Positive Psychology dan Teori tentang Optimisme

Apakah Anda termasuk insan-insan yang penuh spirit optimisme, yang selalu memandang setiap peristiwa dari sudut pandang yang positif? Atau sebaliknya, termasuk pribadi yang acap digelayuti dengan rasa pesimisme dan melihat masa depan dan sekeliling Anda dengan sepercik pandangan yang buram?

Jika Anda termasuk kategori yang pertama, mungkin Anda termasuk insan yang beruntung. Riset demi riset yang telah dilakukan menunjukkan : pribadi yang memandang dunia sekelilingnya dengan rasa optimisme terbukti mampu menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik dibanding rekannya yang acap dirudung oleh pesimisme. Fakta ini ditemukan baik dalam dunia kerja, dunia olahraga, dan juga dalam bangku sekolah.

Itulah sekelumit fakta yang diungkap dalam sebuah buku yang memikat bertajuk : Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life. Buku ini ditulis oleh Martin Seligman, professor psikologi terkemuka dari University of Pennsylvania.

(Martin Seligman amat dikenal sebagai father of positive psychology, sebuah aliran psikologi yang getol mempromosikan penerapan ilmu psikologi bagi tumbuhnya insan-insan yang bermental positif, optimis dan merengkuh kebahagiaan sejati. Sebelum kehadiran Seligman, ilmu psikologi melulu berbicara tentang dunia yang kelam : tentang depresi, tentang neurosis, kelainan jiwa, dan sejenisnya. Sebelum Seligman, ilmu psikologi cenderung berangkat dari premis bahwa manusia itu “jiwanya sakit” dan ilmu psikologi hadir untuk menyembuhkannya. Psikologi Positif a la Seligman berangkat dari premis bahwa manusia itu “pada dasarnya happy” dan ilmu psikologi hadir sekedar untuk menguatkan perasaan positif itu).

Dalam buku ini, Seligman menguraikan beragam hasil penelitian mengenai dampak positif sikap optimisme bagi kinerja. Dalam salah satu contoh risetnya, Seligman menemukan para tenaga wiraniaga (salesman) yang punya mental optimis mampu membukukan penjualan yang jauh lebih banyak dibanding rekannya yang berwatak pesimis. Berangkat dari temuan ini, Seligman kemudian diminta oleh salah satu kliennya untuk menciptakan alat tes seleksi guna menyaring mana calon karyawan sales yang berwatak optimis dan layak diterima, dan mana yang berwatak pesimis dan harus di-reject.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Kinerja para salesman yang diterima itu benar-benar impresif; dan kinerja penjualan keseluruhan perusahaan itu naik berlipat-lipat. Hanya dalam dua tahun, perusahaan itu melenting menjadi penguasa pasar (karena itu, kalau perusahaan atau kantor Anda ingin meningkatkan kinerja bisnisnya, buku ini layak dibeli…..didalamnya diuraikan bagaimana bentuk alat tes seleksi itu).

learned_optimism_book-re.jpgPertanyaan sekarang adalah ini : bagaimana kita bisa mengetahui apakah kita orang optimis atau pesimis? Dalam buku ini, Seligman menguraikan jawabannya. Menurut dia, elemen optimisme bisa ditebak dari cara kita menjelaskan kejadian (baik kejadian buruk atau baik) yang menimpa diri kita. Disini kita dikenalkan dengan dua tipe penjelasan.

Tipe penjelasan yang pertama adalah : permanence. Orang yang pesimis selalu menjelaskan peristiwa buruk yang menimpa mereka sebagai sesuatu yang cenderung permanen (misal : bos saya selalu menyalahkan saya; atau  saya tidak pernah berhasil menjadi entrepreneur; atau  saya tidak akan pernah bisa lulus tes asesmen; dst. ). Kalimat “selalu” atau “tidak pernah” adalah sesuatu yang permanen; dan orang pesimis cenderung suka menggunakan kalimat itu (baik secara terbuka atau dalam hati).

Sebaliknya orang optimis akan memandang kejadian buruk (bad events) yang menimpa mereka sebagai sesuatu yang bersifat temporer (misal : hari ini bos saya lagi bad mood; atau bos saya marah kalau saya terlambat menyelesaikan laporan; atau saya tidak berhasil dalam bisnis karena salah memilih lokasi toko; dst).  Contoh kalimat yang bersifat temporer semacam ini membuat orang bisa melihat kejadian buruk sebagai sesuatu yang bersifat sementara — bukan permanen — dan bisa dihindari di masa mendatang.

Tipe penjelasan yang kedua adalah : pervasiveness. Orang yang pesimis cenderung memberikan penjelasan yang menggeneralisir (pervasive) atas bad events yang ada di sekeliling mereka (misal : semua bos disini bermain office politics; atau semua peraturan di perusahaan ini tidak fair; semua buku motivasi itu isinya hanya sampah; dan beragam kalimat sejenisnya). Pervasive artinya kita menggeneralisasi akan sesuatu peristiwa atau kejadian.

Sebaliknya, insan yang optimis akan memberikan penjelasan yang bernada spesifik (bukan pervasive dan generalisasi), misalnya seperti : Bos di bagian keuangan itu melakukan office politics; ada peraturan di bidang uang lembur yang tidak fair; atau buku motivasi yang sedang saya baca sekarang ini isinya tidak bagus. Penjelasan yang bersifat spesifik — dan bukan generalisasi — membuat kita bisa melihat bahwa sesungguhnya tidak semua dimensi dalam suatu kejadian/peristiwa itu merugikan. Pasti masih ada celah positif di balik beragam dimensi lainnya.

Secara keseluruhan buku Learned Optimism ini sangat menarik dan banyak berisikan panduan praktikal untuk membuat pikiran kita menjadi lebih optimis, dan memandang dunia di sekeliling kita dengan perspektif yang positif.

Seperti judul bukunya, karya Seligman ini barangkali akan benar-benar “change your mind and your life”.

NOTE : Jika ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang strategi bisnis, personal development dan leadership, silakan KLIK DISINI.

Photo credit by : mylaphotography @flickr.com

39 comments on “Positive Psychology dan Teori tentang Optimisme
  1. begitupun husnu dzon (baik sangka) dan larangan putus asa adalah pesan yg sangat kental dlm Islam. bekal untuk mncapai tujuan akhir kita.. sarapan luar biasa mas Yodh..! tq..!

  2. Negeri ini perlu melahirkan lebih banyak manusia-manusia yang berpikiran positif dan optimis di tengah berbagai situasi dan kejadian yang cenderung membuat orang cenderung jadi pesimis.
    Sajian yang renyah di Senin pagi Mas Yodhia.

  3. Satu lagi masukan yang sangat berharga, sebagai salah satu tes dalam rekrut karyawan. Trims mas Yodh atas sarapannya.

  4. saya kurang setuju, teori ini mendikotomikan positif versus negatif, optimis versus pesimis, premis awal manusia adalah happy juga menyederhakan persoalan. penelitian sales optimis akan meningkatkan penjualan mungkin benar, tetapi optimisme dan positifnya yang direkayasa oleh motivasi/tor, insentif dll adalah positif dan optimisme yang semu, terjadi penjajahan diri untuk optimis dan positif demi kinerja atau produktifitas, sebaliknya teori ini menafikan bahwa dibalik pesimisme/negatif bisa berbalik arah menjadi dobel positif/optimis. dtengah dunia yang tembus pandang teori dikotomi, versus, sudah ketinggalan jaman, yang lebihbisa diterima multifaktor, positif dan negatif, pesimis dan optimis lebih menjadi bahasan untuk mempermudah tentang pribadi/jiwa manusia, keduanya diperlukan dan hadir secara sah dan baik. optimisme/positif juga ada buruknya, sebaliknya negatif/pesimis ada baiknya, positive psychology spt ini memang jualan yg paling laku. mestinya teori pskologi harus realistis jika karyawan pesimis ttg suatu proyek apa alasannya, tak harus kita menjudge bahwa pesimisme itu buruk dibanding karyawan yg optimis. menerima keduanya dalam konteks yg tepat dan memainkannya sebagai reaksi yang tepat atas sebuah pengalaman itu lebih baik

  5. Sy malah berpendapat bahwa pesimisme dan optimisme itu tidak realistis. Pesimisme itu ekstrim kiri, cenderung mempersepsi diri serba kekurangan, shg tidak ada yg bs dilakukan dlm hdp. Di sisi lain, optimisme, ekstrim kanan, cenderung mempersepsi diri serba kelebihan, shg seolah-olah tidak ada kendala apapun asal manusia punya kemauan…
    Dalm pengertian di atas, mnr sy, sama2 berpotensi negatif (ada positifnya jg sie), yg satu cenderung pasif, di sisi lain, yg positivisme cenderung over aktif…
    Lalu…bgm yg seharusnya?….Mnr sy, ….REALISTISME…. meletakkan harapan pada pijakan yg realistis, berdasar fakta-fakta objektif,…meskipun tidak seluruh fakta dan variabel bs diungkap…

  6. SoaL optimis dan pesimis adaLah sesuatu yang reLAtif untuk meLihat dampak yang akan ditimbulkan. Mungkin secara generaL pesimis adaLah hal yang kurang bagus sehubungan dengan faktor psikoLoGi. Namun terkadang sikap pesimis adalah sebuah tindakan Low Profile yang akan membuat seseorang memiliki tingkat preventif yang tinggi. Jadi, Optimis dan pesimis adalah sebuah pilihan yang sama untuk menciptakan suatu tindakan yang terbaik bagi sesuatu yang telah direncanakan…..

  7. Membaca komentar2nya, hmm..diskusi yang menarik. Thanks as always to Pak Yodhia untuk artikel (resensi?)nya.

  8. Jiwa Optimis memandang Peluang, jiwa pesimis menakutkan (takut akan) Resiko…
    sebaiknya sifat baik itu dibiasakan dari kecil..

  9. Komentar2nya juga mengandung makna optimis & pesimis atas artikel ini….by the way apa mungkin pilih ” Yang tengah – tengah saja “…..kaya lagu dangdut !!!

  10. saya punya saran, kalau mas yodhia bersedia atau ada donatur lain, supaya membagikan buku-buku berkualitas diatas dengan gratis kepada mahasiswa seperti saya.

  11. Alam bawah sadar kita membawa kepada kita apa yang kita pikirkan..hati-hati. Anda bisa bila Anda pikir Bisa …

  12. seperti kata pepatah : optimis ibarat menyelesaikan separo pekerjaan.., pesimis separo dari kesulitan. tetap semangat,tetap optimis.thx mas yodhia..

  13. walaupun tadi pagi terasa seperti hari biasa.. tapi begitu menjelang diner.. buka email… wuzzz… sajian renyah Diner Istimewa suguhan dari mas yod ini begitu terasa mengenyangkan dahaga jiwa.. matur nuwun mas buat spirit nya.. 🙂 sukses selalu..!!

  14. Saya senang sekali ketemu dengan blog pak Yodhia ini. Isinya bagus-bagus, inspiratif, dan mendidik. Cocok dengan diri saya yang masih dalam proses pencarian jati diri serta membangun kepribadian ini..

  15. setuju….., dengan optimisme…semua hal termasuk pekerjaan jadi terasa lebih mudah, menyenangkan, tidak memberatkan, nggak gampang stress…dll, intinya: nggak rugi berpikir dan merasa optimis !

  16. Les Brown bilang, bidiklah bulan, biarpun meleset, jatuhnya diantara bintang-bintang! Jangan jadi mediocre kata Prof. Darwin guruku 🙂 Caiyo bang Yodh..!

  17. yup
    stuju….

    pesimis, bikin cepet tua …
    optimis, hidup lebih indah …

    oia, ijin share ya….
    thanks….

  18. yups…

    setuju sama senu
    sebenernya semua kalo diterima dalam konteks yang tepat itu lebih baik.

    optimis bagus, tapi kalo terlalu optimis juga tidak bagus.
    seperti di buku “my stupid boss”, boss yang terlalu optimis juga malah acakadut, banyak tenaga dan pikiran dibuang untuk sesuatu yang tidak sebanding hasilnya.

    pesimis memang jelek, terlalu pesimis juga tidak baik, tapi kalo pesimis tapi relistis saya rasa boleh lah, kan dengan ini orang akan berfikir dua kali untuk melakukan apa yang diputuskan.
    Jagdish N Seth dalam bukunya juga setuju kalo sifat optimis “tidak ditemukan di sini” dari beberapa mantan perusahaan monopoli juga malah bersifat menghancurkan, tidak ada yang berfikir dua kali untuk melakukan putusan karena tidak ada yang bersifat sedikit pesimis tapi realistis sebagai pertimbangan, semua menganggap pasti segala sesuatunya selalu berjalan sempurna sama seperti waktu monopoli dulu, padahal banyak kompetitor di luar sana.

    tapi masak ada sih orang yang selalu pesimis? dikit dikit pesimis, dikit dikit pesimis, waduh..menyedihkan sekali hidupnya, misalkan ada pun juga jarang banget deh rasanya orang yang tak pernah bersikap optimis. ini mah ekstrim banget orangnya. Yang ada mah mungkin orang yang kadang optimis kadang pesimis dan pesimis ato pesimis kan bisa saja karena mood yang temporer.

    Sehingga saya rasa merekrut seseorang dalam perusahaan ya lebih baik seimbang, ada yang optimis dan ada juga yang sedikit pesimis tapi realistis sebagai pemicu untuk memanage resiko dari sebuah keputusan. Kalo semua optimis rasanya minim sekali resiko yang terdefinisikan. Dan mungkin akan memicu suatu sikap yang arogan juga.

    Thanks
    Yudi

  19. yod, kalo buku2 lo udah segedubrak…jangan nunggu sampai bisa sharing gratis, ntar kelamaan nunggu infrastructure dan mungkin modalnya, sharing ‘sewa’ aja utk mengcover ongkos logistic n sdkt maintenance. Btw, optimisme diperusahaan sy diterjemahkan sbg ‘can do’ mindset dan skrg direlaunch mjd ‘action no debate’ ,sebenernya ya spy mgr berusaha sebisa2nya mencari jalan utk mencapai target perusahaannya, dimana fasilitas dan autoritas yg cukup sdh diberikan kpdnya….

  20. @mas yodhia, semoga ide atau saran saya tersebut dapat terwujud di postingan selanjutnya (lagi pengen dapat buku bagus dan bermutu secara gratis)

  21. Salam Optimisme Selalu, tetapi senantiasa menggunakan peluang dan kesempatan untuk meraih sukses yang “tak terbatas”. Salam Segomegono !!!

  22. Setuju. Optimis itu bagus asal realistis. Saya ada cerita ttng hal ini. Temen saya ketika akan pergi diklat sudah merasa klo tidak lulus diklat.Dia slalu bilang pda semua orang kalo kemungkinan besar tidak lulus. Padahl kemampuannya cukup baik. dan akhirnya tidak lulus betulan. Pda hal ada orang lain yang tidak lebih pintar dari dia tapi lulus.

  23. optimis dan pesimis, keduanya perlu, rwa bhineda (ada baiknya dan ada buruknya. Optimis dlm melihat suatu peluang tetapi perlu pesimisnya juga (perhitungan terhadap resiko dr peluang tsb)

  24. Kalau saya melihat bahwa optimis itu idealita sedangkan pesimis realita. Meski terkadang suka pesimis, kita harus tetap menanamkan pada diri kita bahwa optimis adalah hal yang SEHARUSNYA kita lakukan.

  25. boleh juga. optimism vs pesimism. dua sisi mata uang yang tetap harus dijaga keseimbangannya. pesimis berlebihan berbahaya kayaknya kok nggak ada solusi. dunia seperti kiamat. begitu sebaliknya optimis berlebihan kok kelihatannya arogan banget, lupa kalau dirinya bukan supermen.. . thanks mas artikelnya. . .

  26. Pingback: Positive Psychology dan Teori tentang Optimisme

  27. Teori dari buku2 psikologi; apalagi yang menggunakan teks “HOW TO….BLA-BLA” cenderung lebih mengedepankan aspek komersialisme buku itu sendiri. Dan ternyata.. sebagian besar orang menjadi bingung dan gelisah setelah dia membaca dan mendapatkan pendidikan/training tentang psikologi potensi diri. Banyak orang berusaha mengCreate diri mereka untuk menerapkan “HOW TO” itu tadi… Nah… keanehan dan kelucuan mulai terjadi.. Kenapa…? Karena terjadi pemaksaan diri yg luar biasa untuk HOW TO..
    Yang lebih parah adalah… saya justru mengalami kegagalan yang luar biasa pada saat saya menerapkan training dan beberapa buku yang saya baca

  28. Pingback: 4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital | blog strategi + manajemen

  29. Mohon diambil yang baiknya dan dibuang buruknya, apabila belum berhasil menerapkan sesuaikan dengan diri dan kebutuhan. Pengalaman pribadi, saya kadang tidak bisa menerapkan dan merasakan apa yang disarankan dan diceritakan oleh Pak Mario Teguh tapi saya tetap mengagumi beliau karena banyak hal positif yang bisa saya ketahui dan saya pelajari. Kesempurnaan hanya milik Tuhan semata…

  30. buku ini, bagus…
    tentang bagaimana kita harus bersikap husnudzan, berbaik sangka terhadap apapun. sesuai dengan yang Alloh SWT perintahkan.

  31. saya sangat menyukai tulisan anda mengenai psikologi positif dan teori tentang optimisme. kondisi psikologis yang baik pada seorang manusia tentunya dapan meningkatkan optimisme yang tinggi juga. orang yang memiliki optimisme tinggi tidak akan cepat menyerah.

    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Psikologi

Comments are closed.