Bagaimana Rasanya Bekerja di Google ?

Yodhia Antariksa October 8th, 2007

google_logos1.jpgVery fun and very productive…..begitu jawaban yang kira-kira akan diberikan jika judul tulisan ini ditujukan kepada para pekerja Google. Mungkin jawaban seperti inilah yang akhirnya menobatkan mereka sebagai jawara nomer satu dalam survei The Best Place To Work For, sebuah survei tahunan yang diselenggarakan oleh Majalah Fortune buat memilih perusahaan terbaik untuk dijadikan tempat bekerja.

Jika ditelisik lebih dalam mengapa para pekerja di Google begitu enjoy bekerja di perusahaan itu, maka mereka akan memberikan jawaban pada dua hal : fasilitas layanan karyawan yang amat menggiurkan dan – jangan kaget – mutu makanan yang luar biasa sedap.

Mari kita mulai bahas dari aspek makanan. Pertama-tama mesti segera disebut, mutu dan jenis makanan yang disediakan Google untuk para pekerjanya sungguh fantastis. Bayangkan, didalam kompleks kantor pusat mereka di Mountain View, California (mereka menyebutnya Googleplex), manajemen Google menyediakan sebelas kafe/restauran dengan menu sekelas menu hotel bintang lima dan semuanya disajikan secara……gratis. Semua jenis dan pilihan makanan tersedia : mulai dari sajian steak khas Eropa, Sushi a la Jepang, hingga sajian Chinese Food yang menggoda. Semuanya dimasak oleh chef kelas dunia. Dan rasa semua makanan yang tersaji pasti……mak nyus.

Begitu senangnya para pekerja Google dengan kantin-kantin ini, sehingga dalam survei internal yang mereka lakukan, mayoritas karyawannya selalu menyebut faktor makanan ini yang membuat mereka sungguh betah bekerja di Google. Fakta ini yang kemudian juga membuat Google melakukan langkah yang kreatif dalam persaingan ketat mencari para calon pekerja andal. Dalam setiap iklan lowongan kerja yang dipasang, mereka selalu tak lupa mencantumkan daftar menu makanan mereka yang sungguh lezat itu…..Dan konon, rupanya banyak calon pelamar yang tergiur sehingga akhirnya berbondong-bondong mengajukan lamaran kerja ke Google.

googlegym1.jpgElemen lain yang juga membuat para pekerja Google happy adalah fasilitas layanan yang sungguh menggiurkan. Dalam Googleplex mereka yang luas dan megah, tersedia gym lengkap dengan para pemandunya, kolam renang yang luas, arena bowling, lapangan volley pantai, home-theater yang asyik, perpustakaan lengkap nan nyaman……..Pendeknya memasuki Googleplex ibarat bukan sedang memasuki ruang kantor yang garing nan membosankan, namun seperti tengah masuk ke taman bermain yang indah dan penuh keriangan.

googlescooter1.jpgNamun itu semua belum cukup. Didalam kompleks gedungnya, Google juga menyediakan fasilitas otoped untuk berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya (seperti yang tertampil digambar sebelah). Juga ada fasilitas laundry, bengkel dan cuci mobil, serta ruangan spa dimana Anda semua bisa leyeh-leyeh setelah letih seharian lembur kerja. Oh ya, manajemen Google juga tak lupa menyediakan semacam “personal assistant” bagi seluruh pekerjanya. Jadi jika ada karyawan Google yang ingin berlibur ke Paris, mereka tinggal kontak personal assistant ini. Orang inilah yang akan mengurus semuanya : mulai dari pesan tiket pesawat, booking hotel, merancang acara liburan hingga membuatkan daftar oleh-oleh yang layak dibeli.

Oh my God….betapa indahnya bekerja di Google, begitu mungkin gumam kita dalam hati menyaksikan serangkaian fasilitas yang sungguh menyenangkan ini. Namun, bagi Lary Page dan Sergey Brin – dua anak muda pendiri Google – semua upaya itu memang kudu dilakukan untuk bisa terus memelihara great talent mereka akan tidak lari atau dibajak perusahaan pesaing. Juga untuk terus membuat seluruh pekerja Google happy, sebab hanya dengan begitu, mereka bisa terus menciptakan serangkaian inovasi yang produktif buat para pelanggannya.

Dengan kata lain, untuk terus mampu menciptakan produk kelas dunia, manajemen Google terus berupaya keras untuk memotivasi dan membikin gembira para pekerjanya. Dan itu dilakukan antara lain dengan selalu menyajikan makan siang yang bergizi, lezat, dan bikin lidah bergoyang.

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, strategy, marketing dan HR management, silakan datang KESINI.

See also these interesting posts:

26 Responses to “Bagaimana Rasanya Bekerja di Google ?”

  1. STRon 25 Oct 2007 at 8:52 pm

    Kalo begitu, mirip dengan tempat kerja saya yang sekarang dong: http://www.swbtc.net :D

  2. Yodhiaon 26 Oct 2007 at 8:26 am

    Mudah-mudahan begitu…:):). Lembaga anda itu, Satya Wacana Business Technology Center, sudah saya lihat webiste-nya….dan program-programnya oke. Semoga kelak bisa melahirkan orang seperti Sergey Brin…..:):)

  3. adesrion 26 Oct 2007 at 5:59 pm

    wow! admiring office banget ya!

  4. catur pwon 31 Oct 2007 at 10:54 am

    Saat ini, semakin banyak pekerja yg terbebani dengan stress dan rasa lelah karena load kerjaan, dateline mepet, klien rewel, etc. Keberadaan office entertainment spot akan sangat membantu para pekerja untuk melepas rasa lelah dan stressnya, sehingga diharapkan kinerjanya semakin baik dan emosi yg stabil.

    mas Yodhia, kapan2 maen ke markplus, ntar kita maen bilyard di lt6, atau sekedar duduk santai ngopi sambil melihat tayangan cable tv pake home theater di entertainment room markplus ;)

  5. Yodhiaon 31 Oct 2007 at 1:08 pm

    Catur….ya kapan-kapan saya akan mampir. Salam juga buat Yuswohady alias Siwo.

  6. aglocoeron 08 Nov 2007 at 7:15 am

    Kapan yah bisa kerja disana? Asik juga tuch…

    Salam

  7. tompleeon 09 Nov 2007 at 1:06 pm

    Kalau di Indonesia kira2 kerja di mana ya? yang seperti di google kayak gitu??

  8. Dhanon 11 Nov 2007 at 10:33 pm

    Asik …
    Kalo Google Indonesia (google.co.id) gimana?
    Kira-kira berapa persennya Googleplex ya?

  9. Yodhiaon 12 Nov 2007 at 8:12 am

    Di Indonesia rasanya belum ada yang seperti Google….dulu pernah dicoba oleh BaliCamp — sebuah perusahaan software lokal. Juga oleh Sigma (masih satu grup dengan BaliCamp). Kantor Sigma yang ada di Serpong memiliki ambience yang mencoba meniru suasana santai khas perkampungan — jadi kesannya asyik, tidak monoton seperti suasana kantor yang amat formal.

    Untuk Google.co.id, kayaknya belum ada kantor yang besar di Indonesia. Hanya sekedar perwakilan.

  10. andi baguson 13 Nov 2007 at 2:23 pm

    hhmmm…enak sekale kerja nya y..tapi pasti butuh energi yg banyak pula utk menggarap produk google kedepan..

  11. Jalansuteraon 22 Nov 2007 at 11:33 am

    kalo di Indonesia, kira-2 perusahaan mana ya yang mempunyai semangat seperti Google ini: memanjakan para pekerjanya supaya mereka bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan? mungkin Yodhia bisa memberikan contoh perusahaan keren versi Indonesia ini…

  12. Yodhiaon 22 Nov 2007 at 12:53 pm

    Di Indonesia, kayaknya belum ada yang seekstrem Google dalam memberikan layanan kepada para pekerjanya….Kata teman-teman yang bekerja sebagai manajer SDM, perusahaannya bisa bangkrut kalau harus menyediakan layanan a la Google…:):)

  13. Husinon 29 Nov 2007 at 8:47 am

    Biasanya company akan selalu memperhitungkan dengan total sales yang dimiliki untuk menghitung fasilitas dan kenyamanan bagi pekerjanya. Mas Yodhia apakah memang selalu begitu atau tergantung baik hatinya owner atau top management untuk memberikan layanan yang terbaik bagi karyawannya ?

  14. Yodhia Antariksaon 29 Nov 2007 at 4:15 pm

    Ya, memang mesti juga dihitung ROI dari aneka benefit karyawan itu. Apakah aneka benefit itu bisa meningkatkan secara dramatis produktivitas karyawannya– dan kemudian juga berimbas positif bagi profit. Saya yakin, jutaan dollar yang dikeluarkan Google untuk membangun aneka fasilitas buat karyawannya — dalam jangka panjang memberikan dampak POSITIF bagi daya saing mereka, dan pada gilirannya juga pada kinerja keuangan mereka.

  15. […] Namun itu saja belum cukup. Komitmen itu segera perlu diikuti dengan langkah kedua, yakni : melakukan transformasi menyeluruh terhadap sistem kerja dan kebijakan pengelolaan karyawannya. Sebagai contoh, jika suatu organisasi ingin meraih kultur kerja yang gesit dan responsif, maka perlu diciptakan struktur organisasi yang ramping dan tidak terlalu hirarkis. Contoh lain, jika suatu organisasi ingin membangun budaya kerja yang inovatif dan mengedepankan semangat entrepreneuer, maka sistem yang dibangun harus mengacu pada nilai-nilai budaya baru tersebut. Sebagai contoh, Google memberikan waktu free days selama 1 hari setiap minggu kepada para karyawannya. Dalam masa free days ini, para karyawan dibebaskan untuk bereksperimen sesukanya – baik secara kolaboratif ataupun independen. Banyak ide-ide layanan baru Google yang ternyata muncul dari kebijakan “Hari Bebas” ini (ulasan lebih lengkap mengenai budaya kerja Google bisa dibaca disini) […]

  16. Achmadon 07 Jan 2008 at 6:08 am

    Saya setuju dengan cara menghitung ROI dan korelasi antara produktifitas dengan fasilitas benefit yang diberikan kepada karyawan adalah cara pemimpin perusahaan dalam mempertimbangkan memberikan fasilitas kepada karyawannya. Tetapi yang paling penting disini adalah “Cara pandang Lary Page dan Sergey Bin mengenai pentingnya ‘people’ di dalam bisnis mereka” dan mereka tidak maruk seperti pengusaha-pengusaha lainnya (terutama di negara kita) yang menggunakan prinsip ekonomi “dengan mengeluarkan uang sedikit (kepada karyawan) mendapatkan untung sebanyak-banyaknya (untuk owner)”. Mungkin untuk saat ini karyawan di negara kita tidak perlu jauh-jauh sampai mendapatkan fasilitas seperti yang disediakan google, menurut saya yang paling penting adalah bagaimana merubah cara pandang pemimpin atau owner di organisasi negara kita untuk mampu menghargai para pekerjanya. Mulai dari memberikan kesempatan karyawannya untuk angkat bicara (kemampuan mendengar), memberikan arahan yang jelas dan ikut turun tangan bila ada masalah(jangan sampai keluar kata-kata “pokoknya saya tidak mau tahu ….”), berikan kesempatan untuk para karyawannya untuk belajar hal yang baru (jangan terus disibukkan dengan rutinitas), dan masih banyak lagi tindakan lainnya yang mungkin tidak perlu biaya sama sekali untuk meningkatkan produktivitas perusahaan di negara kita ini.

  17. oelieon 07 Jan 2008 at 5:37 pm

    yah… semua orang kayaknya udah pada sibuk memikirkan perusahaan apa lagi yang melayani karyawannya sebaik google.tapi oelie dapet kerja aja belom… =( jadi bete….(desperate banget g si?)hehe
    tapi seandainya ada perusahaan kayak google di indonesia pasti perusahaan lain jadi g laku ya???hehe semua orang pada pengen kerja di google….
    tapi yakin… suatu saat ada perusahaan seperti google di Indonesia,,,walau gak tahu kapan…
    ada yang berminat membuat perusahaan seperti google???
    ntar oelie ngalamar kerja disana ya??” whekekeke

  18. OQon 04 Feb 2008 at 11:05 am

    Yup, saya setuju dengan pendapat bpk Achmad, dan kalau saya boleh berpendapat mungkin salah satu yang bisa dipetik dari tulisan googleplex adalah perspektif penghargaan terhadap manusia yang terlibat di dalamnya. namun sedikit menggelitik di benak saya jika kita mengibaratkan google sebagai perusahaan manufaktur, dimana CAPEX-nya di awal yg besar berupa infrastruktur berupa gedung, pabrik, dsb serta mesin-mesin pabrik….maka fasilitas buat karyawan di google, yang berupa gedung, resto, gym, dsb…itu ibarat infrastruktur buat menunjang mesin-mesin (dalam konteks google; otak2x manusia berikut daya kreasi dan imaji)…..jadi ? enak google invest-nya cuma buat manusia…sedangkan untuk perush. manufaktur seperti saya…ada dua invest-nya,. manusia dan mesin.

    sepanjang pengalaman saya melongok-longok “rumput” tetangga…ada beberapa kantor perusahaan yg “ambiance”-nya cukup wah…ktr P&G, ada cafe dan tmp leisure-nya yang ciamik, ktr unilever…dari luar aja pilihan gedung-nya udah top.

  19. […] Dan dari majalah ini pula, kita mengenal beragam survei bisnis terkemuka yang acap dijadikan rujukan bagi para decision makers. Beragam survei itu sering saya kutip sebagai sumber informasi penulisan dalam blog ini, seperti survei perusahaan terbesar sedunia, survei perusahaan paling dikagumi sedunia, dan survei the best place to work (pemenangnya adalah Google, dan Anda bisa membaca liputan saya mengenai the best place to work DISINI). […]

  20. Suro Agungon 05 Jul 2008 at 9:42 am

    memang enak sih kelihatannya, tapi apakah anda tau sisi lain dari semuanya itu. bisa jadi semua karyawan dilengkapi dengan gadget2 canggih (seperti halnya Cisco), dimana keryawan dilengkapi dengan ip phone, gratis telpon kemana saja.

    Namun apakah anda sadar bahwa ada satu kebebasan yg terenggut, ketika menikmati tidur malam yang indah tiba2 ip phone berdering meminta anda datang jam 1 dini hari karena ada masalah dengan jaringan.

    Semuanya selalu ada dua sisi yang bertolak belakang …….

  21. norjikon 24 Jul 2008 at 8:40 am

    wah enak ya krja disitu …, di indo aja kynya blm ada yg bisa seperti itu.

  22. adeon 24 Jul 2008 at 4:25 pm

    Kalo ada perusahaan seperti google di indonesia. Ade yakin banget perusahaan itu akan maju pesat dalam kurun waktu yang singkat. Soalnya para pegawainya otomatis perasaan loyalnya pasti keluar. Dan yang penting pasti ga ada yang bakal bolos atau mengundurkan diri jadi pekerjaan juga lancar2x aja. Siapa juga yang mau ngundurin diri dari perusahaan yang kaya gitu…??

  23. HitManon 12 Sep 2008 at 2:32 pm

    Wah kalo otopet-nya mirip kayak di kantor saya dong, akibat perusahaan gak mau naikin gaji (lebih suka beli condo utk owner di luar negeri) , karyawan yang tadinya naik mobil atau motor sekarang naik otopet ke kantor….

  24. […] energinya untuk benar-benar memberikan “layanan super istimewa” bagi para karyawannnya (lihat tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana Google memperlakukan para karyawannya bak seorang […]

  25. sukhoi 150on 11 Oct 2008 at 10:53 am

    @Suro Agung
    itu sih pekerja kelas coro. masing2 memiliki job description yang harus di sepakati bersama (MOU) antar company dan staff. Job desc tengah maLam bangun, itu biasanya jabatan Technical Support.
    Pertanyaan saya… memangnya pelayanan googleplex itu semua GRATIS ????

  26. sukhoi 150on 11 Oct 2008 at 10:54 am

    Ternyata Gratis ya !!! nyerah deh…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

ebook-banner.jpg training-solutions.jpg free-hr-papers-center.jpg