Potensi Kehancuran Ekonomi Saat Wabah Corona Tembus 70 Ribu Kasus

Serangan Corona ternyata tidak hanya secara telak menyerang paru-paru manusia. Namun wabah ini pelan-pelan juga bisa menghancurkan paru-paru ekonomi negeri kita.

Minggu ini rupiah sudah jatuh ke angka Rp 16.000 dan masih bisa terus menurun. Dalam dua bulan, nilai pasar perusahaan yang sudah go public lenyap Rp 2000 triliun lebih. Sementara banyak pelaku usaha yang omzetnya anljok hingga 75%.

Pada sisi lain, sejumlah analisa memprediksi wabah Corona ini bisa membuat tingkat pertumbuhan ekonomi anjlok ke 0,5% atau bahkan 0%. Artinya tidak ada pertumbuhan ekonomi sama sekali alias mengalami stagnasi.

Tapi kondisi ekonomi yang mulai sulit ini baru PERMULAAN. Ke depan kondisi ekonomi niscaya akan makin kelam, apalagi jika wabah Corona makin meluas dan makin tak terkendali. Kehancuran ekonomi bisa hanya tinggal tunggu waktu.

Jadi apa yang selayaknya harus dilakukan untuk meredam kegasanan virus Corona yang makin meluas – agar serangan ini tidak makin mematikan paru-paru ekonomi negeri ini?

Patut diingat kecepatan pertumbuhan kasus Corona ini bersifat eksponensial.

Sejak 2 Maret dimana diumumkan hanya ada 2 kasus, maka per tanggal 22 Maret sudah menjadi 450 kasus. Artinya ada pertumbuhan 200 kali lipat lebih hanya dalam 20 hari.

JIKA skala pertumbuhannya SAMA dan TIDAK ADA LANGKAH DRASTIS untuk meredamnya, maka dalam sebulan ke depan angka 450 itu akan naik menjadi 90.000 kasus (naik 200 kali lipat).

Faktanya, sejumlah pakar epidemologi memprediksi kasus Corona di Indonesia pada pertengahan bulan April bisa menembus angka 71.000an kasus.

Dengan death rate yang saat ini berada pada angka 8%, maka jumlah kematian bisa menembus angka 5600 nyawa yang gugur (bayangkan ada di antaranya merupakan anggota keluarga kita sendiri……).

Yang paling bahaya dari serangan virus ini bukan penyakitnya, namun LEDAKAN KASUS dalam WAKTU BERSAMAAN. Saat kasus meledak menjadi 70.000 – maka semua rumah sakit di tanah air tidak akan lagi sanggup menghadapinya.

Kondisinya akan tragis : banyak pasien Corona akan meninggal hanya karena tidak ada lagi dokter dan perawat yang tersisa untuk merawatnya. Sebab volume pasiennya sudah jauh di atas kapasitas normal.

Dan itulah yang sekarang terjadi di Italia.

Di Italia, karena ledakan kasus dalam waktu bersamaan, jumlah dokter dan perawat tidak lagi sanggup menghadapinya. Saat ribuan pasien masuk ke halaman rumah sakit, para dokter dipaksa memilih mana pasien yang akan diselamatkan.

Akhirnya mereka memilih pasien yang masih muda dan punya peluang tinggi untuk diselamatkan, dan membiarkan pasien yang tua pelan-pelan meninggal dunia……

Tragedi kemanusiaan yang mengerikan semacam itu akan terjadi juga di Indonesia, jika tidak ada langkah drastis dan tegas dalam penanganan Corona di tanah air.

Selama ini Presiden Jokowi terlihat enggan melakukan isolasi total kota Jakarta (sebagai episentrum Corona di Indonesia) karena takut akan dampak ekonominya.

Namun menunda-nuda langkah tegas dan drastis seperti isolasi total (lockdown) bisa membuat kasus Corona di tanah air meledak hingga angka 70.000 dan bahkan 100.000 jika makin meluas. Saat kasus sudah melewati angka ini dan dengan death rate 8%, maka dampak kehancuran sosial-ekonominya akan amat parah.

Dengan kata lain, menunda-nunda langkah drastis yang tegas hari ini, demi alasan tak ingin ganggu aktivitas ekonomi, JUSTRU akan hancurkan ekonomi di kemudian hari.

Saat angka kematian Corona sudah tembus 600 per HARI, Italia mendatangkan ahli dari China untuk membantu. Komentar ahli dari China ini : Italia terlalu santai menangani Corona. Masih banyak orang dibiarkan lalu lalang di jalanan.

Ahli pandemi dari China itu lalu bilang : saat kondisi krisis seperti ini, lupakan aktivitas ekonomi. Anda harus menyelamatkan nyawa at all cost.

Sebagai info, kota Wuhan diisolasi total saat kasus Corona di China baru mencapai 800 dan yang meninggal baru 25 korban. Hari ini, Wuhan sudah nol kasus Corona dalam dua hari berturut-turut. Dunia mengapresiasi ketegasan dan kecepatan China dalam lakukan langkah drastis demi meredam Corona.

Di Indonesia pola penanganannya masih mirip Italia, masih santai. Masih banyak orang dibiarkan pergi dan menjalankan aktivitas ekonomi seolah tidak ada apa-apa. Belum ada sense of urgency. Yang ada hanya himbauan, dan tidak ada ketegasan.

Maka kita tinggal menunggu kematian masal besar-besaran terjadi di tanah air. Tunggu saat tetangga kanan kiri Anda, atau bahkan Anda dan saya semua terpapar virus ini. Tunggu saat kita tak lagi tahu siapa menulari siapa.

Tunggu saat keranda jenazah tidak lagi cukup untuk membawa mayat-mayat yang bergelimpangan (semua ini sudah terjadi di Italia dan Iran hari-hari ini).

Yang mengerikan saat ledakan kasus telah menembus angka 50 ribu atau 70 ribu adalah bukan hanya rumah sakit tak lagi sanggup menampung. Namun angka ini akan makin liar dan meningkat dengan cepat hingga menembus angka ratusan ribu kasus.

Para pakar epidemi bilang : NEVER UNDER-ESTIMATE the Power of Deadly Virus.

So what?

Belajar dari tragedi kemanusiaan di Italia dan Iran, maka semestinya Pemerintah Indonesia bisa bergerak lebih cepat, tegas dan lebih drastis.

Saat kasus sudah menembus angka 1000, pemerintah seharusnya mulai melakukan isolasi total kota Jabodetabek. Mobilitas penduduk harus sangat dibatasi hanya untuk keperluan yang sangat urgen.

Isolasi untuk kecamatan yang sangat tinggi kasusnya, harus diawasi secara lebih ketat pergerakan penduduknya. Turunkan puluhan ribu personil tentara untuk memastikan disiplin warga dalam menjaga jarak sosial.

Di saat bersamaan, lakukan tes cepat (rapid test) secara masal dan masif. Setiap orang yang terdeteksi terkena Corona, harus langsung diisolasi total pergerakannya, dan dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Langkah drastis semacam itu perlu dilakukan jika memang kita tidak ingin melihat lebih banyak korban yang meninggal berjatuhan.

Keterlambatan dan kelambanan dalam melakukan tindakan tegas, akan membuat wabah Corona makin meluas dan meledak. Dan saat ledakan ini terjadi, maka kondisi sosial ekonomi justru akan mengalami kehancuran yang lebih mengerikan.

Photo credit : Foreign Policy.

21 comments on “Potensi Kehancuran Ekonomi Saat Wabah Corona Tembus 70 Ribu Kasus
  1. Pagi mas…

    LOCK DOWN suatu kota/negara itu sebagai “langkah terakhir” kalau benar2 sudah tidak ada solusi (atau butuh beli waktu cukup panjang utk suatu solusi).

    Jangan berharap selalu pemimpin/orang tua yang bantu terus2 an, apa yang kita sudah lakukan sendiri yang berguna bagi diri sendiri atau orang lain.

    Apakah kita sudah menjalankan LOCK DOWN diri sendiri dengan “meminimalisir” aktifitas dengan tinggal dirumah saja, tidak jalan2, tidak kumpul2, dll..

    Jangan jadi orang dewasa yang MANJA/GENIT dengan selalu minta pemimpin/orang tua yang bantu terus, tegas terus.

    Tolong dimulai diri sendiri dulu bisa mengurus diri sendiri dulu dari langkah yang paling sederhana.

    Terima kasih.
    Salam semoga sehat selalu!!!

    • Minta lockdown malah dikata MANJA, lha yang berhak lockdown itu pemerintah pusat pusat kok, kalau gak mau lockdown ya setidak nya kasih ketegasan kepada orang yang masih keluyuran, suruh bayar denda atau tembak mati saja sekalian, kalau ada ketegasan begitu orang pasti bakal mikir2 kalau mau keluyuran, gak perlu lockdown. kasihan petugas medis kita, kalau pasien membludak tak terkendali

  2. Sayangnya, kita tak punya pemimpin yg tegas, bergerak secara terukur dan bijaksana. Pemerintah sekarang hanya bergerak karena dipaksa keadaan.

  3. Very well said pak alex..

    saya melihat juga arahnya pemerintah memang kesana, dan sekarang kita tinggal prepare for the worst.

    #tetapoptimis

  4. Marilah kita berdo’a semuanya…karena kita berada di sebuah kapal bernama Indonesia,….nahkodanya adalah presiden dan jajarannya…mudah2an kita semua diselamatkan…..

  5. Jangan takut pada Corona melebihi takut kepada Allah …

    Kita wajib berprasangka baik ekonomi Indonesia baik-baik saja.
    Semoga wabah corona ini cepat berlalu…

    Wajib,
    Kita berdo’a dan ikhtiar berusaha menghindari wabah ini ….

  6. Membaca tulisan mas yodhia tiap senin pagi biasanya emosi sy dibakar semangatnya, namun knp kali ini perasaan sy jd ngeri.. Allahumma sholi ‘alaa sayyidinaa muhammad..

  7. Lock down akan buat ekonomi hancur bahkan krisis, gak lock down sama aja akan ada potensi krisis. Beda nya kalo lock down ekonomi hancur minim korban, kalo gak lock down ekonomi hancur banyak korban.
    Ini bukan pilihan tinggal mau apa gak?
    Karna peningkatan kasus sdh didepan mata. Dollar makin liar

  8. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan anggota keluarga kita.
    Tidak bepergian, kecuali yang harus. Biasanya ngantar istri ke pasar 2 hari sekali menjadi seminggu sekali, belanja secukupnya untuk 1 – 2 minggu. Meningkatkan kesibukan di rumah dengan bersih-bersih, merawat tanaman, mempercantik rumah. Sementara shalat di rumah aja. Masuk kantor, mengajak rekan2 untuk social distancing, walaupun sekantor bisa diskusi online, instruksi online, progress control online, dll.
    Jam istirahat di ruang kerja saja, gak perlu ke kantin. Pulang kantor langsung ke rumah, gak perlu ngobrol dulu di cafe.
    Beruntunglah bagi yang kantornya memberlakukan kerja dari rumah.
    Kalau semua orang mau memulai dari diri sendiri, gak perlu menunggu instruksi Presiden.
    Kalau harus menunggu Presiden, khawatir nantinya kalau anggota keluarga kita ada yang positif Corona, maka kita akan menyalahkan Presiden. Padahal kita bisa bertindak sendiri.

  9. Semua demi mempertahankan ekonomi, apa segitu murahnya nyawa orang? Lckdwn aktifitas sehari2 pasti dilematis, kenapa ngga dari awal pas berita wabah muncul di luar negeri langsung lckdwn transportasi terutama udara&laut? Apa dipikir orang Indo semua kebal virus? Rakyat ngga akan kelaparan kalo ngga ada turis kesini/orang Indo yg keluar negeri, kecil kemungkinan itu virus terbang antar samudra/benua tanpa dibawa orang kan? sweeping cek kesehatan ketat bandara&pelabuhan (kalo prlu sweeping manifest penumpang 1 bln kebelakang untuk odp) supaya meminimalisir wabah, ketegasan preventif dari awal bisa meminimalisir juga lckdwn aktifitas sehari2 yg dampaknya sangat besar buat ekonomi, lckdwn sementara mobilitas ke dalam&luar negeri lebih minim resikonya daripada harus total lckdwn aktifitas sehari2, sikon sekarang nasi udah jadi rengginang, tanpa lckdwn potensi ledakan pasien yg bisa berakibat ledakan korban jiwa, dengan lckdwn potensi ekonomi drop, potensi resiko efek sosial pun bakal muncul, membangun sosial ekonomi yg drop pasca wabah memang berat, tapi berjalan terus dengan wabah yg terus meningkat jg ga cukup cost sedikit, apa lg kalo sampe jumlah korban jiwa jg terus meningkat, bukan cuma sosial ekonomi yg drop, tapi potensi jg ketidakstabilan politik karna pemerintah dinilai lambat&tidak tegas dalam mengambil langkah kebijakan&keputusan, kalo buat infrastruktur sampe dibelain utang karna dianggap aset, lah apa SDM ga dianggap aset? -Mudah2an wabah cepet reda dan kita semua masih&terus diberikan sehat&selamat- Aamiin

  10. Indonesia dari awal (sebelum virus masuk) sudah menganggapnya remeh.

    Bahkan ada Pejabat yg mengatakan virus ini seperti flu biasa.

    Dikala negara2 lain sudah bersiap menghadapi kedatangan virus ini, Indonesia masih tetap santuy dan expor masker besar-besaran.

Comments are closed.