Lion Air : Dilema antara Ambisi Bisnis dan Safety Management

Insiden nyemplungnya pesawat Boieng 737 seri 800 milik Lion Air tak pelak menempatkan airline agresif itu dalam sorotan dunia penerbangan global.

Baru beberapa minggu lalu, Lion Air mengguncang bisnis airline dunia kala memesan pesawat Airbus sebanyak 230 biji (satu unit harganya sekitar Rp 700 milyar). Jauh hari sebelumnya, mereka juga mengehentak markas besar Boeing saat memutuskan memborong pesawatnya sebanyak 178 unit (Boeing 737 seri 900 ER).

Ambisi bisnis Lion Air memang melambung jauh di langit. Namun tanpa ditopang oleh kepiawaian meracik standar safety kelas dunia, mungkin slogan mereka kudu diganti. Bukan lagi we make everyone fly. Tapi we make everyone nyemplung ke laut.

Insiden melesetnya Boeing Lion Air di laut dekat bandara Ngurah Rai Bali sejatinya mengandung sejumlah pelajaran krusial tentang safety management. Tanpa perbaikan yang segera dan menyeluruh, tragedi fatal a la Adam Air mungkin tinggal menunggu waktu. Ambisi bisnis Lion Air yang masif bisa ikut jatuh berkeping-keping kalau tragedi mematikan benar-benar terjadi.

Merujuk pada ilmu safety management, berikut tiga pelajaran penting yang mungkin bisa dipetik dari insiden Lion Air itu.

Lesson # 1 : Small and Medium Incidents Lead to Fatal Indicents. Para pakar safety di seluruh dunia tahu dengan prinsip ini : insiden kecil adalah simptom, atau gejala-gejala awal bahwa ada sesuatu yang tak beres dalam manajemen keselamatan sebuah organisasi. Dan biasanya, gejala awal ini merupakan “pra kondisi” sebelum insiden fatal yang mematikan menyergap.

Dulu kita ingat, sebelum pesawat Adam Air jatuh secara dramatis di Laut Majene, mereka mengalami sejumlah insiden pendahuluan. Yang paling mencolok adalah kesasarnya pesawat mereka hingga landing di sebuah bandara antah berantah (lantaran kegagalan sistem navigasi).

Tanpa perbaikan yang komprehensif, insiden kecil dan medium itu pasti akan benar-benar mengarah pada tragedi yang lebih fatal. Manajemen Lion Air harus segera berbenah dalam aspek safety (meski banyak orang skeptis).

Lesson # 2 : Human Error is No 1 Cause of Airplane Crashes. Studi mengenai ribuan kecelakaan pesawat menunjukkan bahwa faktor human error bertanggung jawab atas lebih dari 60 % airplance crash (56%  karena pilot, dan selebihnya faktor kelengahan manusia dibagian menara kontrol dan di bagian perawatan mesin).

Dan persis disitu masalahnya : sudah lama negeri ini kekurangan ribuan pilot trampil (dan juga ahli perawatan mesin pesawat serta tenaga air traffic control).

Dalam kasus Lion Air, kekurangan itu mungkin kian kronis. Ratusan pesawat baru mereka akan datang bak gelombang. Tanpa jumlah pilot yang memadai, siapa yang akan menerbangkan Boeing itu?

Akhirnya, pilot-pilot yang ada “terpaksa” harus terus lembur demi melayani lonjakan jumlah pesawat. Bekerja lembur menjalankan pesawat hampir pasti membawa keletihan fisik yang kronis.

Dan pilot yang terlalu letih niscaya akan membuat peluang insiden crash menjadi kian terbuka. Sebab pilot juga manusia……

Lesson # 3 : Safety is Way of Life. Sudah jelas, berbagai perusahaan yang hebat dalam safety pasti berasal dari mereka yang menganggap safety sebagai bagian dari way of life, bagian dari budaya organisasi mereka.

Karena menjadi way of life, maka perusahaan itu mati-matian memberikan fokus, prioritas, budget dan energi agar zero accident bisa terwujud.

Lion Air menghadapi dilema disitu. Kita tahu owner Lion Air, Rusdi Kirana, adalah sosok yang penuh ambisi bisnis. Ia punya mimpi Lion Air suat saat harus memiliki 1000 unit pesawat.

Sayangnya, ambisi yang melambung itu kadang mengabaikan faktor safety. Apalagi mereka juga dituntut untuk terus efisien demi menjaga harga tiket yang murah (jujur, harga tiket mereka kadang “tidak lagi rasional” alias terlalu murah hingga hampir tak mungkin mereka bisa untung darinya).

Pada sisi lain, safety sebagai budaya kerja butuh ongkos yang tidak sedikit. Juga waktu yang panjang; dan energi yang terus fokus. Kalau tiketnya terlalu murah, dari mana mereka punya budget untuk safety management yang andal?

Demikianlah, tiga pelajaran berharga tentang safety management yang bisa dicatat. Apapun, Lion Air harus melakukan pembenahan radikal dan menyeluruh tentang aspek safety management mereka.

Tanpa itu, suatu hari mungkin kita akan membaca headline seperti ini : Pesawat Lion Air dengan 210 Penumpang Jatuh dan Hilang di Tengah Belantara Hutan Kalimantan.

Related Post

3 Peristiwa Bisnis yang Paling Layak Dikenang di Tahun 2017 Sebentar lagi tahun 2017 akan segera meninggalkan kita. Momen bisnis apa saja yang layak dikenang dan dicatat di sepanjang tahun yang akan segera berk...
4 Amazing Business DECISIONS in Indonesia Business DECISIONS. Pada akhirnya, parade sejarah bisnis yang begitu panjang di jagat ini selalu berawal dari sebuah keputusan. Atau keberanian untuk...
Business War : Taman Kematian bagi Bad Management Skills Padang kurusetra bernama perang bisnis itu selalu saja meninggalkan duka bagi mereka yang terluka. Microsoft sudah lama mengalami stagnasi. Dell kini...
39 comments on “Lion Air : Dilema antara Ambisi Bisnis dan Safety Management
  1. ulasan yang menarik Pak Yod, dari sudut pandang safety management. Hanya saja memang kita menunggu KNKT untuk memberikan keterengan mengenai penyebab pesawat baru itu bisa nyemplung ke laut.

  2. Jadi teringat film “flight” nya Denzel Washington, di mana pilot mabok mampu mendaratkan pesawat meskipun dalam dunia nyata almost “impossible”.

    Dalam banyak kejadian kecelakaan pesawat disebabkan oleh banyak faktor pendukung. Alexander Yablontsev -Pilot Sukhoi 100 – yang memiliki lebih dari 14 ribu jam terbang tapi mengabaikan peringatan “Terrain Ahead, Pull Up” saat pesawatnya menabrak gunung salak, di samping radar jakarta yang belum memiliki “Minimum Safe Altitude Warning” karena gunung Salak bukan jalur penerbangan komersial.

    So kesalahan sekecil apapun memegang peranan sangat penting dalam industri ini.

    Emang metro mini yang kalau mogok tinggal di derek. Mari sama-sama berdoa tidak terjadi insiden yang lebih besar dalam industri penerbangan kita. Amien.

  3. semoga mendapat perhatian dari management Lion Air….agar perihalt yang bung Yuda khawatirkan tidak menjadi kenyataa…..semoga…..

  4. Indonesia bikin mobil nabrak tebing.
    Nyupiri pesawat nyemplung.
    Dokter bikin putus jari anak kecil.
    Ini mgkn hasil dr mahasiswa yg selalu bilang : “Ayolah relax, kita hang out keluar…”
    Q paling ga suka liat mahasiswa duduk2 d kampus n ngobrolin yg ga jelas.
    Dan paling banter bikin usaha gorengan ato kopi. Org teknik koq bikin usaha kopi n gorengan…

    Ayolah mahasiswa indonesia… belajar yg bener biar bs bikin produk yg bagus n aman.
    Buang jauh2 mslh soft skill. Soft skill itu mudah n secara natural datang sendiri.
    Jgn baca buku2 motivasi, bikin otak tumpul. Q dh buang duit jutaan wat buku2 motivasi, n dulu buku2 itu dh Q bakar/Q buang n sisanya Q loak.
    Hal yg paling susah adl duduk n belajar hal teknis.
    Buang semua distractions, duduk, belajar, membangun dana, membangun lab pribadi.

  5. Banyak orang bercita-cita menjadi seorang pemimpin (tinggal main perintah aja semua beres) namun bahaya juga kalo setiap orang menjadi seperti itu siapa nantinya yang akan mau melaksanakan??

    Sama halnya dengan Safety, semua tau dan sadar pentingnya safety adalah untuk diri sendiri dan terkadang kita melupakan hal itu…

    Pengalaman saya menangani masalah safety itu perlu kesadaran individu untuk mengetahui pentingnya safety dan kemauan melaksanakan safety. (Tau dan mau)

    Terimakasih

  6. turut berduka atas musibah Lion air di Bali, semoga kedepannya tidak ada lagi musibah seperti ini.
    paparan bang Yod juga telah membuka mata, ternyata owwhh banyak juga peluang bisnis yang bisa dikembangkan untuk mendungkung zero accident

    terimakasih atas perpesktif nya bang Yod

  7. mantap tulisan mas yodhia, kenapa kok tidak ngisi di media massa/cetak? soalnya saya belum pernah lihat. semoga sukses untuk kita semua

  8. Billy (11) : ya, sejatinya tulisan ini bukan analisa teknis penyebab kecelakaan….namun lebih ke soal “Safety Management” dan “Safety Culture”.

    Kalau soal teknis, memang itu domain KNKT.

    Namun disini sebenarnya ada yang lebih serius daripada soal teknis : yakni absennya “strong safety culture” dalam jajaran manajemen Lion.

    Samsul (12) : cukup nulis di blog ini saja pak…..

  9. bagaimana SDM Penerbangan di Indonesia ? expansi Lion Air ini di anggap peluang atau ancaman?

    Selain dari SDM penerbangan, aspek lain yag harus disiapkan adalah dari sisi Pemerintah, dalam hal ini Inspector dari DKUPPU. Bagaimana mungkin tambahan 200-an pesawat dari 1 airline , SDM DKUPPU tidak ditambah. Imbasnya DKUPPU akan kekurangan SDM untuk memastikan semua crew dan pesawat layak beroperasi…

  10. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi seluruh pengusaha pemilik maskapai penerbangan.

    Keselamatan merupakan faktor utama, dan efektifnya menjadi pedoman yang harus diusung dan diterapkan dengan baik oleh perusahaan maskapai penerbangan.

    Kita Do’akan semoga kinerja KNKT dapat menunjukan titik terang yang jelas, sebab musabab dari insiden pesawat LION AIR tersebut di bali.

  11. Ada Pepatah; “Gantungkan lah cita-cita mu setinggi bintang di langit”, yang sering di ‘pleset’ artikan “kalaupun gak kesampean – ya jatuh di awan ..”. (?!) Trus kalau ternyata awan nya gak ada …? Ya .., nyemplung ke laut ….!

    Semoga bukan itu pedomannya, ya ?!

  12. Pertumbuhan memang harus dikelola. Bila tidak dikelola, maka perusahaan akan “meledak” karena permintaan melebih kapasitas sumber dayanya.

    Dalam literatur manajemen, apa yang dialami oleh LionAir adalah insiden sebuah risiko operasional (operational risk) yang tidak terkelola, yang mungkin merembet menjadi risiko reputasi (reputational risk) dan bila klaim kecelakaan tidak bisa dibayar juga menjadi risiko finansial (financial risk).

    Nilai satu pesawat yang mencapai ratusan milyar itu bisa langsung memangkas sumber daya keuangan perusahaan.

    Seni mengelola pertumbuhan adalah mengeksploitasi peluang yang ada sembari terus menekan risiko-risiko dalam batas yang terkelola.

  13. Mas Yodhia, saya kenal dengan salah seorang pramugari lion air. Dan dia TIDAK PERNAH MEMATIKAN HP selama di pesawat? saya tau dari mana? dia selalu tulis status di BBM, dan SELALU balas kapanpun.

    Regards..

    Rono Jatmiko

  14. Budaya orang Indonesia memang terbiasa sangat tidak menghargai nyawa. Ga usah jauh-jauh lihat disekitar kita.

    Anak-anak di bawah umur sudah naik motor, orangtuanya mengijinkan (ironis).

    Pengemudi motor jalan melawan arus. Jadi mari kita mulai dari diri kita dulu untuk membudayakan safety (safety culture) dan lebih menghargai nyawa.

  15. dengan alasan efisiensi, budget dalam pengelolaan safety sering sekali di pangkas di sana-sini.. well see now, if safety is expensive.. try accident 😀
    Semoga maskapai ini belajar dari pengalamannya.

  16. Selalu saja antara safety dan expense/laba rugi menjadi berbanding terbalik, dari mulai angkutan umum darat sampai udara
    trimakasih

  17. Kita dapati di dunia proyek pun sudah jamak ditemui hal spt itu, entah berupa kualitas yang dikurangi sampai standard yang bisa bergeser, mengikuti kebutuhan yang berkepentingan.

    Kembalinya kepada etika bisnis.

  18. Selama kita masih menomor dua kan keselamatan demi meminimalisasi biaya, kecelakaan seperti ini masih akan terus terjadi. Jangankan maskapai penerbangan. Lha kendaraan pribadi aja masih banyak yang pake ban bekas di vulkanisir. Aman nggak itu? ya jelas tidak. Terus kenapa nggak pake ban baru aja? Ban baru mahal….

  19. menurut saya profesionalisme staff lion air harus dipertanyakan, kalau lion air gak sanggup tambah pilot yang berpengalaman, pake aja “AUTO PILOT”

Comments are closed.