5 Alasan Kunci Kenapa 400.000 Lulusan Sarjana S1 Menganggur

Generation-Jobless-Title-copy reeeYa benar, data terkini menunjukkan sebanyak 400 ribu lulusan sarjana S1 menganggur. Setiap hari mereka berjibaku mengirim lamaran kerja, berdesakan di setiap acara Job Fair sekedar mengambil formulir pendaftaran. Dengan peluh di sekujur tubuh. Dengan wajah kusut dan rasa frustasi.

Tak ada yang lebih pedih daripada menjadi seorang pengagguran. Apalagi pengangguran terdidik. Masa kuliah 4 atau 5 tahun seperti terbuang sia-sia, juga biaya kuliah puluhan juta dari orang tua.

Harga diri seorang yang jobless juga bisa termehek-mehek. Apalagi kalo nanti pas lebaran ditanya, oh sudah lulus ya, sekarang kerja dimana. Masih pengangguran bude. Pedih. Galau.

Jadi kenapa 400 ribu lulusan Sarjana S1 jadi pengangguran?

Ada setidaknya lima alasan atau faktor kunci yang bisa menjelaskan kenapa banyak sarjana S1 yang jadi pengangguran. Mari kita bedah satu demi satu.

Jobless Factor # 1 : Low Economic Growth.

Pada akhirnya, elemen ini adalah salah satu faktor kunci yang menentukan angka pengangguran sebuah negara.

Sejatinya, berdasar rumus standar internasional, angka pengangguran di Indonesia hanya sekitar 5.81%, masih relatif bagus, dibanding misalnya angka pengangguran di Perancis yang tembus 9% atau bahkan di Spanyol yang lebih ngeri, 23%.

Idealnya, angka pengangguran itu sebaiknya 3%. Kalau lebih rendah malah bisa bahaya, karena industri atau perusahaan akan sangat kesulitan mencari tenaga kerja baru.

Nah untuk mencapai angka pengangguran yang ideal, butuh pertumbuhan ekonomi yang mak nyus, atau sekitar 8 – 10%. Data terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sekitar 4.7%. Masih jauh dari harapan.

Btw, di negara-negara maju, pertumbuhan ekonomi sebesar 3% sudah dinilai sangat bagus. Untuk negara emerging countries seperti India, China dan Indonesia, pertumbuhan yang dianggap fenomenal adalah 7% keatas (India dan China bisa melakukannya berulang kali. Indonesia belum).

Pertumbuhan ekonomi yang kurang bagus membuat industri dan perusahaan enggan melakukan ekspansi. Artinya kebutuhan tenaga kerja baru juga stagnan. Muncul-lah barisan masif pengangguran Sarjana S1.

Jobless Factor #2 : Overqualified Skills.

Secara mengejutkan data menunjukkan secara persentase, jumlah lulusan S1 yang menganggur ternyata lebih tinggi dibanding lulusan SMK/SMA atau bahkan SLTP (maksudnya dari total lulusan Sarjana, persentase yang menganggur lebih banyak dibanding lulusan SMA/SMK).

Dengan kata lain, secara persentase, lulusan SMA/SMK lebih banyak yang terserap dalam lapangan kerja dibanding lulusan S1 (waduh, ngerti gitu dulu ndak usak kuliah yak. Uhuk).

Kenapa bisa begitu? Simpel : karena kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan banyak industri di tanah air ya cukup sebatas lulusan SMK/SMA. Ribuan pabrik di Indonesia masih berada pada level “tukang jahit”, belum melangkah ke fase yang lebih advance.

Karena kelasnya masih hanya tukang jahit, ya butuhnya cukup lulusan SMA/SMK. Ngapain lulusan S1. Nanti malah sok gengsi dan minta gaji mahal. Uhuk.

Demikian juga, di sektor perdagangan. Ribuan toko yang ada di pasar, mal, dan ruko hanya butuh penjaga toko yang lulusan SMA saja. Memang lulusan S1 mau suruh jaga toko HP di Roxy? Malu keleus.

Jobless Factor #3 : Too Many Social Graduates.

Di tanah air ini mungkin terlalu banyak lulusan jurusan sosial humaniora (ekonomi, manajemen, hukum, sospol, sastra, dst, dst).

Di hampir semua kampus di Indonesia pasti ada fakultas Hukum dan Ekonomi. Padahal mungkin kebutuhan lulusan dua fakultas ini tidak sebanyak pasokan jumlah sarjana yang lulus. Over supply. Akhirnya jadi pengangguran.

Demikian juga, ribuan sarjana sosial lulus, dan menemui fakta bahwa gelar yang mereka pegang ternyata tidak laku di pasaran. Akhirnya jadi pengangguran lagi.

Di sisi lain, sebenarnya kita sangat kekurangan jumlah sarjana teknik (engineering). Kita kekurangan sekitar 120 ribu insinyur padahal ada ribuan KM jalan raya dan ribuan megawatt listrik yang akan dibangun. Masak yang harus bangun jalan tol dan listrik, lulusan Sarjana Sastra Jawa.

Btw, studi World Bank menunjukkan jumlah lulusan engineering sebuah negara berbanding lurus dengan kemajuan bangsa itu. Secara persentase, lulusan sarjana teknik di Jepang, Korea, Taiwan dan China sangat tinggi. Tak heran mereka jadi negara maju.

Jobless Factor #4 : Stupid Graduates.

Selain faktor-faktor makro seperti diatas, mungkin banyak pengangguran karena faktor sarjananya sendiri yang tulalit. Maksudnya banyak lulusan Sarjana S1 yang penguasaan teori dan kapasitas intelektualnya tidak kapabel.

Banyak orang suka bilang, wah percuma kuliah itu hanya teori. Ini statement yang agak bodoh.

Untuk menjadi sarjana top ya penguasaan teori atas bidang ilmu-mu harus benar-benar ngelothok. Anda tidak akan mungkin bisa menjadi profesional hebat kalau penguasaan teori-mu amburadul.

Kalau Anda mau jadi Manajer Marketing yang hebat, ya Anda harus paham benar tentang teori perilaku konsumen, teori branding dan teori strategi. Kalau Anda mau jadi manajer HRD yang hebat ya Anda harus paham teori tentang human capital, teori tentang talent management, dst, dst.

Sekali lagi, Anda hanya akan mudah menjadi jobless atau karyawan abal-abal jika penguasaan teori akan bidang kerjamu sangat buruk.

Maka problemnya bukan “kuliah itu kebanyakan teori”. Problemnya justru banyak lulusan S1 yang penguasaan teori –nya NOL BESAR. Wajar kalau mereka jadi pengangguran.

Standar Gaji Karyawan Indonesia bisa Anda dapatkan disini.

Jobless Factor #5 : No Wow Factor.

Oke ini adalah faktor yang terakhir. Kalau faktor yang keempat menyangkut aspek kognitif (daya intelektualitas dan penguasaan ilmu dan teori), maka faktor yang kelima ini menyangkut hasil nyata : kebanyakan sarjana nganggur karena memang sama sekali tidak punya something wow. Hidupnya datar-datar saja, dan terlalu mainstream.

Sudah penguasaan teorinya buruk, ditambah selama menjadi mahasiswa selama 4 – 5 tahun, tidak pernah menghasilkan sesuatu yang layak dijadikan “penambah nilai jual” dihadapan tim rekrutmen (mungkin saat jadi mahasiswa kerjanya cuma setor muka kuliah, pulang ke kosan, main game, sibuk socmed, hahahihi, setor muka kuliah lagi, begitu terus sampe lulus).

Wong ndak punya something wow dan penguasaan teori buruk kok bermimpi diterima kerja di Chevron atau Citibank dengan gaji pertama langsung 10 juta/bulan. Gaji 10 juta dari Hongkong ?!!

Wow Factor ini memang tidak mudah direngkuh. Mungkin dibutuhkan kreativitas, daya juang, resourcefulness dan ketekunan untuk menciptakannya. Sayangnya, 95% mahasiswa tanah air mungkin tidak punya elemen-elemen pembentuk wow factor itu.

Tanpa wow factor, seorang lulusan sarjana tidak akan bisa stand out above the crowd. Nasib dia akan sama dengan 400 ribuan sarjana lainnya : masuk jadi penambah angka statistik pengangguran.

Agar tidak jadi pengangguran, berikut panduan untuk merancang karir yang cemerlang. Anda bisa download ebook tentang strategi karir ini secara gratis disini.

Baca, pelajari dan praktekan.

Mudah-mudahan Anda semua tidak akan menambah jumlah pengangguran baru 🙂

Photo credit by Dreamfilm

Related Post

Kenapa Artikel tentang the Death of Samurai dan Kegoblokan Kolektif Memancing Kehebohan? Terus terang saya terkejut dan sama sekali tidak menduga jika tulisan minggu lalu berjudul “Ilmu Financial Psychology, Booming Batu Akik dan Kegobloka...
Membongkar Praktek Bisnis yang Destruktif Menjalankan kegiatan bisnis kita tahu merupakan salah satu cara kreatif untuk mereguk senjengkal nafkah, dan mengakumulasi kepingan kapital. Namun tid...
Kenapa Valuasi Gojek 12x Lebih tinggi Dibanding Garuda Indonesia? Benar. Dalam putaran pendanaan yang terakhir, valuasi Gojek sudah dihargai oleh para investornya senilai Rp 75 triliun – sebuah angka yang epik untuk ...
49 comments on “5 Alasan Kunci Kenapa 400.000 Lulusan Sarjana S1 Menganggur
  1. saya kira selain economic growth, faktor gross domestic product percapita juga mnjdi hal yang mempengaruhi sumbangsi tingkat pengangguran di bumi pertiwi ini, apalgi pengangguran berpendidikan..

    yaa brdsrkan data bank dunia pada tahun 2013 GDP indonesia hanya mencapai angka $868.3 billion dgn jumlah penduduk 250 juta..

    masih sangat kurang GDP Percapita jangan heran jika kemudian banyak infrastruktur yang terbengkalai..

    artinya masih bnyk skli pendapatan nasional negeri ini yang tidak disebarkan secara merata..

    koefisien gini nya mungkin kurang dianggap oleh pemerintah,,,entah lupa atau pura2 lupa heheh

    oh ya pak, ada saran supaya kedepan jenjang pendidikan dinegeri antah berantah ini mampu melahirkan generasi yang intelektualitasnya kapabel dengan karakter berbudi luhur?

  2. Pengangguran itu BUKAN karena Sempitnya LAPANGAN PEKERJAAN.. Melainkan SEMPITNYA POLA PIKIR..

    Dijaman yg penuh dengan Prubahaan ini, sejatinya Peluang semakin banyak dan beragam..

    Karena Kurang kreatif, kurang Berikthiar, Takut mencoba, takut gagal, tidak think out of the box dan sifat2 negatif lainnya, merupakan faktor2 yg LEBIH DOMINAN kenapa Mahasiswa Masi nganggur..

    Ijin Share blog saya, silakan Mampir teman2 (Blogwalking)
    http://lalunaforex.blogspot.com

  3. Sebetulnya di blog ini pak Yodhia sudah banyak memberikan kuliah tambahan kepada mahasiswa (yg mau baca blog ini tentunya) tentang enterpreneurship termasuk contoh-contohnya. Di acara TV Hitam Putih juga sering Deddy Corbuzier menampilkan sosok anak-anak muda yang kreatif.

    Untuk mempersiapkan bangsa ini, mestinya di bangku kuliah juga lebih banyak mempersiapkan mahasiswa untuk enterpreneurship & kreatif seperti itu.

    Menanamkan keyakinan bahwa Indonesia harus menjadi kelas dunia, seperti kisah pak Yodhia tentang visi anak muda Korea.

    Jangan belajar teori mata kuliah pokok melulu.

    Anak muda sekarang lebih banyak belajar sosmed untuk bergaya, foto selfie, audisi artis.

    Di TV lebih banyak ditayangkan kehidupan artis-artis baru yang glamor, yang begitu mudahnya menjadi OKB. Di TV lebih banyak acara-acara komedi dengan materi mentertawakan kebodohan lawan main, atau acara Rumpi dan Seleb.

    Jarang sekali acara yang menampilkan kisah sukses anak-anak muda enterpreneurship.

  4. Ciptakanlah lapangan kerja baru. Ini yang mungkin harus ditanamkan saat waktu per-kuliah-an.

    Baru tahu ternyata fakultas hukum dan ekonomi ada dimana – mana 🙂

  5. banyk faktor. pengalaman 2 tahun ngabisin satu rim kertas lamaran. kurang kompetitif, daya juang, sabar, doa, apes, takdir, kreatif, nasib baik, dst..

    poin no 5 prnah saya alami, terlalu bnyk teori, kurikulum menarik ttp cara pnympaian k mhsiswa nol besar.

    slma kuliah sy merasa lbh enjoy blajar ortodidak.

    be entrepeneurship, in yg mngk hrs digalakan slm pndidikan kali y br para intelektual g terlalu teraniaya blusukan kesana kemari mencari kerja.
    dan satu lg, terjebak zona nyaman.

    ini yg membuat kdang kurang aware mlihat peluang kerja baru.

  6. Pak Yodhia Antariksa.

    Saya Mohon Tolong Pak untuk Bapak membuat Akun Google+. dan di Pasang di Blog ini agar saya mudah mengikuti reader rss blog artikel terbaru bapak di Google+

    Soalnya saya bukan pengguna Blackberry BBM dan Whatapps.

    widget Google+ kecil saja bisa di pasang di sisi bagian kanan blog ini. nanti saya pasti akan mengikuti tiap update terbaru bapak di Google+.

    Terima Kasih 😉

  7. Pembahasannya mendalam dan ringan untuk dibaca, harusnya mereka yang masih pengangguran lebih banyak berusaha sendiri ketimbang mencari pekerjaan yang tak kunjung didapatkan.

    Minimal berusaha dulu wiraswasta atau apalah dari pada nganggur kan?

    Jangan gengsi kalau kerjanya tidak sesuai, untuk langkah awal jalani pekerjaan yang sejatinya dapat mendidik dan membentuk karakter.

    MIsalnya jadi blogger yang memperoleh penghailan dari penayangan iklan, atau mungkin jualan online dan sejenisnya.

    Perlu modal, ya reseler dulu kan nggak perlu modal gede

  8. Yang jadi masalah adalah masih banyak mahasiwa yang mau membaca buku-buku bermanfaat setebal 300 halaman pak Yod. 😀

  9. ini ada yg slh dgn pendidikan kita,krn sadar atau tidak mhsiswa diarahkn jdi pegawai..

    nilai nilai enterprenur sangat kurang

    terkadang melihat perusahaan kelas bule watak kita scra gak sdr spt inlander..

    bule lbh diatas kita.. blm tentu, apa slh kerja di bule?

    o ya gak, tp perlu diingat jgn terus di zona aman krna bangsa ini mash perlu sarjana yg menciptkn lpngan kerja……

    learning by doing…

  10. tulisan yang menohok sekali pak yodhia. berarti saya yang kuliah jurusan management udah pasti banyak saingan.

    saya juga ga setuju sama mahasiswa yang mikir kalau kuliah itu cuma teori doang. teori itu ada setelah ada orang yang mencoba sebelumnya kan? nah justru kita bisa belajar dari situ

  11. mungkin faktor lainnya…kadang mahasiswa nya over qualified..diatas persyaratan perusahaan yg didaftarkan..akibatnya perusahaannya enggan merekrut..takut gak kuat bayar.dan ini benar_benar terjadi.

  12. Di era seperti ini justeru banyak peluanga yang bisa dimanfaatkan. Sekarang ada dunia lain, yaitu dunia maya yang potensi-nya hampir sama dengan dunia nyata.

    Wong kalau mau, corat-coret tiap hari saja bisa menghasilkan uang.

    so kenapa nganggur?

  13. Assalamualaikum . coba dong Pak yodhia bahas tema entrepreneur.

    kayaknya bekal kita sebelum wisuda harus ada usaha atau aktifitas jadi gak 100% nganggur.

    kan sebelum wisuda biasanya Ada matkul kewirausahaan. jadi dimanfaatin. kan lumayan buat makan + akomodasi.

    lainnya ikut Aja LSM atau institusi gitu itung2 pengalaman jadi kita bisa lebih pro . Salam

  14. Apakah mungkin secara nasional ada pemetaan kebutuhan pekerja, lalu di Diknas, diarahkan para siswa dan calon siswa untuk memenuhi kebutuhan di daerah tersebut, dimulai sejak masuk pendidikan formal.

    Sehingga pemilihan jurusan bukan semau siswa atau karena perhitungan kemungkinan siswa bisa masuk PT entah jurusannya disukai atau tidak, diperlukan atau tidak.

  15. Menurut saya, nyari karir yang pas itu ibarat nyari jodoh pak. Harus cocok.

    Ga cuma sama jurusan, tapi sama pribadi. Jadi, untung-untungan, kayak takdir, misterius banget. Bagi saya, ga adil kalau saya kerja cuma karena gaji.

    Ga adil buat perusahaan yg hire saya, ga adil buat diri saya sendiri karena saya gamau kerja sekedar buat cari uang.

    Kan bapak sendiri yang ngajarin, “Follow Your Passion”. Jadi, saya sih ga akan nge judge mereka yg masih jobless.

    Mungkin belum ketemu jodohnya. Gamasalah, pasti ketemu selama mereka ga berhenti berusaha dan mengevaluasi diri.

    Saya engineer dr PTN terkenal Jakarta. Saya butuh lama untuk dapet pekerjaan pertama saya.

    Bukan karena saya under qualified, tapi karena memang ga mudah nyari perusahaan yang visi misinya cocok sama saya.

    And, usually your wish comes true in the minute you stop expecting it. It happens to me.

  16. Karena belum tingginya kesadaran untuk masuk SMK, tapi minat kuliahnya tinggi, berarti pemerintah perlu mempertimbangkan agar ada mata kuliah yang memberikan ketrampilan (skill) di jurusan Ekonomi dan Manajemen, agar para Sarjana Ekonomi bisa membuka usaha setelah wisuda.

    Jadi, melalui mata kuliah yang diwajibkan, mahasiswa di paksa untuk punya skill, karena kalau dari kesadaran sendiri akan sulit.

    Di daerah saya, menjadi PNS adalah pekerjaan impian. Semua ingin jadi PNS.

  17. Di daerah saya, menjadi PNS adalah pekerjaan impian semua sarjana.

    para calon mertua juga ingin menantu PNS karena terjamin sampai hari tua.

    ini salah satu penyebab sarjana menganggur karena menunggu penerimaan PNS yang katanya sudah dimoratorium.

  18. Karir yang pas dan menguntungkan adalah sesuai dengan passion kita. Ketika kita bekerja sesuai passion kita, maka akan menambah semangat untuk bekerja dan berinovasi.

    Kita akan senang menjalaninya bahkan cenderung waktu yang 24 jam sehari ini dirasa sangat kurang untuk memanjakan passion kita.

    Oleh karena itu bekerja pada dasarnya tidak harus selalu berkaitan dengan pekerjaan formal, pekerjaan informal pun sangat banyak dan kita pun pada dasarnya bisa membuat pekerjaan itu sendiri alias tidak tergantung pada pemberi lapangan kerja.

    Nah, mungkin kedepan Mas Yodhia bisa menulis bagaimana mengubah passion menjadi pekerjaan yang menghasilkan :).

    Salam sukses!!

  19. Saya setuju 4 dan 5. Karena memang banyak sekali teman saya pada kenyataan seperti itu. Kuliah ,hanya sekedarnya saja. Ada yg sekedar cari gelar supaya dpt kerja, ada juga yg karena disuruh orang tua. Jadi, rasa ingin tahu dan menguasai suatu pengetahuan tak terbesit sama sekali. Akhirnya klo di tanya ntar lo mo kerja apa? Apa aja deh yg diterima kerja.

    Sungguh ini nyata sekali di lingkungan saya kuliah. Jadi, gimana gak nganggur. Mau jadi apa aja gak tahu. So, sudah pasti tak punya faktor WOW alias kompetensi.

    Thx. Salam Sukses.

  20. teori sama praktek BEDA BANGET Pak Yodhia, saya sudah mengalaminya berulang kali…teori2 yang saya dapatkan di perkuliahan cuma terpakai 1%…perusahaan / lembaga pendidikan LEBIH BUTUH prakteknya…kecuali mau jadi pengajar yaaa teori aja cukup…

  21. Luar biasa

    saya baru tahu kalau pengangguran pun sengaja dimanage tidak boleh kurang dari 3 persen.

    dan lebih terperangah lagi jika pendiikan s1 pun tidak begitu menjanjikan bagi karier masa depan

    saya pun meninggalkan ijazah s1 saya di kamar, dan banting setir ke bisnis clothing.

    meskipun masih kecil kecilan, tapi mudah mudahan ke depannya bisa menyerap banyak tenaga kerja.

    amiiiin

  22. menohok, yup dari sisi individu tulisan pak yodhia ini menggugah bagi yang berfikir dalam dan luas. .

    Kesempatan itu diciptakan dari kerja cerdas, keras dan ikhlas.

    Pertanyaan simpel “Kamu punya apa(keahlian)?? hingga perusahaan mau membayar atau merekrutmu..

  23. Saya kurang sepakat dengan penulis soal ‘kuliah hanya teori’, apalagi dengan melabel statement bodoh.

    Masalah di Indonesia memang itu, herannya (atau bodohnya?) malah luput dari bahasan: universitas, kuliah, dan dosennya tidak berbobot.

    Kalau hanya berhenti di mahasiswa, sampai matahari terbit dari barat solusinya tidak ketemu.

    Coba buat tulisan lain yg membahas bagaimana kampus-kampus di Indonesia bekerja dan bandingkan dengan kampus-kampus di LN.

  24. well… ga sepenuhnya benar juga.

    1. perusahaan banyak yang berkembang, namun kebanyakan lulusan ga mau ditempatin di luar kota. klo liat di iklan2 lowongan kerja.

    banyak kok yang cari lulusan ekonomi, sastra dll tapi di luar daerah kota besar kaya bandung en jakarta.

    2. Kuliah cma teori? emang benar kok. 90% kuliah S1 cma teori. Saya lulusan management marketing.

    en saya sekarang bekerja sebagai team function SAP (finance) dan menjadi trainer akunting pabrik di suatu perusahaan. Ilmu sebenernya baru bisa didapet di dunia nyata, bukan di kuliahan.

    apa yang saya pelajari hampir tidak ada yang terpakai di dunia kerja

    • Ya mungkin itu menurut bapak aja “hampir tidak ada yang terpakai di dunia kerja” bukankah tujuan kuliah memang lebih tepatnya merubah pola pikir” bukanya menghafal teori saja 🙂

  25. setuju pak,sarjana sekarang tuh pengenya kerja enak dan gaji besar melebihi gaji lulusan sma /smk

  26. makanya kuliah belajar yg bener, jujur di segala kondisi, memiliki jiwa idealis dan berintegritas.

    Setelah lulus ikut cpns ditjen pajak, itu institusi yg menghargai org bersih dan jujur, atas trasnparansi terbaik di lembaga ditjen pajak presiden memberi apresiasi dengan menaikkan gaji bagi lulusan S1 plus tunjangannya 12jt, lebih baik dari chevron bukan?

    makanya kuliah jangan nyontek, jadilah mahasiswa jujur cerdas dan aktif organisasi

    kalian akan melihat betapa negara kita ini sangat membutuhkan orang orang yang berani jujur dan berintegritas.

  27. saya juga heran dengan dunia kerja di Indonesia, saya S1 Ekonomi lbih memilih jadi BMI di Taiwan

    pdhl sebelum sya brngkat ke Taiwan sering bantu bikin sekripsi teman2 yg kurang menguasai materi.

    Tapi dalam dunia kerja mereka cepat dpt pekerjaan yg bagus.

    Padahal saya sudah pernah ikut tes di perusahaan itu, saya g bisa masuk malah teman teman yg penguasaan materi di bawah saya malah bisa masuk dan mendapat pekerjaan yg bagus.

  28. menurut penelitian saya yang sudah di lakukan dalam kurun waktu 10 tahun lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah masyarakat produktif di indonesia.

    selain itu tingkat keahlian juga terbilang rendah hanya mengandalkan gelar S1

  29. Sepertinya memang demikian , biasanya hanya mengalir saja dan mungkin lebih mentingin yang penting gua lulus trus dapet ijazah buat nglamar kerja yang gajinya besar

    tapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangakn, karena lulusan universitas lain adalah saingan dan untuk mencari kerja memang harus bersaing, kecuali kalau memutuskan jadi pengusaha, tapi pengusaha itu tidak smeudah yang diucapkan orang

    ah kalau udah lulus mau usaha, mudah saja, tapi penerapan harus lebih rajin dan berusaha lebih daripada yang bekerja dikantoran yang sudah jelas jobnya apa

    kalau jadi pengusaha terus ijazahnya nganggur?

    hari gini mikirin begitu percuma saja, nganggur ijazahnya ga terlalu parah yang penting ilmunya ga ngaggur juga dan bisa dimanfaatin

    Saya jadi teringat film 3 idiot, ya walaupun film tapi isinya sangat baik, kejarlah kesempurnaan, kesuksesan akan mengikutimu.

    Ada lagi bekerja sesuai passion memang sangat berpengaruh pada kinerja dan kualitas juga.

    Dan pesan yang terakhir adalah mengalahkan ketakutan diri dan selalu berani dan punya prinsip hidup .

    Terkadang perkataan orang, teman, orang tua, keluarga, saudara sangat berlawanan dengan diri sendiri, tapi tak ada salahnya jika dalam diri ada keyakinan kuat tapi sangat bertentangan dengan yang saya sebut tadi

    mungkin perlu keras kepala dan pembuktian bahwa rasa yakinmu itu memang terbukti lebih baik dari perkataan mereka semua.

  30. dari hasil penelitian itu bisa disimpulkan penyebab nganggur yang paling signifikan. saya pikir yang harus mengadakan penelitian adalah dinas pendidikan. inilah instansi yang paling depan yg harus memikirkannya.

  31. Sangat menginspirasi, saya sekarang masih smp dan mau lulus, bingung mau smk/ sma..
    Kalau mau jurusan ekonomi manajemen harus sma di jurusan ekonomi ?

  32. Bagi perusahaan saya, ada ironinya Mas.

    Katanya banyak sarjana jobless – tapi saya nyari sarjana yang rada cerdas dan berwawasan sulitnya minta ampun. Akhirnya saya settle dg yg ada saja – lah, yang penting masih napas.

    Kompetisi saya di pasar HR adalah perusahaan2 yang punya brand sexy dan bidang garapan yang sedang wow.

  33. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu INDAH RAHAYU asal SURAKARTA, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS.

    Saya ingin berbagi kesuksesan ke seluruh pegawai honorer K1 dan K2 di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdi kurang dari 10 tahun menjadi pegawai honorer belum terangkat menjadi PNS dan saya mengabdikan diri sebagai guru di sebuah desa terpencil di daerah Surakarta, dan di sini daerah tempat mengajar saya hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita masing-masing.

    Pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN PUSAT karena saya sendiri mendapat penghargaan pegawai honorer teladan, di sinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor Hp. pribadinya 0821-1247-7666 atas nama WARLI SH.M.SI, beliaulah yang selama ini membantu perjalan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL.

    Alhamdulillah berkat bantuan bapak WARLI SH.M.SI.SK saya tahun ini bisa keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak WARLI SH.M.SI dinomor 0821-1247-7666, siapa tau beliau bisa membantu anda

  34. Sungguh membuka cakrawala saya nih postingannya, bung Yodhia..

    Pengangguran yang dimaksud semoga hanya yang belum dapat menghasilkan uang.

    Karena perlu disadari, ternyata banyak orang yang kelihatannya menganggur, namun ternyata mereka bekerja secara full time online.

    Hidupnya sehari-hari di depan laptop, entah mengerjakan proyek freelance atau mengelola blognya, sehingga bisa menghasilkan uang dari sana.

    Tapi saya salut atas paparannya bang Yodhia Antariksa. Mantap!

  35. bener banget.

    Sebagai tambahan, berdasarkan pengalaman saya.. Faktor tidak mau nya berjuang adalah penyebab besar manusia menjadi pengguran.

    Saat gagal dan 1,2 lamaran tidak dipanngil-panggil, jadi malas buat lamaran lagi.

    Akhirnya berada di zona menunggu saja tanpa trs berusaha, akhirnya dimakan usia dan menjadi pengagguran sejati dah..

  36. Banyak juga saya denger waktu dlu pas sama sama cari kerja, sesama pencari kerja yang gengsian, alias milih2 kerja, diawal lebih idealis, ngikutin visi, nyari yang cocok

    seperti yang disampaikan mba diatas,

    kalo menurut saya apapun kesempatan itu kita harus ambil, mau perusahaannya baru mulai berdiri, mau perusahaannya masih rugi, yg pasti kita masih fresh graduated kita perlu pengalamannya

    itu yang kadang teman2 fresh graduated merasa terlena, merasa llusan univ top PTN ip diatas rata2, lalu milih2 perusahaan

    alhasil ga dapet apa apa lalu kesempatan pada hilang satu per satu 🙂

  37. yang saya rasakan memang sugesti dari orang tua jaman sekarang yang kurang tepat, tidak salah hanya kurang tepat.
    Sekolah yang rajin yang pinter biar bisa kerja di “BLABLABLA”..

    Sekolah tinggi-tinggi ya seharusnya bisa membuat lapangan kerja, bukan untuk nyari kerja..
    Saya setuju dengan point no. 4

Comments are closed.

Pilih Kaya atau Misqien?

Dapatkan Buku yg Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Financial Freedom yg Barokah. GRATIS!