Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membawa sejumlah agenda ekonomi yang memiliki skala besar. Bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga upaya mengubah struktur ekonomi Indonesia.
Ada lima kebijakan yang menarik diperhatikan karena jika berhasil dieksekusi secara konsisten, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang.
Danantara hadir dengan satu gagasan besar: bagaimana aset dan investasi negara tidak hanya dikelola, tetapi juga dioptimalkan untuk menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.
Sebagai badan pengelola investasi dan aset strategis negara, Danantara diharapkan menjadi instrumen penting dalam memperkuat fondasi ekonomi Indonesia. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi jangka panjang, keberadaannya dapat memberikan sejumlah manfaat strategis.
1. Mengoptimalkan Aset Negara
Indonesia memiliki aset dan perusahaan negara dengan nilai sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana aset tersebut menghasilkan produktivitas dan keuntungan yang optimal.
Danantara dapat mendorong konsolidasi, efisiensi, dan pengelolaan aset secara lebih profesional sehingga aset negara tidak sekadar menjadi kekayaan yang dimiliki, tetapi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.
Independensi Bank Indonesia (BI) merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Sebagai bank sentral, BI memiliki kewenangan besar dalam menentukan kebijakan moneter, termasuk menetapkan suku bunga dan mengambil berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.
Independensi bukan berarti BI boleh berjalan sendiri tanpa berkoordinasi dengan pemerintah. Koordinasi tetap diperlukan. Namun keputusan moneter harus dibuat secara profesional berdasarkan data dan kondisi ekonomi, bukan karena tekanan atau kepentingan politik jangka pendek.
Setidaknya ada empat alasan utama mengapa independensi Bank Indonesia amat penting bagi ekonomi Indonesia.
Dalam dua dekade terakhir, Vietnam menjelma menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling mengesankan di dunia. Banyak ekonom bahkan menyebut Vietnam sebagai “bintang baru Asia”. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh tinggi selama bertahun-tahun, ekspor terus meningkat, investasi asing berdatangan, dan jutaan masyarakat berhasil keluar dari kemiskinan.
Keberhasilan tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Di balik pertumbuhan yang spektakuler terdapat strategi jangka panjang yang dijalankan secara konsisten oleh pemerintah. Salah satu faktor terpenting adalah kebijakan industri yang terarah dan disiplin.
Utang pemerintah Indonesia per Juni 2025 tercatat mencapai Rp 9.138 triliun, setara dengan 39,86% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, rasio utang terhadap PDB masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan internasional. Pemerintah terus memantau kondisi fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi (ekonomi.republika.co.id).
Indonesia pernah menjadi negara dengan sektor manufaktur yang cukup kompetitif di Asia Tenggara. Namun, dalam 15 tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun. Dari sekitar 27 persen pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 18 persen. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari pola pembangunan yang terlalu fokus pada sumber daya alam, terutama batubara.
Ketergantungan ini membuat sektor manufaktur kehilangan momentum. Pemerintah dan pelaku ekonomi lebih tertarik pada keuntungan cepat dari ekspor batubara. Akibatnya, investasi dan inovasi di industri pengolahan cenderung stagnan dan sulit bersaing di pasar global.
Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5%. Angka ini terlihat cukup baik dibanding banyak negara berkembang lain, namun di sisi lain, banyak pihak merasa kecewa.
Negara ini memiliki populasi besar, sumber daya alam melimpah, dan pasar domestik kuat — namun mengapa tidak bisa tumbuh 7–8% seperti impian banyak ekonom? Jawabannya kompleks, dan melibatkan kombinasi faktor struktural yang sudah berlangsung lama. Berikut lima penyebab utamanya.
Produktivitas yang Masih Rendah
Pertumbuhan tinggi hanya bisa dicapai bila produktivitas meningkat cepat. Sayangnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal jauh dari negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Tiongkok, atau bahkan Malaysia.
Banyak pekerja masih berada di sektor informal dengan keterampilan rendah dan pendapatan kecil. Di sisi lain, adopsi teknologi di banyak industri masih lambat.