Karl Marx dan Gagasan tentang Penindasan Karyawan Perusahaan

Karl Marx tak pelak merupakan salah satu tokoh intelektual penting yang pernah muncul dalam panggung sejarah pemikiran modern. Setiap karyawan di dunia mestinya harus berterima kasih pada gagasannya. Gairah pembelaanya untuk membangun martabat karyawan dan pekerja terus bergema hingga hari ini.

Kini, ketika dunia makin riuh rendah dengan dinamika bisnis global, pemikiran Karl Marx terasa justru makin relevan.

Di Senin pagi yang cerah ini, saya mau menyajikan hidangan lezat berupa pembelaan Karl Marx terhadap kaum karyawan perusahaan. Di-racik dengan penuh kerenyahan, Anda pasti akan segera merasakan : betapa mak-nyus nya gagasan tokoh sosialisme dunia itu. Apalagi kalau Anda menikmati sajian ini dengan ditemani secangkir Frappucino Caramel. Hmm.

Pemikiran Karl Marx sejatinya cukup rumit di-hidangkan. Bukunya yang amat terkenal, Das Kapital, dikenal sebagai buku paling sulit untuk dipahami. Namun esensi pemikiran Marx (acap dikenal sebagai aliran Marxisme) sebenarnya sangat menggairahkan (dulu, ketika kuliah saya suka sekali dengan pemikiran mereka. Bagi saya, membaca buku-buku kaum Marxis selalu merupakan sebuah petualangan yang bisa menghadirkan “intellectual orgasm nan memukau”).

Gagasan sentral Marx sejatinya bersifat amat mendasar : setiap karyawan (atau pekerja) di seluruh dunia selalu hanya akan menjadi sekrup dari mesin kapitalisme yang terus menderu dan menggilas.

Selamanya, para karyawan dan pekerja hanya akan menjadi alat produksi dari sebuah sistem besar bernama akumulasi modal yang dilakukan oleh para kaum juragan (business owner).

Alat produksi. Just that. Dalam konteks itu, maka tema heroik yang acap kita dengar bahwa : Our Most Important Asset is Our Employee, bagi Karl Marx hanyalah sebuah dagelan pahit. Sebuah ilusi. Para karyawan dan pekerja bukan aset penting, melainkan sekedar alat produksi yang tak ada bedanya dengan baut, obeng Inggris, atau sekop.

Pelan-pelan yang terjadi kemudian adalah proses dehumanisasi : para karyawan dan pekerja itu lalu direduksi maknanya hanya sebatas angka dan nomer (berapa no induk pegawai-mu lebih penting dibanding siapa namamu).

Para karyawan yang telah menjadi deretan angka-angka, lalu di-eksploitasi secara masif demi akumulasi modal para pemilik bisnis. Disini kemudian diperkenalkan gerakan indah semacam “productivity improvement” dan “motivation training”. Ayo bekerja lebih keras. Ayo bekerja lebih semangat. Padahal semua ini muaranya satu : bagaimana agar setiap tetesan keringat karyawan bisa mendatangkan laba yang makin besar bagi pemilik bisnis.

Logika kapitalisme dan dunia bisnis lalu terpelanting kelu dalam bayangan kelam : setiap pemilik bisnis, setiap juragan pemilik modal, setiap entrepreneur yang dengan gagah menceritakan kisah suksesnya, memang selalu ingin agar akselerasi modal dan labanya terus terakumulasi dengan capat.

Sementara pada saat bersamaan, karyawan mereka, para pegawai dan kaum kuli berdasi itu, yang telah bekerja dengan letih, selalu berjalan tersendat dalam lorong gelap ketidakberdayaan.

Lalu apa yang harus dilakukan jika ada diantara Anda yang terperangkap dalam bayangan sendu semacam itu? Ada tiga opsi tindakan yang bisa dilakoni.

OPSI 1 : Revolusi. Percikkan pertentangan kelas antara kaum proletar (kaum pekerja) dengan kaum borjuis (kaum pemilik bisnis). Lalu rebakkan gelombang revolusi kaum buruh : rebut semua aset milik juragan bisnis yang serakah, dan lalu bagikan secara rata kapada kaum proletar/pekerja. “Kaum pekerja sedunia, bersatulah !!”, begitu pekik Karl Marx suatu ketika.

Revolusi? Sebuah impian yang tidak layak disepelekan, terutama ketika ketimpangan kian menganga. Bagi kaum pekerja yang selalu di-eksploitasi, kisah manis pertumbuhan ekonomi dan kebangkitan kelas menengah baru, hanyalah sebuah ilusi yang selalu di-celotehkan oleh kaum borjuis yang pongah.

OPSI 2 : Sabar dan Tawakal. Yah habis mau gimana lagi, wong ini memang sudah nasib saya. Bakat saya ya memang cumanya bisa jadi pegawai alias kuli. Kelas rendahan lagi. Sikap yang mungin lebih elegan adalah ini : hadapi semua kenyataan dengan penuh rasa syukur, sabar dan tawakal.

Jalani kehidupan sebagai pegawai dengan penuh ketekunan sambil berdoa : suatu saat mudah-mudahan nasib menjadi lebih baik (sebuah doa yang mungkin membuat Karl Marx tersenyum. Sebab, sambil menunggu doa itu dikabulkan, yang entah kapan Anda pun tak tahu, Anda bisa terus menjadi “korban” dari sistem kapitalisme yang brutal itu, yang selalu menjadikan Anda sekedar sebagai alat produksi. Sekedar sebagai sekrup).

OPSI 3 : Menjahit IMPIAN. Rajutlah impian untuk menjadi pemilik bisnis yang HUMANIS. Bahasa kerennya : menjadi KAUM KAPITALIS yang TERCERAHKAN.

Bangunlah sebuah bisnis yang hebat, sambil bertekad untuk membagikan 50 % setiap rupiah profit kepada seluruh karyawan (sebab setiap buruh, setiap pegawai punya HAK untuk ikut menikmati laba perusahaan).

Bangunlah impian, suatu saat Anda bisa menjadi Juragan Bisnis yang Sosialis : bermimpilah suatu saat Anda bisa mencarter satu pesawat, dan kemudian membawa seluruh karyawan Anda dan keluarganya berangkat naik haji. Aih, aih, betapa eloknya mimpi ini.

Namun mimpi itu hanya akan menjadi ilusi gombal kalau Anda tetap membiarkan diri Anda terus menjadi sekrup.

Itulah tiga opsi yang bisa Anda pilih. Sambil menimbang mana yang paling pas, mari kita seduh kembali Frappucino Caramel kita.

Baner Tools
62 comments on “Karl Marx dan Gagasan tentang Penindasan Karyawan Perusahaan
  1. selama lulusan Perguruan Tinggi masih suka mengejar-ngejar kursi PNS dan takut untuk berdiri di atas kaki sendiri, selama itu juga Indonesia akan makin lama dapat angka kurang 2% dari total persyaratan minimal jumlah entrepreneur yang ada di suatu negara agar perekonomian tumbuh ideal.

    betul tidak pak Yod ?

  2. Setiap manusia mempunyai titik pandang sendiri-sendiri terhadap manusia lainnya. orang yang beragama yang benar-benar memahami agamanya akan memandang semua dari sudut positif dan pasti memahami juga pendekatan negatif sehingga bisa mengambil hikmah dari sudut negatifnya.

    Begitu juga dengan karya Karl Marx. Karya ini kemudian dimanesfestasikan oleh lenin secara membabi buta sehingga hak-hak individu akan hilang.

  3. Saya rasa 3 opsi diatas semuanya bisa disatukan

    Menjahit Mimpi, untuk bisa menciptakan lapangan pekejaan baru (menjadi pemilik bisnis yang Humanis, karena kita merasakan bagaimana tidak enak nya menjadi karyawan yang hanya menjadi sekrup dari mesin kapitalisme yang terus menderu dan menggilas)

    Revolusi diri untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita diatas

    Sabar dan tawakal, dalam meraih mimpi dan menjalani revolusi diri kita (bukan hanya diam dan menerima apa adanya keadaan diri kita saat ini)