Biografi dan Profil Yodhia Antariksa – Blogger Bisnis Legendaris dan Konsultan Manajemen SDM Ternama

Dalam kisah yang lumayan renyah ini, kita akan melacak profil kehidupan seorang Yodhia Antariksa – sejak masa kecil hingga menjelma menjadi konsultan manajemen SDM yang andal, dan juga kemudian menjadi Blogger Bisnis Terbaik No. 1 Se Indonesia melalui blognya yang legendaris di www.strategiManajemen.net

Yodhia Antariksa lahir dan dibesarkan di desa Pekajangan, sebuah desa yang ramai, sekitar 7 km arah utara kota Pekalongan. Ia menghabisakan pendididan dasar hingga SLTA di kota batik ini.

Tidak ada sesuatu yang istimewa saat dirinya menghabiskan usia kecil dan remaja. Mungkin kecuali satu hal. Yakni ketekunan membaca yang sudah mulai ia pupuk sejak usia sangat dini.

Sejak sekolah kelas 2 SD, Yodhia kecil sudah rutin membaca surat kabar nasional seperti Kompas dan Sinar Harapan. Rutin layaknya orang dewasa.

Sejak saat itu, minat membacanya kian menjulang.

Ia ingat membaca secara rutin jurnal Prisma saat sekolah SMP, juga buku-buku tentang sejarah perang dunia II dan lain-lainnya (jurnal Prisma adalah jurnal yang dulu sangat legendaris dan ditujukan untuk para mahasiswa pasca sarjana).

Minat membaca yang kuat ini, dia akui memberikan dampak yang amat panjang dan mendalam bagi kehidupan profesionalnya di kelak kemudian hari.

Selepas SLTA di SMA Negeri Kajen, Pekalongan, Yodhia melanjutkan kuliah di jurusan Manajemen, Universitas Islam Indonesia di Jogjakarta.

Di Fakultas Ekonomi UII inilah, segala potensi Yodhia – tentang dunia menulis, dunia membaca, dan dunia aktivisme intelektual – tumbuh dengan pesat.

Sajak awal kuliah Yodhia Antariksa telah melibatkan diri dengan kegiatan pers kampus/mahasiswa. Melalui kegiatan di pers kampus inilah, ia terus mengasah ketrampilan menulisnya.

Dan di saat itulah, tepatnya ketika kuliah tingkat tiga, tulisan-tulisan Yodhia Antariksa bisa masuk dan dimuat di koran dan majalah nasional seperti koran Bisnis Indonesia, Republika dan majalah Warta Ekonomi.

Kelak ketika diwawancara untuk tes mendapatkan beasiswa kuliah S2 di Amerika, panel juri-nya terkesan dengan prestasi Yodhia dalam menulis di beragam koran/majalah nasional ini (disaat ia masih menjadi mahasiswa). Mungkin ini salah satu mengapa ia bisa mendapatkan beasiswa prestisius Fulbright Scholarship untuk belajar S2 di Amerika Serikat.

Terus terang selama kuliah Yodhia lebih banyak belajar secara otodidak dan membaca buku secara mandiri.

Yodhia sendiri jarang masuk kuliah dan merasa tidak mendapatkan banyak ilmu di ruang-ruang kelas. Itulah kenapa ia lebih suka membaca sendiri buku-buku yang bermutu di perpustakaan. Minat dan kegemaran membacanya juga kian melambung.

Di saat-saat kuliah inilah Yodhia membaca ratusan buku, bukan hanya tentang manajemen dan strategi bisnis; namun juga tentang filsafat, budaya, agama dan pendidikan.

Setelah malang melintang dalam dunia aktivisme kampus – sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk memasuki dunia kerja, Yodhia akhirnya lulis pendidikan S1 pada tahun 1995.

Cukup panjang, sebab dirinya  masuk kuliah di tahun 1989 – itu artinya Yodhia  menyelesaikan kuliah dalam waktu enam tahun. Lama karena dia terlalu asyik dengan dunia aktivitisme kampus, lengkap dengan segala idealismenya.

Namun Yodhia tidak menyesal dengan lamanya waktu untuk selesai kuliah ini. Sebab ia bilang : pengalaman menjadi aktivis itu mungkin tidak kalah berharga – atau bahkan mungkin lebih berharga – dibanding pengetahuan yang dia dapatkan dari bangku kuliah untuk menjadi sarjana S1.

Setelah sempat menjadi peneliti lepas pada lembaga riset manajemen di Jogjakarta, Yodhia  kemudian hijrah ke Jakarta pada bulan November 1995.

Setelah melakukan perjuangan berat mengirim puluhan surat lamaran kerja, selama kurang lebih tiga bulan, akhirnya Yodhia Antariksa mendapat panggilan tes dari Bogasari Flour Mills, sebuah anak usaha dari Group Indofood.

Setelah melalui serangkaian tes, ia resmi diterima sebagai peserta program management trainee di perusahaan tersebut, tepat pada bulan Maret 1996.

Setelah melalui program management trainee selama enam bulan, ia kemudian memilih untuk ditempatkan di bagian Training and Development.

Pilihan ini kemudian kelak akan mempengaruhi perjalanan karir Yodhia Antariksa selanjutnya.

Sejak saat itulah dia memutuskan untuk bergerak dan berkiprah di bidang Human Resource Development (ketika kuliah S2, Yodhia juga mengambil jurusan ini).

Sejak awal bekerja, Yodhia sudah punya rencana hanya akan bekerja selama dua – tiga tahun, sebelum kemudian melanjutkan kuliah S2.

Yodhia Antariksa memang berniat sekolah S2 namun tidak langsung setelah S1 tapi setelah bekerja beberapa tahun. Ia pikir ini lebih bagus supaya dirinya punya pengalaman kerja terlebih dahulu. Dan juga tahu tentang dunia kerja itu seperti apa.

Sejak awal Yodhia berencana sekolah S2 di luar negeri, entah di Singapore, Australia, Inggris ataupun USA. Faktor biaya memang yang cukup menjadi tantangan; karena itu ia juga punya opsi untuk sekolah S2 di dalam negeri, dengan pilihan di IPMI Kalibata atau Prasetya Mulya.

Namun alhamdulilah, setelah melalui saringan dari 4000 pelamar, Yodhia terpilih sebagai salah satu penerima Beasiswa Fulbright untuk sekolah gratis S2 di Amerika Serikat. Syukur Alhamdulilah.

Yodhia Antariksa menduga dirinya mendapat beasiswa lebih karena kiprahnya ketika aktif di lembaga pers kampus dan juga karena banyaknya tulisan dia yang dimuat di media nasional saat masih menjadi mahasiswa.

Jadi bukan lantara faktor akademik, sebab secara akademis nilai IP Yodhia ndak tinggi-tinggi amat. Dewan juri sendiri mengatakan partisipasi dalam beragam kegiatan masyarakat, ataupun kegiatan ekstra kurikuler dan sejenisnya lebih menjadi pertimbangan dalam pemberian beasiswa.

Begitulah, setelah resmi mendapatkan surat dari Fulbright, Yodhia Antariksa resmi resign dari pekerjaan yang telah ia geluti selama tiga tahun.

Yodhia Antariksa memutuskan untuk kuliah S2 di jurusan HR Management, sebab dia berencana untuk menjadi ahli/konsultan dalam bidang tersebut. Yodhia kemudian mendaftar dan diterima di Program Master of Science in HR Management, Texas A&M University, USA.

Selain dapat beasiswa untuk biaya kuliah dan biaya hidup, Yodhia juga masih dapat uang tambahan (gaji) sebab ia juga bekerja sebagai asisten peneliti di kampus tersebut. Alhasil ketika pulang, Yodhia bukan hanya dapat gelar S2 gratis, tapi masih juga membawa tabungan uang yang lumayan banyak. Sekali lagi, puji syukur amat sangat kepada Allah SWT.

Yodhia Antariksa kuliah dan menjalani pendidikan master program di Amerika pada tahun 1999 hingga awal 2001. Ia menikmati masa-masa ketika kuliah di Amerika, meski kemana-mana ia cuma naik sepeda.

Yang ia paling sukai adalah perpustakaan kampusnya yang sangat besar (10 lantai!) dan sangat lengkap koleksinya. Yodhia benar-benar menikmati saat membaca ratusan buku dan jurnal yang tersedia di perpustakaan tersebut.

Yodhia Antariksa kembali dari sekolah Master of HR management, Texas A&M University, USA pada bulan Januari 2001, dan kemudian menikah pada bulan Februari 2001. Kini Yodhia Antariksa sudah memiliki dua anak yang menginjak remaja.

Selanjutnya, pada bulan Maret 2001 Yodhia diterima bekerja sebagai konsultan manajemen di Ernst and Young, perusahaan konsultan asing yang ada di Jakarta.

Sejak bekerja di Ernst and Young, Yodhia sudah bermimpi untuk mendirikan perusahaan sendiri dalam bidang jasa konsultasi manajemen SDM. Yodhia merasa pengalaman bekerja di EY merupakan bekal yang berharga untuk terjun membangun perusahaan konsultan sendiri.

Yodhia Antariksa hanya bekerja selama dua tahun di Ernst and Young, dan tepat bulan Maret 2003 Yodhia  pindah ke perusahan konsultan manajemen lokal, bernama GML Performance Consulting. Perusahaan konsultan tersebut relatif kecil, karyawannya saat ia bergabung hanya terdiri dari sembilan orang.

Namun perusahaan konsultan ini benar-benar hebat – bukan hanya dalam hal mendapatkan klien, namun juga dalam memberikan kesempatan bagi para konsultannya untuk berkembang secara maksimal.

Dengan bekal pengalaman dan networking yang ia peroleh dari GML pula, akhirnya Yodhia Antariksa memutuskan untuk mendirikan usaha konsultan manajemen secara mandiri. Menjadi entrepreneur, punya usaha sendiri dalam bidang konsultan manajemen SDM. Dreams come true.

Begitulah, tepat pada bulan Agustus 2004, Yodhia Antariksa resmi resign dari GML, dan kemudian membangun usaha sendiri – dalam bidang konsultasi manajemen SDM. Bulan dan tahun itu akan dia kenang sebagai salah satu tonggak paling penting dalam kehidupan profesional seorang Yodhia Antariksa.

Alhamduliah, usaha konsultan manajemen SDM Yodhia Antariksa bisa terus berkembang. Dibawah bendera perusahaan bernama PT. Manajemen Kinerja Utama, dia bisa membangun usaha konsultan manajemen yang profitable. Sejak tahun 2004 hingga sekarang, alhamdulilah profit usaha ini bisa menghasilkan income yang sangat memadai.

Sejak tahun 2004 hingga sekarang, perusahaan konsultan milknya telah mengerjakan projek pengembangan kinerja SDM untuk lebih dari 100 klien (baik dari BUMN, perusahaan multinasional, swasta nasional ataupun berbagai lembaga pemerintahan).

Demikianlah narasi yang cukup detil tentang perjalanan karir seorang Yodhia Antariksa. Semoga bisa memberikan inspirasi kepada segenap pembaca.