Seberapa Efektif Training ESQ dan Sejenisnya?

Yodhia Antariksa February 11th, 2008

lonely-re.jpgDan pelan-pelan lampu disegenap sudut ruangan diredupkan. Lalu lamat-lamat terdengar alunan musik yang menyentuh hati. Suasana sejenak kemudian menjadi senyap. Dalam desau keheningan, sang instruktur lalu melantunkan kalimat demi kalimat nan syahdu tentang kebesaran Sang Ilahi, sembari mengingatkan deretan dosa yang telah dilakukan kepada orang tua, kerabat dan sahabat.

Perlahan-lahan, isak tangis terdengar di segenap sudut ruang, dan kemudian puluhan atau bahkan ratusan peserta training itu tenggelam dalam raungan tangis, dalam sembilu kepedihan dan penyesalan atas segenap dosa yang telah mereka perbuat selama ini.

Itulah salah satu segmen yang akan kita temui jika kita mengikuti training ESQ atau training sejenisnya yang mengusung tema tentang spiritualitas dan etos kerja. Ribuan peserta – termasuk para pejabat BUMN dan pemerintah daerah – telah mengikuti training itu, dan ribuan orang itu selalu tenggelam dalam apa yang saya sebut sebagai momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan.

Pertanyaannya : kenapa beberapa bulan sesudah itu, para peserta kembali melakoni ritus lama, kembali melakukan suap menyuap, praktek kolusi, dan sejenisnya; dan juga kenapa kinerja perusahaan atau organisasi mereka tak kunjung meningkat secara dramatis. Tanya, kenapa?

Salah satu sebab yang paling fundamental adalah ini : para peserta atau organisasi penyelenggara training semacam ESQ itu malas melakukan pengukuran efektivitas training (pelatihan) secara tuntas dan sistematis.

Dan akibatnya adalah sebuah tragedi : segenap training yang telah menghabiskan anggaran milyaran rupiah itu hanya terpelanting menjadi “tangisan sesaat” saja. Hanya heboh saat training. Lalu setelah tiga – enam bulan, dilupakan begitu saja. Duh.

Harus diakui proses mengukur efektivitas training secara komprehensif memang bukan hal yang mudah. Namun itu bukan berarti kegiatan pengukuran ini tidak bisa dikerjakan dengan baik dan benar. Hanya sayangnya, masih banyak praktisi SDM yang alpa melakukannya dengan tuntas. Mereka lebih bersemangat saat melakukan proses analisa kebutuhan training. Mereka juga antusias ketika melakukan proses training – persis seperti yang mereka alami ketika tenggelam dalam “tangisan massal” a la training ESQ itu.

Namun sayangnya, antusiasme dan semangat itu seperti mendadak lenyap ketika sudah tiba pada fase pengukuran efektivitas training secara sistematis. Mereka mungkin mengira bahwa proses training sudah selesai sesaat setelah sang trainer menyudahi sesi mereka. Padahal sesi training itu sendiri sesungguhnya justru merupakan awal – bukan akhir – dari sebuah proses belajar yang berkelanjutan dan berjangka panjang.

Jadi, bagaimana mungkin gemuruh semangat training itu akan dapat memberikan impak yang signifikan, jika proses pengukuran efektivitasnya tak pernah dilakoni dengan penuh kesungguhan?

Problem seperti diatas mungkin akan segera dapat diatasi dengan hadirnya sebuah buku tentang proses pengukuran efektivitas training. Buku yang ditulis oleh Teguh Satriono dan Andree MKP ini, bertajuk “How To Measure 5 Levels of Training Evaluation” (meski judulnya memakai bahasa Inggris, namun seluruh isinya menggunakan bahasa Indonesia).

Dalam buku ini, secara runtut kedua penulis menyajikan lima tahapan pengukuran efektivitas training: mulai dari tahap pengukuran kepuasan peserta training, tahapan implementasi materi training hingga tahapan untuk mengukur dampak pelatihan terhadap kinerja bisnis perusahaan. (Penjelasan mengenai pengukuran efektivitas training pernah saya ulas secara rinci disini).

Melalui buku ini kita didorong untuk melakukan pengukuran secara sistematis atas dampak pelatihan terhadap kinerja individu dan organisasi. Dan disini sungguh diperlukan skema monitoring yang teratur dan konsisten untuk memastikan bahwa materi training benar-benar diaplikasikan dalam kenyataan sehari-hari. Sebab hanya dengan skema monitoring yang reguler inilah, sebuah sesi training bisa memberikan dampak yang optimal bagi peningkatan kinerja.

Secara spesifik, skema monitoring ini setidaknya mesti mencakup dua elemen kunci. Elemen yang pertama adalah adanya post-training action plan yang berisikan serangkaian rencana tindakan konkrit yang harus dilakukan oleh para peserta untuk mengaplikasikan materi training yang telah dipelajari. Didalamnya termuat secara rinci jenis tindakan apa yang akan dilakukan, kapan dilakukan dan target spesifik apa yang ingin diraih.

Elemen yang kedua adalah adanya sesi monitoring yang reguler dan dilakukan secara kontinyu, misal setiap 2 bulan sekali selama 24 bulan berturut-turut. Dalam sesi ini mesti hadir para peserta training, pihak atasan, dan juga fasilitator training. Melalui sesi-sesi inilah, pelaksanaan action-plan tadi dipantau dan diuji kemajuannya. Melalui serangkaian sesi ini pula, dibangun sebuah proses kunci : yakni bagaimana menginjeksikan kebiasaan dan perilaku baru sesuai dengan tujuan training.

Keseluruhan proses diatas memang panjang, dan melelahkan. Namun hanya melalui skema semacam inilah sebuah materi training akan terus mengendap dalam jejak sanubari para pesertanya.

Sebaliknya, tanpa sistem monitoring yang berjangka panjang dan sistematis, sebuah materi training – betapapun dahsyat isinya – hanya akan menguap dalam hitungan bulan…… gone with the wind. Dan air mata pengakuan dosa yang mengharu biru itu, percayalah, akan segera hilang tak berbekas, disapu oleh angin……..

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint slides mengenai cara mengukur efektivitas training, silakan datang KESINI.

Photo Credit by Mesq - under creative common license.

See also these interesting posts:

23 Responses to “Seberapa Efektif Training ESQ dan Sejenisnya?”

  1. sanjaya_jkon 11 Feb 2008 at 5:07 am

    Pertamax

  2. Rezkion 11 Feb 2008 at 6:29 am

    Memang susah mengubah kebiasaan yang sudah berjalan mungkin puluhan tahun, atau bahkan sudah menjadi kultur dalam sebuah instansi. Saya sepakat dengan adanya sesi monitoring selama 24 bulan akan mampu membawa kebiasaan karyawan ke arah positif.

  3. afithkon 11 Feb 2008 at 8:50 am

    yang perlu diperhatikan dalam training ESQ adalah niat dari peserta training itu sendiri, kalo ga ada niat untuk merubah diri dan mentalnya, ya itu tadi, training akan jadi sia-sia. Harus ada insight dulu.

  4. fahrizal tampubolonon 11 Feb 2008 at 9:03 am

    Bang Yod, memang benar, tiap kali selesai mengikuti training motivasi rasanya seperti full charged, semangat. tapi setelah beberapa lama, low batt lagi. cara yg bang Yod paparkan apakah efektif bila diterapkan untuk training-training motivasi, sejenis ESQ itu? bisa saja si trainee membuat rencana perbaikan (continuous improvement) utk dirinya sendiri, kemudian waktu difoll-up dia bilang udah dilakukan, padahal tidak? gimana bang?

  5. Dicky_Son 11 Feb 2008 at 9:25 am

    Pak Yodhia, artikelnya sangat menarik!

    Saya sendiri pernah mengikuti ESQ Training ini dan akhirnya kembali lagi pada diri kita bagaimana memaknai-nya. Tapi terlepas apakah training ESQ atau training yang lain itu berjalan efektif atau tidak setahu saya memang dapat diukur dengan metode evaluasi training.
    Pak Yodhia, kebetulan saya kemarin juga sudah membeli buku karangan pak Teguh & Andree yang kebetulan ada di rak Bestsellers (selamat untuk penulis) dan setelah saya baca isinya sangat membantu saya dalam mengevaluasi training.
    Semoga dengan adanya tools itu ESQ Training yang dideliver oleh banyak perusahaan dapat berjalan dengan efektif.

    -Dicky S-

  6. Yodhia Antariksaon 11 Feb 2008 at 10:27 am

    # Fahrizal, tentu dalam sesi monitoring itu kita mesti juga mengeksplorasi contoh atau bukti konkrit mengenai pelaksanaan action-plan. Explorasi ini bisa kita peroleh dengan bertanya pada bawahan atau rekan kerja ybs. Juga bisa diperoleh dari hasil pantauan atasannya.

    Dengan demikian, kita bisa memperoleh data yang valid mengenai sejauh mana kemajuan dan efektivitas pelaksanaan action plan tsb.

  7. Jooon 11 Feb 2008 at 11:16 am

    Thanks Mas atas info bukunya. saat ini saya juga kebetulan lagi nyusun Model Return on Training Investment (ROTI). saya rasa kedepan semua model pelatihan akan bergantung pada hal ini, jadi prinsipnya bagaimana hasil dari pelatihan dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. bagaimana dampak kinerja dapat diukur, dsb. ini mungkin hal baru di Indonesia.
    Beberapa literatur juga telah saya dapatkan namun lebih berbentuk report-report dan kurang lengkap. mudah-mudahan buku ini bisa membantu. Sekali lagi Terima kasih banyak Mas Yodhia atas infonya.

  8. bavicoon 11 Feb 2008 at 4:52 pm

    Beloved,

    Ass.Wr.Wb…

    In the name of Allah most gracious most merciful, may peace be upon you all, dear brothers & sisters perhaps this following “quotation” info will be fruitful for all of us as our “glad tidings” and hope this could flood your mind in understanding more regarding training & developement field;

    Bretheren, In an ever-changing business environment, it’s important that our workforces are prepared to handle whatever happens. Very few people will question that concept - so where’s the problem? Why doesn’t training seem to work for so many people? Most people are sold on the idea of training but aren’t really sure how to make it work for them. Let’s take a look at 10 factors that will help us to get lasting results from training.

    1. Conduct a thorough needs analysis.
    Make sure that training is the answer. Conduct a thorough needs analysis first. Often the obvious cause is not the real reason for a deficiency. For example, doing skills-related training when it’s not a skill problem won’t fix anything long term. It will also harm your credibility with our employees and can lead to lower morale.

    2. Don’t sign up for the next fad.
    OK, you know training is the answer. Get the solution for your needs, not someone else’s. Make sure a program will satisfy our specific objectives.

    3. Don’t sign up for every fad.
    Don’t change your focus with the seasons. If you didn’t get results from the other programs, this year’s latest and greatest probably won’t work either. Again, analyze what we really need. If the other programs didn’t work, ask yourself why. Ask yourself what we would be doing differently starting a new program.

    4. Get support.
    If we’re looking to change a process or behavior, make sure the ones who count in our organization have signed on for the change. To get lasting results, we need people who will back up the training in their positive words and positive reinforcement of new behaviors or processes.

    5. Consider delivery.
    Once we decide that training is the appropriate solution, concentrate on how you’ll bring it to our organization. Here are some questions we should ask: how it is to be conducted? Lecture, discussion, hands-on? You’ll want to make sure training is interactive. People learn by doing. How large will the group be? A larger group makes it difficult for much interaction and can also intimidate people from participating fully. Keep number of participants low, perhaps under 12 -15 people. This way, no one gets lost in the crowd. Everyone can equally benefit.

    6. Consider the individual.
    If you’ve decided on an in-house solution and there are will be several sessions, consider mixing people and personalities to create synergy. Remember the whole can be greater than the sum of the parts. Participants learn from each other. Give plenty of opportunities for discussion.

    7. Set class times for maximum learning.
    Avoid scheduling training for outside of business hours if possible. Remember people don’t work in a vacuum. They’ll get more out of the program and concentrate better if they’re not worried about children, parents, spouses, pets, etc. If necessary split the difference. For example, office hours are 9-5 and the training class is 2 hours: start at 8AM. If you must schedule outside the regular shift, give everyone plenty of notice.

    8. Open your mind.
    Prepare for the class. What is it about? What are the objectives? If we are an attendee, arrive early for the session if possible. Turn off the cell phone and ignore the beeper. Focus our thoughts on the session ahead.

    9. Practice makes perfect.
    New skills must be used immediately for best on the job retention. Making a habit is like breaking one. Help this process along by following up with a short training class 2-3 weeks after initial training. One shot training will not give us the results we desire.

    10. Reinforce.
    Back on the job; make sure that the environment is conducive to implementing the ideas or behaviors learned. Finally, give support and recognition where due.

    Training and development can be powerful agents for change in our organization. Used correctly, training and development ensures a return on investment. Used sloppily or incorrectly, we will waste time and money. we’ll also waste something even more important: our potential.

    Deciples, wass.wr.wb. may peace blessing merci be upon all of you all…

    very sincerely,
    “verily verily I have spoken the truth”

  9. nyamukbingungon 11 Feb 2008 at 11:06 pm

    memang pada akhirnya semua kembali ke niat dan hidayah yang diberikan, untuk efek nyatanya memang harus ada kelanjutannya, dan itu semua harus diupayakan sendiri, Training ESQ nggak pernah cukup untuk merubah segalanya, harus ada tindak lanjut dari tiap-tiap diri untuk terus mengembangkan dirinya..tetapi tidak bisa dipungkiri, bangsa ini masih membutuhkan sarana-sarana pertobatan seperti pada ESQ, yang kita sadari bersama, telah banyak mengubah beberapa orang, dari jalan kegelapan untuk kembali ke jalan yang terang-benderang..

  10. Muh Isnainion 12 Feb 2008 at 11:22 am

    tulisan renyah dan enak dibaca selalu disuguhkan oleh mas yodh…;-)
    yang pasti dalam firman Tuhan “tidak akan berubah sebuah kaum, jika dia tidak berupaya untuk berubah”, dan salah satu jalannya adalah training..
    manajemen training yang berkelanjutan adalah harapan panjang utnuk sebuah perubahan…hasil dari sebuah pengalaman panjang yang tertuang dalam buku “How To Measure 5 Levels of Training Evaluation” patut untuk dijadikan rujukan, smoga sukses mas yodh dan penulis buku….eeet tdk lupa buat penggemar blog ini..smoga jga sukses ok!

  11. andrias ekoyuonoon 13 Feb 2008 at 5:00 pm

    Pertanyaan yang sama, kenapa sudah ada pelajaran PMP atau PPKn atau Kewarganegaraan, tapi tetep aja moral bangsa kita amburadul ? Tanya Kenapa ?

  12. Ramaon 14 Feb 2008 at 9:32 am

    Berproses untuk terus lebih baik, serta mengambil banyak hikmah dari setiap yang ditemukan. Itu yang bisa saya dapatkan dari uraiannya tulisan ini. Agar kita tidak menua dengan rantai rutinitas, ilmu yang ada tapi open mind untuk siap berkembang dan berkwalitas.
    Tapi salut juga buat ESQ dan tim yang mampu menguatkan brandnya sebagai salah satu training yang sudah cukup dikenal, mampu mengekslorasi konsep dasar keislaman yang mudah diterima, tinggal penguatan serta terus melakukan penyempurnaan terhadap sisi-sisi lain yang terus dilakukan. Moga teman2 di ESQ bisa membaca dan menerima saran ini. seperti yang disampaikan oleh mas yodhia. Thank’s

  13. Bayu.anon 15 Feb 2008 at 9:02 am

    yups, semua bakal jadi percuma kalo ngga terukur dan terarah…

  14. samsuon 15 Feb 2008 at 11:04 am

    saya monitoring di indonesiabootcamp.com kader yang dihasilkan bener bener militan di online. Saya gak tahu apa yang di doktrinkan. Yang saya denger infonya… komandannya mantan demonstran yang memang juragan teknologi di Bali juga alumni ESQ. Mungkin sharingnya bisa berguna.

  15. Ridwanon 20 Feb 2008 at 10:46 am

    Mengubah kebiasaan sangatlah sulit dan dibutuhkan “pengorbanan”
    ada pepatah mengatakan ” (LELE BULU” TE LELE A BIASANG)… Bulu (rambut) bisa berubah dari (hitam) menjadi (putih) tapi kebiasaan tidak berubah”…
    dibutuhkan masih banyak buku-buku bermutu karya anak bangsa..agar saling melengkapi demi kimajuan dan kemakmuran bersama..good luck..

  16. rahadianon 26 Feb 2008 at 4:25 pm

    Menurut saya yang salah bukan trainingnya tetapi kepada manusianya apakah dia mau merubah sikap hidupnya menjadi ke arah yang lebih baik. Karena menurut saya sekalipun dibuat sebuah sistem monitoring yang canggih tapi kalau manusianya tidak mau melakukan perubahan yaa susah…Dari jaman para nabi juga megalami hal yang sama. banyak para manusia yang telah bertobat terus kembali lagi ke jalan sesat. Dengan begitu apakah Nabi/Rasul yang salah dalam memberikan “training” yang bahan materinya langsung dari ILAHI ?…

  17. Yodhia Antariksaon 26 Feb 2008 at 4:56 pm

    # Rahadian….tentu faktor internal diri peserta punya pengaruh. Namun, proses monitoring yang melibatkan atasan dan fasilitator, dan dilakukan secara konsisten, memiliki PERAN yang amat signifikan untuk merubah perilaku.
    Beragam studi empirik menunjukkan reinforcement melalui monitoring yang sistematis menaikkan dampak positif training hingga pada angka 80 %. Sementara tanpa monitoring, dampak thdp perubahan perilaku hanya akan berkisar pada angka 20 - 30 %.

  18. Nofie Imanon 18 Mar 2008 at 9:57 pm

    Banyak teman-teman saya yang mengeluhkan hal serupa. Trainingnya berbiaya tinggi namun efek manfaatnya hanya terasa sekejap.

  19. Ogelitoon 11 Apr 2008 at 1:01 pm

    semua kembali kepada insan yang mengikuti dan niat mengikuti, mungkin sesinya perlu ditambah dengan sesi menanamkan kepada alam bawah sadar kita bahwa setelah mengikuti training kita akan membuat perubahan sesuai niat ikhlas kita …..dan kembali kepada Allah,

  20. bavicoon 11 Apr 2008 at 11:47 pm

    Shalom Aleichem … May peace be upon you all …

    Why make it so difficult? Just Do your own ESQ don’t follow others!

    It really is hilarious that so many people believe in “dumping” so many options into a training system that it “becomes clunky”, “burdensome”, “not used”, “not cost effective”, “doesn’t maximize resources”.

    Your training system or ESQ TRAINING doesn’t have to fly like Superman to be effective. Nor does it have to soar through the galaxy like the Millenium Falcon to have an impact on your employees and your ESQ training methodology.

    Although ESQ trainining presents a fantastic way for you to maximize your postive mind resources and streamline efficiencies … you need to be weary of just how much ” ESQ fever” we let control our mind & work life every time by saying HOW DOES IT WORK? or IT DOEST WORK AT ALL … If we have too much - we risk becoming a commodity of that business from ESQ training providers.

    We can’t have or rely on ESQ fever “ONLY” take over our jobs, but make the real ESQ as daily basis based on your specific characteristic as an extension of yourselves and a “tool” to help you accomplish your own goals and solve particular company problems thus we have to be careful not to accept easly ESQ proposal from outsiders since we are sure that we realize what beneaths under the proposal it self, YES, money … some of them “they need YOUR company money!” since on the other hand sometimes frankly speaking that they don’t know the reality of your current environment.

    On very simple terms, the most important factor to keep in mind when bringing up an ESQ training program is that it should be an extension of you your self - as the training administrator.

    First, it should make your job easier and your life easier. If it does this - you’re on the right track.

    Next, it should give you a much easier way to schedule, deliver and track your training… or better yet - a better way for training management.

    If it’s saving you time, keeping you more productive and allowing your trainees to train on their own time (so as not to interfere with their daily tasks)… then you are definately on the right track!

    Last, I would highly recommend a system that automates 90% of the administration of keeping up with delivery and progress AND (and this is very important btw…) you need a way to create engaging, a personal & touchy interactive courses that you can deliver to your trainees (while you sleep) automatically.

    If you can get your hands on “a system“ that:
    1. Makes your working life easier
    2. Makes your personal life easier
    3. Gives you a better way to manage your training
    4. Saves you time (and money)
    5. Keeps you very productive
    6. Keeps your employees productive
    7. Automates 90% of the administrative/tedious functions of training
    8. Gives you way to easily create engaging, personal & touchy interactive courses that stimulate learning

    Then I think your way ahead of the game!

    On the other side - there are still people and organizations that believe that in order to have a good result of ESQ at training your disposal - “it needs to be able to make the audience to cry and dance.” I don’t agree.

    Why make itso difficult? Keep it simple smile sweety … and you shouldn’t have any problems. Plus it’s much easier to make a case to management to procure a training system - with a list of 8 items (like above).

    If you have tons of money - then pick and choose what you want for your own ESQ training and build one from scratch.

    But, if you don’t have the money and are looking for a way to transform your ESQ training program more effective into something wonderful and exceptionally productive then please consider the real basic needs of your OWN wish NOT only looking at the other people’s pasture.

    Stay loose and focused!
    Be dare to say NO to cheapy ESQ or Be Square!

  21. ivan gardaon 07 Jul 2008 at 5:40 pm

    Saya kebetulan sudah membaca “How to measure 5…” ini buku yang saya butuhkan selama ini. Apalagi saya seringkali terlibat dalam berbagai training baik itu berkaitan dengan sistem, know how atau pun perubahan perilaku. Saya kebetulan seorang lawyer, konsultan GCG, dan aktivis sosial. Jadi saya sangat berkonsentrasi terhadap perubahan sistem dan perilaku. Salah satu metodenya adalah melalui training, dan rasanya saya terlibat dalam berbagai proyek miliaran rupiah untuk perubahan sistem dan perilaku. Dan hasilnya…

    Namun saya keberatan dengan argumentasi anda untuk menyandarkan buku ini pada fenomena training ESQ. Saya adalah alumni training tersebut, dan sebelum mengikuti training tersebut, saya sudah direkomendasikan oleh berbagai temen (lintas agama, dan bahkan seorang yang ateis) untuk mengikuti training tersebut. Selain itu saya sebelum mengikuti training tersebut melakukan riset kecil melalui search engine ( saya pikir ini metodelogi riset yang sederhana namun paling transparan objektif, bila dibandingkan riset para peneliti profesional yang dapat dengan mudah mensetup penilitian berdasarkan data2 tak objektif), dan hasil riset tersebut terutama melalui bloger2 independen terdapat dua jenis penilaian yakni: CURIGA dan BAGUS. Yang curiga rata2 orang yang belum pernah ikut training, yang bagus rata2 orang yang telah mengikuti training.

    Lalu bagaimana signifikasinya terhadap perubahan perilaku? Saya tidak sedang berapologi, Saya mempunyai pengamatan terhadap “big ten BUMN”, dan saya pastikan semuanya pernah mengikuti training dan menerapkan sistem management kelas dunia, bahkan sering dibimbing dalam pengawasan mereka langsung ( hmmm economic hitman), dan hasilnya?

    Terlepas dari beberapa kekurangan yang manusiawi, training ESQ memang training paling hebat dibanding berbagai training yang pernah saya ikuti dan “selenggarakan”. Saya sungguh memiliki semacam fresh mind about management. Selain itu saya melihat sendiri keluarga besar saya mengalami perubahan kesadaran bahkan perilaku sosial dan profesional yang luar biasa. Saya dapat ceritakan pula, teman saya seorang hakim baru melewatkan begitu saja sogokan 500 juta didepan mata, padahal sebelumnya uang 500 ribu aja dia ambil. Dan saya sempat sedikit kontak dengan seorang penghuni Lapas Paledang Bogor bernama Djafar yang pernah memperkosa 10 perempuan, dan menyatakan tobat hanya karena mengikuti training ESQ SELAMA 2 HARI! Padahal sebelumnya dia pernah mengikuti training yang sistematis, dan berlangsung bertahun-tahun lamanya (tolong dibaca “Lembaga PEmasyarakatan”).

    Lalu bagaimana dengan efek signifikannya, saya dengar Training ESQ saat ini sudah dikembangkan menjadi beberapa tingkatan untuk menjawab tingkat signifikasi efek pada seseorang. Tapi diluar itu semua, please wake up mas….kita masih hidup di dunia variabel efek terhadap seseorang masih terlalu rumit untuk mas sederhanakan. Seseorang yang merupakan sahabat(murid) nabi bernama Yudas atau bahkan sebagian orang mengatakan merupakan murid langsung Tuhan Yesus masih saja berkhianat….

  22. agung hartantoon 01 Aug 2008 at 11:34 am

    Setuju…
    Setuju…

    Saya juga pernah mengikuti kegiatan training semisal ESQ. Namun keefektifan hasil training tersebut tidak lebih dari satu pekan saja.

  23. imanzson 30 Aug 2008 at 7:23 pm

    ass..
    saya alumni ESQ untuk remaja angkatan 34 jakarta,skarang duduk di kelas 3 sma,waktu itu saya ikut klas 3 smp..
    itulah mengapa alasan ESQ memberikan investasi untuk seumur hidup..
    kita bisa datang lagi di training ESQ gratis dimanapun kita berada..
    ibarat sebuah handphone dicharge, lama kelamaan baterainya pun akan berkurang/habis, maka dari itu, kita juga harus datang kembali ke training, untuk me recharge ilmu yg telah kita dapat..
    keimanan seseorang pun naik turun..
    kita belajar di sekolah, klo ga di ulang2 lagi materinya kita pasti bingung saat ngerjain soal ulangan, sama seperti pelatihan2/seminar,dikasi ilmu,ingat beberapa saat, tpi kalau diulang2 Insya Allah, ilmu itu akan ter aplikasi dalam hidup kita..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

hpsuplies_150×150.gif ebook-banner.jpg training-solutions.jpg free-hr-papers-center.jpg