Indonesia pernah menjadi negara dengan sektor manufaktur yang cukup kompetitif di Asia Tenggara. Namun, dalam 15 tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun. Dari sekitar 27 persen pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 18 persen. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari pola pembangunan yang terlalu fokus pada sumber daya alam, terutama batubara.
Ketergantungan ini membuat sektor manufaktur kehilangan momentum. Pemerintah dan pelaku ekonomi lebih tertarik pada keuntungan cepat dari ekspor batubara. Akibatnya, investasi dan inovasi di industri pengolahan cenderung stagnan dan sulit bersaing di pasar global.
Daya Tarik Batubara dan Jebakan Ekonomi
Batubara memberi keuntungan instan karena harganya tinggi di pasar global dan ekspor menjadi sumber devisa utama. Banyak investor tertarik pada pertambangan, sementara perhatian terhadap pengembangan industri manufaktur semakin menurun. Kondisi ini memunculkan fenomena yang disebut “kutukan sumber daya,” di mana kekayaan alam justru menghambat diversifikasi ekonomi.
Fokus pada pertambangan membuat pembangunan manufaktur kurang mendapat perhatian. Infrastruktur, teknologi, dan riset yang diperlukan untuk mendorong industri pengolahan terabaikan. Dalam jangka panjang, pola ini melemahkan daya saing ekonomi nasional.
Manufaktur yang Kehilangan Momentum
Industri manufaktur Indonesia mengalami stagnasi akibat ketergantungan pada batubara. Investasi di pabrik dan teknologi menurun karena keuntungan cepat dari sektor pertambangan lebih menarik. Produk manufaktur pun cenderung berupa bahan baku atau barang setengah jadi, bukan produk bernilai tambah tinggi.
Penurunan ini membuat Indonesia kehilangan peluang untuk mengembangkan industri yang mampu meningkatkan daya saing global. Ekosistem inovasi dan kreatifitas di sektor manufaktur juga tidak berkembang maksimal. Akibatnya, pertumbuhan manufaktur relatif lambat dibandingkan sektor lainnya.
Dampak pada Tenaga Kerja dan Keterampilan
Ketergantungan pada batubara juga berdampak pada tenaga kerja. Pertambangan padat modal tapi sedikit tenaga kerja, sehingga pengembangan keterampilan manufaktur kurang diperhatikan.
Ekosistem manufaktur yang seharusnya berkembang, mulai dari SDM, teknologi, hingga inovasi, menjadi terhambat. Akibatnya, sektor ini tidak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, dan peluang pekerjaan bernilai tinggi semakin terbatas.
Lingkaran Setan Investasi
Sektor manufaktur seharusnya menjadi penyerap tenaga kerja utama. Namun, pertumbuhan yang lambat membuat investor enggan menanam modal. Infrastruktur yang kurang memadai dan dukungan kebijakan yang minim semakin menahan perkembangan industri pengolahan.
Perusahaan lebih memilih mengekspor bahan mentah, karena lebih cepat menguntungkan. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana investasi manufaktur rendah, ketergantungan pada batubara tetap tinggi, dan deindustrialisasi terus berlanjut.
Pelajaran dari Negara Lain
Negara yang sukses mengembangkan manufaktur, seperti Korea Selatan dan Jepang, tidak terlalu bergantung pada sumber daya alam. Mereka fokus pada teknologi, inovasi, dan nilai tambah produk.
Indonesia, sebaliknya, lalai membangun fondasi manufaktur yang kuat karena terlalu terpaku pada keuntungan batubara jangka pendek. Ketergantungan ini membuat sektor manufaktur kurang berdaya saing di pasar global dan menurunkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional.
Jalan Keluar dari Kutukan
Untuk mengatasi kutukan batubara, Indonesia perlu menyeimbangkan pembangunan antara sumber daya alam dan sektor manufaktur. Investasi harus diarahkan untuk membangun pabrik, mengembangkan teknologi, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
Diversifikasi ekonomi menjadi kunci agar tidak tergantung pada satu sumber daya dan mampu meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB. Pendekatan ini akan membantu Indonesia membangun sektor manufaktur yang berkelanjutan dan kompetitif.
Kesimpulan
Kutukan batubara bukan sekadar masalah ekonomi, tapi juga masalah strategi pembangunan. Terlalu fokus pada keuntungan batubara membuat Indonesia kehilangan momentum membangun industri manufaktur yang kuat dan berdaya saing. Jika pola ini tidak diperbaiki, risiko deindustrialisasi akan meningkat, menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan melemahkan posisi Indonesia di kancah global.