I Play Violin Like I Make Love

I play violin like I make love, demikian salah satu judul lagu dalam album musik gubahan pemain violis cantik rupawan bernama Maylaffayza. Sebuah judul yang provokatif dan sekaligus menggetarkan sukma. Namun kalimat itu sendiri sesungguhnya dengan tepat menggambarkan prinsip kunci dalam kinerja insani. Sebuah prinsip yang menyebutkan bahwa untuk meraih sebuah penampilan puncak (peak performance), kita memang harus menghampiri setiap panggilan tugas dengan penuh letupan gairah yang membuncah dan dengan lenguhan rasa passion yang meluruh.

Sebab hanya dengan itulah, dengan antusiasme yang menggelora dan passion yang menghujam, kita kemudian baru bisa mereguk sebuah puncak prestasi. Pakar kinerja insani, Mihaly Csikszen menyebut momen orgasmik semacam itu sebagai “flow” atau sebuah situasi dimana tak ada lagi “batas” antara insan dengan tugas yang tengah dilakoni; sebuah momen dimana seorang insan “mengalir bersama” dan “bersetubuh-menyatu” dengan pekerjaannya. Dalam momen yang mengalir penuh nikmat dan joyful itu, lalu akan terbentang puncak produktivitas dan prestasi kerja yang istimewa dari seorang individu.

Dalam situasi flow, seorang individu akan terlibat total dengan pekerjaannya; dan menganggap setiap jejak tantangan yang ada didalamnya sebagai bagian dari petualangan yang menggairahkan. Dalam prosesnya, ia kemudian bisa menghabiskan waktu berjam-jam didalamnya, tanpa pernah merasa lelah. Ia seperti selalu mendapat inner motivation (motivasi dari internal dirinya) untuk menuntaskan pekerjaan yang ada didepannya dengan penuh kesempurnaan. Ia mengerjakan tugas itu bukan semata karena instruksi atasan atau pihak lainnya; namun lebih karena dipicu oleh spirit dalam dirinya untuk menuntaskan pekerjaan itu dengan optimal. Ia akan merasa puas setiap kali bisa menyelesaikan pekerjaanya dengan prima.

Pertanyaan berikutnya adalah : elemen apa saja yang layak diperhatikan untuk membuat sebuah pekerjaan atau profesi menjadi hamparan taman yang mampu membius kita dalam situasi “flow”. Disini mungkin kita bisa meminjam temuan dari Hickman and Oldham. Melalui serangkaian riset empiris yang panjang, mereka menemukan adanya lima dimensi kunci yang layak dicatat manakala kita hendak merajut sebuah “meaningful job”.

Dimensi yang pertama adalah apa yang disebut “skill variety” atau variasi ketrampilan yang diperlukan untuk menuntaskan sebuah pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang monoton dan repetitif acap gagal menghadirkan sebuah tantangan tugas yang indah untuk dilakoni. Sebaliknya, makin kompleks pekerjaan itu, dan makin tinggi variasi skill yang diperlukan untuk mengerjakannya, maka makin besar peluang kita untuk membuat sebuah pekerjaan menjadi penuh makna.

Dimensi yang kedua adalah “task identity” atau identitas tugas/pekerjaan yang tengah kita lakoni. Identitas disini artinya sejauh mana kita mengetahui posisi tugas itu dalam sebuah alur proses. Kita akan lebih berpeluang membangun pekerjaan yang inspiring, manakala kita mengetahui relasi tugas yang tengah kita kerjakan dengan bagian lainnya, dan juga tahu dimana posisi tugas itu dalam alur proses bisnis di tempat kita bekerja.

Dimensi yang ketiga adalah “task significance”. Apakah tugas yang tengah kita kerjakan merupakan sesuatu yang penting, dan memiliki dampak yang signifikan terhadap hidup matinya sebuah operasi bisnis? Atau hanya sekedar pekerjaan tempelan yang hampir tak pernah punya pengaruh besar terhadap masa depan organisasi?

Dimensi yang keempat adalah “autonomy”. Kita kerapkali gagal mengusung sebuah pekerjaan yang menggairahkan manakala kita memiliki otonomi yang sangat terbatas, tidak bebas mengekspresikan gagasan kita, dan justru terus dipasung oleh birokrasi dan gaya atasan yang otoriter. Sebaliknya, makin besar otonomi dan freedom yang bisa kita rengkuh, maka kita cenderung akan mampu merajut kinerja yang lebih kreatif dan produktif.

Dimensi yang terakhir adalah “feedback”. Kapan terakhir kali Anda mendapat umpan balik yang inspiring dari atasan Anda – sebuah umpan balik yang produktif dan mendorong Anda untuk terus berkarya dengan optimal? Oldham dan Hickman bilang, umpan balik yang konstruktif dan disampaikan secara reguler akan mampu menghantarkan kita dalam sebuah perjalanan indah menemukan a meaningful job.

Demikianlah lima dimensi kunci yang layak kita perhatikan manakala kita hendak merajut kehadiran “flow” dalam bentangan kehidupan profesional kita. Indah rasanya kalau saja kita bisa merasakan kehadiran flow ini dalam bingkai pekerjaan kita. Sebab dengan itu, kita mungkin bisa membalas desahan nafas Maylaffayza sambil meniupkan bisikan lirih : “Maylaf, I do my job like I make love too…..”.

Note : Jika Anda ingin mendapatkan kaos Facebook, Google, dan Manchester United, silakan klik DISINI.

18 comments on “I Play Violin Like I Make Love
  1. Mungkin untuk sampel yg bapak maksud sedikit lebih mudah. Ia mempekerjakan diri sendiri sesuai hasratnya. Untuk seorang pekerja yg dipekerjakan menjadi lebih sulit. Dan yang tersulit bagi pekerja ada di dimensi terakhir…, feedback. Soalnya feedback yg paling inspiring lagi sulit sekarang. Naik gaji. Yg lainnya sih bisa2nya kita aja adaptasi, berkreasi, n memotivasi diri.

  2. Sepertinya Kelima dimensi itu baru bisa kita dapatkan jika kita menjadi key person di perusahaan.
    Tapi jika kita hanya menjadi warga kelas dua di kantor,sepertinya atasan enggan memberikan kelima dimensi trsbt

  3. Bang Yod…kalau menurut saya sih simple saja untuk menghadirkan a meaningful job.
    tergantung kita memandang kerjaan sebagai kewajiban atau kebutuhan. makan, minum, making love, even ibadah sekalipun akan terasa hambar bila kita masih memandang sebagai kewajiban.
    laiknya penolakan si kecil saat disuruh ibundanya makan. mengapa? karena si kecil merepresentasikan “saya tidak butuh makan… saya mau bermain bunda..!”.(Selamat merayakan hari Bunda).
    at least 2 thumbs untuk artikel bang yod ini… (and menurut saya artikel ini wajib dibaca oleh atasan kita:)
    Rgds,

  4. Seperti Richard Feynmann dalam bukunya (terjemahan) Cerdas Jenaka ala Nobelis Fisika.

    Beliau tidak pernah tanggung ketika mengerjakan sesuatu. Mulai dari mengamati perilaku semut seharian, melakukan hobi baru : (iseng) menjebol brankas, hingga mengadakan pameran tunggal lukisannya sendiri.

    Totalitasnya sungguh luar biasa. Inspiring. Dan setiap ia melakukan apa yang menarik minatnya itu, seolah2 ia pun “tersedot” ke dalamnya. Terutama ketika menjelaskan teori-teori fisika.

  5. tq mas Erik. Yang terpenting tidak saja bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang joyful, tapi bagaimana qta jg bisa jadi inspiring people bagi yang lainnya. Problemnya, dlm konteks apa qta memahami pekerjaan kita; kewajiban, kebutuhan, atau kesenangan. Artinya kebersatuan dengan pekerjaan, diri, dan Tuhan adalah hal yang prinsip untuk lahirkan manusia inspiratif… Inspired by holistic person

  6. skill variety yang mas yodhia sebutkan menurut saya kurang tepat karena kompleks/monoton/repeatif tidaknya suatu pekerjaan tergantung dari individu pekerja itu sendiri ada yang lebih maksimal jika diberikan tugas yg bervariasi, adapula yang senang dan lebih maksimal jika dirinya diberikan pekerjaan yang repeatif …tergantung tingkat imajinasi orang tersebut
    tulisan mas yodhia itu menurut saya, bukan kita menunggu atasan kita memberikan itu semua tapi 5 point diatas memang sudah tertera dalam jati diri pekerjaan kita, dalam artian berapa besar kita memahami fungsi dan tugas pekerjaan kita…
    1.kita harus bisa memahami apakah tugas kita monoton atau bervariasi, senangkah kita dengan itu?
    2.kita harus mengerti benar fungsi dan tugas kita di perusahaan sehingga kita memahami benar betapa pentingnya pekerjaan kita bagi perusahaan dan rekan kerja kita, percayalah bahwa jika kita tidak ada maka perusahaan akan limbung..dengan begitu kita akan lebih termotivasi dengan sendirinya.(pekerjaan anda adalah elemen penting perusahaan)
    3.apapun pekerjaan kita pastinya memiliki tingkat signifikansi tertentu dengan pekerjaan atau divisi lainnya , tentunya kita tidak ingin menjadi objek perusak keharmonisan kerjasama dalam perusahaan dimana tempat kita bekerja bukan?oleh karena itu beresemangatlah…
    4.jika kita diberikan otonomi apakah kita mampu?jika memang mampu tunjukkanlah dalam lingkungan terdekat anda bahwa anda mampu berimajinasi dimana imajinasi itu mampu membawa arah perusahaan yang lebih baik. dengan sendirinya anda akan menjadi orang paling menonjol di lingkungan anda dan dengan begitu bos anda akan lebih memperhatikan setiap gerak gerik kita atau mungkin divisi lain yang melihat betapa potensialnya diri anda
    5.feedback tidak hanya datang dari atasan, tetapi feedback bisa datang dari diri kita sendiri sering-seringlah mengevaluasi pekerjaan anda sendiri, kritiklah setiap saat pekerjaan atau diri anda sendiri, carilah kelemahan dan perbaikilah …niscaya anda akan menjadi seorang individu atau pekerja yang lebih baik. (sering kali tanpa kita sadari kita terlalu banyak mengeluh dan menyalahkan pihak lain ketika ada kegagalan atau kekurangan)
    I like the job and the job like me….. 🙂

  7. Saya jatuh cinta dengan konsep flow ini ketika membaca buku Goleman dan Maslow saat masih SMA dulu, 10 tahun yang lalu. Konsep yang sangat cantik.

    Membuat saya terus bertanya, “Aktivitas apa yang bisa menyedot saya ke dalamnya dengan cinta yang menggelora? Bagaimana cara agar saya mengalami ekstase seperti itu?” Hingga akhirnya saya memilih Psikologi sebagai jalan hidup.

    Yup, sepakat dengan mas Faizal. Untuk menemukan meaningful job, tidak harus menunggu atasan ataupun perusahaan. Jadilah pekerja yang proaktif. Jika merasa empowerment untuk kita kurang, tidak ada feedback yang konstruktif, pekerjaan tidak variatif dan ‘cuma pekerjaan tempelan’, ya make the best of it.

    Toh jika kita do our best, suara kita akan didengar kok. Dan penghargaan, naik gaji, dll hanya akan menjadi konsekuensi logis dari apa yang telah kita lakukan.

    Nah, ini juga PR bagi para “penjaring manusia” untuk mendapatkan orang2 yang mampu melihat masalah menjadi peluang, mencintai pekerjaannya, dan dengan peneropongannya itu, kelak akan lahir outstanding people yang mampu meningkatkan bisnis perusahaan.

    *Bang Yodh, alangkah lebih renyahnya konsep 5 elemen tersebut untuk dikunyah jika diberi contoh2 ya. Seperti tulisan Bang Yodh biasanya.

  8. Dulu, waktu kuliah. Saya mengenal orang yang selalu menikmati apa yang dia lakukan. Bahkan baginya liburan adalah pekerjaan itu sendiri. Ketika sebagian main, dia sibuk utak atik komputer. Tapi memang, akhirnya dia lulus cum laude, dan sekarang karir yang bagus sedang dia tapaki.. Tapi kenapa orang-orang seperti cenderung perfeksionis yang kurang bisa menerima sedikit kekurangan dan cenderung pemaksa. Tapi memang dalam hati saya mengakui dia memang juara..

    Tapi sekarang aku mengenal sosok yang lebih bisa dijadikan role model. Tipe ikhlas dalam bekerja, melakukan semua sampai akhir, mengerjakan semua sebaik-baiknya, bahkan dia cenderung tanpa tendensi apa-apa. Dia juga lulusan terbaik dari kampusnya. Sekarang banyak tugas menghampirinya. Dia juga tipe juara..

  9. 5 point itu bener2 yang saya butuhkan banget sebagai pekerja…hanya saja seperti halnya manusia….perusahaan dalam hal ini environmentnya kadang tidak mengijinkan untuk mendapatkan semuanya..biasanya atasan kita yang jadi kendala

  10. asyiik banget kalo sampai ke level yang pak yodhia bilang:“mengalir bersama” dan “bersetubuh-menyatu” dengan pekerjaan kita. bukan cuma soal sukses atau tidak, tetapi yang lebih penting, kita bisa lebih memaknai dan menikmati pekerjaan kita…

  11. I do my job like I make love………baru dapat terujud jika penempatan sdm sesuai dengan kompetensi dan minatnya. layaknya pasangan yang kawin paksa tentu akan sulit mencapai puncak bahagia sekalipun harus ” make love” karena keadaan (suami istri). Pekerjaan juga demikian, jika seseorang memang tak menyintai pekerjaan dan ia hanya terpaksa melakukan semua itu tentu saja ia tak akan pernah mencapai orgasmus prestasi dalam bekerja. waktu demi waktu akhirnya sikon ini hanya akan melahirkan bayi-bayi kinerja yang prematur, down syndrome, retardasi mental atau sejumlah kelainan lainnya karena bapak dan ibunya terpaksa kawin dan bercinta dengan penuh keterpaksaan juga. Untuk itu, buat yang berkecimpung di dunia rekrutmen, seleksi dan penempatan tentu saja hal ini akan menjadi PR yang ukup serius.
    Pekerjaan dan pekerja layaknya pasangan pecinta yang saling support, saling memberi dan menerima, saling menyintai dan berjuta saling2 lainnya. Pinjam istilah ……….tak adil rasanya kita memaksa angsa untuk bertelur emas terus jika makanan angsa kurang gizi dan kandang angsa juga tak layak (semoga para pekerja lebih sejahtera)

    Saleum dari Aceh

Comments are closed.