Utang RI Tembus Rp 9000 TRILIUN – Wow, Lalu Bagaimana Solusinya?

Utang pemerintah Indonesia per Juni 2025 tercatat mencapai Rp 9.138 triliun, setara dengan 39,86% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, rasio utang terhadap PDB masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan internasional. Pemerintah terus memantau kondisi fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi (ekonomi.republika.co.id).

Continue reading

Kutukan Batubara Bikin RI Makin Sengsara

Indonesia pernah menjadi negara dengan sektor manufaktur yang cukup kompetitif di Asia Tenggara. Namun, dalam 15 tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun. Dari sekitar 27 persen pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 18 persen. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari pola pembangunan yang terlalu fokus pada sumber daya alam, terutama batubara.

Ketergantungan ini membuat sektor manufaktur kehilangan momentum. Pemerintah dan pelaku ekonomi lebih tertarik pada keuntungan cepat dari ekspor batubara. Akibatnya, investasi dan inovasi di industri pengolahan cenderung stagnan dan sulit bersaing di pasar global.

Continue reading

5 Alasan Utama Kenapa Laju Inovasi di China Makin Mengerikan

Dalam dua dekade terakhir, China telah bertransformasi dari negara manufaktur murah menjadi pusat kekuatan teknologi dunia. Kini, negara itu bukan hanya menyaingi Amerika Serikat, tetapi bahkan memimpin di berbagai bidang seperti kecerdasan buatan, kendaraan listrik, 5G, hingga eksplorasi luar angkasa.

Banyak negara kini merasa terancam dengan kecepatan dan skala inovasi yang diluncurkan oleh China. Bahkan perusahaan teknologi raksasa dunia mulai kehilangan pasar akibat ekspansi besar-besaran produk dan teknologi buatan Tiongkok. Apa sebenarnya faktor yang membuat inovasi di China tampak makin mengerikan?

Continue reading

Kenapa Jumlah Kelas Menengah Indonesia Anjlok Parah?

Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia menurun hingga 10 juta orang. Kondisi ini mengejutkan banyak pihak karena selama dua dekade terakhir, kelas menengah justru menjadi motor pertumbuhan konsumsi nasional.

Fenomena ini bukan hanya akibat pandemi, tapi juga hasil dari kombinasi berbagai tekanan ekonomi dan struktural. Lima aspek utama berikut menjelaskan mengapa posisi kelas menengah kini goyah — bahkan sebagian turun kelas menjadi kelompok rentan miskin.

Continue reading

5 Alasan Kunci Kenapa VIDIO Jadi Streaming No 1 di Indonesia

Platform streaming Vidio kini menjadi fenomena lokal yang sukses menembus dominasi raksasa global seperti Netflix, Disney+, dan Amazon Prime. Dalam waktu singkat, Vidio berubah dari pemain kecil menjadi salah satu platform hiburan digital terbesar di Indonesia.

Kesuksesan ini bukan kebetulan. Vidio mampu membaca dengan tajam perilaku dan budaya menonton masyarakat Indonesia. Di antara banyak faktor, strategi eksklusif di dunia olahraga menjadi penggerak utama, didukung oleh empat aspek lain yang memperkuat posisinya di pasar.

Continue reading

5 Skenario Kebangkrutan KA Cepat Whoosh

Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh menjadi proyek transportasi paling ambisius dalam sejarah Indonesia. Dengan kecepatan 350 km/jam dan teknologi modern dari Tiongkok, proyek ini semula digadang sebagai simbol kemajuan bangsa.

Namun, sejak beroperasi, Whoosh menghadapi kenyataan pahit: beban utang besar, biaya operasional tinggi, dan jumlah penumpang yang belum stabil. Kerugian triliunan rupiah pun muncul di tahun pertama. Pertanyaannya, bisakah Whoosh bertahan dan jadi bisnis yang berkelanjutan? Mari kita lihat lima skenario — dari yang paling buruk hingga yang paling optimis.

Continue reading

Kenapa Pertumbuhan Indonesia Stuck di Angka 5% dan Tidak Bisa Melesat ke Angka 7%?

Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5%. Angka ini terlihat cukup baik dibanding banyak negara berkembang lain, namun di sisi lain, banyak pihak merasa kecewa.

Negara ini memiliki populasi besar, sumber daya alam melimpah, dan pasar domestik kuat — namun mengapa tidak bisa tumbuh 7–8% seperti impian banyak ekonom? Jawabannya kompleks, dan melibatkan kombinasi faktor struktural yang sudah berlangsung lama. Berikut lima penyebab utamanya.


Produktivitas yang Masih Rendah

Pertumbuhan tinggi hanya bisa dicapai bila produktivitas meningkat cepat. Sayangnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal jauh dari negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Tiongkok, atau bahkan Malaysia.

Banyak pekerja masih berada di sektor informal dengan keterampilan rendah dan pendapatan kecil. Di sisi lain, adopsi teknologi di banyak industri masih lambat.

Continue reading