Irasionalitas dan Judgement Error dalam Soal Keuangan Pribadi

Dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas mengenai bias dan error judgement dalam proses penilaian kemampuan orang lain. Ternyata error semacam itu juga menyelinap diam-diam manakala kita melakukan proses pengambilan keputusan dalam aspek keuangan personal.

Ketika memutuskan beragam soal dalam bidang keuangan pribadi, kita ternyata begitu mudah tergelincir dalam jebakan irasionalitas yang sungguh melenakan. Bayangan irasionalitas itu selalu datang tanpa pernah disapa, menelusup dalam ruang batin kita, dan kemudian membikin proses pengambilan keputusan melenceng dari akal sehat.

Di pagi penghujung Februari ini, kita mau membicangkan dengan renyah sejumlah error dan irasionalitas yang acap muncul dalam dalam soal keuangan pribadi.

Sejatinya, ilmu yang menelisik aspek ini disebut sebagai financial psychology atau juga financial behavior – atau sejenis ilmu yang mempelajari perilaku dan proses pengambilan keputusan keuangan.

Ternyata, ada begitu banyak error yang ditemukan dalam proses financial behavior ini.  Sebagai informasi, error ini dikembangkan berdasar penelitian empirik yang melibatkan ribuan responden. Artinya beragam error ini tidak muncul dari Hongkong begitu saja, namun dilacak dari berbagai eksperimen dan riset yang melibatkan perilaku nyata manusia dalam kehidupan keuangannya.

Dalam kesempatan ini, kita hanya mau menelisik tiga jenis judgement error yang lazim dilakukan manusia dalam proses pengambilan keputusan keuangan.

Error # 1 : Loss Aversion. Ribuan orang dari ratusan negara telah diteliti, dan ternyata ada satu error yang nempel pada begitu banyak orang di muka bumi ini. Nama error itu adalah loss aversion. Atau sejenis ketakutan yang amat berlebihan akan risiko hilangnya potensi pendapatan.

Ketika dihadapkan pada pertanyaan untuk memilih antara : A) apakah Anda ingin mendapatkan uang 1 juta atau B) Apakah Anda tidak ingin kehilangan uang 1 juta; maka mayoritas responden pasti memilih opsi B. Sebagian besar orang ternyata memilih potensi untuk tidak kehilangan pendapatan daripada potensi mendapatkan keuntungan.

Sebuah riset juga menemukan fakta menarik : dampak emosional kehilangan uang satu juta ternyata jauh lebih nancep dibanding emosi ketika seseorang mendapatkan bonus satu juta. Dalam hitungan minggu biasanya Anda akan “lupa” dengan bonus satu juta itu. Namun, kehilangan uang satu juta ternyata bisa tetap nempel di hati hingga berbulan-bulan lamanya, dan memunculkan “emotional impact” yang jauh lebih mendalam.

Loss aversion kemudian menjelma menjadi error, sebab aspek ini membuat begitu banyak orang memiliki ketakutan yang berlebihan untuk mengambil sebuah risiko keuangan.

Saya kira loss aversion error inilah yang juga menjawab mengapa jumlah populasi entrepreneur di muka bumi ini hanya sekitar 7 %. Sebabnya sederhana : mayoritas orang lebih memilih kepastian pendapatan, daripada menjemput risiko yang “tampaknya begitu menakutkan”.

Error # 2 : Confirmation Bias. Error ini terjadi ketika kita “hanya” memilih dan mendengarkan informasi yang membenarkan (atau mengkonfirmasi) persepsi yang telah kita miliki. Contoh : misalkan Anda mau membeli sepeda motor, dan hati kecil Anda sebenarnya sudah agak cocok dengan Yamaha. Lalu Anda browsing ke Google untuk mencari beragam informasi mengenai berbagai merek dan kelebihan/ kekurangannya.

Karena mengalami “confirmation bias error”, maka Anda cenderung memilih untuk hanya membaca info yang membenarkan kehebatan Yamaha, dan cenderung mengabaikan informasi lain (misal tentang kelemahan Yamaha atau juga kekuatan merk Honda atau pesaing lainnya).

Confirmation bias ini acapkali terjadi dalam proses pengambilan keputusan dalam manajemen perusahaan. Misal, top management cenderung hanya akan “mendengarkan” masukan/informasi yang mengkonfirmasikan dan membenarkan persepsi yang telah ada di benak mereka sebelumnya (meski masukan itu boleh jadi tidak begitu valid).

Error # 3 : Herd Behavior. Eror ini menyangkut sikap manusia yang suka latah dan bergerak secara bergerombolan. Ternyata berdasar riset financial behavior, perilaku manusia itu acapkali ndak beda jauh dengan bebek : sekelompok pergi ke Utara, lalu semuanya ikut ke utara. Kerumunan bergerak ke selatan, semuanya lalu ikut ke selatan. Kerumunan pergi ke laut, mungkin semaunya ikut ke laut juga. Yang penting sama dengan kemana gerombolan bergerak.

Error ini acapkali terjadi dalam dunia konsumsi. Banyak orang beli BB, lalu semua orang ikut beli. Banyak orang beli Kerupuk Ma Icih, lalu semua orang ikut-ikutan beli. That’s herd behavior. Perilaku bergerombol layaknya bebak sedang angon di sawah.

Itulah tiga jenis error dalam soal personal finance. Silakan tiga error ini diingat baik-baik, dan kelak ketika Anda menemui situasi seperti diatas, segera sadar. Mungkin Anda atau rekan di sekeliling Anda tengah terbius dalam jebakan error dan irasionalitas yang melenakan.

Photo credit by Anna Theodora @flickr.com
24 comments on “Irasionalitas dan Judgement Error dalam Soal Keuangan Pribadi
  1. Sesuatu yg pasti cenderung membuat orang lebih termotivasi,krn jelas yg ingin dicapai,cara mencapainya serta hasil yg akan di dapat. sesuatu yg tak pasti bs menghasilkan sesuatu yg diluar dugaan,bisa under promise atau over promise.

    untuk mengubah minat seseorang dr “fixed” oriented ke “floating”oriented salah satunya dg dipaksa.

    Salam,
    Wahyudi
    http://www.forthesakeofzion.org

  2. Kebiasaan itu produk akhir dari langkah sama yang di tempuh setiap hari. Menyimpang dari kebiasaan membutuhkan WAKTU & ENERGI dari langkah yang tidak sama.

    Terimakasih Pak Yodh ilmunya.

  3. Bangun IDENTITAS DIRI yang hakiki, bukan dengan sesuatu yang melekat & menempel dari luar.

    Kali ini saya tidak bertanya. Saya coba cari sendiri.

    Terima kasih.

  4. Loss aversion ya namanya…thanks Pak Yod pencerahannya, trnyata virus itu juga yg menghambat pertumbuhan enterprenuer di negara kita, takut bereksperimen dan lbh memilih mendapatkan gaji bulanan

  5. Selamat pagi…

    Baru ngeuh setelah baca artikel diatas, benar sekali apa yang ditulis diatas bahwa kebanyakan manusia didunia ini seperti itu. kenapa mereka seperti itu, kalo menurut saya karena mereka tidak tahu, tidak paham dan tidak ada leader yang memandu mereka.

    Ada baiknya juga pendapat Pak Wahyudi, memang harus dengan cara paksa agar semua error diatas itu bisa dihindari.

    Terima kasih

    salam,
    Didin A

  6. Loss aversion apakah juga berarti kita lebih mudah mengingat kesalahan orang dibanding kebaikannya? 🙂
    Thanks mas, setidaknya mengingatkan saya bahwa sebagian besar hal yg ditakutkan dalam hidup itu tidak terjadi. Buka lapak sendiri, misalnya.

    salam antusias!

  7. Wah, nggak pernah rugi berkunjung ke blog ini, postingan-postingannya penuh dengan informasi bermanfaat 🙂

    Yg poin satu mengena banget tuh, sangat menggambarkan kondisi masyarakat kita sekarang ini….

  8. Mengena sekali untuk yg error 1 loss aversion..thanks Mas Yodhia sharingnya..

    Pak Wahyudi setuju banyak org kecendrungan Fixed oriented drpd Floating oriented…termasuk saya, apa krn floating mendekati gambling ya..?

  9. Mengenai error#1. JIka pertanyaannya dirubah, mana yang dipilih, potensi untung 10 juta atau potensi rugi 1 juta ? maka kemungkinan untuk memilih opsi pertama akan banyak. Karena potensi untung dan rugi sama maka pada umumnya orang cari selamat.
    Yang lainnya #2 dan #3, saya setuju. Kita memang cenderung bias. Trims infonya pak Yod.

  10. Hehe… Ane sampe ketawa sendiri baca poin no 3, tpi memang faktanya begitu, kita smua rata2 memang ga jauh dari bebek. Cuma masalahnya gmana caranya biar jadi tukang ngangon bebek yang bisa mengendalikan persepsi, dgn bgitu kita bisa jadi pemimpin

Comments are closed.