Drama tentang Revolusi Nokia

nokia-n-3.jpgJudul Buku: The Nokia Revolution : The Story of An Extraordinary Company that Transformed an Industry. Penulis : Dan Steinbock.

Di suatu pagi yang cerah pada tahun 1865 – atau sekitar 140 tahun silam, sebuah perusahaan kecil didirikan dipinggiran sebuah kota, di negeri Finlandia. Selama puluhan dekade, perusahaan yang diberi nama Nokia itu menekuni bisnis utamanya dibidang……perkebunan karet. Ya, barangkali kita tidak pernah menyangka bahwa Nokia – yang kini telah menjelma menjadi ikon global – pada mulanya hanyalah sebuah perusahaan kecil yang bergerak dibidang perkaretan, sebuah bidang usaha yang sama sekali tidak eksotis. Continue reading

Apa Sih Kunci Buat Membangun Great Company?

brandstop-re.jpgApa sebenarnya faktor-faktor kunci penentu untuk membangun suatu great company, atau perusahaan yang unggul? Faktor-faktor yang telah membuat perusahaan unggul semacam Intel, Samsung, Nokia, dan IBM terus menerus berada dalam ranah kejayaan? Pertanyaan ini tampaknya menjadi kian penting terutama ketika intensitas kompetisi bisnis berlangsung dengan makin kencang. Tanpa kesadaran akan faktor-faktor kunci penentu keberhasilan (key success factors), maka suatu perusahaan boleh jadi akan gagap mengelola dirinya, untuk kemudian terkapar mati ditelan arus perubahan zaman. Continue reading

Gaya Manajemen Starbucks

logo-starbucks-resize.jpgAnda semua pasti sudah pernah mampir ke kedai Starbucks atau mencicipi roti abon Breadtalk bukan? Starbucks, donat J.Co, Breadtalk dan sederet produk sejenis lainnya barangkali memang merupakan simbol tradisi mutakhir masyarakat metropolitan. Secangkir frappuccino caramel, roti abon a la flosh, dan dua potong donat rasa lemon pada akhirnya memang bukan sekedar produk makanan dan minuman. Mereka adalah sejenis produk kultural, dengan mana masyarakat metropolitan melampiaskan hasratnya untuk melakoni gaya hidup kontemporer. Continue reading

Mencetak Great People Melalui Corporate University

executive-education-2.jpgSekolah bisnis mana yang layak disebut sebagai terbaik di dunia? Sebagian orang mungkin akan menyebut nama Harvard Business School, atau Wharton School of Business, atau mungkin MIT. Namun bagi sebagian yang lain, yang layak dianggap sekolah bisnis terbaik adalah GE Campus at Crottonville. Sebabnya sederhana: berdasar survei, kampus GE ini ternyata lebih banyak menghasilkan CEO dan business leaders hebat dibanding sekolah bisnis manapun di dunia ini. Continue reading

HP OfficeJet : Keajaiban Harga dalam Kehidupan Digital

hp-ad3-re.jpgSalah satu fenomena unik dalam industri komputasi dan piranti digital sejenisnya adalah adanya kecenderungan price downward effect. Inilah sebuah fonemena dimana harga berbagai piranti digital seperti komputer, ponsel, printer, dan LCD secara periodik mengalami penurunan yang kadang bersifat dramatis. Katakanlah, sebuah notebook dengan prosesor intel core duo dibandrol dengan harga 12 juta ketika pertama kali diluncurkan. Harga ini bisa turun beberapa puluh persen hanya dalam dua belas bulan setelah peluncurannya. Contoh seperti ini juga terjadi pada piranti ponsel. Harga sebuah ponsel yang baru diluncurkan mungkin turun cukup dalam hanya dalam beberapa bulan setelahnya. Continue reading

Merancang Manajemen SDM Berbasis Kompetensi

businesswoman.jpgPengembangan pribadi yang bermutu unggul secara sistematis boleh jadi merupakan salah satu strategi yang mesti diusung ketika suatu perusahaan bemimpi menjadi yang terbaik. Dalam kaitannya dengan hal ini, beberapa tahun terakhir ini merebak satu pendekatan baru dalam menata kinerja manusia, yang acap disebut sebagai competency-based HR management (CBHRM), atau manajemen pengelolaan SDM berbasis kompetensi. Dalam pendekatan ini, kosa kata kompetensi menjadi elemen kunci. Continue reading

The Death of HR People?

funeral3.jpgOur most important asset is our great people, begitu satu kalimat yang acap kita lihat di laporan tahunan sejumlah besar perusahaan. Sebuah kalimat yang mungkin sering jadi tergelincir menjadi klise, sebab spirit dibalik kalimat itu lebih kerap tak dijalankan. Dengan kata lain, kalimat itu lebih sering menjadi slogan belaka, yang tidak disertai dengan komitmen pengembangan sumber daya manusia yang kuat.

Pada sisi lain, kalimat mutiara itu juga merupakan tantangan bagi para pengelola SDM di setiap perusahaan, atau yang acap dikelompokkan dalam sebuah departemen SDM. Pada kenyataannya, kini makin kencang suara yang mempertanyakan kredibilitas para pengelola SDM dalam mengembangkan mutu para karyawan dan membawa laju perusahaan kedalam bahtera kejayaan. Continue reading