazah start up itu bisa masuk ke liang kubur dalam kesunyian yang perih.

Start Up Fail 2 : Produk atau Layanan Start Up Tidak Laku

Qlapa akhirnya mati mungkin karena layanan mereka tidak sukses mendapatkan jutaan pelanggan.

Aplikasi layanan virtual assistant sepeti HaloDiana atau YessBos dulu juga mati mungkin karena tidak berhasil mendapatkan pelanggan yang masif.

Kata kuncinya adalah : layanan dan produk start up mati karena memang gagal meraih pelanggan yang banyak.

Penyebab tidak laku adalah karena produk atau layanan start up itu memang belum terlalu dibutuhkan pelanggan.

Bisa jadi fitur layanan atau produknya memang belum sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Atau fitur ini hanya nice to have, bukan kebutuhan mutlak yang diinginkan pelanggan. Atau fitur ini sudah bisa dipenuhi oleh produk subtitusi lainnya yang lebih simpel.

Penyebab lain produk start up tidak laku karena proses pemasaran yang kurang kreatif. Acapkali sebuah produk yang bagus gagal laku karena dipasarkan dengan cara yang jelek.

Start Up Fail # 3 : Kalah Bersaing karena Kompetisi yang Keras

Alasan ketiga ini simpel : sejumlah start up gugur karena kalah bersaing. Kalah bersaing karena mungkin inovasi produk jelek, atau karena dana untuk bersaing sudah habis.

Kaskus dulu adalah start up yang legendaris. Namun sekarang mulai menurun pamornya karena inovasinya lamban dan gagal merespon perubahan dinamika pasar.

Rakuten dan MatahariMall tutup karena kalah bersaing dengan Tokopedia dan Lazada. Ecommerce start up milik Telkom Blanja.com mungkin juga stagnan karena kalah jauh dalam persaingan.

Dalam lansekap start up di tanah air, kompetisi dalam tiap industri sangat ketat. Misal dalam arena ecommerce ada Tokopedia, Shopee, Blibli, Bukalapak hingga Lazada.

Dalam fashion store ada Berrybenka, Hijup, Hijabenka, Zilingo hingga Saqina dan Maskoolin.

Begitu juga dalam arena fintech, jualan mobil hingga kesehatan; ada ratusan players yang saling bersaing dengan keras. Hampir pasti akan banyak diantaranya yang gugur di tengah jalan.

DEMIKIANLAH, setidaknya tiga faktor paling utama kenapa sebuah start up bisa mati.

Pertumbuhan start up yang masif pada akhirnya akan menciptakan hukum alamiah : selalu akan ada yang gugur di medan perang sebelum sanggup mengibarkan bendera kemenangan.

Ingat rasio kegagalan memang mencapai level 90%.

Sepanjang strat-up besar dan mapan di tanah air (think unicorn start up) bisa menghindari jebakan tiga faktor diatas, maka kemungkinan mereka akan tetap hidup dalam periode waktu yang lama.

Bagi start up besar dan ternama, sejatinya faktor 1 dan 3 diatas yang paling mengancam eksistensi mereka.

Jika team manajemen mereka gagal merespon faktor 1 dan 3 ini, maka hampir pasti akan ada big start up di Indonesia yang mengalami letusan.

Bunyinya : DOORRRR, dan mengejutkan kita semua.

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download Sekarang.

Related Post

Pertempuran Seru nan Mendebarkan dalam Panggung Digital Start Up Indonesia Ledakan digital start up Indonesia terus membuncah seiring dengan mobile smartphone explosion yang terus mengharu biru. Nyaris tiap bulan muncul na...
23 comments on “Apakah Start Up Bubble di Tanah Air Pada Akhirnya akan Meletus?
  1. Assiaap gile.. lebih banyak kegagalan dibalik segelintir kesuksesan. Rintisan BUMN layu sebelum tumbuh.

    Terlalu banyak bibit tertanam di pot yg sama. Hanya yg mampu memberikan hiburan dan manfaat terjangkaulah yg dapat bertahan..

    Kangen ngaskus lagi.. the first place iam know online shoping.. Jadi unicorn saja berat apalagi hectocorn.

  2. Nama keren, terkenal cetar membahana sampai langit langit ketujuh dan hal-hal yang sifatnya asesoris masih menjadi tren.

    Mirip selebritis yang menikah aja, dibahas tak ada habis-habisnya, dari masalah-masalah sepele dan remeh temeh sampai masalah dapur.

    Semua dikupas abis tak tersisa, bis-bis, biss…

    “memang gak ada yang lebih bermanfaat selain itu:”

    Demikian juga dengan beberapa start up, yang penting dipandang keen, tajir, dan sebutan remeh temeh lainnya.

    Dan kita, mau jadi penonton atau ikut mengambil manfaat dari hiruk pikuknya ‘yunikon-yunikon’ ini.

    Percuma kalau hanya jadi penonton, atau malah cuma jadi objek sasaran mereka.

    ’eman bro, eman’

    so, berkarya untuk kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat.

    Salam sukses penuh keberkahan.

  3. Ternyata banyak juga start-up yang tumbang ditengah jalan, selama ini kita, saya pribadi lebih banyak tahu yang mencapai kesuksesan.

    Yups, problemnya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi didunia off-line, begitu banyak perusahaan dan produk yang gugur sebelum berkembang.

    Saya lebih suka menggaris bawahi, bahwa produk dan atau layanan mereka belum atau tidak dibutuhkan oleh pasar, menurut saya ini sangat penting, karena bukan hal mudah dan murah untuk mengedukasi pasar.

    Tapi inilah pelajarannya, semoga yang lain bisa beratahan, dan semoga masih banyak lagi yang akan bermunculan untuk menjadi unicorn atau minimal cockroachcorn ^_^

    Thanks … inspiratif

  4. Kuat-kuatan bakar duit emang saya lihat start-up ini, tapi ada hal menarik yang pernah di sebut CEO nya BukaLapak : “Kalo ga mau banting-bantingan harga, mesti kuat-kuatan adu pinter”, kurang lebih seperti itu…

    Dan memang perekrutan untuk masuk BukaLapak termasuk sulit. Mungkin mereka emang ngumpulin orang-orang yang brilian.

  5. fresh from the oven nih bahasannya, keren. ditunggu sajian renyahnya yang lain om. kalo ada slide2 management operasional keren juga loo selain HRM.

  6. cc: untuk para pemuda yang harus diperhatikan sebelum membuat start-up nih.

    Karena banyak sekali saat ini yang membuat start-up tanpa goal yang jelas, didaerahku ada start-up yang tujuannya agar start-up ciptaan yg dia bikin dapat bermanfaat untuk orang banyak.

    Namun untuk mengarah ke situ gk ada strategi yang detail dan akurat

  7. wah ternyata udah banyak yang mati ya. bahkan yang namanya belum sempet kedengeran.
    modal juga ngaruh sih. kuat2an modal plus kecerdasan emang jadi koenci. semoga yang ada tetap bisa bertahan deh..apalagi itu karya anak bangsa

  8. pak Yodhia,maaf saya ada pertanyaan,kenapa kalau dari facebook tidak bisa langsung ke blog ini ? terima kasih

    nb
    sangat menginspirasi sekali artikelnya…. 🙂

  9. Sekelas BUMN aja masih terseok – seok dengan start up milik mereka. Apakah ini berkaitan SDM yang dimiliki ya pak?

    Holding bank BUMN dimulai dengan transaksi non tunai melalui LinkAja sepertinya akan berat juga bersaing dengan loyalitas pelanggan dari Gojek khususnya..

    Seleksi alam bukan hanya dihutan belantara, tapi ternyata di dunia maya. Ngerih..

  10. Bisnis start up kurang lebih spt olahraga maraton, jgn terlalu cepat ingin sukses, persiapkan bisnis model sematang mungkin slow but surely, jgn terlalu slow jg lah?. Butuh energi dan daya tahan yg panjang, syukur2 anda bisa jd pemenang.

  11. berbicara start up, ini bukan hitungan hari, bulan atau tahun, tapi bisa bertahun tahun dulu. hal ini seperti yang disampaikan pihak bekraf dari pemerintah yang tiap tahun membantu lahirnya start up baru di Indonesia, hanya saja banyak yang tumbang di tahun2 pertama.

  12. Rule bisnis yang di terapkan setiap start up jelas berbeda. Bakar uang investor kalau tidak bijaksana pasti akhirnya akan koleps. Posisi CEO disini menentukan bisnis start up mereka. Banyak kok start up start up lokal yang main di rule bisnis lokal yang hasilnya nyata dan itu profit.

  13. Nah inilah yang selalu dinanti…..ulasannya maknyus…

    Pada akhirnya hanya 10% start up yang mampu bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin….jelas ini semakin membuktikan bahwa tidak selamanya nama besar menjadi jaminan….kejelasan dalam monetize juga tidak kalah penting….

    prinsip biar tekor asal kesohor emang banyak dipraktekan dan hasilnya beneran tekor…dan yang paling perih adalah jarang sekali ulasannya dimuat dalam berita….

    Oke kalau memang start up yg sukses dapat memicu semangat, bagaimana dengan start up yang gagal? saya kita kita masih bisa belajar, setidaknya mereka yang gagal telah membuktikan sudah memulai dan orang lain yang belum pernah gagal bisa jadi tidak berani mengambil tindakan nyata…

    Oke pak, terima kasih atas wejangannya…

  14. salut dan sangat terinspirasi dengan startup RUMAHDIJUAL. COM di mana dia bootstrap, yang mengandalkan kejeliannya dalam membidik nama domain KOD hingga sangat pengeluaran untuk SEO minim sekali..

  15. Kalau mau fokus berbisnis di dunia digital memang harus dipahami dulu yaa target market-nya. Selain itu, sisi risikonya juga harus dipertimbangkan dengan matang.

  16. Bisnis startup menurut saya ada poin negatifnya dimana yang sukses akan sukses besar dan menguasai, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Sedangkan lainnya kolaps

    Bagi pemula, memulai bisnis lebih baik yang riil dengan pendanaan yang ada misalnya dengan jualan ataylu marketing online, dengan harapan skala bisa dibesarkan jika berhasil dgn skala kecil

    http://umrahjogja.com

Comments are closed.