metropolitan-view.jpgBeberapa hari lalu, saya diundang oleh Kantor Kementerian Menko Perekonomian untuk memberikan workshop didepan para pejabat di lingkungan kantor mereka. Sebagian besar pesertanya adalah para perumus kebijakan yang mungkin akan ikut menentukan arah masa depan ekonomi bangsa ini.

Topik yang saya bawakan dalam kegiatan itu adalah tentang proses penyusunan government performance scorecard. Performance scorecard sendiri dapat diartikan sebagi upaya untuk mengelola kinerja organisasi melalui serangkaian key performance indicators yang jelas, terukur dan kredibel. Kata kunci disini adalah key performance indicators (KPI). Ada juga yang menyebutnya sebagai key performance metrics atau juga performance measurement.

Konsep key performance indicators sendiri merupakan sebuah instrumen pengukuran yang telah lama dipraktekkan dalam organisasi bisnis. Demikianlah, dalam area keuangan misalnya kita akrab dengan performance metrics seperti sales revenue, net profit, profit growth, return on investment, dan lain-lain. Sementara dalam aspek pemasaran, kita mengenal key metrics seperti brand image index, market share, atau juga customer satisfaction index. Lalu dalam aspek produksi kita familiar dengan ukuran seperti defects rate, production capacity, utilization rate, downtime, dan lain-lain.

Contoh-contoh diatas adalah serangkaian key performance indicators yang lazim digunakan dalam dunia bisnis. Lalu bagaimana dengan sektor publik atau pemerintah? Saya rasa prinsipnya sama. Artinya, key metrics yang dipilih mesti merupakan indikator yang kredibel – artinya dapat dengan tajam menggambarkan tingkat kinerja departemen yang berkaitan. Metrics yang dipilih juga mesti terukur (measurable) – sebab hanya dengan ini maka proses evaluasi kinerja sektor publik dapat dilakukan dengan obyektif; dan bukan sekedar dengan kalkulasi politis nan retoris.

Demikianlah, untuk Kantor Menko Perekonomian maka KPI yang mungkin bisa ditetapkan (lengkap dengan angka targetnya) adalah sbb:

Performance Scorecard - Kantor Kementerian Menko Perekonomian
Tingkat Pertumbuhan Ekonomi - Target 2008 : 6,4 %
Tingkat Pengangguran - Target 2008 : 8 % (tahun lalu 9,75%)
Tingkat Kemiskinan Penduduk - Target 2008 : Turun 20% dibanding 2007
Tingkat Inflasi - Target 2008 : 6,5 %
Net Foreign Direct Investment - Target 2008 : Naik 20 % dibanding 2007

Untuk sektor atau departemen lainnya, kita juga bisa mengambil pola serupa. Sebagai misal untuk Departemen Pertambangan dan Energi, maka KPI yang wajib dipilih antara lain adalah : jumlah produksi minyak mentah (target 2008 = 927,000 barel per hari) dan tingkat ketersediaan listrik nasional (target 2008 = penambahan daya baru sebesar 3000 megawatt). Sementara untuk Depkes, KPI yang bisa ditetapkan antara lain adalah: jumlah penduduk meninggal akibat flu burung (target 2008 : harus turun 50 % dibanding 2007 !!) atau juga : jumlah penduduk meninggal akibat demam berdarah (target 2008 : harus turun 30% dibanding tahun 2007).

Di negara-negara lain, performance scorecard seperti diatas kemudian ditampilkan dalam website resmi milik pemerintah, sehingga publik bisa ikut memonitor apakah target yang telah ditetapkan bisa tercapai atau tidak. Seperti yang kita lihat, semua metrics yang dipilih dan target yang dicanangkan bersifat terukur. Dengan demikian, pengelolaan kinerja para pengelola pemerintah bisa dilakukan dengan obyektif, transparan dan kredibel.

The numbers speak for themselves, demikian kata pepatah. Artinya, jika angka-angka realisasi yang dipublish dalam website pemerintah jauh dibawah angka target yang dicanangkan, maka otomatis angka dalam performance scorecard menjadi merah (persis seperti murid sekolah yang raportnya berwarna merah jika nilainya jeblok……so, kalau anak SD saja punya scorecard yang jelas, kenapa para pejabat tidak bisa? Tanya, kenapa?).

Dalam forum itu, saya menyampaikan harapan agar konsep performance scorecard segera dapat diimplementasikan secara sistematis dan terpadu; dan selayaknya dilakukan pada semua level pemerintahan, sejak dari level pusat, pemerintah provinsi, hingga kabupaten/kota. Pada akhirnya, prinsip-prinsip manajemen modern yang obyektif, transparan dan berdasar kinerja unggul mesti juga diterapkan pada sektor publik. Dan tidak hanya dipraktekkan pada sektor bisnis/usaha.

Sebab hanya dengan itulah, kita mungkin baru bisa menikmati jalanan panjang nan mulus (dan bukan berlobang disana sini sampai bikin orang mati), bisa menaiki busway yang lapang (dan bukan berdesakan layaknya ikan pepes), atau juga menikmati listrik yang terus menyala terang (dan bukan byar pet tiap dua hari sekali). Duh !

Jadi mari kita berdoa, semoga dengan strategi government performance scorecard ini, sang bumi pertiwi benar-benar bisa menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi…….

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, strategy, marketing dan HR management, silakan datang KESINI.

Photo Credit by : Altus under common creative license