Pelajaran Leadership dari Vladimir Putin

Bravo Rusia. Bravo Vladimir Putin. Itulah dua kalimat yang terlintas dalam hati ketika saya membaca edisi akhir tahun majalah TIME. Melalui serangkaian proses yang ekstensif, tim redaksi majalah TIME akhirnya menobatkan Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagai Person of the Year 2007 – sebuah penobatan prestisius yang telah dilakukan oleh majalah TIME sejak tahun 1927.

Melalui beragam sepak terjangnya yang menggetarkan dan acap menuai kontroversi, Putin memang telah berhasil membawa kembali Rusia sebagai sosok disegani dalam panggung geopolitik dunia. Ia berhasil membawa kemakmuran bagi segenap rakyat Rusia, dan yang terpenting, berhasil menegakkan rasa bangga dan martabat bangsa Rusia ditengah blantika ekonomi global. Lalu pelajaran manajerial dan leadership apa yang bisa dipetik dari bekas Komandan KGB ini?

time-cover-story.jpg Ketika membaca kisah kepemimpinan Vladimir Putin, saya jadi teringat dengan salah satu pendekatan populer dalam teori kepemimpinan – yakni, pendekatan contingency model of leadership. Ide dasar dari pendekatan ini adalah : efektivitas leadership seseorang akan amat bergantung pada kombinasi gaya kepemimpinan yang bersangkutan dengan situasi atau konteks tantangan yang dihadapi lingkungannya. Efektivitas hanya akan mekar secara optimal jika terjadi sinergi yang pas antara gaya kepemimpinan yang dilakoni dengan karakteristik tantangan yang dihadapi.

Dan persis itulah yang terjadi pada Putin. Gaya kepemimpinan Putin yang cenderung otoriter, amat menekankan stabilitas dan kontrol, tegas dan penuh disiplin ternyata amat cocok dengan konteks situasi dan tantangan yang dihadapi Rusia saat ia maju sebagai presiden pada tahun 2000. Saat itu, ekonomi Rusia hancur, berpotensi terbelah-belah, dan berada dalam situasi chaos akibat dijarah oleh para baron mafia dukungan “kebijakan Barat”. Dan saat itu pula, Putin datang dengan membawa kepastian, kontrol dan ketegasan. Hasilnya : keteraturan dan stabilitas yang penuh kepastian, dan ini ternyata mujarab untuk menggelindingkan roda ekonomi serta kemakmuran bagi segenap rakyat Rusia.

Saya berpikir, jenis tantangan dan kompleksitas masalah yang dihadapi Indonesia sejatinya mirip-mirip dengan Rusia (paling tidak dari segi skala luas negara dan jumlah penduduk, kedua negara cukup memiliki kesamaan). Karena itu, saya membayangkan gaya kepemimpinan seperti Putin boleh jadi akan lebih pas untuk membawa efektivitas pada manajemen pemerintahan di negeri ini.

Sayangnya, yang menjadi CEO negeri ini adalah bapak SBY – dan disitulah mungkin letak masalahnya. Leadership style dari pak SBY yang cenderung soft, penuh pertimbangan, dan too conceptual boleh jadi tak pas benar dengan jenis dan kompleksitas tantangan yang dihadapi negeri ini. Dengan kata lain, gaya kepemimpinan pak SBY tidak begitu kompatibel dengan karakteristik tantangan yang tengah mendera penduduk tanah air.

Mengikuti alur pendekatan contingency model of leadership, gaya memimpin dari pak SBY tersebut mungkin akan lebih pas untuk konteks negara semacam Denmark atau Swedia dimana lingkungannya sudah serba teratur, semua sistem telah berjalan dan kondisi masyarakatnya sudah sangat well-educated. Sebaliknya, di negera semacam itu, gaya kepemimpinan Putin mungkin justru akan membawa petaka – sebab ia mesti berhadapan dengan situasi dan konteks tantangan yang berbeda sama sekali dengan Rusia.

Bagi Anda para praktisi pengelola SDM, uraian dari pendekatan contingency model diatas membawa pesan yang jelas : dalam proses memilih dan mengembangkan para future leaders and managers, langkah identifikasi mesti ditembakkan pada dua arah : gaya kepemimpinan para kandidat dan juga konteks tantangan masa depan yang akan dihadapi. Harapannya akan bisa terbangun senyawa yang sinergis antara leadership style sang calon dengan dinamika tantangan yang akan dihadapi.

Dengan kombinasi yang pas itulah, Anda baru bisa berharap memunculkan bintang-bintang pemimpin masa depan seperti Vladimir Putin. Dan dengan itu pula, Anda bisa menebarkan kejayaan nan mengesankan layaknya kebangkitan Rusia Raya.

Jika Anda ingin mendapatkan kaos Facebook, Google dan Manchester United, silakan KLIK DISINI.

Note : Jika Anda ingin mendapatkan file powerpoint presentation mengenai management skills, strategy, marketing dan HR management, silakan datang KESINI.

31 comments on “Pelajaran Leadership dari Vladimir Putin
  1. Bang Yod,
    100% setuju dengan pendapat anda bahwa negara kita mestinya dipimpin oleh seorang bergaya putin. Tapi dengan sistim pemilihan langsung maka rakyat yang menentukan siapa pemimpinnya. Sayangnya dengan keterbatasan informasi dan mungkin juga pemahaman (?), pilihannya bisa jadi kurang pas dengan kebutuhan negara. Mudah2an dengan tulisan bang Yod, kita semua lebih bisa memahami, sekarang ini dan kedepannya.
    Tantangan di HR adalah juga tidak cepat men-judge bahwa seorang karyawan tidak memiliki leadership yang baik kala dia kurang berhasil memimpin suatu departemen (katakanlah demikian), namun memberikan kesempatan kepada si karyawan untuk memimpin di suatu tempat yang sesuai dengan gaya kepemimpinannya. Ini tidak mudah karena akan terkait dengan vacant position juga.
    Terima kasih, salam.

  2. Hmm, pertanyaan yang menarik. Yang pasti salah satu diantaranya adalah Gary Kasparov. Juga Roman Abramovich. Beruntung baron yang menjarah ekonomi Rusia waktu era Boris Yeltsin ini tak punya ambisi politik….dan lebih asyik mengurusi kesebalasan Chelsea.
    Anyway, disini kita bicara “leadership effectiveness”…dan Putin telah membuktikan itu dengan gemilang.

  3. Afith dan Fisto, kata Kwik Kian Gie, yang dibutuhkan negeri ini sekarang adalah figur seperti Pak Harto tapi MINUS korupsi. Pendeknya, figur seperti Putin atau Hu Jintao….dua figur yang telah dengan gemilang membawa keberhasilan bagi negaranya – Rusia dan China. Saya sepakat dengan pandangan Kwik itu.

  4. Ya Om.. Saya setuju. Negara kita butuh figur pemimpin seperti Pak Harto minus KORUPSI. Sedikit otoriter ala Fidelista gpp asal negara makmur, sejahtera, gemah ripah loh jinawi.

    Leadership is not being nice, Leadership is being right and strong.

  5. Makasih mas… artikel ini bagus. Sangat menginspirasi. Menurut saya mas… apabila melihat Indonesia… sistem yang ada sangat berpengaruh dalam kebijakan-kebijakan politik maupun ekonomi. Pemimpin yang kuat saja tidak cukup. Amerika dan barat memiliki tekanan khusus kepada Indonesia. Termasuk kebijakan hutang yang melahirkan letter of intens. Itu membuat Indonesia seperti menyembah Barat. Siapapun presidennya, kecuali berani melakukan revolusi politik dan berani untuk tidak tergantung dengan kebijakan ekonomi/ politik barat. Insya Allah akan kearah lebih baik.
    Btw… gaya kepemimpinan Mahathir… Mao Tse Tung, Lenin, Puttin, terlepas dari gaya keras, kontrol, dan tegasnya serta negatif positifnya… style semacam in membutuhkan kekuatan pribadi yang luar biasa. Kekuatan pemikiran dan fisik yang tentunya orang-orang dekatnya yang benar-benar bisa menjadi tempat melangkah. Pro dan kontra pasti menyelimuti kepemimpinannya. Karena kebijakan2 yang muncul kadang tidak populer karena “keras”nya.

  6. I shall not endorse Fadel Muhammad due to his magic escape from bankruptcy case few years back =p. I’m not familiar with Komarudin Hidayat nor Gumilar Somantri. But I agree with you in supporting Hidayat Nur Wahid and I’m very sure a lot of people agree with me on this.

    His party PKS has been having good record in being ‘clean’ ad trouble free. Remember the last Jakarta governor election? Eventhough finally lost its bid, but as a sole party against the so-called ‘coalition party’, PKS had made one helluva hard time to its opponent =p.

  7. Kalau buat Negeri ini yang jadi masalah … saya rasa bukan hanya di pucuk presiden saja, tetapi juga permainan para ELITE POLITIK di sekitar kekuasaan itu yang bikin negara kita seperti ini.
    Tetapi menurut saya gaya kepemimpinan ‘contigency model’ tersebut cocok sekali buat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan BUMN, untuk membersihkan tikus-tikus didalamnya. Tetapi itu juga dengan catatan jangan sampai ELITE POLITIK bermain lagi disana … jangan sampai kasus Pak (Alm) Cacuk Sudarijanto yang ditarik dari Telkom atau Pak Robby Djohan yang ditarik dari Bank Mandiri terjadi lagi. Arghhhhh … POLITIK ….

  8. ya setuju, yg teges kayak sutiyoso juga bagus, tapi sayang dia g teges sama bawahannya yang korup. Soalnya dia sendiri juga korup. Briefly, seandainyaaa track record sutiyoso dalam penegakan anti korupsi bagus, saya pasti dukung dia. Tapiii kenyataannya sebaliknya. Makanya ada yang ngejulukin ida suharto kecil.

  9. the most important thing is not a wealth country but an excellent country with good foundations.
    revolutions begins with good foundations. Mari kita melihat jauh ke belakang, perjuangan Soe Hok Gie dalam visinya yang sangat revolusioner. Bangsa ini perlu suatu perubahan yang secara revolusi bukan evolusi lagi. Visi/ impian Soe Hok Gie untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang hidup dalam keadilan yang seimbang dan sesuai dengan kebenaran belum tercipta hingga sekarang meskipun dulu ia sanggup menjeritkan visinya yang luar biasa itu dan membuahkan sebuah reformasi saat itu, namun hingga sekarang tak mampu membuat sebuah revolusi di negeri ini.
    Untuk kembali membangun bangsa yang kuat kita harus berani untuk di hancurkan terlabih dulu agar kita bisa membangun kembali pondasi yang kuat untuk “rumah kita” tercinta ini.
    Dan saya kira kita butuh “Vladimir Putin” khas Indonesia untuk mewujudkannya, karena mental bangsa kita sudah terlalu berkarat dengan korupsi, kolusi, nepotisme, anarkisme, separatisme, fanatik sempit akan sebuah ajaran atau agama, MODERN RACISM ( pengucilan etnis tertentu ) dan banyak hal lagi yang saya pikir hanya mampu diatasi oleh orang seperti Putin dan juga Reinkarnasi Soeharto dengan tangan dinginnya (bukan korupsi dan kekejiannya yang kita pelajari tapi manajemen strategi seorang Soeharto)
    Lalu, Apakah mereka mampu untuk bekerja sendiri?
    saya pikir sehebat apapun mereka tapi jika sendirian berjuang hasilnya tentu tak kan berhasil.
    Seperti Soe Hok Gie, ia sukses memberikan imbas pada bangsa ini saat itu tapi ia tak berhasil membuat revolusi dalam negeri ini.
    Maka, mari kita tidak menghabiskan waktu dengan berbicara besar dengan penuh idealisme tapi kita juga menghidupi setiap idealisme yang kita tuntut bagi negeri ini sehingga negeri ini bukanlah bangsa yang bermulut besar tapi bangsa yang berjiwa besar, bermimpi yang besar, dan mendapatkan yang besar pula.

    SALAM REVOLUSI SAUDARA-SAUDARA !!

  10. setuju..!!
    saya bahagia bisa menemukan seseorang yang memiliki kesamaan pikiran dengan saya tentang CEO NKRI.
    NKRI adalah sebuah kumpulan komunitas yang belum teratur, dimana komunitas tersebut memiliki egoisme dan kepentingan sendiri2..kumpulan komunitas disini saya anggap seperti anak Sekolah Dasar..Dimana sangat Masih membutuhkan perhatian kedua orang tua, pendidikan yang sangat banyak tentunya, dan juga sebuah pukulan jika anak tersebut melakukan kesalahan yang bodoh (baik tidak sengaja APALAGI disengaja)..
    sedangkan kepemimpinan beliau, sangatlah lembut..yang mana (jika saya ambil positifnya saja) beliau menerapkan sebuah sikap kepada rakyatnya seperti seorang Mahasiswa (arti Mahasiswa disini menurut saya adalah manusia dewasa yang telah memiliki ilmu dan sedikit pengalaman, sehingga bisa 1. belajar dari kesalahan 2. mengetahui mana yang baik dan buruk bagi dirinya untuk masa depannya 3. telah dipercaya oleh orang tuanya untuk bisa mengambil sebuah keputusan sendiri, yang pada akhirnya.. 4. menjadi manusia yang bertanggung jawab.
    padahal, kita masih seperti anak kecil yang ingusan..
    kalo boleh saya berpendapat, kepemimpinan Almarhum Bpk. Soeharto adalah terbaik sampai saat ini, mungkin beberapa elemen memandang orang yang saya kagumi (Alm. Soeharto) adalah orang yang korup, tapi liat donk sisi positifnya..saya sebagai orang awam dan bukan orang pemerintahan akan menyebutkan beberapa kemajuan semasa kepimimpinan beliau yang nomor satu; tidak ada demo bodoh 2. disegani oleh negara2 di dunia 3. Bapak Pembangunan Nasional

    lepas dari itu semua..
    seandainya negara2 di dunia ini diumpamakan sebagai sebuah klub sepak bola..saya merekomendasikan vladimir putin sebagai pelatih di Musim ini..

    dan skali lagi..
    terima kasih, anda adalah orang yang brilian yodhia.. (Mohon Maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan nama dan jabatan)

  11. 1. Leadership is not being nice, Leadership is being right and strong
    2. contingency model of leadership

    1+2 —-> Sometimes ,a narsis leader is better choise , isn’t it ?

  12. kok yang udah hilang dicari lg mas………..pak.HARTO tu tinggal nama…..semua pengguasa politik di negara kita mas…takut mA namanya.. KEMISKINAN.. makanya pade korupsi….g mana kalau suatu ssat nnti semua pemimpin atau yang udah punya kekuatan di kumpul mas…kita buat meeting mas…ok……….

  13. Indonesia memang chaos! Perlu pemimpin yang disiplindan keras, namun untuk sekarang
    biar Indonesia menambah sejarah daftar kepresidenan agar menjadi pengalaman penting bagi bangsa ini!
    Tak ada yang tahu kejadian dihari esok.
    Yang jelas kelemahan kita dibandingkan negara maju diEropa adalah kurangnya pengalaman!

  14. Aku lebih suka mencalonkan Anies Baswedan sebagai calon Presiden 2009. Selain visioner dan disiplin, dia juga cerdas. Pernah masuk 100 besr tokoh muda di dunia yang sangat potensial.

  15. Setuju Mas Yodia, kita butuh pemimpin yang “sangat” tegas tanpa kepentingan politik partai. Kekuatan legislatif saat ini sudah melampaui batas trias politica. Mungkin sosok Putin atau Ahmadinejad dapat menjadi contoh pemimpin kita yang akan datang.

  16. Sependapat dengan Mas Abhiem. Anies Baswedan memenuhi kriteria yang akan menjadi Lee Kuan Yew Indonesia.

  17. Setahu saya para pendiri bangsa kita tidak mengarahkan negara ini menjadi demokrasi, mungkin mereka sadar kita majemuk. Pendahulu negeri ini juga mungkin menyadari jika tidak pigur pemersatu yang kuat dan sistem kenegaraan yang kuat maka kita seperti era refomasi ini. Saya sependapat jika perlu model pemimpin spt pak harto, jelas terasa peran negara dalam mengurusi rakyat cuma sayang ternoda kkn

Comments are closed.