Chindianesia : Sebuah Impian tentang Kebangkitan Asia Raya
Yodhia Antariksa May 19th, 2008
Chindianesia – China, India, dan Indonesia. Apa yang akan terjadi jika tiga raksasa Asia ini bersatu erat dan bersama-sama mengepakan sayapnya? Impian tentang Kejayaan Asia Raya yang dipekikkan puluhan tahun silam oleh Nehru, Soekarno dan Paman Mao mungkin akan benar-benar menjadi kenyataan yang teramat indah. Inilah impian tentang kejayaan Asia Raya dalam dinamika ekonomi global – dan sebuah hasrat terpendam untuk merobohkan dominasi Amerika dan Eropa yang telah ratusan tahun menguasai peradaban dunia.
Dan aha, impian itu ternyata kian dekat menjadi kenyataan. Simaklah prediksi dari Goldman Sach, sebuah lembaga keuangan terkemuka, berikut ini : pada tahun 2025, ekonomi Indonesia diprediksi akan berada pada peringkat 14 dunia, melibas Kanada. Dan pada tahun 2050, ekonomi China akan menjadi nomer satu dunia, ekonomi India menjadi nomer tiga, dan ekonomi Indonesia menjadi nomer tujuh dunia. Pada tahun itu, ekonomi Indonesia akan mengalahkan ekonomi Jepang, Inggris, dan Jerman.
Kisah kebangkitan ekonomi China dan India berangkali memang telah menjadi legenda. Sebuah kisah kesuksesan yang dilentikkan oleh kebijakan ekonomi nan brilian, dan juga ditopang oleh sumber daya alam yang melimpah serta mutu SDM yang solid. Setelah kejayaan Jepang dan Korea Selatan, maka banyak orang bilang bahwa kedahsyatan masa depan Asia akan dirajut oleh China, India, dan Indonesia.
Oleh Indonesia? Ya, sebab seperti yang diprediksikan oleh Goldman Sach diatas, negeri Katulistiwa ini juga memiliki masa depan yang amat cerah. Saya sendiri percaya bahwa republik ini suatu saat akan menjadi bangsa besar. Someday, our country will become one of the best nations on earth. A great nation with great future.
Pertanyaan konkritnya kemudian adalah : lalu dengan apa kira-kira Indonesia bisa menjadi penguasa dunia. Jawabannya ternyata simpel dan tidak heroik: dengan karet dan kelapa sawit. Sorry to say, ditengah segala perbincangan tentang era digital, information-based economy, dan blah, blah lainnya, dua komoditi kuno itulah yang paling punya potensi untuk membawa Indonesia menaklukkan dunia. Dan kini, ditengah booming komoditi di segenap penjuru dunia, posisi Indonesia dalam panggung ekonomi dunia bisa kian berkibar.
Indonesia, kita tahu, adalah produsen karet nomer dua di dunia (setelah Thailand), dan beberapa tahun lagi akan menjadi menjadi nomer SATU. Lihatlah, mobil Toyota, Jaguar, BMW atau Mercedes yang berseliweran di jalanan kota Jakarta, Paris, Tokyo, atau New York, maka hampir pasti ban roda mobil itu dibikin dari karet para petani di Sumatera. Produksi karet dari negeri kita merupakan salah satu pemasok terbesar bagi produsen ban raksasa yang kemudian dipakai oleh seluruh produsen mobil dunia. Kalaulah seluruh produsen karet Indonesia memberhentikan pasokannya secara serentak, percayalah, industri otomotif sedunia bisa kolaps dalam sekejap. Dan dalam hitungan bulan, pabrik mobil Toyota atau Mercedes Benz di seluruh dunia mungkin bisa limbung.
Lalu kelapa sawit? Kini Indonesia merupakan produsen nomer SATU dunia. Pabrik Unilever global – bukan hanya yang di Indonesia – sangat bergantung dengan pasokan kelapa sawit dari Kalimantan dan Sumatera. Sabun Dove dan Lux, yang mendominasi kamar mandi jutaan orang di seluruh dunia, tak mungkin bisa dibuat tanpa kelapa sawit. Kalau semua produsen kelapa sawit Indonesia memberhentikan pasokannya ke Unilever Global, maka dalam hitungan hari, sabun Dove dan Lux bisa lenyap dari peredarannya di seluruh pasar dunia.
Pesannya jelas : dengan bekal komoditi alam yang berlimpah, seperti karet, kelapa sawit, bubur kayu (pulp), ikan laut (laut kita salah satu yang terbesar di dunia), biji kopi, dan kokoa, negeri ini akan dapat menjadi negeri hebat di masa – masa mendatang. Apalagi jika kita juga menghitung produk dari migas seperti nikel, batubara, gas dan biji besi.
Oke negeri ini memang tengah didera dengan seribu satu persoalan, namun ini semua mestinya tidak membikin kita pesimis, dan lalu membuncahkan berderet keluhan. Sebab, seperti yang penah kita bahas disini, pola pikir semacam ini mungkin justru akan benar-benar membawa kita semua dalam lorong kegelapan tak berujung. Ditengah beragam tantangan yang amat pelik, kita yakin negeri ini tetap memiliki potensi untuk menjadi bangsa besar – persis seperti yang diprediksikan di depan oleh Goldman Sach.
100 tahun silam, para anak muda Indonesia mendeklarasikan kebangkitan negeri ini dengan gagah berani dan spirit optimisme yang membuncah. Kita percaya dalam 100 tahun ke depan, negeri ini akan benar-benar merengkuh kejayaan yang hakiki dalam blantika ekonomi global. Bersama China dan India, kita yakin, Indonesia akan menjadi trio lokomotif bagi kebangkitan Asia Raya.
Kita bangga menjadi manusia-manusia Indonesia. Dan dengan spirit memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, saya ingin mengajak Anda semua sejenak menundukkan kepala dan hati, demi memanjatkan syukur dan terima kasih kepada sang ibu pertiwi yang telah melahirkan kita semua di bumi nusantara ini.
Majulah Indonesiaku. Jayalah Negeriku. Dan Bangkitlah Asia Raya !!
Photo Credit by : James Jordan under creative common license.
- Business Strategy
- Comments(32)



Memang kadang kita muluk2 ngomong IT padahal jelas2 negara kita adalah negara agraris.
wah gak rugi dong ya temen2 saya pada banyak yg invest di sawit….
sayang sekali sepertinya bangsa indonesia masih memiliki sifat tunduk kepada orang bule. hal ini bisa dilihat dari bagaimana proses penetapan kebijakan strategis oleh pemerintah yang sering kali dipengaruhi kuat oleh intervensi asing.mungkin ini sikap pengaruh bawaan sejak zaman penjajahan belanda.
yang jelas kita sekarang mesti sadar bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di sisi-Nya. diberikan modal dasar n kesempatan yang sama. so, jangan minder atau merendahkan diri kepada siapa pun . hanya Allah t4 menghinakan diri…
wah, klo demikian adanya..bersyukurlah kita..
Wah, mantap, bersyukurlah kita sekarang dan memang kita harus wajib bersyukur.
Indonesia is a Great Nations, maka dari itu bangunlah Indonesia sekarang melalui apa yang bisa kita lakukan dalam perannya masing-masing.
Tidak usah menunggu 2050 sekarang pun kita adalah bangsa yang besar tinggal dari sudut mana kita memandangnya, dari jumlah penduduk, dari kekayaan alam, dari hutan, dari bahan tambang, SDM dll.
Kalu kita sudah merasa besar (Great) kita akan bertindak Besar, berpikir besar dan hasil maksimal pasti akan di dapat.
trus gimana dengan peluang IT di Indonesia di masa depan..? setidaknya 10-20 tahun ke depan.Mohon pencerahaannya…
Saya setuju sekali dengan isi artikel ini. Hampir seluruh propinsi di Indonesia telah saya kunjungi. Saya lihat untuk di luar Pulau Jawa, sektor agraris dan perikanan menjadi pekerjaan sebagian besar rakyat. Seharusnya kedua sektor ini dikembangkan. Apalagi presiden SBY adalah Doktor dari IPB.
# Yanuar, IT ya tetap juga memiliki masa depan yang bagus. Kalau Anda punya bisnis dibidang IT, tetap akan bisa tumbuh dengan baik….kan perusahaan sawit dan karet juga perlu sistem IT…..:):).
Namun, untuk skala persaingan global, IT Indonesia mungkin tertinggal beberapa langkah daripada India (Bangalore) atau juga Phillipina.
Kalau bicara kebijakan secara nasional, negeri ini sebaiknya FOKUS pada agroindustry dan marine industry. Dua sektor ini, menurut saya, yang akan MAMPU MEMBESARKAN negeri ini.
yang dikatakan mas yod emang benar dan ini udah dipikirkan oleh orang asing. makanya perusahaan besar kelapa sawit dan lain sebagainya sebagian besar sahamnya udah kepunyaan orang asing seperti astra agro lestari contohnya.kalo udah gini bangsanya memang bisa besar tapi manusianya?
PwC juga dalam publikasinya memprediksi bahwa perekonomian Indonesia kan bisa disetarakan dgn negara-negara maju bersama negara-negara BRIC dan Turki pada 2050.
Benarkan ?
gimana kalau kita utamakan dulu masalah kita,baru kita kepakan sayap kita mas…..
masalah dalam negeri kita ini sudah sangat tidak wajar mas…………MERDEKA………..
[…] ini saya membaca tulisan mas Yodhia yang bermimpi dengan Chindianesia, kebangkitan Indonesia 20 tahun yang akan […]
Mas Yodhia, as usual, it’s a good article…..
IT balik ke posisinya awal, yaitu sebagai support. Core kita adalah negara agraris dan maritim, oleh karena itu industri yang harusnya maju ada di dalam core tersebut, salah satunya agribisnis. IT harus menciptakan suatu sistem yang bisa menunjang core dari negara tersebut. IT tidak akan pernah habis, tetapi harus diingat hakekat dari IT tersebut.
Masalah yang utama sekarang adalah banyaknya ‘tikus-tikus’ yang menggerogoti negara ini. Sebelum ada pemimpin yang mempunyai hati nurani dan tangan besi, negara ini tidak akan pernah bisa bangkit. Bukan pesimis, tetapi itulah adanya. Di satu sisi pemberdayaan daerah agar tidak tertinggal, di sisi lain menjalankan hukum seperti di China dan Rusia.
Sekian dulu komentarnya. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.
Indonesia masih punya banyak sektor yg bisa dikembangkan, memang perkebunan dan perikanan yang paling kuat. Tapi jangan lupa, industri2 lain harus juga dikembangkan, untuk menambah ragam, jikalau yg satu lagi tak bagus, yg lain masih bisa menunjang.
Problem2 juga masih banyak, SDM yg terutama. Boleh dikata, hampir semua yg ditanya, SDM Indonesia masih kurang. Banyak yg masih berpikiran, Gaji berapa dulu, baru kerja. Padahal cari kerjapun susah.
IT dan Graphic Indonesia masih bisa maju lebih banyak. Giat2 deh anak IT
Ayo Indonesia, maju donk!
Kita memang (tempat) produsen terbesar. Tapi, yang menjadi masalah, apakah karet dan sawit itu dimiliki oleh produsen Indonesia dan juga diberdayakan untuk kepentingan Indonesia ?
Jangan sampai karet dan sawit bernasib sama seperti minyak, gas, dan tambang kita miliki, meskipun cadangannya berlimpah lebih dari Malaysia, namun kemanfaatannya gak sebesar yang dirasa rakyat Malaysia.
mari jadi orang yang produktif
minyak kelapa sawit dicampur uap karet dicampur keringat ikan lele bisa gantiin premium gak ya? hehehe. mudah2an tahun 2025 saya masih exist alias belum mati.
kalo 2050 mungkin udah almarhum
artikelnya bagus pak, gak sia2 saya berkunjung ke sini.
Kawan2… yang penting kita adalah mengubah paradigma yang ada. Kalian tahu nggak kenapa negara kita gak maju.
Sebagian besar orang indonesia ( termasuk saya) oleh orang tua diberi nasehat yang salah. kaya gini nih nasehatnya: …… nak kamu musti belajar yang rajin, biar pintar… kalo kamu pintar nanti kamu gampang cari kerja…..
“GAMPANG CARI KERJA”????? tahu gak hasil dari nasehat ini? Sebagian besar orang yang lulusan dari Sekolah Top cuman bisa jadi BUDAK (kasar banget yah…. ya udah saya ganti… PROLETAR).
Kaum Proletar iini mulai dari berdasi pakai bmw sampai rekan2 saya yang bareng naik bus P76 blokm-senen.
kawan2, pasti banyak juga yang waktu kuliah coba nyambi….eh tiba2 di peringatkan…. “eh anak singkong…selesaikan dulu sekolah baru nyari duit”
MATILAH CALON KAUM ENTREUPRENEUR karena nasehat ini…….
Sekarang kita berdoa mudah2an tahun 2050 ini kejayaan tersebut benar2 dipegang oleh orang indonesia…….
Demoga negara yang menjunjung demokrasi-lah yang menjadi pemimpin dari kebangkitan asia raya ini mas, saya masih ngeri kalau negera otoritarian yang memimpin kebangkitan ini, saya terkadang ingat novelnya George Orwel: Animal Farm.
nice article …
namun, tentang karet … aku ragu kalau 50 tahun ke depan, mobil masih memakai ban ?… aku malah berpikir mobil masa depan itu melayang … (spt di film-film)
Mas Yodh, mungkin memang Kelapa sawit dan Karet adalah Hedgehog Concept untuk Indonesia Jaya. Tapi bagaimana dengan a Culture of Discipline untuk melaksanakan konsep tersebut ? Tapi saya pribadi tetap optimis dengan Stockdale Paradox , indonesia akan Jaya.
Saya pernah membaca laporan yang serupa, dari PWc kalau tidak salah ingat..
Terlepas dari optimisme yang ada, terdapat pula kekhawatiran yang sama dengan yang diungkapkan oleh mas Andrias Ekoyuono. Selain itu, secara pribadi saya suka tolok ukur yang dipakai itu GNP.. bukan GDP..
Mas Yodhi…… sebenarnya negara kita bisa kaya lebih cepat kalau mentalitas dan Moralitas Sumber Daya Manusia kita unggul….. terutama moralitas…….
….. yakinlah putra-putra terbaik bangsa yang muda-muda bisa lebih cepat geraknya untuk memacu ketertinggalan kita… (contohnya: Mas Yodhi
) apalagi Mas Yodhi ahlinya di bidang MSDM…. Maju terus bangsaku INDONESIA KU…….. AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA…….
Kekayaan Alam kita melimpah… Allah memberikan negeri ini kekayaan tiada taranya termasuk juga cuaca yang cocok untuk berbagai jenis tanaman…… Kurang Apa??? jadi jelas masalahnya sekarang adalah Sumber Daya Manusia.. kayaknya jadi tugas kita generasi muda untuk segera mengambil alih pengelolaan negeri ini…. “maaf generasi sebelumnya sudah terlalu banyak kepentingan dan terkontaminasi paradigma yang digunakan sebelumnya” biarlah mereka istirahat dan beri dukungan saja pada yang muda
2050? wah, udah peak oil tuh om …
Menyambut kebangkitan Indonesia 2025, kita yang masih mudah harus mempersiapkan diri dari sekarang. jangan sampai justru dinikmati oleh bangsa lain seperti saat sekarang ini. Bangkit Indonesiaku harapan itu masih ada.
di tengah-tengah kepesimisan yang melanda, saya cuma bisa bilang “Amin…” usai membaca entri ini. Semoga anak cucu kita tidak sesengsara kita yang hidup sekarang.
asyik banget bahsannya..aku setuju banget kalau Indonesia dasarnya adalah negara Agraris dan Negara Maritim. Sebagai negara Agarais dan Maritim, seharusnya Indonesia sangat kuat di dua sektor itu. saya yakin, kalau dua sektor vital itu sudah sangat kuat di Indonesia, maka Indonesia akan menjadi raksasa dunia. bayangkan saja, tidak ada satu negara di dunia pun yang tidak bergantung dari hasil agraria, juga kelautan. jadi Indonesia di masa depan bisa menjadi pemain utama dalam memasok perekonomian dunia. masing masing negara di dunia sudah punya konsentrasi untuk dikembangkan, sesuai dengan kondisi negara itu. biarlah negar lain sibuk dengan IT, kemajuan teknologi, dan yang lain, tapi, kita sebagai bangsa Indonesia harus fokuskan diri kita kepada dua sektor yang sebenarnya menjadi andalan kebanggan Indonesia, Agararia dan Maritim. belum lagi ditambah dengan sumber kekayaan lain, seperti barang tambang, minyak bumi, batu bara, timah, nikel, dan yang lain, yang akan melengkapai kejayaan Indonesia. lalu dimanakah peran bidang lain???bidang lain, seperti IT, Teknologi, juga akan semakin jaya karena akan memasok dan mendukung Industri Agraris dan kemaritiman yang sangat besar. jadi tidak akan sektor yang tidak bisa berkembang di Indonesia, semua bisa saling mendukung dan saling melengkapi.
tapi, mari kita lihat fenomena yang merebak sekarang ini di masyarakat. mengapa masyarakat awam seolah olah mati ketertarikannya pada bidang Agraria dan Maritim, khususnya kaula muda???bisa dibayangkan betapa peminat kuliah Agraris/ pertanian/perkebunan/kehutanan dan kelautan/perikanan merosot jatuh dari tahun ke tahun. bisa dihitung dengan jari , berapa sekolah tinggi kelautan yang masih eksis, dan beberapa lagi menunggu waktu untuk ditutup. bisa dihitung, berapa bangku yang terisi di kuliah pertanian/perkebunan, sedang lainnya menunggu waktu untuk dibubarkan karena sepi peminat.mungkin saja itu karena mimpi indah orde baru yang akan menjadikan indonesia negara Industri maju, tanpa menguatkan sektor dasranya, Agraris dan maritim. bisa anda bayangkan jika sebuah rumah tanpa dasaar yang kuat, tapi ingin membuat dinding dan atap serba mewah. dengan sedikit ujian saja, insya allah rumah itu akan rubuh. itulah kesalahan orde aru dalam mewujudkan Indonesia yang digdaya. kesalahan utmanya???tidak memperkuat sektor Agraria dan Maritim. nah, untuk masa sekarang, marilah kita bagu membahu membangun Indonesia dengan dua sektor andalan yang harus diperkuat terlebih dahulu, yaitu Agraris dan Maritim. nah setelah dua sektor itu kuat, mau jadi apa pun kita pasti bisa. percayalah….suatu negara yang kuat dibangun oleh dasar ekonomi yang kuat,,dan dasar ekonomi yang kuat dibangun oleh sektor paling yang paling dominan dan kuat yang dimiliki suatu bangsa. jadi, ja ngan lagi mengesampingkan sektor pertanian/perkebunan dan kelautan, karena itulah jati diri kita, bangsa Indonesia yang sebenarnya. Ingatlah kejayaan Majapahit dan Sriwijaya yang mengandalkan dua sektor itu. Contoh paling nyata, adalah negar Malaysia, dimana negara Agraris itu sangat memperhatikan sektor andalan yang dianugerahkan oleh Tuhan. dengan modal sektor pertanian/perkebunan yang kuat, maka rakyat Malaysai bisa jauh lebih sejahtera dari pada Indonesia. dan dengan modal itu, kini mereka bersiap untuk menjadikan Malaysia negara maju , dengan sektor agraria yang sangat kokoh.
no time to relaxing, no time ti thinking let’s go to face Indonesian’s future….doing anything according your profession,,, and dont forget to help to stronger indonesian basic economic, Agriculture and Oseanographi…..
[…] ini. Sebab seperti artikel saya sebelumnya tentang Kebangkitan Asia Raya (yang bisa Anda baca disini), saat sekaranglah momentum kebangkitan Asia – sebuah momentum historik untuk merobohkan dominasi […]
Sebagai tambahan. Paparan lengkap yang dikemukakan oleh Goldman Sachs dapat dilihat pada buku BRICs and Beyond yang juga menyinggung Indonesia sebagai bagian dari N11 DISINI
Kajian serupa yang dilakukan oleh PriceWaterhouseCooper berupa PDF (460 kb) dapat didownload DISINI . Semoga Indonesia mencapai cita-cita kejayaannya!
Salam
Strategika!
Kalo aku bilang, ketergantungan terhadap SDA itulah yang membuat kita tidak maju-maju. Arab Saudi minyaknya begitu banyaknya aja tetep bukan negara maju. Arab Saudi kaya iya, maju itu beda. Malah beberapa temen dari Timur Tengah bilang, orang jadi pemalas karena hidup sudah terjamin. Selama kita masih bangga dengan kekayaan alam kita, dan bukan kemajuan SDM-nya, kita tidak akan menjadi negara maju.
wehh…..
kalo emang gitu,..kenapa harus menunggu 2050 ?
kenapa indonesia dari dulu gitu-gitu aja ?
karena faktor SDM / manusia-nya….
itu aja persoalannya.
meski gemah ripah loh jinawi,…kalo kualitas dan moral manusianya masih seperti sekarang even worst,..maka itu semua hanya impian.
wake up wake up.. :))