Kisah Hacker Melawan Telkomsel : Keserakahan Bisnis Bernilai 28 Triliun

telecommunications towers landscapeJumat minggu lalu, website Telkomsel sukses diretas oleh hacker yang tampaknya marah dengan kebijakan harga data Telkomsel yang dianggap kurang bersahabat.

Langkah hacker itu tampaknya mewakili segenap perasaan netizen yang mungkin kebetulan juga pelanggan Telkomsel.

Dibalik tragedi hacking Telkomsel itu terkuak pelajaran krusial tentang keserakahan bisnis dan hak konsumen yang terabaikan.

Kalimat-kalimat sang hacker yang sempat menodai web Telkomsel itu memang terasa sarkas.

Berikut petikannya : “Fuck Telkomnyet : Pegimane bangsa Endonesa mau maju kalo internet aja mahal……Murahin harga kuota internet, Nyet”.

Namun kalimat vulgar yang dimuntahkan hacker itu mungkin layak direnungkan.

Faktanya, tahun 2016 lalu, profit Telkomsel tembus angka Rp 28 triliun – sebuang angka yang teramat masif. 28 triliun adalah benar-benar angka profit yang mencengangkan.

Dengan laba sebesar itu, Telkomsel menjadi perusahaan dengan profit TERBESAR di Indonesia, mengalahkan laba BRI yang besarnya Rp 25 triliun atau berapada pada posisi kedua tertinggi.

Laba bersih 28 triliun itu diraup melalui pendapatan total Telkomsel pada tahun 2016 sebesar Rp 86 triliun.

Itu artinya net profit margin Telkomsel berada pada angka 32% – sebuah angka yang agak gila untuk perusahaan raksasa sebesar mereka. (Net profit margin adalah perbandingan antara net profit dengan total pendapatan).

LUMAYAN GILA, sebab rata-rata profit margin perusahaan telco di seluruh dunia hanya 11%. Di Asia, rata-rata profit margin perusahaan layanan telco juga hanya 20an%.

Sebagai contoh Singtel (Singapore Telecom) yang juga pemilik 35% saham Telkomsel hanya punya net profit margin sebesar 21% – jauh dibawah Telkomsel.

Sementara profit margin Telstra Australia hanya 20%; Telco Thailand (AIS) 21%; Telco Phillipina (PLDT) hanya 17% dan profit margin China Mobile hanya 15%.

Dari angka diatas, dapat diartikan profit margin Telkomsel jauh diatas rata-rata dunia, 3 kali lipatnya. Atau jika dibanding Asia, lebih tinggi 50%.

Ada sebuah kalimat yang layak ditabalkan manakala profit margin bisnis Anda sangat eksesif, atau jauh diatas normal. Kalimat itu adalah : karnaval keserakahan bisnis yang amat menggetarkan.

Faktanya, profit margin Telkomsel memang selalu tampak eksesif, dengan rincian sbb :

Profit Margin Telkomsel 2014 : 29% (Laba 19 triliun, pendapatan 66 triliun)
Profit Margin Telkomsel 2015 : 29% (Laba 22 triliun, pendapatan 76 triliun)
Profit Margin Telkomsel 2016 : 32% (Laba 28 triliun, pendapatan 86 triliun)

Artinya dari tahun ke tahun, profit margin Telkomsel nampak makin menggurita. Dan angka margin 32% untuk sebuah bisnis dengan penghasilan 86 triliun adalah SEBUAH KEAJAIBAN ANEH DUNIA.

Bahkan profit margin Apple (perusahaan paling inovatif dan paling mahal di dunia) hanya 21%, sementara net profit margin Google juga berada pada angka 22%.

Dengan kata lain, nafsu Telkomsel untuk meraup profit sebesar-besarnya terasa sangat mencolok. Meraup margin yang sangat eksesif, 32%, ibarat rentenir yang memasang bunga mencekik kepada pelanggannya. Tak peduli kasi harga mahal buat pelanggan.

Wajar jika hacker marah.

Seperti biasa, Telkomsel akan berkilah : kita butuh dana masif untuk membangun infrastruktur telekomunikasi dan menjaga stabilitas koneksi, dan blah blah lainnya. Paham. Poinnya bukan ini.

Poinnya adalah kenapa Telkomsel tega menghisap margin hingga 32%, sebuah angka yang jauh diatas rata-rata industri telco dunia dan Asia. Sebuah angka yang amat eksesif dan abnormal.

Bahkan dengan hanya margin 20% pun, sebenarnya Telkomsel tetap akan untung besar dan semua dana pembangunan infrastruktur (capital expenditures) akan tetap DAPAT DIPENUHI.

Yang muram adalah : jika alasan butuh dana besar untuk membangun jaringan hanya KAMUFLASE untuk menutupi nafsu keserakahan mereka.

Nafsu agar profit margin diatas 30% yang abnormal itu bisa tetap mereka raup. Sekali lagi, tanpa peduli apakah harganya terlalu mahal atau tidak.

Kita tidak mengharap margin Telkomsel harus turun menjadi cuma 7% atau bahkan 11% (sesuai rata-rata industri telco dunia). NO.

Tapi please, jangan berlagak seperti rentenir yang dengan santai mencekik dan menghisap darah pelanggannya, demi nafsu mempertahankan profit margin diatas 30%. Sebuah angka yang sekali lagi, jauh ditas rata-rata industri telco Asia dan dunia.

Yang muram adalah 35% saham Telkomsel dimiliki Singtel. Artinya 35% dari total profit Rp 28 triliun (atau setara Rp 9,8 triliun masuk kantong negara Singapore).

Pelanggan Telkomsel jadi seperti terpelanting dua kali. Yang pertama, terus dihisap demi nafsu mempertahankan margin abnormal diatas 30%. Dan yang kedua, ikut menyumbang hampir 10 triliun demi kepentingan kas negara lain.

Hidup jadi terasa agak pahit.

Betapapun margin 32% atau jauh diatas rata-rata industri telco Asia dan dunia itu layak dicermati dengan serius. Serangan hacker minggu lalu adalah wake up call.

Mungkin KPPU atau Komisi Pengawasan Persaingan Usaha perlu turun menelisik, apakah nafsu mempertahankan margin eksesif itu telah berakibat merugikan kepentingan jutaan pelanggan Telkomsel. Dan kenapa profit margin harus terus berada pada angka abnormal?

Sekali lagi, poinnya bukan anti profit – sebab profit adalah oksigen bagi sebuah bisnis.

Yang ingin kita gugat adalah : nafsu maksimalisasi profit hingga ke angka yang ekstrem, dan mengorbankan hak-hak pelanggan untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Kalau saja Telkomsel mau menurunkan profit margin menjadi 23% sd 25% (sedikit diatas standar Telco Asia), dan bukan terus diatas 30%, maka margin inipun tetap relatif tinggi.

Margin 23% atau 25% adalah angka yang lebih masuk akal. Penurunan margin ini juga TIDAK AKAN sampai membuat Telkomsel kekurangan dana untuk membangun jaringan. Mereka tetap akan untung masif.

Dan pada saat yang bersamaan, penurunan profit margin ini bisa dialokasikan untuk kepentingan pelanggan. Bisa berupa penawaran harga yang lebih terjangkau. Atau penambahan kuota data tanpa menambah biaya, dan penambahan kecepatan data. Atau juga pemerataan layanan data secara lebih masif. Win-win solution.

Sekali lagi, serangan hacker itu adalah sebuah wake up call bagi manajemen Telkomsel untuk men-desain ulang strategi finansial mereka.

Mempertahankan profit margin diatas 30% mungkin akan makin memperkaya Telkomsel. Namun nafsu maksimalisasi profit abnormal ini hanya akan membuat kantong jutaan pelanggannya terus tercekik.

Mungkin itulah contoh kelam tentang extreme capitalism yang terlalu rakus. Dan mungkin karena itu pula, sang hacker menulis slogan heroik : Fuck Telkomnyet!!

9 Ilmu Online yg Membuatmu Makin Tajir dan Kaya. Pelajari Sekarang.

Laydown

191 comments on “Kisah Hacker Melawan Telkomsel : Keserakahan Bisnis Bernilai 28 Triliun
  1. Hacker dan artikel ini telah melampiaskan kemarahan jutaan pelanggan telkomshit yang merasa di-bully tapi hampir gak bisa berbuat apa2 karena memang kualitas internet provider lain di beberapa daerah tertentu masih kurang memuaskan.

    Tapi saya percaya sebuah pepatah yang berkata : “kesombongan adalah awal dari kehancuran”

    Disini sebuah ruang dan peluang yang besar untuk pesaing membantai dan menghajar telkomshit sampai terkaing-kaing masuk ke jurang kubur yang dalam.

    Terima kasih mas Yod buat artikel yang sekaligus menjadi curahan hati jutaan orang.

      • Karena singtel memiliki saham di telkomsel. Menurut saya ada kebijakan2 bisniss singtel ikut memberi peluang meraup keuntungan fantastis tsb.

    • gak bakal bisa selama pemerintahnya gampang disuap. axis saja mesti pulang kampung gara2 kebijakan pemerintahnya bullshit. telekomunikasi di indonesia sudah dimonopoli sama mereka.

    • Telkomsel Cekik Rakyat ? Mari Berpikir Lebih Jernih …
      Kasus peretasan website Telkomsel ternyata berbuntut panjang. Banyak pihak seperti menemukan teman senasib dengan hacker yang menyuarakan mahalnya tarif internet Telkomsel. Bahkan belakangan muncul tulisan-tulisan yang membuat analisa tentang kinerja keuangan Telkomsel seolah mereka analis kawakan yang paham industri telekomunikasi. Sayangnya, tulisan-tulisan tersebut kurang melakukan analisa dari angle yang lengkap, malah cenderung berniat menggiring dan sudah punya framing sendiri, bahwa kinerja Telkomsel terlalu TERLALU KINCLONG, dan semuanya berkat TARIF INTERNET yang TERLALU MAHAL dan MENCEKIK PELANGGAN atau kalau mau lebih heroik lagi MENCEKIK RAKYAT.
      Mari kita melihat secara lebih jernih. Mari kita bandingkan industri telekomunikasi di Indonesia dengan negara lain khususnya yang punya karakteristik dan profile hampir mirip dengan Indonesia. Paling tepat ya kita ambil perbandingan dengan negara di Asia Tenggara. Paket Singtel Combo di Singapura dipatok dengan harga Rp 259 ribu (US$ 19,9), dan mendapatkan kuota data sebesar 2 Giga dan bonus 2 Giga di jaringan Wifi. Sehingga rata-rata konsumen membeli paket data Rp 126,5 per mega. Globe di Philipina mengeluarkan paket kuota utama Rp 52,1 per mega, sedangkan Airtel India mengeluarkan paket data 2 Giga dengan harga Rp 95 ribu atau Rp 46,4 per mega.
      Bandingkan dengan Telkomsel. Jika seluruh bonus konten dihitung maka tarif internet Telkomsel hanya Rp 3,2 per mega.
      Beberapa pihak bilang tarif internet Telkomsel mahal karena ada berbagai bonus seperti video atau musik yang kurang bermanfaat. Padahal ada paket tanpa embel-embel bonus konten seperti paket Telkomsel Maxplore sebesar 2 Giga dengan bonus sebesar 5 Giga di jaringan 4G dan 13 Giga untuk pemakaian di jam tertentu senilai total Rp 70 ribu. Artinya tariff efektif menjadi Rp. 3,4 per mega. Beberapa operator lain juga memiliki paket sejenis dan jika dihitung maka kisaran tarif terendah dan tertinggi berkisar Rp. 1,4 hingga Rp. 14,6 per mega.
      Adanya paket dengan berbagai bonus konten itu sejatinya sangat wajar sebagai sebuah gimmick program yang dapat berubah kapan saja. Itulah indahnya kompetisi, yang membuat pelanggan bebas memilih yang mereka butuhkan dengan kualitas memadai dan sesuai dengan isi kantong mereka.
      Melihat fakta itu..lalu kata siapa tarif internet Indonesia lebih mahal dari negara lain ? Lalu bagaimana operator lain itu punya net profit margin yang lebih kecil dari Telkomsel ? Ada baiknya kita cermati laporan analis dan juga laporan keuangan Telkomsel.
      Dari laporan beberapa analis telekomunikasi, bisa dilihat bahwa pasar selular khususnya data di Indonesia di akhir 2016 bisa dibilang lebih sehat daripada negara lain di Asia. Beberapa faktor pendukung antara lain struktur cost yang berbeda antara satu operator dengan yang lain, regulasi yang berbeda di tiap negara, dan bisa juga karena biaya spektrum yang tidak sama. Laporan CIMB Sekuritas menyatakan kompetisi layanan data di Indonesia menghangat di 2016 tapi masih rasional.
      Khusus untuk Telkomsel, beberapa tulisan yang beredar menyebutkan bahwa laba bersih Telkomsel mencapai Rp 28 triliun sehingga net profit marginnya mencapai 32%. Pihak yang nyinyir mengatakan margin itu terlalu tinggi jika dibandingkan dengan operator lain yang rata-rata di bawah 25%. Lalu muncullah tudingan bahwa rakyatlah yang dibuat paling menderita akibat tarif mahal demi margin yang luar biasa itu.
      Satu hal yang belum dikupas oleh penulisnya …adalah adanya unsur pengelolaan biaya atau expense yang dilakukan oleh Telkomsel.
      Laba bersih tentunya bukan hanya hasil dari keberhasilan mencatat topline atau pendapatan operasi. Pendapatan operasi salah satu komponen terbesarnya memang pendapatan dari jasa-jasa yang ditawarkan kepada pelanggan dengan tarif tertentu, yang kemudian dikonversikan dalam mata uang atau rupiah. Ini kaitannya dengan tarif yang ditetapkan oleh operator untuk tiap layanannya. Khusus tarif internet, di bagian atas sudah disebutkan bahwa harga per mega internet Telkomsel ternyata jauh lebih murah dibandingkan operator lain di Indonesia bahkan di negara lain.
      Namun penulis lupa bahwa ada unsur biaya operasi yang juga berpengaruh sangat besar menentukan besarnya keuntungan, khususnya laba usaha. Dalam laporan keuangan Telkomsel tahun 2016 yang dimuat dalam laporan keuangan Telkom sebagai induk usahanya disebutkan bahwa biaya operasi Telkomsel termasuk depresiasi dan amortisasi tumbuh 6,7%, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan revenuenya yang mencapai 14,6%. Apa artinya ? Artinya management Telkomsel berhasil menekan biaya yang menghasilkan efisiensi di berbagai lini. Ini sejalan dengan pernyataan Direksi Telkom di berbagai kesempatan dengan media yang menyatakan bahwa kehati-hatian (prudent) dalam mengelola biaya operasi menghasikan laba usaha yang baik.
      Selain itu, beban bunga dan hutang Telkomsel juga kecil sekali mengigat hutang perusahaan relatif kecil dibandingkan operator lain. Maka wajar jika biaya lain-lain Telkomsel pun kecil yang pada akhirnya membuat laba bersih Telkomsel menjadi lebih baik dari operator lain.
      Melihat fakta itu, jika perusahaan bisa menunjukkan kinerja yang baik ini berkat pengelolaan biaya yang baik, apakah hal itu harus disalahkan ? Apakah Telkomsel harus dihukum? Seharusnya dengan laba bersih Telkomsel yang besar, rakyat Indonesia justru bersyukur karena sebagian besar kembalinya ke bangsa Indonesia juga.
      Telkomsel bisa dibilang satu-satunya operator yang mau membangun sampai ke pelosok Indonesia bahkan sampai perbatasan yang jelas tidak ada peluang bisnis di sana. Dalam sebuah kesempatan Direktur Utama Telkomsel bahkan mengatakan bahwa 45% BTS broadband di wilayah pelosok itu masih merah alias merugi. Namun karena yang dilihat adalah prospek jangka panjang, dan juga ada unsur pelayanan bagi masyarakat di pelosok, pembangunan diteruskan juga. Dari mana biaya pembangunan itu jika bukan profitabilitas perusahaan rendah.
      Apakah ada pihak lain yang mau membangun sampai ke sana ? Sampai saat