5 Pola Pikir untuk Merajut Masa Depan yang Lebih Sempurna

Yodhia Antariksa June 9th, 2008

forest-and-sun-re.jpgJarum jam terus berderak dan berdentang. Dan dalam laju perjalanan sejarah itu, kita semua diminta untuk bisa terus tumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang nan unggul. Berkembang menjadi manusia - manusia yang mulia nan bermartabat. Sebab pada akhirnya : bukankah kita semua diciptakan untuk “menjadi khalifah-khalifah terbaik di muka bumi”?

Pertanyaannya sekarang adalah : jikalau memang kita mesti menjadi manusia-manusia unggul nan mulia, lalu pola pikir terbaik apa yang mesti dicengkram untuk merajut masa depan yang indah nan tercerahkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengajak Anda semua melakukan ziarah pada lima elemen pola pikir (minds) yang diyakini merupakan modal penting untuk membangun keunggulan.

Lima pola pikir ini sendiri sejatinya digagas oleh Howard Gardner melalui salah satu bukunya yang memikat bertajuk Five Minds for the Future. Gardner sendiri merupakan pakar psikologi yang dikenal luas karena dia-lah orang yang pertama kali memperkenalkan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Melalui serangkaian riset yang ekstensif, Gardner menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran makin penting dalam perjalanan sejarah masa depan.

five-minds-cover-resize.jpgPola pikir yang pertama adalah disciplined mind (pikiran terdisiplin) atau suatu perilaku kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan, atau profesi tertentu. Seorang praktisi yang menekuni dunia bisnis dan manajemen misalnya, setidaknya mesti menguasai ilmu dan ketrampilan yang solid dalam bidang tersebut. Demikian pula, semua profesional lainnya – entah arsitek, ahli komputer, perancang grafis – harus menguasai jenis-jenis pengetahuan dan ketrampilan kunci yang membuat mereka layak menjadi bagian dari profesi mereka masing-masing. Esensi dari pola pikir yang pertama ini adalah : untuk benar-benar menjadi manusia yang profesional, kita mestinya menguasai secara tuntas, komprehensif, mendalam dan terdisiplin satu bidang pengetahuan/ketrampilan tertentu.

Pola pikir yang kedua adalah : synthesizing mind (pikiran mensintesa). Atau juga pola untuk mencerap informasi dari beragam sumber, memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru yang powerful. Kecakapan dalam melakukan sintesa ini tampaknya menjadi kian penting terutama ketika banjir informasi kian deras mengalir melalui beragam media : televisi, media cetak, dan dunia online. Dan sialnya, bongkahan informasi yang deras mengalir itu acap dipenuhi dengan informasi sampah (junk information). Tanpa kecapakan memilah dan mensintesakan beragam informasi itu, percayalah, kita bisa tergelincir dan tenggelam dalam lautan informasi. Information overload, demikian Alvin Toffler pernah menyebutnya beberapa tahun silam (lewat bukunya yang legendaris itu, The Third Wave).

Pola pikir yang ketiga adalah creating mind (pikiran mencipta). Pikiran ini menggedor kita untuk senantiasa merekahkan ide-ide baru, membentangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, menghamparkan cara-cara berpikir baru, dan sekaligus memunculkan unexpected answers. Pola pikir inilah yang akan membawa kita masuk dalam wilayah-wilayah baru yang menjanjikan harapan dan peluang untuk direngkuh dan dimanfaatkan. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral (out of the box) dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Dan pola pikir inilah yang akan menemani kita untuk bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna (meaningful life).

Pola pikir berikutnya adalah respectful mind (pikiran merespek). Atau sebuah pola pikir untuk menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati nan teduh bagi pendapat/pikiran orang lain – meski pendapat itu mungkin berbeda dengan yang kita hadirkan.

Dan pola pikir yang terakhir atau kelima yang juga amat dibutuhkan adalah ethical mind (pikiran etis). Inilah pola pikir yang terus membujuk kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita. Sebab pada akhirnya, bagaimana mungkin kita akan menjadi “umat terbaik di muka bumi” jika keluhuran nilai-nilai etika kita penuh dengan debu, robek dan usang?

Demikianlah, lima pola pikir yang barangkali mesti selalu kita injeksikan dalam segenap ranah kognisi kita. Sebab dengan itulah, kita lalu bisa menyimpan sepenggal asa untuk membentangkan masa depan yang indah nan tercerahkan.

Photo Credit by : James Jordan under common creative license.

See also these interesting posts:

27 Responses to “5 Pola Pikir untuk Merajut Masa Depan yang Lebih Sempurna”

  1. Rezki Handoyoon 09 Jun 2008 at 12:59 am

    Walau berat…tapi memang harus kita miliki pola pikir yang demikian

  2. Afifah Habieon 09 Jun 2008 at 7:32 am

    Bang Yodh, Thanks “I Like Monday” tulisan anda membuat semangat kerja hari ini.

  3. Martin Edyon 09 Jun 2008 at 8:36 am

    Mr. Yodhia,
    Terima kasih atas teman kopi pagi hari ini.

  4. tangandiatason 09 Jun 2008 at 8:56 am

    Pak Yodh,
    dari kelima pola pikir tersebut agar bisa terbangun
    semua dalam diri kita,…kira-2 bisa dimulai dengan apa dulu Pak, sehingga kita tidak merasa berat membangunnya.
    terima kasih dan mohon wejangannya

  5. Robbyon 09 Jun 2008 at 9:37 am

    Pak Yodh,
    artikel ini bagus sekali untuk membuat kita menjadi profesional, terima kasih atas artikelnya.

    salam,
    Robby

  6. bobbmtobemon 09 Jun 2008 at 9:50 am

    Pak Yodhia,

    terima kasih atas tulisannya di pagi hari ini.
    membuat saya mantap ‘merajut masa depan yg lebih sempurna’ dengan segera ambil keputusan untuk hengkang ke tempat baru
    hari ini harus kasih jawaban… ;)

  7. iqranegaraon 09 Jun 2008 at 10:41 am

    kalo tidak bisa memenuhi semuanya, yang mana saja yang harus diutamakan dulu?

  8. Husinon 09 Jun 2008 at 10:59 am

    Thanks banget Mas Yodhia atas inspiring artikelnya, sekaligus ingin nanya : untuk cara berpikir lateral (out of the box) apakah itu sama dengan cara berfikir yang menggunakan otak kanan? ATAU mungkin bisa dideskripsikan lebih mendetail mas? Apakah out of the box merupakan cara berfikir diluar jalur disiplin ilmu atau disiplin profesi yang digeluti? mohon pencerahan?

  9. afiton 09 Jun 2008 at 11:15 am

    bang yodh, adakah cara / latihan untuk bisa mendapatkan semua pola pikir itu?

  10. Brilian Putraon 09 Jun 2008 at 11:23 am

    Pak Yodh-;

    Thanks atas artikelnya
    Inspiratif & aplikatif untuk menjalani kehidupan yang mangkin daripada kompleks.
    Ke-5 pola pikir diatas temtunya akan membawa dampak yang menyejukken bila dimiliki dan diamalken oleh para pemimpin kita. Kehidupan bangsa ini temtunya akan menjadi semankin daripada sejahtera. Birokrasi akan semankin profesional, dan tanpa KKN. Semoga !!!

    Terimakasih

  11. Didin Razanion 09 Jun 2008 at 11:25 am

    Terima kasih mas Yodhia atas kiriman artikelnya.

    Saya merasa harus memiliki ke 5 pola pikir tersebut, tinggal memilah-milahnya aja kali ya.

    Thanks sekali lagi mas…

  12. satriaon 09 Jun 2008 at 11:36 am

    mmm…artikel yang bagus, tapi kayaknya sulit mempraktekannya

  13. Kikion 09 Jun 2008 at 12:28 pm

    Thanks atas sharing-nya
    Langsung kepikiran mo langsung ke toko buku beli bukunya nih..:-)

  14. indraon 09 Jun 2008 at 4:20 pm

    Mas Yodhia, terima kasih untuk spirit nya yang luar biasa, sangat berarti dan bermanfaat bagi saya yang sedang berjuang

    yang penting patut direnungkan dihayati dan di aplikasikan pada diri kita, agar menjadi orang yang berkualitas baik pikiran maupun sikap dan profesional

    seperti Mas Yodhia…

  15. Ivan Sielegaron 10 Jun 2008 at 4:04 am

    Kalo dibaca emang betul semua dan kita pasti pingin melakukannya. Tapi kalo sudah waktunya, susah dijalankan. #2 & #3 memang membutuhkan orang yg intelek, #4 & #5 kadang sudah bawaan orangnya :)

    Thanks for the article.

  16. haniefon 10 Jun 2008 at 8:22 am

    what a wonderful mind

  17. Yodhia Antariksaon 10 Jun 2008 at 12:41 pm

    # Tangandiatas, mungkin yang paling utama didulukan adalah yang nomer 5, yakni ethical mind….sebab inilah pondasi dari keeempat minds lainnya.

    # Husin, yang lateral thinking cukup mirip dengan mendayagunakan otak kanan kita….atau memaksa kita untuk lebih imajinatif, lebih kreatif. Bisa juga melihat suatu problem dari sudut pandang yang unik — coba dibidik diluar dari tradisi ilmu yang kita kuasai.

  18. Tuhu Nugraha Dewantoon 10 Jun 2008 at 4:47 pm

    Hmmmm sangat menggugah, harus mulai diterapkan dari sekarang. Semuanya kan sebuah proses.

  19. bayu.anon 11 Jun 2008 at 8:58 am

    ulasan yang sangat menggugah….terimakasih Mas Yodhia…

  20. aion 11 Jun 2008 at 10:02 am

    Thanks udah dikirim email / bacaan bagus kayak gini, semoga aku bisa memulainya 1 per 1, Semangat !!!

  21. Dinoon 11 Jun 2008 at 10:06 am

    Pak Yodhia, apakah ada test personality yang dapat mengukur 5 pola pikir tersebut di diri kita?

  22. Ramaon 11 Jun 2008 at 11:51 am

    Menarik sekali tulisannya,semua menjadi inspirasi baru lagi untuk lebih baik hari ini. Mas Yhod, saya tertarik dengan poin ke tiga, bagaimana memancing sekaligus berlatih kreatifitas “creating mind” yang nampaknya sangat baik untuk dikembangkan. Apa ada penjelasan lain yang lebih dalam dengan poin tersebut?

  23. Yodhia Antariksaon 11 Jun 2008 at 12:51 pm

    # Dino ada meski terpisah-pisah dan bukan selalu dengan tes personality. Misal hasil tes IQ bisa kita gunakan untuk menakar kapasitas discpline mind dan synthesizing mind. Kemudian tes personality seperti DISC atau tes EQ bisa kita gunakan untuk mengukur kemampuan dalam creating mind dan respecting mind. Sementara untuk ethical minds, kita bisa mengukurnya dengan integrity test.

    # Rama, saya akan mencoba mengeksplorasi tema creating mind ini lebih detil dalam tulisan mendatang. So stay tune.

  24. idakon 13 Jun 2008 at 10:44 am

    very inspiring, like always.. :)

  25. Faizalon 16 Jun 2008 at 4:04 pm

    mas yodhia tulisan2 mas selalu menarik bagi saya..terima kasih.
    sayangnya kreatifitas anak bangsa kita tidak pernah di dengar oleh para pendahulu..(inget kan iklannya a mild yg pemikiran anak muda selalu diremehkan oleh orang yang lebih tua darinya). atau di dalam keluarga kecil saja sering kita temui kalimat “kmu diam saja orang tua tuh lebih berpengalaman…..titik”. saya melihat orang tua memang lebih berpengalaman tapi klo terjadi interaksi dua arah maka sang anak akan mengerti mengapa pendapatnya salah dan itu akan menjadi pelajaran hidup awal bagi sang anak.
    maksud saya ketika kita di kantor kita selalu terbuka akan informasi namun ketika pulang ke rumah kita malah menutup informasi yang kita punya dengan membiarkan egoisme kita berkembang dan menutup pemikiran2 yg terbuka (dgn alasan karena sang anak belum berpengalam..).weks

    nice to found this page….
    thanks mas yodhia

  26. awenk olay audicoon 22 Jun 2008 at 2:25 am

    wah naseat-nasehat anda memang menarik untuk menjadi paguan bagi generasi muda . . .
    thanks yah ini akan menjadi suatu masukan yang sangat berguna untuk aku pribadi dan orang2 yang akan membaca karya tulis anda

  27. Joyaon 12 Jul 2008 at 4:12 pm

    Ok coba saya terapkan untuk mengubah masa depan saya biar ga suram,… :-)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

hpsuplies_150×150.gif ebook-banner.jpg training-solutions.jpg free-hr-papers-center.jpg