Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar

read-1-re.jpgPerjalanan hidup terus menggelinding; dan roda peradaban zaman terus bergerak menyusuri jalan yang teramat panjang. Dalam putaran itu, pengetahuan terus bermekaran dan rajutan ilmu tiap hari selalu hadir menyapa tanpa kenal letih.

Itulah kenapa segenap insan dituntut untuk bisa menjadi manusia-manusia pembelajar  : menjadi insan yang selalu terbuka dengan segenap wawasan baru dan limpahan informasi yang terus melaju. Menjadi insan yang selalu rindu untuk merengkuh sejumput pengetahuan, dan menjemput sekeping kebajikan dari bentangan ilmu yang terus mengalir.

Belajar disini tentu saja tidak hanya terbatas pada dinding-dinding sekolah atau kampus atau ruang seminar. Menurut pengalaman saya (yang mungin bersifat subyektif) menjadi pembelajar sejati justru paling efektif dilakukan melalui model self-directed learning. Bahasa kampungnya : belajar sendiri secara otodidak. Jika bicara mengenai self-directed learning (atau belajar secara otodidak), maka ada dua sumber fundamental yang hadir untuk merekahkan proses pembalajaran secara optimal.

Sumber yang pertama adalah : membaca. Lebih khusus lagi : membaca buku-buku bermutu (bukan membaca tabloid infotainment atau majalah lifestyle abal-abal).

Membaca buku-buku yang berkualitas, tak pelak, merupakan ritual indah yang akan selalu membawa kita terbang menjelajah dunia ilmu pengetahuan yang begitu menggetarkan. Bagi para pembelajar sejati, ritual membaca buku memang seperti sebuah persetubuhan yang menghanyutkan. Disana terjalin dialog pemikiran yang intim. Disana terbentang lenguhan gagasan yang terasa begitu eksotis. Dan disana pula kita bisa tenggelam dalam apa yang acap disebut sebagai “beautiful learning orgasm”.

Jadi, omong-omong, berapa jumlah buku atau majalah bermutu yang Anda baca dalam sebulan? Kata para pakar, sebaiknya empat. Namun kalau tidak bisa ya minimal satu dong. Jadi dalam setahun setidaknya ada 12 buku bagus yang kita kunyah dan pelajari.

Mungkin ada sebagian diantara kita yang pengin membaca banyak buku, tapi tak tahu cara membaca buku secara cepat dan efektif. Jadi kalau membaca satu buku mungkin butuh waktu dua bulan. Wah kalau begini, pas membaca halaman terakhir jadi sudah lupa dong isi bab pertamanya. Jangan kuatir, kini ada teknik khusus yang bisa membuat Anda cepat membaca dan menyerap isi buku. Teknik ini rasanya sangat pas jika kita ingin menjadi pembelajar tulen. Jika Anda ingin menguasai teknik jitu tersebut, silakan klik disini.

Akan lebih bagus lagi, jika setiap buku yang kita baca kemudian coba dituliskan rangkuman isinya. Kata ahli, menuliskan resume buku merupakan salah satu cara ampuh untuk meningkatkan pemahaman kita akan esensi buku secara lebih efektif. Itulah kenapa, di blog ini ada juga kategori Management Books — yang sebagian berisikan resume buku-buku yang pernah saya baca.

Sumber utama kedua bagi proses self directed learning adalah ini : learn from our own experiences. Pengalaman adalah guru terbaik, begitu kata sebuah pepatah. Sungguh sebuah pepatah yang jitu. Benar, pengalaman – baik pengalaman positif atau lebih-lebih pengalaman buruk – selalu merupakan guru terbaik bagi proses pembelajaran kita.

Jika Anda seorang karyawan kantor, rangkaian penugasan dan pekerjaan yang Anda lakoni sungguh memberikan bentangan pengalaman yang berharga. Memang, pengalaman ini akan menjadi pelajaran yang berharga jika penugasan dan pekerjaan itu merupakan deretan tugas yang menantang, kompleks dan menuntut kapasitas kita secara maksimal. Rangkaian penugasan yang challenging itu niscaya akan menjadi proses pembelajaran yang sangat kaya bagi pengembangan diri kita.

Jika Anda seorang wirausaha atau calon wirausaha, proses ikhtiar Anda untuk membuka usaha, mencari pasar, membuat produk Anda laku, sungguh merupakan rute pembelajaran yang sangat kaya nan berharga. Coba, gagal, coba lagi, gagal lagi, terus mencoba, terus berusaha, terus gigih bertahan mencari siasat agar bisnis terus bertahan dan tumbuh. Proses yang keras dan melelahkan ini, kadang menguras emosi dan dana yang tak sedikit, tentu merupakan arena pembelajaran yang ampuh. Sebuah arena untuk mendidik kita menjadi insan pembelajar yang sukses dan produktif.

Demikianlah dua sumber utama proses pembelajaran secara mandiri (otodidak). Belajar melalui buku untuk terus meluaskan wawasan. Dan belajar melalui pengalaman nyata untuk mewujudkan impian menjadi insan yang sukses.

Teruslah belajar kawan. Teruslah berjibaku menjadi insan pembelajar sejati.

NOTE : Jika ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang strategi bisnis, personal development dan leadership, silakan KLIK DISINI.

Baner Tools
20 comments on “Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar
  1. Lagi-lagi pas sekali untuk menginspirasi diri saya. Kadang-kadang saya heran, kenapa materi mas Yodhia ini selalu pas dengan saya. Saya adalah tipe otodidak. Waktu muda jadi kutu buku. Belakangan jadi gak tahan baca buku, susah mengingat materi yang sudah dibaca. Makanya saya mulai lagi penyegaran dengan belajar Membaca Cepat. Terima kasih.

  2. Saya menyelesaikan minimal 1-2 buku perbulan tapi kalo pas punya uang untuk beli , tapi kalo pas lagi gak ada dana ya kadang ngulang yang dah di baca untuk review kembali siapa tahu bisa mendapaykan ide baru dari sesuatu yang pernah kita baca. thank’s mas yodia ini adalah tip yang ok .

  3. Terima kasih mas Yodhia….benar mas pembelajar sejati muncul dari kesadaran untuk belajar dan memang kewajiban setiap insan untuk membangun kapasitas belajar sehingga perkembagan pengetahuan dan teknologi yang pervasive selalu disadari oleh panca indera insan pembelajar.

  4. Saya tipikal ” Omnivora Book Reader “, suka membaca buku apapun…karena daya imajinasi dan kreatif saya akan semakin kaya. Saya suka membaca buku – buku karya Napoleon Hill tapi juga suka novelnya Abdullah Harahap ( maestro horror Indonesia ) yang dulu dikatakan novel picisan, yang mengandung daya imajinasi dan kreatif yang tinggi. Enstein katanya sih pernah bilang ” Org yang sukses adalah orang yang suka berimajinasi “. Saya setuju memang tehnik membaca cepat sangat berguna untuk Omnivora Book Reader.
    Salam

  5. Sangat menggugah, mas Yodh. Memang ketika kita berhenti belajar dari kehidupan ini laksana pohon kering yang sedang menunggu kematiannya.Akselerasi perkembangan ipteks yang mencuat yang mewarnai pola hidup mau tidak mau mesti disikapi dengan modal pengetahuan yang diperoleh dari belajar. Nampaknya, jangankan berhenti untuk belajar keterlambatan saja dalam menyerap pengetahuan akan semakin jauh ketinggalan. Tiada yang lain, harus menjadi manusia pembelajar sejati. Lewat buku, kecepatan cara membaca sungguh penting.
    Terima kasih, mas Yodh.

  6. Pingback: Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar

  7. Saya termasuk pembaca lambat, tp sekali membaca saya tidak bisa berhenti sampe selesai. Biasanya 400 halaman selesai dalam sehari. Bacanya lambat, bahkan saya selalu berenti pada ide2 yg kuat untuk merenungi sejenak agar meresap dalam otak dan pemahaman. Menurut saya sih tergantung orangnya pengen baca model apa. Yang penting dari membaca kan mempraktekan apa yang dibacanya… BETUL!!