Kenapa Jumlah Kelas Menengah Indonesia Anjlok Parah?
Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia menurun hingga 10 juta orang. Kondisi ini mengejutkan banyak pihak karena selama dua dekade terakhir, kelas menengah justru menjadi motor pertumbuhan konsumsi nasional.
Fenomena ini bukan hanya akibat pandemi, tapi juga hasil dari kombinasi berbagai tekanan ekonomi dan struktural. Lima aspek utama berikut menjelaskan mengapa posisi kelas menengah kini goyah — bahkan sebagian turun kelas menjadi kelompok rentan miskin.
Daya Beli yang Tergerus Inflasi
Faktor pertama dan paling nyata adalah menurunnya daya beli masyarakat. Harga bahan pokok, transportasi, dan perumahan naik jauh lebih cepat dibanding kenaikan gaji.
Meski inflasi tahunan tampak terkendali di angka 3–4%, kenyataannya harga barang kebutuhan sehari-hari melonjak lebih tinggi dari rata-rata statistik resmi. Upah riil pekerja stagnan, sementara biaya hidup di kota besar terus menanjak.
Akibatnya, banyak keluarga yang dulunya bisa menabung atau berlibur kini hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar. Mereka masih terlihat “kelas menengah” dari gaya hidup, tapi secara ekonomi sebenarnya sudah menurun daya tahannya.
Pekerjaan Formal yang Menyusut
Kelas menengah tumbuh kuat ketika ekonomi menyediakan lapangan kerja formal dan bergaji tetap. Namun beberapa tahun terakhir, struktur tenaga kerja Indonesia berubah.
Otomatisasi, digitalisasi, dan efisiensi perusahaan membuat banyak posisi middle management hilang. Di sisi lain, muncul banyak pekerjaan baru di sektor informal dan gig economy seperti ojek online, kurir, atau pekerja lepas.
Meski memberi fleksibilitas, pekerjaan ini tidak memberikan jaminan pendapatan yang stabil, asuransi kesehatan, atau pensiun. Banyak mantan pekerja kantoran kini hidup dari penghasilan harian yang fluktuatif, menurunkan stabilitas ekonomi keluarga.
Biaya Hidup dan Utang Rumah Tangga
Faktor ketiga adalah biaya hidup yang melampaui pertumbuhan pendapatan. Harga sewa rumah, biaya sekolah, dan kebutuhan digital seperti internet dan gadget membuat pengeluaran kelas menengah membengkak.
Selain itu, banyak keluarga bergantung pada utang konsumtif — kartu kredit, cicilan kendaraan, dan paylater. Ketika bunga naik dan pendapatan menurun, beban ini menjadi jerat keuangan yang sulit dilepaskan.
Kelas menengah yang sebelumnya hidup “aman” kini banyak yang bergeser menjadi “kelas menengah rapuh”, yaitu kelompok yang bisa jatuh miskin hanya karena kehilangan pekerjaan atau terkena biaya darurat.
Ketimpangan dan Konsentrasi Kekayaan
Salah satu akar persoalan yang jarang dibicarakan adalah ketimpangan ekonomi yang makin melebar. Pertumbuhan ekonomi 5% per tahun tidak otomatis dirasakan semua lapisan masyarakat.
Sebagian besar kekayaan dan aset masih terkonsentrasi di segelintir kelompok atas — pemilik perusahaan besar, investor properti, dan pemain pasar modal. Sementara itu, kelas menengah sulit mengakumulasi aset karena kenaikan harga tanah, emas, dan saham jauh melampaui kenaikan gaji mereka.
Akibatnya, mereka makin tertinggal dalam hal kepemilikan aset dan mobilitas sosial. Di atas kertas ekonomi tumbuh, tapi bagi kelas menengah, peluang naik kelas justru semakin mengecil.
Gaya Hidup dan Ekspektasi Sosial
Ironisnya, banyak kelas menengah terjebak oleh gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial. Keinginan tampil “mapan” di media sosial membuat pengeluaran non-esensial membengkak — dari gadget terbaru hingga gaya hidup kafe.
Sementara itu, ekspektasi keluarga untuk “naik level” mendorong keputusan finansial yang tidak realistis: menyekolahkan anak di sekolah mahal, membeli rumah di pinggiran kota dengan cicilan panjang, atau berutang demi menjaga gengsi sosial.
Dalam jangka panjang, tekanan ini membuat banyak keluarga kehilangan ruang menabung dan berinvestasi. Ketika krisis datang, cadangan keuangan habis, dan mereka pun tergelincir turun ke kelas ekonomi bawah.
Penutup: Waspada Kelas Menengah Rapuh
Turunnya 10 juta orang dari kelompok kelas menengah bukan sekadar statistik — ini peringatan serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Kelas menengah adalah mesin konsumsi, sumber pajak, dan fondasi sosial negara. Jika kelompok ini terus menyusut, efek domino akan terasa di berbagai sektor: dari properti, ritel, hingga pendidikan.
Solusinya tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi 5%. Diperlukan strategi yang lebih dalam — peningkatan produktivitas, upah layak, perlindungan sosial, serta kebijakan fiskal yang lebih adil.
Tanpa itu, kelas menengah Indonesia akan terus rapuh, hidup pas-pasan di tengah bayang-bayang inflasi, utang, dan ketimpangan — padahal merekalah yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan bangsa.