Halodoc di Persimpangan Jalan: Bertahan Jadi Raksasa Kesehatan Digital atau Tergilas Realitas Bisnis?

Di tengah gelombang transformasi digital, Halodoc pernah disebut sebagai masa depan layanan kesehatan Indonesia.

Aplikasi ini menjanjikan kemudahan konsultasi dokter, pembelian obat, hingga layanan kesehatan terintegrasi hanya lewat ponsel.

Namun kini muncul pertanyaan besar: apakah Halodoc benar-benar bisa bertahan (survive) sebagai bisnis jangka panjang, ataukah hanya fenomena sementara yang tumbuh besar saat pandemi?

Jawabannya: bisa survive, tetapi tidak otomatis — dan tidak dengan model lama.

Continue reading

Dari Antrean Panjang ke Gerai Sepi: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mixue?

Beberapa tahun lalu, nama Mixue hampir selalu identik dengan antrean panjang. Gerai es krim asal Tiongkok ini menjamur di berbagai kota di Indonesia, dari pusat perbelanjaan hingga ruko pinggir jalan.

Harga yang sangat murah, maskot yang ikonik, dan konsep minuman-es krim yang sederhana membuat Mixue cepat menjadi fenomena.

Namun belakangan, tidak sedikit konsumen yang mulai bertanya: mengapa banyak gerai Mixue terlihat lebih sepi dibanding masa puncaknya?

Fenomena ini tidak berdiri pada satu sebab tunggal, melainkan kombinasi beberapa faktor pasar, perilaku konsumen, dan dinamika bisnis waralaba.

Continue reading

Revolusi Budaya Jepang : Dari Kekacauan Menuju Ketertiban

Pada awal tahun 1800an, Jepang mengalami kondisi sosial dan budaya yang cukup kacau. Budaya disiplin rendah, kebiasaan antri hampir tidak dikenal, dan masalah kebersihan menjadi hal biasa. Lingkungan kota dan pedesaan cenderung kotor, dan perilaku jorok serta konflik antarwarga cukup sering terjadi.

Namun, dalam dua abad terakhir, Jepang mengalami transformasi budaya yang luar biasa. Saat ini, Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling disiplin, dengan masyarakat yang tertib mengantri, menjaga kebersihan, dan angka kriminalitas yang sangat rendah.

Transformasi ini menimbulkan pertanyaan, apa yang membuat Jepang berhasil melakukan revolusi budaya sedemikian dramatis?

Continue reading

Utang RI Tembus Rp 9000 TRILIUN – Wow, Lalu Bagaimana Solusinya?

Utang pemerintah Indonesia per Juni 2025 tercatat mencapai Rp 9.138 triliun, setara dengan 39,86% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, rasio utang terhadap PDB masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan internasional. Pemerintah terus memantau kondisi fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi (ekonomi.republika.co.id).

Continue reading

Kutukan Batubara Bikin RI Makin Sengsara

Indonesia pernah menjadi negara dengan sektor manufaktur yang cukup kompetitif di Asia Tenggara. Namun, dalam 15 tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun. Dari sekitar 27 persen pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 18 persen. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari pola pembangunan yang terlalu fokus pada sumber daya alam, terutama batubara.

Ketergantungan ini membuat sektor manufaktur kehilangan momentum. Pemerintah dan pelaku ekonomi lebih tertarik pada keuntungan cepat dari ekspor batubara. Akibatnya, investasi dan inovasi di industri pengolahan cenderung stagnan dan sulit bersaing di pasar global.

Continue reading

Kenapa ChatGPT Justru Bikin Daya Kognisi Kita Makin Anjlok Parah?

Studi terbaru dari MIT Media Lab menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT secara berlebihan dapat menurunkan daya kognisi otak manusia.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa otak pengguna ChatGPT menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan alat tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai “cognitive offloading,” di mana otak menjadi tergantung pada teknologi untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan pemikiran mendalam.

Continue reading