
Satu dekade lalu, Indonesia dijuluki sebagai “surga unicorn” di Asia Tenggara. Startup seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, hingga berbagai perusahaan teknologi lain berhasil meraih valuasi miliaran dolar dan menjadi kebanggaan ekosistem digital Indonesia. Investor global berlomba-lomba menanamkan modal karena melihat potensi pasar Indonesia yang sangat besar.
Namun, situasinya berubah drastis. Banyak unicorn mengalami PHK massal, merugi dalam jumlah besar, melakukan efisiensi, bahkan ada yang kehilangan valuasi hingga puluhan triliun rupiah. Tidak sedikit startup yang akhirnya tutup atau diakuisisi dengan harga jauh di bawah ekspektasi.
Lalu, kenapa banyak unicorn Indonesia seperti hancur lebur? Berikut empat alasan utamanya.
Continue reading