building-re.jpgPerguruan tinggi yang menawarkan program magister manajemen (sering disebut sebagai MM) kini makin menjamur bak cendawan di musin hujan. Semua berlomba-lomba mempromosikan programnya sebagai yang terbaik. Namun siapa diantara mereka yang sejatinya layak dianggap sebagai sekolah bisnis yang kredibel?

Majalah SWA edisi terbaru mencoba menjawab pertanyaan itu. Terakhir mereka melakukan survei serupa adalah pada tahun 2003 atau sekitar enam tahun silam. Ada dua versi peringkat sekolah bisnis terbaik yang dirilis oleh majalah SWA edisi terbaru ini. Versi yang pertama adalah ranking terbaik berdasar pendapat peserta program dan alumninya. Versi yang kedua adalah ranking terbaik berdasar pendapat user (pemakai), dalam hal ini diwakili oleh para profesional HRD.

Berikut hasil peringkat 10 sekolah bisnis terbaik di tanah air versi peserta program dan alumninya :

1. Sekolah Bisnis Manajemen ITB
2. MM - Universitas Indonesia
3. Prasetya Mulya Business School
4. Universitas Kristen Satya Wacana
5. Uuniversitas Gajah Mada
6. Sekolah Tinggi Manajemen PPM (IPPM)
7. Universitas Atmajaya Jakarta
8. Universitas Padjajaran
9. Universitas Diponegoro
10. IBI Jakarta

Ada beberapa catatan yang bisa dipetik dari hasil pemeringkatan sekolah bisnis terbaik di tanah air ini. Yang pertama, seperti yang terlihat diatas, nama-nama yang muncul sebagai terbaik adalah sekolah yang selama ini memang telah dikenal memiliki reputasi yang bagus. Sekolah bisnis Prasetya Mulya misalnya, selama ini berhasil mempertahankan kredibilitasnya sebagai sekolah bisnis pioner (Prasetya Mulya bersama dengan IPPM di Kwitang dan IPMI di Kalibata merupakan tiga perguruan yang menjadi pioner program master manajemen di tanah air sejak puluhan tahun silam). IPMI Kalibata tidak masuk dalam peringkat SWA karena kemungkinan besar mereka tidak ikut dalam proses pemeringkatan ini.

Namun sebenarnya kalau dari sisi kelengkapan koleksi perpustakaan buku manajemen bisnis, maka koleksi IPPM (Sekolah Tinggi Manajemen PPM di Kwitang) merupakan yang terlengkap di Indonesia. Saya masih menjadi anggota perpus ini, dan sering nongkrong di perpustakaan itu selama berjam-jam, menikmati beragam buku dan jurnal manajemen yang lengkap (nongkrong berjam-jam di perpustakaan adalah salah satu hobi yang selalu saya nikmati).

Catatan yang kedua : ada gula ada semut. Program MM harus diakui merupakan program pendidikan pasca sarjana yang paling diminati oleh masyarakat. Hal inilah yang kemudian mendorong setiap universitas mendirikan program ini. Yang agak sedikit mengejutkan, perguruan tinggi teknik dan pertanian pun ikut-ikutan mendirikan program ini, seperti misalnya IPB, ITB dan ITS.

Oke hal semacam itu ndak masalah sepanjang “proses komersialisasi pendidikan” ini tidak membuat mereka makin tergelincir. Yang mencemaskan adalah kalau mereka makin keasyikan mengelola program seksi ini, dan kemudian melupakan tugas utama mereka untuk mencetak tukang insinyur yang hebat atau sarjana pertanian yang handal. Sebab kalau semua bernafsu mencetak manajer eksekutif, lalu siapa yang akang ngurusin pabrik dan sawah? (Sekedar informasi : riset menunjukkan kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh jumlah insinyur di negara itu; bukan jumlah eksekutif berdasi-nya!).

Catatan yang ketiga : semua sekolah bisnis yang masuk dalam peringkat terbaik ini tidak ada satupun yang memiliki online strategy yang integratif dan ciamik. Seperti yang pernah saya tulis, saya sungguh terkejut dengan mutu portal website yang mereka miliki. Sangat standar, minim informasi dan terlihat tidak dikelola dengan serius.

Saya selalu membayangkan ada sekolah bisnis di tanah air yang membangun portal website manajemen bisnis yang terpadu dan lengkap. Didalamnya ada jaringan blog (ditulis oleh para pengajarnya), kemudian ada menu paper riset yang lengkap, serta beragam informasi riset bisnis mutakhir yang selalu diupdate. Dan tentu semuanya terkoneksi dengan beragam social media semacam Facebook atau Twitter (jangan-jangan banyak dosen sekolah bisnis itu yang ndak paham apa itu twitter…).

Namun sayang impian saya itu selalu kandas diterjang badai. Sekali lagi, banyak pengelola program sekolah bisnis itu yang mungkin hanya pandai bicara tentang kemajuan era digital dan blah-blah lainnya. Namun faktanya : semua sekolah bisnis itu masih gagal menerjemahkan teori tentang abad digital itu dalam kenyataan.

~~

Photo credit by : Dayfit @Flickr.com