Sampai Kapan Serbuan Mixue akan Berlangsung?

Jumlah gerai Mixue di tanah air sekitar 360. Hanya dalam hitungan bulan.

(Sebagai perbandingan, KFC yang sudah puluhan tahun hanya punya 700an gerai).

Biaya franchise Mixue sekitar Rp 400 juta di luar biaya sewa tempat.

Profit kotor : 60% dari omzet.

Target jualan : 500 cup/hari x Rp 10 ribu.

Atau Rp 5 juta/hari = Rp 150 jt/bulan.

Bungkus gan.

Continue reading “Sampai Kapan Serbuan Mixue akan Berlangsung?”

Berapa Persen Peluang Anda untuk Menjadi Crazy Rich? Jawabannya Cukup Mengejutkan.

Ya kira-kira berapa persen peluang Anda untuk bisa menjadi sultan dengan gelar crazy rich?

Jawaban dari pertanyaan diatas mungkin bisa memberikan motivasi dan pencerahan bagi Anda yang sekarang merasa aset kekayaan bersihnya masih jauh dari angka ideal.

Sebuah studi yang dipimpin Profesor Raj Chetty (pakar ekonomi brilian dari Harvard University), telah menemukan jawabannya (Chetty, 2015).

Dalam groundbreaking study yang melibatkan jutaan data point di berbagai negara, Profesor Raj Chetty menelisik berapa persen kemungkinan orang yang saat lahir dalam kondisi super miskin akan menjadi super kaya saat dewasa.

Jadi dalam riset ini yang diteliti adalalh peluang orang super miskin. Kondisi super miskin maksudnya adalah mereka yang berada pada bottom 5% atau posisi paling miskin dalam sebuah masyarakat atau populasi sebuah negara. Jadi kategorinya benar-benar lahir dari keluarga kere.

Continue reading “Berapa Persen Peluang Anda untuk Menjadi Crazy Rich? Jawabannya Cukup Mengejutkan.”

Strategi Menghindari Present Bias dan Godaan Instant Gratification

Dalam artikel minggu lalu kita sudah mengulik tentang salah satu cognitive error yang acap merusak masa depan kita, yakni present bias. Bias ini membuat kita mudah terjebak dalam mentalitas instan dan memberikan dampak merugikan bagi masa depan finansial dan kehidupan kita.

Karena itulah, kita selayaknya melakukan serangkaian strategi untuk bisa menghindari dari jebakan present bias ini. Berikut dua trategi praktikal yang layak dijalankan untuk menghadapi potensi ancaman present bias dan sekaligus godaan instant gratification.

Continue readingStrategi Menghindari Present Bias dan Godaan Instant Gratification

Kenapa Kita Semua Mudah Terjebak dalam Mentalitas Instan dan Keinginan Mendapatkan Hasil secara Cepat?

Ya kenapa kita semua mudah terjebak dalam mentalitas Instan dan keinginan mendapatkan hasil secara cepat? Jawabannya adalah karena hadirnya cognitive errors bernama PRESENT BIAS.

Present bias adalah jenis kesalahan kognitif manusia yang banyak diteliti dalam ilmu behavioral economics. Present bias tak pelak merupakan salah satu dimensi psikologis manusia yang acap membuat kehidupan finansial masa depan menjadi suram dan berantakan.

Present biasa pada dasarnya merupakan kecenderungan kita sebagai manusia (yang lemah dan banyak khilaf ini) untuk lebih menghargai imbalan (reward) yang langsung bisa dinikmati saat ini juga, dibanding harus menunggu imbalan positif di masa depan.

Continue reading “Kenapa Kita Semua Mudah Terjebak dalam Mentalitas Instan dan Keinginan Mendapatkan Hasil secara Cepat?”

Kenapa Gopay dan Mobile Banking Hanya Bikin Kita Makin Boros Belanja?

Di era digital seperti ini saat, model pembayaran digital tampaknya kian marak.

Kita asyik berbelanja online karena bisa melakukan pembayarannya dengan mudah melalui transfer via mobile banking. Kini juga banyak tersedia layanan digital wallet seperti Gopay, Ovo, Dana, LinkAja, dan lain-lain. Melalui dompet digital ini, kita bisa melakukan aneka pembayaran semudah tap, tap, klik, klik.

Namun di balik kemudah dan kenyamanan itu, terselip sebuah realitas yang agak muram. Realita yang muramnya adalah seperti ini : ternyata menggunakan metode digital payment saat kita berbelanja dan melakukan aneka pembayaran, mendorong pola konsumsi kita untuk menjadi makin boros.

Dengan kata lain, memakai digital payment ataupun digital wallet diam-diam akan membuat kita makin konsumtif dan boros mengeluarkan uang.

Continue reading “Kenapa Gopay dan Mobile Banking Hanya Bikin Kita Makin Boros Belanja?”

3 Strategi Ampuh untuk Melawan Jebakan Mental Accounting

Minggu lalu kita sudah mengulik tentang jebakan bernama mental accounting (Anda bisa membaca ulasannya disini).  Melalui jebakan mental accounting, maka makna uang Rp 1 juta bisa sama sekali berlainan dalam pikiran kita, tergantung dari mana datangnya uang tersebut, dan untuk apa uang itu akan kita gunakan.

Sesungguhnya, mental accounting ini tidak selamnya bersifat negatif dan menjebak perilaku keuangan kita secara tidak menguntungkan. Jika kita cerdik, maka sebenarnya kita malah bisa memanfaatkan kekuatan mental accounting ini demi manfaat positif bagi pengelolaan keuangan personal kita.

Bertikut tiga langkah praktikal yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan mental accounting demi keuntungan finansial kita.

Continue reading “3 Strategi Ampuh untuk Melawan Jebakan Mental Accounting”

Apa itu Jebakan Mental Accounting yang Membuat Kita Cepat Bangkrut?

Ada salah satu bias psikologis keuangan yang sering muncul, dan kita lakukan dalam pengelolaan keuangan pribadi kita, yakni mental accounting.

Mental accounting intinya adalah kita melakukan semacam pembagian peran uang dalam mental pikiran kita, dan kemudian kita memperlakukan uang secara berlainan berdasar perannya masing-masing.

Contoh praktisnya begini. Seringkali setelah menerima gajian, seseorang langsung melakukan semacam pembagian alokasi uangnya. Misal, sebagian untuk bayar cicilan, sebagian lagi untuk biaya hidup, sebagian yang lain untuk dana investasi masa depan, sebagian untuk dana darurat (emergency fund), dan sebagian lainnya untuk kebutuhan main dan bersenang-senang.

Nah proses pembagian uang ke dalam perannya masing-masing tersebut disebut dengan “mental accounting” atau secara mental membagi gajian kita dalam berbagai akun yang memiliki peran berlainan. Dengan kata lain, ini adalah proses bugdeting : atau mengalokasikan gaji kita, dan kemudian menyusun alokasi budget sesuai uang yang kita terima.

Continue reading “Apa itu Jebakan Mental Accounting yang Membuat Kita Cepat Bangkrut?”