Bagaimana Ria Ricis Meraih Income Rp 500 Juta/Bulan dari Iklan Youtube

Ria Ricis tak pelak merupakan salah satu Youtuber superstar Indonesia. Dengan jumlah pelanggan 14 juta di channelnya, ia merupakan youtuber lokal dengan pelanggan terbanyak nomer dua setelah Atta Halilitar, youtuber kelas dewa lainnya, dengan pelangan 16 juta dan terus bertambah.

Sejumlah media memberikan estimasi penghasilan Ria Ricis dari iklan di Youtube tembus antara Rp 500 juta hingga Rp 1 milyar per bulan – sebuah angka yang fenomenal.

Sejatinya itu angka yang cukup rasional. Sebab youtuber luar dengan jumlah pelanggan yang sama, bahkan rata-rata bisa menghasilkan Rp 15 milyar per bulan dari iklan Youtube (atau 30 kali lipat penghasilan Ria Ricis).

Bagaimanapun mendapatkan penghasilan iklan Youtube hingga Rp 500 juta per bulan adalah sebuah pencapaian yang super epik.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Sebabnya simpel dan bisa diringkas dalam slogan yang terkenal seperti ini : Youtube, Youtube lebih hebat dari Televisi, BOOM.

Benar, penyebab fundamental dari melesatnya Ria Ricis (dan juga banyak youtuber lainnya yang sukses) adalah karena ledakan pemirsa Youtube dalam lima tahun terakhir, dan sekaligus pelan-pelan merobohkan dominasi televisi di tanah air (dan juga belahan dunia lainnya).

Faktanya, jumlah pemirsa televisi dari kalangan anak remaja dan anak muda makin mengalami penurunan yang drastis. Sejumlah analis bahkan menyebut, masa depan industri televisi akan makin suram, seiring dengan hadirnya jutaan youtuber yang kreatif.

Youtuber individual dan kreatif seperti Ria Ricis (bersama ribuan youtuber lainnya) adalah ancaman serius yang akan membunuh industri televisi secara perlahan.

Lalu kemana larinya jutaan anak remaja dan anak muda yang sekarang makin jarang menonton televisi? Salah satunya ya ke Youtube. Dan dalam layar Youtube ini, mereka menemukan beragam konten yang menurut mereka menarik, dari para figur seperti Ria Ricis.

Akibat lanjutannya mudah ditebak : para pemasang iklan yang dulu cuma iklan di televisi, kini makin banyak yang juga beriklan di Youtube. Sebabnya ya itu tadi : karena jutaan anak remaja dan anak muda yang merupakan pasar potensial mereka sudah melakukan migrasi besar-besaran ke Youtube (dan meninggalkan layar TV yang jadul).

Dana triliunan iklan brand-brand besar perlahan mulai datang ke Youtube. Dan uang inilah yang kemudian mengalir ke para youtuber menonjol seperti Ria Ricis dan kawan-kawanya.

Sekadar info, biaya iklan di televisi selama 30 detik rata-rata sekitar Rp 50 juta. Kalau sebuah brand, memasang iklan sebanyak 10 kali per hari, maka biayanya bisa tembus Rp 500 juta/hari. Kalikan sebulan. Kalikan ratusan brand yang pasang iklan.

Nah, kalau dalam bisnis televisi, semua profit pemasukan iklan itu dinikmati pemilik stasiun televisinya. Misal CT yang punya TransTV dan Trans7 atau Harry Tanoe yang punya RCTI dkk.

Kalau di Youtube, pemasukan itu kemudian didistribusikan kepada para usernya yang rajin bikin konten bagus seperti Ria Ricis. Komposisinya adalah 45% untuk pemilik Youtube, dan 55% untuk para youtubers-nya. Lumayan fair-lah.

Nah penghasilan bisa makin epik jika pemirsa video yang kita upload makin banyak.

Penghasilan Ria Ricis sangat masif, sebab pelanggan dia sudah tembus 14 juta subscribers. Alhasil, setiap video yang dia upload juga akan menghasilkan jutaan view. Dan karena view makin banyak, maka otomatis pendapatan iklan dia dari Youtube makin maknyusss.

Sejatinya, bukan hanya Ria Ricis yang mampu hasilkan pendapatan iklan dari Youtube.

Ada ribuan orang Indonesia lainnya yang juga sukses hasilkan pendapatan iklan dari Youtube, meski jumlahnya mungkin bervariasi antara Rp 10 juta hingga Rp 50 juta/bulan.

Mereka semua punya channel di Youtube. Lalu dengan rajin, mereka mengupload konten video yang bisa mengundang banyak view.

Mereka kemudian mendaftar ke Google Youtube untuk ikut program iklan adsense Youtube. Jika disetujui, maka video mereka secara otomatis akan mendapatkan tayangan iklan video yang relevan. Makin banyak yang nonton, maka porsi penghasilan iklan mereka akan makin banyak juga.

Ada dua pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah Ria Ricis Youtuber Superstar ini.

Pelajaran #1: Digital Content Creators Bisa Menjadi Super Kaya

Profesi menjadi digital content creators ternyata memang bisa memberikan penghasila yang super melimpah (seperti dalam kasus Ria Ricis ini).

Digital content creators tidak mesti hanya menjadi Youtuber. Kita bisa juga mempublish konten kita via Instagram, Twitter, Facebook, ataupun Blog.

Kalau hobi fotografi, ciptakan konten untuk IG. Kalau video, bisa ke Youtube. Kalau ahlinya bikin teks, maka bisa publish via blog danTwitter. Atau kalau ahli bikin konten kombinasi teks dan video, bisa gunakan Facebook.

Apapun medianya, asal kontennya menarik dan konsisten maka pelan-pelan pasti akan hasilkan audience yang banyak dan loyal. Nah kalau sudah punya banyak followers, maka kita bisa lakukan proses monetisasi (proses hasilkan uang).

Caranya monetisasinya ada dua. Yang pertama bisa melalui model penghasilan iklan seperti Ria Ricis ini. Kita bisa ikut program bagi hasil iklan ala Youtube, atau juga via program Adsense Google untuk media blog.

Kita bisa juga terima iklan langsung dari pengelola brand. Pola endorsement langsung semacam ini banyak dilakukan di Instagram, Twitter dan Blog.

Cara monetisasi kedua setelah punya audience atau followers yang banyak adalah dengan menjual sendiri produk yang kita buat atau pasarkan. Contohnya seperti kasus Syahrini yang sukses menjual mukena produksinya sendiri dengan omzet puluhan milyar (kasusnya sudah kita bahas minggu lalu disini).

Cara kedua ini juga dilakukan rekan saya Rico Huang. Ia rajin membuat konten bagus via Facebook Group. Setelah followersnya banyak, ia lalu sukses menjual produknya sendiri secara masif, sehingga bisa hasilkan net profit hingga Rp 400 juta/bulan.

Pelajaran #2 : Digital Content Creators Bisa Bekerja Di mana Saja

Pelajaran kedua ini juga sama menariknya, selain faktor uang.

Jadi salah satu masalah pelik kota-kota besar di negara berkembang seperti Indonesia ini adalah laju urbanisasi dan kemacetan.

Para penduduk di kota kecil pindah ke kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Semua lalu menumpuk di kota-kota besar.

Kemudian jutaan orang ini (termasuk saya dan Anda semua) bekerja di kantor-kantor yang tidak dekat dengan rumah tinggal. Akhirnya tercipta kemacetan dimana-mana, terutama di kota besar ibukota provinsi. Waktu terbuang di jalanan dan tidak produktif sama sekali.

Nah, pekerjaan content digital creators ini bisa dikerjakan dimana saja, bahkan di sebuah desa terpencil sekalipun (asal ada koneksi internet). Ada banyak kisah orang-orang yang tinggal di kota kecil, tapi sukses raih penghasilan iklan online dari Youtube dan Google Adsense dalam jumlah memadai.

Dengan menjadi digital content creators, kita juga tidak harus pergi ke kantor tiap hari, dan bikin macet dimana-mana. Kita bisa mengerjakan prosesnya di mana saja, termasuk dari rumah sendiri.

Proses digitalisasi ekonomi sejatinya bisa membuat sumber penghasilan bisa disebar secara lebih merata ke semua wilayah, tak hanya terpusat di kota besar.

Meski kita tinggal di sebuah desa kecil, atau di pinggiran kota kecil, kita bisa tetap hasilkan rezeki dengan melimpah, sepanjang kita punya keahlian menjadi digital content creators.

DEMIKIANLAH, dua pelajaran ringkas namun powerful dari fenomena digitalisasi ekonomi.

Ledakan smartphone dan ledakan android akan terus terjadi. Selayaknya kita merayakan karnaval digitalisasi ekonomi ini dengan penuh kreativitas dan daya inovasi.

Sebab hanya dengan itulah, kita akan bisa menjadi insan-insan digital yang mampu hasilkan rezeki yang halal dan sekaligus fenomenal.

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download Sekarang.

27 comments on “Bagaimana Ria Ricis Meraih Income Rp 500 Juta/Bulan dari Iklan Youtube
  1. peluang emang selalu ada di mana-mana,
    namun faktor luck PASTI selalu ada.

    Jangan kayak omongannya motivator-motivator jaman old yang cenderung meniadakan ini, dan teriak-teriak, bisa-bisa, super-super, dahsyat-dahsyat dan beberapa hari kemudian LOYO, layu, lalu sirna di telan kesunyian.

    Upaya perlu, namun faktor luck, takdir, nasib, dan segala sesuatu yang datangnya dari Gusti Alloh PASTI masih punya peran besar.

    so, apapun yang terjadi tetep semangat, terus berupaya yang terbaik, dan tetap berdoa sama yang membuat kita hidup (bagi yang percaya).

    misalnya nih, Anda ingin mengelola usaha/bisnis dengan powerful, gunakan juga tools powerful, kayak: Accounting Tools+SOP Finance dari https://manajemenkeuangan.net/

    Salam sukses penuh keberkahan

  2. Temenku ada yg bikin akun yutub berita modal reupload dan di edit suaranya dikit seminggu upload 2x dia bisa dapet adsense sampai 10 juta sebulan

    Youtube lebih dr tivi boom

  3. Dengan populasi penduduk Indonesia yang besar maka Digital Containt Creators bs sangat masiv dilakukan.

    Diperlukan team yang solid buat mewujudkannya.

    Buat pemula topik apa yg ciamik yg bs mendatangkan viwer dan mendapatkan spot iklan

    Mohon pencerahan coach

  4. Beberapa orang memang punya rezeki yang bagus.. bikin konten, upload dan BOOM.. bisa hasilkan puluhan hingga ratusan juta dari youtube.. sisanya, terseok-seok.dan stress sendiri karena kerja kerasnya tak kunjung menghasilkan.. semoga kita semua termasuk orang yang rezekinya dilancarkan

  5. Saya juga baru merintis buat chanel youtube bikin konten yang bermanfaat. Emang tumbuhnya lama tapi semoga bisa konsisten. Kalau penghasilan dari adsense dikit banget jdi saya sisipi jualan produk di konten channel saya.

  6. Ada kontroversi dan nyinyir yang bilang kalau konten mereka unfaedah gitu kan pak.

    Kalau pendapat bapak sendiri gimana pak, mengenai kualitas konten mereka?

    Sebagai pribadi yang saya lihat bapak cukup concern dengan dunia pendidikan anak muda, apa bapak merekomendasikan atau tidak para konten kreator untuk mebuat konten-konten sejenis??

  7. kelihatannya mudah, tapi tantangan terbesarnya buat yang mau jadi konten creator itu ya konsistensi. Banyak kreator pemula yang berguguran karena kurang bisa konsisten.

  8. Kalau saya melihat ini merupakan bagian dari fenomena yang sekarang sedang menjadi tren di Indonesia. Sebagai seorang digital creator harus paham dan dapat melihat keinginan pasar seperti apa. Lihat lagi pangsa penontonnya menyasar ke golongan rentangan usia berapa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pilih Kaya atau Misqien?

Dapatkan Buku yg Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Financial Freedom yg Barokah. GRATIS!