Rencana Memblokir Google dan Facebook yang Ngemplang Pajak Triliunan

DSC_0413 reData menunjukkan omzet Google dari pasar Indonesia adalah Rp 3 triliun per tahun, sebuah angka yang cukup masif.

Karena bisnis digital, profit margin Google Indonesia mungkin tembus 30%; sehingga omzet itu menghasilkan net profit Rp 1 triliun per tahun. Sebuah angka yang gurih.

Namun selama ini Google selalu menolak membayar pajak ke Bumi Nusantara.

Ya, mereka selalu ngemplang pajak meski telah mendapatkan rezeki yang amat masif dari jutaan netizen Indonesia.

Omzet Facebook dari konsumen Indonesia juga diprediksi berada pada sekitar angka yang sama yakni Rp 3 triliun per tahun.

Sama, karena bisnis digital maka margin profit mereka bisa tembus 30%, sehingga net profit yang didapat Facebook Indonesia juga berkisar Rp 1 triliun per tahun.

Fyi, total revenue Google secara global adalah Rp 960 triliun. Sementara total revenue Facebook secara global adalah Rp 234 triliun.

Nah, dengan profit masing-masing 1 triliun, maka Google dan Facebook masing-masing mestinya membayar PPH Badan yang tarifnya 25% dari net profit.

Dengan kata lain, pajak penghasilan yang wajib mereka bayarkan setiap tahun ke Bumi Nusantara adalah Rp 250 milyar.

Di sisi lain ada juga PPN 10% dari omzet yang mestinya juga mereka tarik dari ribuan konsumen mereka di Indonesia.

Jika omzet 3 triliun, maka potensi PPN 10% yang selama ini hilang karena dikemplang Google dan Facebook masing-masing adalah Rp 300 milyar.

Maka potensi pajak PPH dari Google setahun adalah 250 milyar plus pajak PPN 300 milyar. Total 550 milyar per tahun. Itu angka setahun. Jika ditarik mundur 3 tahun saja, maka ada potensi kehilangan pajak dari Google Indonesia sebesar Rp 1,5 triliun lebih.

Facebook Indonesia juga ngemplang dengan angka yang relatif sama. Rp 1,5 triliun lebih dalam 3 tahun terakhir ini.

Bagaimana mungkin Google dan Facebook yang terus berdansa ditengah ledakan digital Indonesia, dan meraup profit triliunan enggan membayar pajak ke Bumi Nusantara?

Alasan legal formalnya adalah selalu karena Bentuk Usaha Tetap (BUT) mereka secara fisik bukan di Indonesia, dus tidak perlu membayar pajak ke Indonesia.

Namun secara substansi ya mereka menghasilkan uang dari jutaan netizen di Indonesia.

Samsung Indonesia, Oppo, dan Zenfone juga mendapatkan uang dari konsumen digital Indonesia dan mereka selalu membayar pajak ratusan milyar per tahun ke Indonesia. Kenapa Google dan Facebook ngemplang pajak? Rasanya kok kurang afdol.

Alasan lainnya sih mungkin ini : kan Google dan Facebook sudah banyak membantu UKM Indonesia dan menggerakkan ekonomi lokal dengan layanannya. Biarlah mereka ndak bayar pajak, toh layanannya sangat membantu ekonomi lokal.

Hmm.

Bukalapak, Tokopedia, Kaskus dan OLX juga sangat berjasa besar dalam menggerakkan jutaan UKM di tanah air. Layanan mereka juga kebanyakan gratis, dan sangat membantu para penggunanya.

Nah kenapa Kaskus, OLX dan Bukalapak dkk membayar pajak dengan tertib, sementara Facebook dan Google selalu ngemplang pajak ratusan milyar per tahun?

Rasanya memang kurang fair. Selama ini Google dan Facebook telah meraup profit yang masif dari netizen Indonesia, namun sama sekali tidak pernah mau membayar pajak.

Maka mungkin salah satu ultimatum yang layak dipertimbangkan adalah ini : silakan dirikan bentuk usaha tetap di Indonesia dan bayar pajak, atau kami akan blokir layanan Anda di tanah air.

Memblokir layanan Google dan Facebook di tanah air mungkin akan segera memunculkan kegegeran.

Namun langkah itu mungkin juga justru akan memberikan berkah terselubung yang masif bagi para local players.

Lihatlah China. Karena mereka memblokir Google, maka justru muncul search engine lokal yang dahsyat bernama Baidu. Karena mereka memberikan restriksi bagi FB dan Twitter, maka muncul social media lokal yang amat populer seperti WeChat (dari produsen lokal bernama Tencent).

(Pemblokiran Google di China memang karena alasan keamanan negara, bukan karena alasan ngemplang pajak).

Saya membayangkan pemblokiran Google dan Facebook gara-gara ngemplang pajak, akan segera memunculkan search engine dan social media lokal yang sejatinya punya potensi yang tak kalah dahsyat dengan global players.

Pemblokiran Facebook dan Google yang ngemplang pajak, pasti akan membuat lansekap digital Indonesia berubah total. Lalu segera akan muncul start up lokal yang hadir dengan kualitas yang sama andalnya (persis seperti kasus kemunculan search engine Baidu dan weChat di China).

Mungkin akan banyak orang terkaget-kaget dengan hilangnya Google dan Facebook dari layar smartphone mereka, lalu muncul eforia penolakan.

Namun studi-studi dalam ilmu perilaku menunjukkan efek eforia penolakan itu hanya sesaat. Mereka menyebutnya “scarcity hysteria trap”. Awalnya banyak orang akan shocked, lalu pelan-pelan akan kembali terbiasa, dan hidup akan kembali normal.

Dan jangan lupa : dinamika bisnis selalu menemukan jalan alternatifnya.

Saat Google dan Facebook yang ngemplang pajak diblokir, maka segera pasti akan muncul layanan alternatif (syukur dari para start up lokal seperti kasus Baidu dan Tencent di China).

Search engine lokal dan social media app lokal pasti akan muncul sebagai alternatif dan bisa terus berkembang. Ketergantungan adiktif netizen terhadap layanan Google dan Facebook pelan-pelan dengan mudah akan digantikan layanan lain yang hadir.

Dominasi Google dan Facebook dalam lensekap digital tanah air mungkin terlalu masif.

Kadang masygul juga melihat mereka berdua terlalu mendominasi (dan kita tahu, pendiri dua layanan ini adalah anak muda Yahudi yang cemerlang, Mark Zuckerberg dan Sergey Brin).

Menjadi lebih maysgul saat tahu bahwa mereka selama ini meraup profit masif dari Indonesia, namun selalu enggan membayar pajak ke Bumi Nusantara.

Memblokir layanan Facebook dan Google yang ngemplang pajak bukan saja memberikan mereka pelajaran tentang arti fairness.

Yang mungkin tak kalah penting : proses itu bisa memunculkan alternatif layanan digital lokal yang siapa tahu punya mutu mengejutkan.

Kerinduan kita akan search engine rasa lokal atau social media dengan sentuhan khas Indonesia – mungkin juga pelan-pelan bisa terpenuhi.

Sebab kita tahu : “kerinduan digital” itu harus terus kita perjuangkan….

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download Sekarang.

Related Post

3 Revolusi Pajak yang akan Membuat Negeri Ini Cetar Membahana Simak fakta ini : hampir 70% anggaran negara republik ini dibiayai oleh pajak. Jalan raya yang Anda pakai setiap hari. Sekolah SD sd SMA gratis bag...
Trisula Maut untuk Digital Personal Branding : Blog, Facebook dan Twitter Apapun profesi Anda, entah manajer, karyawan, pemilik bisnis, arsitek, fotografer pro, penyedia jasa les privat atau juga penyedia jasa sedot WC; maka...
Cara Memasang Iklan di Instagram dan Facebook demi Profit yang Melimpah Produk yang biasa-biasa saja namun dipasarkan dengan cerdik akan jauh lebih sukses dibanding produk istimewa namun dipasarkan dengan cara yang buruk. ...
65 comments on “Rencana Memblokir Google dan Facebook yang Ngemplang Pajak Triliunan
    • Harus bijak juga, produk google nggak hanya search engine, tp juga android youtube drive map dsb, misal kalo android juga ganti nggak disupport google untuk Indonesia efek berantai nya juga besar, harus ada solusi win win nggak hanya mengedepankan blokir blokir blokir
      #hanya pemikiran orang awam seperti saya

  1. Pajak juga sebuah simbol kedaulatan negara. setuju aja kalo layanan tersebut di block asal pemerintah sudah siap.

    Tapi krg yakin sama permerintah skrg, industri ecommerce aja mo dipajakin, ukm lokal baru tumbuh bakal mati. kalah sama global players.
    Pemerintah skrg lagi ga punya duit, semua dipajakin tapi impor tetep jalan. satu sisi salut sama kebijakan TKDN 4G biar vendor luar ga semena2..

    Support Lokal !

  2. setuju banget utk menghukum 2 perusahaan tersebut, jika perlu, whatsapp, line, youtube dan sosial media lain juga perlu di beri ultimatum

    saya yakin, putra/putri pendekar IT lokal tak akan kalah dengan mereka.

  3. Dilematis, tapi kedua pilihan sama-sama punya resikonya masing-masing.

    mungkin memang sudah saatnya Indonesia mengambil langkah masif. Gebrakan. Terobosan. Bisa jadi, kalau layanan mereka (google dan FB) benar-benar diblokir justru menjadi babak baru loncatan dunia digital Indonesia. Benar kata Pak Yodhia, proses itu akan memunculkan alternatif layanan lokal yang mutunya tak kalah. Saya percaya itu.

    Sekarang, tinggal keberanian mengambil keputusan saja.

    Tidak memulu harus menyalahkan pemerintah, tulisan blog semacam itu adalah suatu langkah yang berarti.

    Thank for the insight Pak Yodh..

    Salam sukses!

    http://www.blogpengembangandiri.com/ | Tips Praktis Pengembangan Diri

  4. Ulasan Senin pagi yang renyah dari Mas Yodhia. Meskipun kita juga punya ketergantungan atas kedua layanan tersebut, namun miris juga kalau mereka memang benar sama sekali tidak mau membayar pajak.

  5. Wah.. senin pagi ini sudah dibuat geger aja nih sama pak Yodh..

    Jika nilainya sebesae itu harusnya pemerintah bisa lebih tegas lagi pada dua raksasa digital tersebut. Jangan lunak pada mereka dan keras pada rakyatnya..

    Salam Sukses Mulia !

    Cari tau cara beli rumah tanpa riba disini :
    http://www.rumahsyariahberkah.com

  6. Menurut pemahaman saya yang super bego dan baru melek digital, rasanya ini sangat mungkin. Banyak kok programer ahli di Indonesia yang bisa bikin search engine dan sosmed yang hebat, bahkan banyak yang sudah diakuisisi kedua player tersebut.

    Contohnya aja kaskus, toped, BL dan lainnya. Mungkin juga ada cara alternatif yaitu menagih pajak hingga mereka mau membayar, kemudian jika tahun berikutnya ngemplang pajak baru beneran di blokir.

    Saya setuju wacana ini, karena biasanya kekisruhan akan memunculkan angin segar!

    Mari kita tunggu gebrakannya!!!

    • Kalau melihat contoh negara cina, mereka membuat playstore sendiri, hp boleh android tapi operating systemnya sudah android modifikasi jadi semua handphone android masi bisa berjalan lancar, cuma kalau Iphone saya tidak tahu =D

  7. Alhamdulillah google dan facebook telah membuat bisnis saya dan istri jauh berkembang..
    Tapi kalau ternyata mereka ngemplang pajak segitu besarnya.. nyesek juga sih..

  8. Industri lokal akan bisa membuat search engine setara Google?

    Saya skeptis untuk hal ini.

    Tau ecommerce Amazon? Ecommerce terbesar di dunia.

    Amazon belum masuk Indonesia loh, tapi kenapa belum ada ecommerce lokal yang kualitasnya setara Amazon?

    Saya seorang affiliate marketer (sudah 8 tahun) dan sampai saat ini belum ada ecommerce yang mampu menyaingi Amazon dari sisi teknikal (algoritma, efektivitas konversi, kepedulian terhadap affiliate, dll)

    Saya juga pengalaman daftar ecommerce lokal, namun mengecewakan.

    Tampilannya terkesan asal-asalan, tools tidak lengkap, widget sering tidak loading, algoritma pencarian produk pun terkesan acak-acakan.

    Dan…tahun depan Amazon berencana masuk ke Indonesia.

    Mereka tinggal terapkan semua yang sudah mereka punya loh, hanya dibikin situs Amazon versi Indonesia saja.

    Saya yakin kalau Amazon masuk Indonesia dia bakal jadi penguasa pasar.

    Bukannya apa, tapi sebagai konsumen dan juga partner saya tau Amazon itu masih yang terbaik.

    Dan untuk kasus Google, apakah anda yakin Google bisa dikalahkan begitu saja?

    Algoritma mereka sudah disempurnakan selama bertahun-tahun, dan tidak mudah untuk mendapat bocoran algoritma tersebut (buktinya belum ada yang menyaingi keakuratan hasil pencarian Google).

    Kalau anda paham sisi teknikal suatu situs, anda akan tahu algoritma pencarian ecommerce lokal tidak ada apa-apanya dibanding algoritma FB, Amazon, apalagi Google.

    Ini bukan masalah mampu atau bukan, tapi lebih ke mana yang sudah berkembang dan punya pijakan yang solid.

    Memblokir Google berarti memblokir YouTube, Gmail, Blogger.com, dan juga Android!

    Yakin sudah siap?

    • Affiliate amazon ya Mas? Ane berguru dong, boleh minta kontaknya?

      Untuk admin Mas Yodhia, ane minta maaf ya jadi OOT commentnya

    • Pemerintah emg blm siap..support produk lokal dari dulu juga msh stgh2, masy juga senangnya produk luar.

      kalo mslh tech msh bnyk cara walopun mgkn ga sempurna spt google.kita liat sisi postifnya kaya jack ma dengan bangganya membuat amazon dan ebay tidak berdaya di china.

      semua google/fb service pastinya ga bisa dipake. tapi kalo android itu free, google appsnya ganti punya lokal

      #komen saya diedit hiks..padahal isinya hanya:”merengek” ke pemerintah krn produk lokal bagus belum tentu bisa berjaya

      • Pada dasarnya yang punya tanggung jawab untuk memajukan produk lokal ya pengusahanya sendiri, bukan pemerintah.

        Kenapa masyarakat senangnya produk luar?

        Sederhana saja, karena produk luar lebih memberikan value dibanding produk lokal.

        Saya pribadi sudah 2 kali memberi smartphone lokal, yaitu Zyrex dan Himax.

        Dan jujur, kualitas produknya payah, bahkan dengan harga yang sama produk luar punya customer service yang lebih bagus dan build material yang lebih bagus.

        Jack Ma berhasil membuat Amazon dan eBay tak berdaya?

        Yang ini jelas tidak bisa dibandingkan, karena AliBaba dan Amazon/eBay punya tipe ecommerce yang berbeda.

        AliBaba fokus pada wholesale untuk para pebisnis lainnya, sedangkan Amazon dan eBay adalah ecommerce untuk customer.

        Tidak apple to apple perbandingannya.

        Kenapa banyak inovasi lokal yang gagal di pasaran, bahkan tidak pernah masuk tahap produksi?

        Karena inovatornya hanya bisa merengek pada pemerintah dan bersikap manja.

        Kalau memang produknya hebat, kenapa tidak cari investor?

        Kenapa malah apa-apa berharap pada pemerintah?

        Dunia bisnis itu keras, kalau cuma berharap pada pemerintah ya pasti gagal.

        • serius bro ? pemerintah dan pengusaha berjalan beriringan bro..pemerintah kan regulator fungsinya bikin aturan, regulasi, himbauan yang tujuannya agar iklim dunia usaha berkembang.

          kmrn rame soal aturan pajak cuma2 buat ecommerce gratis, klao emg jadi, banyak ukm yang tumbang dilibas pemodal besar. merengek boleh ?

          bro ga semua produk lokal jelek. ada yang bagus juga tapi toh tetep ga dilirik pemerintah dan masy emg suka produk luar. ini mindset mgkn sejak jaman film2 era warkop dki jadul.

          grab sama gojek, masih bnyk yg pake grab. gojek bawa isu nasionalisme aja dibully sm masy. liat aja kmrn, gojek sempt sempoyongan kalah sama grab. padahal gojek keren, kecuali kalo product lokal kurang bagus silahkan pake product asing. contoh lain, mobil listrik,supermarket, furniture, gesitz, PT DI, coffeeshop, banyakklahh

          bro ga malu perush kita cuma dikit yng nongol di fortune500 itu juga bumn, kata srimul ada yg salah krn ekonomi kita besar

          coba cek sejarah korea dan jepang yang anti product asing pasca PD2, pemnerintah, pengusaha, dan masyarakat bersatu. hasilnya bisa diliat sendiri.

          bro..mksd gw alibaba group (tmall, taobao,aliexpress,dll). jack ma sndr yang bilang. uber juga keok sama didikuaidy, contoh lain juga banyak. itu krn china selain menjaga keamanan negara juga membantu perusahaan lokal jadi kelas dunia.

          justru bisnis keras pemerintah harus bisa proteksi dan mengembangkan industri lokal bro. lo liat skrg, big players luar punya duit seabrek utk nguasain market indo. cek juga kepemilikan asing di industri besar ky financial, telco, migas, dll..

          ok bro gitu aja, intinya “merengek” ke pemerintah juga perlu selama proporsional dan tujuan baik.

          • Kalau ada produk lokal bagus namun tidak dilirik oleh masyarakat, masa nyalahin pemerintah?

            Bertanyalah pada diri sendiri kenapa tidak dilirik.

            Seperti yang anda bilang, tugas pemerintah membuat regulasi.

            Masalah sukses tidaknya di pasaran bukan urusan pemerintah, itu urusan bagian marketing si produk itu sendiri.

            Lagian ini free market, kenapa jadi bawa nasionalisme?

            Kesannya manja dan mengemis pada rakyat sendiri.

            Wajarlah kalau dibully.

            Lihat J.Co, ga pernah bawa-bawa nasionalisme, ga pernah teriak-teriak “Saya 100% Asli Indonesia”, sukses berat toh?

            Kenapa?

            Karena J.Co memang berkualitas dan selalu berinovasi.

            Di dunia free market, yang ga bisa nambah value untuk customer akan tersingkirkan.

            Mobil listrik? Sudah bisa bersaing dengan Tesla belum dari segi kualitas?

            Kalau belum, ya jangan ngarep bakal sukses.

            Kalau ditanya malu apa enggak, ya saya jelas malu lah.

            Tapi anda mesti tau, modal utama itu bukan uang, tapi knowledge, skill, creativity.

            Itulah alasan kenapa orang Eropa dan Jepang menguasai dunia, padahal SDA-nya sedikit dibanding Indonesia atau negara-negara Afrika yang banyak tambang berliannya.

            Karena mereka lebih cerdas, kreatif dan lebih berinovasi, dibanding negara-negara Asia yang mengutamakan tradisi.

            Seperti yang Mas Yodhia pernah bahas, itulah alasan kenapa BBM, Nokia, dan Sony nyaris bubar, karena mereka berhenti berinovasi.

            Kuncinya adalah add value untuk customer.

            Free market adalah alasan kenapa yang modal uangnya biasa-biasa aja bisa sukses berat, dan juga alasan kenapa banyak perusahaan besar bisa bangkrut (padahalnya modal uang besar).

            Intinya:

            Sudah bisa memberikan value yang setara atau lebih ke customer belum?

            Karena menurut pengalaman saya, banyak ecommerce lokal yang sebenarnya masih bisa mengembangkan situs mereka tanpa perlu keluar duit lagi, hanya butuh niat saja (hal-hal remeh tapi krusial), namun tidak dilakukan!

            Berbeda dengan ecommerce internasional yang terus memperbarui situs mereka.

            Ujung-ujungnya, merengek silakan saja, tapi sadar diri saja kalau mayoritas produk lokal memang belum bisa menyaingi produk luar.

    • Pertanyaannya persis kaya Pertanyaan Van Den Bosch tahun 1830 : Kalau Hindia Belanda ini dikasih kemerdekaan, apa mereka bisa mengelola negaranya sendiri? Whehehe

    • Haloooo ,
      Di negara kita masih ada ecomerce Bukalapak dan Tokopedia lho , mereka merupakan ecomerce yg bagus , emangnya anda pernah berbelanja di sana …..?

  9. Ulasan yang ciamik, memang sudaj saatnya punya SE dan medosos sendiri
    Kalo mr G dan mr F masih mau duit kita ya harus berani bayak pajak,
    Kebetulan aku tiap bulan pake jasa adwords dan dulu pernah pake fbads

  10. Mantap isinya.. tp saya kurang yakin kalo Indonesia mau nyamain China untuk munculin semacam Baidu,dll..Belum juga muncul..sudah di palak preman2 executive untuk hal perijinan dan pengadaan..Ujung2nya kayak e-ktp (maksudnya baik) tp mesin2nya di jadikan lahan korupsi…Mending tetep gugel aja..ga papa ngemplang pajak.setidaknya sdh bantu semua orang dalam hal.

  11. Artikel yang mencerahkan.

    Menurut sy, perlu dikaji secara komprehensif jika FB dan Google akan diblokir mengingat banyak pengguna yg diuntungkan dgn kehadiran 2 penyedia informasi dan socmed raksasa tersebut, sebelum mengambil sikap tegas, seperti China.

    Upaya pendekatan persuasif menurut sy masih menjadi pilihan terbaik, mengingat pasar Indonesia yg sangat luas, yg tentunya memberikan dan menjanjikan potensi income yg besar bagi perusahaan ini. Artinya, ada bargaining power yang tinggi juga dari sisi kita.

    Pendekatan hukum, dalam arti penyiapan aturan juga urgent disusun dan segera disosialisasikan.

    Tks

  12. Opsi yang paling mungkin adalah menekan Google dan Facebook untuk membayar pajak. Opsi pembelokiran hanya gertak sambal agar bisa segera bayar pajak.

    Google bukan hanya search engine, di sana ada Android dan YouTube. Android sudah menggerakkan sisi kehidupan yang lain. Dimana Samsung, HTC, Sony, atau yang lain bahkan merek ponsel Cina populer di Indonesia karena kepopuleran OS mobile ini. Bisa di bayangkan kan bagaimana jika tidak ada Android?

    Ada YouTube, layanan yang gak perlu di jelaskan lagi seberapa besar manfaatnya untuk bisnis kita dan peningkatan knwoledge kita.
    Ada Google Maps, dimana startup yang lagi naik daun GoJek bergantung pada layanan ini, jika tidak ada Maps dari Google, akan begitu banyak resource untuk membuat peta sendiri.

    Ingin seperti China? Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat eksosistem seperti Google dan Facebook.

    Mimpi boleh aja sih, yang penting kita punya blueprint yang kokoh untuk menuju kesana. Dan nampaknya blueprint itu belum ada saat ini.

  13. Pemerintah lagi giat mencari dana untuk pembangunan dan akhirnya sadar bahwa google dan facebook juga harus bayar pajak.

    Untunglah sadar. Dan semoga cepat selesai. Entah harus berakhir pemblokiran ataupun mereka harus membayar.

    Apakah ini berarti kita harus membeli iPhone dan Windows Phone karena android? Hohoho

    girliafashionstore.com | Business Online Tips & Tricks

  14. ulasan sangat menarik. Dalam hal ini membutuhkan keberanian besar, karena pasti akan banyak Gelombang protes dari masyarakat sehubungan mereka yang menggunakan kedua layanan tersebut untuk mencari sesuap nasi… 😀

  15. Wah gede juga ya profit mereka. fb & omG memang banyak layanan-nya bermanfaat. tp akhir2 ini saya minimalisir produk google & biar tak ketergantungan. start-up lokal harus memulai membangun dr sekarang.

  16. Kayanya akan sangat lama untuk membuat platform seperti google dan facebook, minimal dibutuhkan waktu 5 tahun untuk membangun media sosial seperti facebook.

    Misalnya kita sosialisasikan kepada masyarakat yang mengerti IT bahwa dalam waktu 5 tahun kedepan platform google, dll akan diblokir pemerintah. Nah dalam kurun waktu 5 tahun akan di rasa cukup untuk mmembangun platform seperti google atau facebook. Dan tentunya masyarakat tidak akan kaget.

  17. Setuju saya dengan siapapun yang mendukung terlaksananya pemblokiran Google dan Facebook.
    semoga cepat terlaksana .
    Intinya INDONESIA negara besar dengan segala potensi .
    Saya yakin Muda Mudi kreatif dalam bidang IT banyak tersebar di negri ini

  18. indonesia harus tegas dalam hal penarikan pajak. belajar dari amerika serikat dan Uni Eropa yang memberikan denda supertinggi bagi perusahaan yang malas bayar pajak

  19. Klo g salah, kemeninfo dan dirjen pajak sampe berniat menggandeng Jack Ma sbg konsultan mereka dlm menggodok UU yg nantinya dpt memantik pajak dari pelaku digital yg ghaib tp ada ala Konspirasi Yahudi..

    Memblokir total layanan digital dari asing dpt menjadi project yg patut dipertimbangkan sebagai bagian dr ide “mengembargo diri sendiri”.

    dimana ditengah keterpaksaan akan memaksa siapa saja memunculkan ide2 kreatif sebagai solusinya..

    Berharap kelak ad google , facebook, instagram, twitter, WA, BBM produk negeri sendiri yg dicintai oleh masyarakat tanah air..

    http://www.Kasamago.com | Berkarya dalam Imajinasi

  20. Mencoba membayangkan dulu, jika keduanya jadi di bloking, kira – kira berapa tahun kita bisa move on? 3-5 tahun mungkin ya?

    Sebagai blogger yang tidak suka menggunakan jasa blog gratis blogspot saya sih OK2 saya, bahkan mungkin akan ada banyak blogger yang beralih menggunakan WordPress, self hosted, meningkatkan bisnis hosting nusantara dan juga jasa pembuatan blog pastinya. Which I good at 🙂

    Tapi bagi sebagian mereka yang sudah mapan dari AdSense, entah itu YouTube atau banner, pastinya megap – megap kalau mereka hanya membuat konten berbahasa Indonesia.

    Sebuah tantangan yang patut dipertimbangkan untuk dilakukan sepertinya. Jayalah Indonesia!!

  21. klo memang benar google akan di blokir permanen, saya yakin akan bayak blogger yg gulung tikar, karena hampir 80% visitor berasal dari google search engine, saya juga gak bisa bayangkan apa yg akn terjadi di situs saya yg hanya mengandalkan visitor dari google.

  22. Menurut saya : pemblokiran Google dan Facebook tidak akan gampang mengingat banyak hacker-hacker handal di dunia maya.

    Wibesite apa sekarang yang benar-benar tidak bisa dibuka?? selalu ada jalan tikus di luar sana. Google tidak akan pernah takut diblokir karena mereka punya “plan B”. 🙂

  23. Ajakan menantang dan penuh kontradiktif….

    Penutupan google dan fb bisa membuat bangsa ini mundur beberapa langkah. Kepandaian dan resource ilmu ada di google search dan youtube. Lokal players sdh pasti membutuhkan waktu bertahun tahun dan belom lagi mereka membutuhkan ilmu dri google juga.

    Berapa banyak bisnis terbantukan oleh google. Bahkan web strategimanajemen.net diketahui khalayak luas karena google.
    Banyak aplikasi anak indo nongkrong di playstore dgn gratis. Banyak kita me ggunakan free services mereka, drive, classroom, sheet, map dll.

    Mikir dulu sebelum ngotot hanya krn pajak. Gara2 adanya lubang di kas negara semuanya ingin dituntut gara2 pajak?

  24. Wah seru juga ya?…….. Nggak akan bisa dipaksa google atau FB bayar pajak kayaknya, karena mereka sadar nggak bikin BUT di indonesia…..

    Langkah satu-satunya yg paling bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memblokir mereka segera saat ini juga. Nggak usah pakai ancam-ancaman segala, sebab sudah basi soalnya wacana blokir sudah pernah ramai beberapa waktu kemaren oleh menkominfo….

    Pilihannya ada 2, jika Google atau FB melunak dan mau bikin BUT dan bayar pajak, maka blokir bisa dibuka lagi….

    Kalau google atau FB tetap bersikukuh tak mau bentuk BUT dan bayar pajak , ya blokir aja selamanya….

    Tapi….. kalau faktanya google atau FB benar-benar merelakan pasar Indonesia,,, ya pemerintah jangan lantas membabi buta menarik pajak dari UMKM…… Kasihan mereka, sudah jatuh karena media promosi mereka hilang, berikutnya masih ditambah lagi dengan pajak yg memberatkan….

    Kita tak meragukan kemampuan IT programmer atau startup Indonesia dari sisi teknis,,,, tapi dari sisi mental para pengusahanya sangat meragukan…..

    Biasanya mereka cenderung mengedepankan kepentingan pribadi atau golongannya…. contoh, masak iya, internet positif kok dipasangin iklan?…….. masak iya, BUMN sekelas telkampret masih mau ngambil untung secara hijacker, memaksa browser penggunanya utk menampilkan iklan mereka …..

    Jangan2 nanti SE atau SOCNED ala indonesia dipenuhin dengan jargon-jargon politik dan iklan produk dewasa……

    Hahahahaha…….

  25. Sebuah artikel yang fresh, aktual serta menggugah.

    Sebuah usaha seyogyanya tidak hanya memikirkan profit saja. Ada society yang perlu menjadi perhatian.

    Pelayanan yang diberikan oleh kedua raksasa tersebut kepada masyarakat umum sudah sedemikian bermanfaat. Namun, bila sudah ada regulasinya yang mengatur, maka kewajiban harus tetap dipenuhi.

    Salam sukses!

  26. Menarik ‘insight’-nya mas Yodhia, namun perlu ada opsi lain untuk Google & Facebook selain ‘ditendang keluar’ dari Indonesia jika tidak bayar pajak.

    Karena, saya lihat para pemain UKM memang terbantu untuk pengembangan bisnisnya.

    Opsi tersebut adalah dengan bekerja sama dengan Google & Facebook membuat Search Engine & social-media dengan cita rasa lokal.

    Ini mengikuti apa yang dilakukan walikota padang pada minimarket seperti Alfa & Indomaret.

    Akhirnya disana banyak minimarket dengan ‘brand’ lokal, tapi ‘image’ dan produknya tetap dari Alfa & Indomaret. (mungkin ada persentase yang masuk)

    Atau ada engineer dari Google & FB yang diharusnya mengajari engineer digital lokal baik itu beasiswa atau mereka yang datang ke Indonesia.

    Ngebahas Facebook, pas sekali dengan salah satu artikel terbaru saya, linknya saya taruh di nama saya pada komentar ini. 😉

    Regards, Raafi

  27. Dua raksasa digital ini betul-betul memperlihatkan siklus kapitalisasi. Padahal pendapatan mereka sudah bejibun, apa salahnya kita ingatkan dan ultimatum mereka jika memang tidak mau bayar pajak.Setuju.

  28. Cerdas.. artikel berkualitas. JIka Google dan Fbook diusir dari Indonesia, maka peta dunia netizen akan berubah total… Dan pasti ada pihak yang diuntungkan meskipun banyak pihak yang merasa dirugikan..

  29. Tulisan luar biasa dari perspektif yang tidak biasa.
    Betul jika pemerintah perlu mengambil langkah tegas, entah berhasil menarik pajak ataupun memblokir, tapi keduanya saya yakin akan men-trigger massive impact bagi kemajuan bangsa.
    jika benar akan ditutup, maka ‘the power of kepepet’, seperti yang sejarah buktikan, akan melahirkan produk lokal yang luar biasa.

    Mantap mas Yodhia.

  30. Lambat laun negara kita memang harus bersikap untuk kasus pajak yang udah dijelaskan diatas.

    Kita tunggu saja pak Jokowi beraksi. Kalau yang gak setuju bisa pakai VPN buat membuka blokir ny. Yang jelas keadilan pajak memang harus di hadirkan.

  31. yahh ud ga bisa reply..hiks

    nampaknya bro reza ini penganut neo kapitalisme hihi. bro reza bnyk menyebutkan free market, produk lokal wajar dibully, ngapain ngemis ke pemerintah, ngapain bawa isu nasionalisme, prasangaka buruk terhadapa produk lokal, mendewakan produk luar, dll..

    bro..ga semuanya produk lokal itu punya kekuatan.
    mereka banyak kalah di marketing salah satunya adalah modal.cek bisnis digital skrg banyak bakar duit untuk raih pasar hasilnya semua org jadi tau produk mereka kan..
    pecuma kalo produk ente ud bagus punya add value yang bagus tapi bapuk di marketing. kalopun sukses ada kemungkinan dibeli perush luar. mudah2n ga ya..

    ente tau kan klo kekuatan media/marketing dahsyat bgt. barang bagus bisa ga laku, barnag jelek bisa laku. nahh untuk pemerintah sendiri sebaiknya memberikan dorongan himbauan, program cinta produk lokal, insentif, ato apalah kalo mo ekstrim blokir produk luar kaya di china hihi

    coba ente jualan produk dari nol, ikutin prosesnya..mgkn ente akan paham

    kan saya ud bilang..negara kita ini baru mulai bro..harus didukung. kalo di negara maju silahkan aja free market, kapitalisme, liberalisme lah..sudah seharsnya pemerintah, pengusaha, masyarakat itu kompak. ( yaa ini emg susah..tapi ga da salahnya di seuarakan ) kan saya ud kasih contohnya..

    ente keterlaluan bro hiks..compare mobil listrik vs tesla
    kmrn ente bilang kalo compare harus apple2apple kan..ente labil hiks..lagian namanya baru mulai itu harus berkorban bro. makanya tadi saya bilang..coba deh jualan produk dari nol ikutin prosesnya..

    jco itu buka awalnya di lippo kawaraci. kebayang dong modalnya berapa ? sebelumnya saya ud bilang saya ga pukul rata, ada yang mampu tapi bnyk yng msh butuh perhatian pemerintah. terutama ukm, saya setuju inovasi, akal , creativity tapi tetep aja kalo regulasi lebih menekan ukm dan berpihak ke big players gmn dong ? mudah2n ga yah.

    jaman sekarang uang berpengaruh juga apalagi free market bro..tolong jangan menampik contohnya banyak. ato misal produk lokal lo bagus keren trus akhirnya dibeli sama perush luar..faktor uang kan ? tolong jangan menampik fakta dan jangan menyerah juga..gmn fair kan ?

    ada dua berita kmrn bro msih anget2nya..
    1. grab baru dapat modal lagi 9.9T ambisinya luar biasa
    2. uber/grab mengalihkan target market mereka ke indonesia setelah kalah di china

    Semoga gojek bisa bersaing, krn masy krg peduli lokal, yang penting promonya murah dan iklan gencar ( free market alias duit banyak ). ini baru gojek yah. blm sektor lain kaya ecommerce, dll..

    saya disini dukung pemerintah, pengusaha, dam masyarakat
    ga ada niat jelek. saya simple, seneng aja liat perush indo bisa bersaing di luar dan bermnfaat buat negeri tercinta

  32. Ini akhirnya menjadi menarik mas, kalau dua platform ini diputus.

    Ambil contoh Google. Bagaimana jutaan pengguna layanan email dan mungkin yang paling berat adalah jutaan bisnis yang mengandalkan mesin pencari untuk lahan promosi.

  33. ini kayanya sangat dilematis mas.. solanya banyak dari ukm atau perusahaan yang ketergantungan dengan fasilitas yang diberiakn google, seperti gmail, blogger dan google drive

Comments are closed.