Ibu Karen dan Proses Tranformasi di Pertamina

Ibu Karen Agustiawan akhirnya terpilih sebagai CEO Pertamina; satu jabatan teramat penting untuk sebuah perusahaan raksasa paling besar di tanah air (gross revenue Pertamina tahun lalu sekitar Rp 500 trilyun atau separoh dari APBN Indonesia). Dihadapannya menunggu sang supertanker yang harus ia kendalikan untuk menembus samudra luas nan membentang, menuju sebuah pulau impian bernama “Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat Indonesia”. Sebuah tugas maha berat untuk seorang Ibu dengan tiga anak yang menjelang dewasa.

Kisah transformasi Pertamina pada akhirnya memang sebuah babakan panjang yang teramat terjal nan berliku. Change management dan corporate transformation adalah dua kata yang mungkin teramat indah untuk dipahatkan pada sebuah dinding berbatu marmer. Namun dua idiom itu terasa selalu pecah berkeping-keping setiap kali hendak dijejakkan pada sebuah rumah besar bernama Pertamina.

Sebelum melangkah jauh, ada baiknya diingat kendala struktural yang menjelaskan mengapa proses transformasi di Pertamina selalu berjalan terguncang-guncang. Yang paling mencolok adalah fakta bahwa Pertamina belum sepenuhnya otonom dan independen dari pengaruh intervensi kebijakan pemerintah. Inilah faktor krusial yang sebagian bisa menjelaskan mengapa kinerja Pertamina kini kalah jauh dibanding Petronas – sebuah perusahaan minyak yang dulu justru banyak berguru padanya. Toh demikian, perjalanan mengejar Petronas juga bukan hal yang mustahil (impossible is nothing, begitu kata sebuah slogan). Disana selalu ada asa yang terus menggantung untuk direngkuh; dan selalu ada kesempatan bagi Pertamina untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang disegani.

Berikut tiga tindakan kunci yang mungkin kelak bisa mengibarkan bendera kejayaan Pertamina. Tindakan yang pertama adalah memilih CEO yang visioner, kredibel dan memiliki kapasitas yang menjulang untuk mengeksekusi proses transformasi secara sukses. Saya membayangkan CEO yang dibutuhkan Pertamina adalah sosok yang mirip-mirip mendiang Cacuk Sudarijanto (yang dulu melakukan tansfromasi di Telkom dengan berhasil) atau Robby Djohan (sosok yang sukses melakukan turn around di Garuda dan Bank Mandiri). Sayangnya, angan-angan ini segera redup ketika tahu Ibu Karen yang terpilih menjadi CEO.

Okay, Ibu Karen is brilliant and fearless female. Namun visi dan kualitas leadership yang dimilikinya tampaknya belum pernah teruji dengan solid. Dengan kata lain, jam terbang yang disandangnya boleh jadi tak cukup tangguh untuk menggerakkan supertanker menuju bahtera yang lebih cemerlang. Jadi disini masalahnya adalah jam terbang. Flying watch, kalau kata Tukul. Mudah-mudahan sekali estimasi saya ini tidak sepenuhnya benar.

Tindakan kedua yang mungkin juga perlu dilakukan adalah memberikan otonomi penuh serta waktu yang cukup kepada CEO yang terpilih. Otonomi yang luas dari pemerintah sebagai pemegang saham diperlukan agar sang CEO bisa mengambil keputusan strategis yang penting bagi masa depan Pertamina. Dan elemen waktu amat penting sebab dengan itu akan bisa terjamin kontinuitas kepemipinan. Layak dicatat, tiga CEO terakhir yang memimpin Pertamina tidak pernah bertahan lebih dari tiga tahun. Dan sungguh ini sebuah contoh dramatis tentang betapa buruknya proses sucession planning di Pertamina. Kedepan kisah tragis semacam ini mesti dihindari tatkala Pertamina hendak menjadi a world class company.

Tindakan terkahir yang juga amat penting adalah ini : sang CEO – siapapun dia – selayaknya mengalokasikan waktu hingga 60 s/d 75 % untuk focus only on people. Sementara masalah strategi, pemasaran, keuangan dan proses bisnis cukup ia serahkan pada jajaran direksi atau manajernya. Jack Welch, bekas CEO legendaris dari GE itu pernah berujar, ia mengalokasikan waktu hingga 60 % untuk mengelola isu SDM. Sebab, ia melanjutkan, masalah people development terlalu penting untuk didelegasikan pada orang lain. Itulah kenapa ketika ditanya apa rahasia kunci dibalik keberhasilannya melakukan proses transformasi di GE, ia berujar pendek : my strong ability on managing and devoloping great people.

Saya selalu membayangkan, mestinya Pertamina bisa memiliki semacam pusat pengembangan ekesekutif yang top markotop layaknya GE Executive Development Center yang kondang itu. Sebuah pusat pengembangan yang bisa menelorkan top executive masa depan dengan mutu kelas dunia. Dan saya membayangkan, sang CEO sendiri yang langsung mengendalikan segenap proses pengembangan itu, dan mendedikasikan waktu yang amat intensif untuk menjaga keberhasilannya. Sebab sekali lagi, “if you focus on people, everything else will be running brilliantly,” begitu kata salah seorang pakar manajemen. Tumbuhkan orang-orang hebat pada setiap lini, maka seluruh proses bisnis di perusahaan Anda dengan sendirinya akan mekar penuh kecemerlangan.

Ibu Karen, selamat menunaikan tugas mulia nan suci ini. Teriring doa dari saya serta segenap pembaca Blog Strategi + Manajemen untuk kemuliaan dan kesuksesan Ibu……

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, strategy, marketing dan HR management, silakan klik DISINI.

Photo credit by : James Jordan under creative commons license.

35 comments on “Ibu Karen dan Proses Tranformasi di Pertamina
  1. Semoga artikel ini dibaca dan difahami oleh para stakeholder dan shareholder Pertamina. Menurut saya inti permasalahan bagi proses transformasi adalah bukan pada masalah mampu atau tidak mampu, tetapi lebih kepada mau atau tidak mau. Nah pertanyaan yang harus dijawab dulu adalah, apakah semua pihak mau Pertamina berubah ?

  2. Selamat ibu, tunjukkan anda bukan sekedar perempuan tetapi anda adalah CEO ! ditangan anda ada otoritas luar biasa untuk mengubah pertamina menjadi kebaikan bagi seluruh rakyat indonesia. God Bless You.

  3. Selamat boeat kartini Pertamina baroe.
    Saya bangga ada perempoean yang mampoe dan dapat kepercayaan memimpin peroesahaan besar Indoenesia.
    Selamat dan semoga berhasil .

  4. Selamat dan sukses ibu,
    pertamina pasti pas, kami menunggu idiom pencitraan lainnya.
    katanya bisnis pertamina lainnya dilepas, focused on core business.
    kedepan bagaimana?
    makin besar atau makin kecil perannya sebagai
    kapal induk utama yang menafkahi indonesia raya
    change…………man..

  5. Nice Article Mas Yodhia,

    Memang CEO yang tangguh itu sangat-sangat-sangat perlu…
    tapi ada satu yang suka dilupakan oleh kebanyakan orang…
    Setangguh-tangguhnya CEO kalo tidak didukung oleh bawahan yang mumpuni bisa gagal juga…
    Itu yang kebanyakan terjadi di perusahaan di Indonesia…

  6. Selamat bertugas utk Bu Karen…permulaan yang tidak mudah krn yg terlihat saat ini baru sebatas pencitraan Pertamina yang sedang bertransformasi menuju lebih baik (faktanya baru akan terlihat setelah pemilu 2009) sementara realitas di lapangan berkata lain.

  7. Saya setuju dengan Bung Yodhia, bahwa 60% waktu yang ada oleh CEO diluangkan untuk pengembangan SDM. Program secanggih dan sebrilian apapun yang dicanangkan oleh CEO bila impelemenetasinya ditangani oleh SDM yang tidak baik, maka apa yang diharapkan tidak dapat terujud. Saya melihat secara fundamental Pertamina jauh cukup baik dibanding era 90-an, tinggal CEO yang baru dapat untuk lebih berbuat lebih baik lagi. Dan yang lebih penting dari itu, semoga Pertamina tidak menjadi sapi perah bagi orang per orang atau kelompok kepentingan yang memiliki kekuasaan.

  8. Salah rekrut ?… sudah biasa di Indonesia … apalagi bagi perusahaan dengan nuansa plat merah … Penyebabnya banyak … salah satunya tidak dipahaminya visi-misi perusahaan dari pihak yang merekrut.

    Masalah di Pertamina adalah … visi misi “Menjadi kebaikan bagi seluruh rakyat indonesia” mungkin tidak dipahami oleh pihak yang merekrut (dalam hal ini oleh pemerintah sebagai pemilik mayoritas saham). Jadi yang direkrut kebanyakan orang –orang yang tidak punya integritas dan kapabilitas untuk mencapai misi itu. Yang penting bisa disetir ke kiri dan ke kanan.

    Kita lihat ke depan … apakah pemerintah tidak salah rekrut lagi?

  9. Bisa saja ia jadi Sri Mulyani yang kedua. Denger2 sih, masalah di pertamina karena banyak yang korup n kong kalikong, masalah klise negara kita. Yah, paling nggak kalo CEO nya cewek nggak bisa di entertaint pake cewek, ya kan? hehe…

  10. Whew, satu lagi inspiring woman. Membuat saya bertanya2, bagaimana perempuan2 luar biasa seperti bu Karen ini membagi dirinya antara peran karir dan keluarga.

    Btw, bagaimana jenjang karir untuk HR menuju CEO, mas Yodh? Bukankah focus on people adalah menu mereka sehari-hari?

  11. @ Sanggita, ya saya kira setiap calon CEO mestinya harus pernah menangani masalah SDM. Namun memang ia juga harus tour of duty di bagian-bagian lainnya, terutama pengalaman di bagian core. Jadi rutenya, merintis karir di bagian SDM, lalu pindah secara diagonal ke bagian marketing/sales; lalu pindah ke bagian keuangan; pindah lagi ke bagian business development; dan lalu menjadi CEO.

  12. kita buktikan semua pada waktu. toh….. yang diperkirakan belum tentu terwujud. sudah mulai bermunculan perempuan yang mampu mengemban tugas, dan berhasil, bahkan beberapa melampaui garis yang diperkirakan

  13. “Okay, Ibu Karen is brilliant and fearless female. Namun visi dan kualitas leadership yang dimilikinya tampaknya belum pernah teruji dengan solid”. menurut saya jika memang dia memiliki potensi kenapa tidak? saya sih udah bosan dengan orang2 sukses yang itu2 ajah. Masak rakyat Indonesia yang begitu banyaknya cuman “itu2” lagi … asal jangan dipolitisasi, bukankah ciri negara ketiga politik memiliki peran yang besar dalam segala lini kehidupan bernegara.
    Saya sih ogah jadi penduduk negara ketiga melulu jadi yah klo lolos fit and proper test yang jujur, nggak masalah tuh …
    selamat yah bu …. amanah perut rakyat Indonesia berada di pundak ibu …..

  14. Yth Ibu Karen, selamat menjalankan bisnis monopoli migas tanah air tercinta. Semoga Pertamina berjaya di tengah persaingan global.

  15. “…tour of duty di bagian-bagian lainnya, terutama pengalaman di bagian core…”

    Selama ini, saya berpikir hal yang sama juga, Mas. Cuma memang kurang berminat dengan bagian selain HR. Tapi dengan pernyataan Mas Yodh di atas, mengukuhkan niat saya untuk tidak berkaca-mata kuda. TQ..

    Btw, panjang juga ya jalannya kalo masih kopral gini..ada tips untuk shorcut-nya kah?

    *Hehe, ngga sabaran. Just idea..

  16. @ Sanggita, saya kira kalau mau rada cepat, ya sekolah lagi magister psikologi; kemudian membangun usaha sendiri dibidang jasa konsiltasi psikologi industri. Kan kalo begitu kan bisa langsung jadi “managing director”-nya. Bisa jadi boss…:):)

  17. kemampuan managerial yang smart, strong,dan powerful memang sangat dibutuhkan Indonesia di segala bidang. terutamanya di lembaga dan perusahaan yang strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Malaysia boleh berjaya dalam pengamatan saya kerana kemampuan managerialnya dan ada komitmen terhadap kemajuan melalui continous improvement. dan komitmen terhadap mutu, yaitu selalu melakukan dan menghasilkan yang terbaik. bukan berprinsip asal jalan (waton klakon), asal ada, atau juga berprinsip dari pada tidak. termasuk Pertamina semoga bukan asal ada CEO-nya, atau asal Pertamina tidak mandeg. begitu kalau mau world class…..

  18. Good point, Mas Yodh. Memang kalo cuma sarjana psikologi, posisinya serba nanggung. Apalagi beban sks sekarang bisa ditempuh hanya dalam 3 tahun. Apa ngga prematur tuh? Mau tidak mau tetap harus lanjut ke Mapro ya.

    Tentang jasa konsultan, sepertinya tetap butuh background ‘bendera’ supaya konsultannya nanti lebih powerful. Eh iya ngga sih? CMIIW

    Anyway, makasih banget untuk pencerahannya.

  19. Selamat untuk Ibu Karen, Pertamina menunggu bukan sentuhan saja tapi mungkin perlu reformasi menyeluruh di Pertamina dan juga bebaskan Pertamina dari berbagai kepentingan kekuasan dan politis, kita tahu Pertamina perkembangan seperti ini kalah dari sang murid Petronas, salah satunya karena dibelenggu oleh kepentingan kekuasaan dan politis. Saya setuju maukah para pihak yang berkepentingan untuk memberikan kesempatan kepada Pertamina tuk berubah dan mengejar ketertinggalanya? Saya kira dalam waktu dekat akan sulit, apabila perangai elite kekuasan dan politik tidak tetap seperti sekarang ini. Saya kira problem Pertamina juga dialami oleh BUMN lainya. What next?
    ———————————————
    Inspirasi dan Peluang Bisnis
    (https://info-peluang-bisnis-internet.blogspot.com).

  20. Selamat juga buat bu Karen. Kayaknya semua berkomentar positif alias baik sangka atas pengangkatan bu Karen. Tapi ada juga yang sebaliknya, misalnya salah seorang anggota DPR yang konon katanya terhormat itu menyamakan direksi baru pertamina dengan satpam….Pentes aja kalo dulu gus dur pernah menganggap anggota DPR seperti anak TK…Memang kelakuannya ternyata begitu…kayak anak TK…..Nggak bisa kasih contoh….

  21. saya pikir untuk saat ini, itu adalah sebuah keputusan yang baik, Bagaimanapun juga ibu karen terpilih setelah melalui fit and proper test yang ada.
    Buat Ibu karen selamat bertugas, saya yakin untuk saat ini anda yang terbaik, buktikan itu…

  22. Siapun yg menjadi pemimpin puncak jika tidak berani berfikir revolosioner akan selalu cari selamatnya sendiri. Kebiasaan bertanya pada perangkatnya gimana cara mengatasi jika terjadi kasus-kasus lama muncul ya lakukan saja. Tidak akan membawa perubahan berarti bagi harapan rakyat di negeri ini BUKTIKAN. Apa yg akan kita rasakan nanti ya cuma begitu saja.

  23. persoalan terbesar dari bangsa ini adalah kebanyakan orang yang (merasa) pintar.. sampe2 u/ melatih timnas PSSI, seorang JK mau (mencoba) mendatangkan Guus Hidink.. (..pelatih Indonesia ??? bisanya cuma mengkritik !!)

  24. Selamat utk ibu Karen…
    kerja sesuai dengan visi dan misi yg ibu emban.
    Berilah kesempatan kepada yg baru dan regenerasi kepemimpinan. Semoga ibu Karen mempunyai semangat dan motivasi seperti mendiang Cacuk Sudarijanto atau Robby Djohan.
    Jangan takut di kritik karena itu merupakan bagian dari motivasi utk melakukan perubahan2.

    Selamat bekerja dan bekarya ibu.

  25. Ada yang kelupaan sepertinya ? Ibu Karen ini dipaketkan dengan Wakil Dirut PERTAMINA … Bapak Omar ? Yang sebelumnya menjabat Presdir di Rio Tinto — perusahaan tambang di Kalimantan ? Belum genap setahun di Rio Tinto … Eeeeh … meloncat ke PERTAMINA ? Beberapa hari setelah diangkat menjadi Presdir Rio Tinto … Ini orang sudah sowan ke Wakil Presiden — Bapak Jusuf Kalla — ? Padahal sebelum di Rio Tinto adalah mantan Direksi Bank MANDIRI. Dan yang seru Ibu Karen ini saat RDP –Rapat Dengar Pendapat– dengan DPR ? Ditelpon Presiden ? Bisa tidak meneruskan RDP tersebut ? CEO model beginian kok dibanggakan ? DPR untuk mengundang itu melalui surat menyurat –tidak ujug-ujug– bisa dibatalkan hanya oleh telpon Presiden. CEO yang hebat adalah yang juga tahu tata krama organisasi ? Meskipun taruhannya adalah jabatannya. Dengan gambaran cara penanganan kasus seperti ini ? Jangan banyak berharap PERTAMINA akan maju ? CEO-nya saja mudah di setir ? Yang satu ke Presiden ? Satunya lagi ke Wakil Presiden.

  26. Karen Agustiawan atau siapa pun yang menjadi CEO Pertamina harus memasang target sejak hari pertama memegang jabatan. Target itu bukan berupa berapa besar jumalah produksi harian minyak atau seberapa banyak cadangan stok minyak atau berapa cepat distribusinya. Targetnya sederhana saja : Berapa banyak para pembesar–pejabat Pertamina yang akan dia pecat pada masa jabatannya (pasang target yang realistis–selama 2 tahun jabatan saja). Kenapa? karena kita tahu Pertamina adalah sarang penyamun. Korupsi, kolusi dan berbagai penyimpangan terjadi di sana. Dan Change Management macam apa pun akan jadi omong kosong tanpa target ini. Pertamina milik rakyat dan sewajarnya bertanggung jawab pada rakyat. So kalau mau independen buktikan dulu kalau memang Pertamina bisa dipercaya.

  27. apa gak ada orang lain di Indonesia ini yang lebih kharismatik, berwibawa dan pantas mempimpin pertamina? bagaimana mau menyaingi petronas?? kita butuh orang yang mempunyai jiwa leadership yang tinggi, integritas dan pengalaman yang oke buat memimpin perusahaan “harapan kita semua”. Saya pesimis pertamina akan lebih maju dengan CEO yang baru ini….

Comments are closed.