4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital

Ketika kita dihadapkan pada tantangan yang kian menggunung (baik tantangan dalam arena pekerjaan di kantor ataupun dalam kehidupan personal), rajutan sikap semacam apa yang kita bentangkan? Ketika derap problema kehidupan selalu mengendap di setiap sisi perjalanan, apa yang kita senandungkan untuk memeluknya dengan penuh harapan?

Adakah cobaan demi cobaan yang terus datang menggedor itu kita hadapi dengan penuh deru kegigihan? Adakah kita bisa selalu bangkit, dan bangkit lagi setiap kali terpeleset di tikungan jalan kehidupan? Adakah kita masih bisa menghela semangat ketekunan bahkan ketika jalan masih terasa begitu jauh dan penuh dengan pendakian yang amat terjal?

Para ahli psikologi menyebutkan sikap semacam itu sebagai level of resiliency. Atau sejenis kegigihan dan keuletan yang menggumpal. Melalui sejumlah riset empirik yang melibatkan ribuan respoden, resiliency muncul sebagai salah satu dimensi paling utama untuk mereguk kesuksesan dalam arena kehidupan (baik kehidupan profesional ataupun personal).

Itulah salah satu bahasan yang diuraikan dalam buku menarik bertajuk Psychological Capital : Developing the Human Competitive Edge yang ditulis oleh Fred Luthans dan kawan-kawan (beberapa waktu lalu Pak Fred yang pakar manajemen SDM kelas dunia ini diundang ke Jakarta untuk membedah bukunya yang memikat itu).

Psychological capital sendiri dapat diartikan sebagai modal psikologis atau semacam modal sikap dan perilaku yang berperan besar dalam menentukan keberhasilan. Melalui beragam penelitian psikologis dan eskperimen saintifik, buku ini mencoba menelisik modal psikologis apa saja yang memiliki peran signifikan dalam membingkai kesuksesan.

Disini para penulis buku tersebut menunjuk empat dimensi yang terbukti secara empirik (dan saintifik) memberikan pengaruh besar dalam kesuksesan.

Seperti telah disebutkan diatas, dimensi pertama yang sangat penting adalah resiliency. Atau kecakapan untuk terus merekahkan ikhtiar bahkan ketika orang itu dihadapkan pada cobaan ataupun kegagalan. Atau sejenis kemampuan untuk terus bertahan bahkan ketika dihadapkan pada tekanan atau tantangan yang terus datang menghadang.

Sembari bertahan, mereka terus menganyam siasat untuk bisa keluar dari tekanan itu. Mereka juga kemudian terus melakukan serangkaian tindakan untuk meringkus tantangan, dan kemudian menggulungnya dalam sekeping solusi yang bisa dijalankan.

Dimensi kedua yang juga memegang peran penting adalah self-efficacy. Atau sejenis sikap percaya akan kemampuan diri. Sebuah keyakinan bahwa ketika kita dihadapkan pada tugas dan tantangan, kita percaya pasti bisa menuntaskan tugas itu. Betapapun berat dan kompleks-nya tugas dan pekerjaan itu.

Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung menyukai tantangan dan “set high goals for themselves; and even they self-select into difficult tasks”. Ketika dihadapkan pada bentangan tugas yang challenging, mereka percaya dengan kompetensi dirinya, dan yakin bisa mengelola beragam sumber daya untuk menaklukan beragam tantangan itu.

Dimensi ketiga yang disebut dalam buku itu adalah HOPE. Dimensi itu tidak hanya melulu merujuk pada sebuah harapan positif akan masa depan yang lebih baik. Namun yang lebih penting, dimensi hope ini juga mengindikasinya adanya kecakapan untuk merajut jalan (pathways) agar masa depan yang lebih baik itu bisa tergenggam erat-erat. Dengan demikian, dimensi hope merupakan gabungan antara harapan, dan sekaligus rajutan jalan yang konkrit untuk mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan.

Sebab kita tahu, harapan indah yang menari-nari segera akan meruap menjadi fatamorgana kalau ia tidak segera dibarengi dengan “pathway” yang jelas dan konkrit untuk menapakinya.

Dimensi yang terakhir adalah optimism. Seperti yang pernah dibahas disini, optimisme adalah sejenis keyakinan bahwa kita pasti akan mendapatkan hasil positif dalam setiap tugas dan pekerjaan yang kita lakoni. Ketika dihadapkan pada peristiwa negatif yang menghadang, orang optimis selalu melihat kejadian itu sebagai sesuatu yang hanya sementara (temporer) dan bersifat spesifik (artinya tidak akan berlaku di situasi lainnya).

Dengan cara pandang semacam itu, orang optimis selalu akan melihat “setback” dan “kegagalan” dengan kacamata “positif”. Artinya mereka tidak akan melulu meratapi kegagalan itu dengan sembilu yang berkepanjangan. Mereka tidak terjebak pada masa silam (past setback); dan hanya terus melangkahkan kaki ke depan dengan keyakinan positif.

Itulah empat dimensi utama pembentuk modal psikologis (psychological capital) yang solid. Resiliency. Self-Efficacy. Hope. Optimism. Kita berharap empat dimensi ini bisa terus menempel dan menjejak dalam relung sanubari kita yang paling dalam.

NOTE : Jika ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang strategi bisnis, personal development dan leadership, silakan KLIK DISINI.

[fbshare]

22 comments on “4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital
  1. satu lagi buku yang mencerahkan dan menginspirasi , terimakasih pak Yod resensinya !apakah sudah ada versi bahasa indonesianya ?

  2. membaca postingan mas yodia kali ini says seperti membaca ringkasan sinekuis Para pencari tuhan Jilid 4 , yang mengisahkan tentang ke gagalan pak jalaludin dalam menpertahankan perusahaanya , tapi dengan keimanan yang kuat pak jalaludin berusaha untuk setback . di sana tidak ada keluhan yang adalah rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap masa depannya dan seluruh orang – orang yang ada dalam perusahaannya. sip deh tulisan ini sangat inspiring !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

  3. Resilincy, Self Efficacy, Hope and Optimism. It looks like the previous concept of Zikir, Fikir and Ikhtiar in Islam. Zikir is related to Hope and Optimism. People who love Zikir always have good understanding ro “see’ his life. he believes that bad things occured will have good things come along. Fikir is releted to Self Efficacy. He believed that God has given ultimate capital, Brain, to be used as maximum as possible to face challanges in life. the last, Resilincy is related to Ikhitiar. the concept of “never give up”, persistent, “can do attitude”.
    Anyway, salute to Pak Yodhia who posted this, Two Thumbs Up…

    Reg,

    Khadafi

  4. Bung Yodh,

    Koq saya merasa sajian hari ini terlalu asin??? Sepertinya kebanyakan bumbu deh pada 3 alinea pertama.

    Salam
    Robin Garingging

  5. Wow, Bang Muamar Khadafi punya insight yang melengkapi juga… (Terpaku)
    Makasih Mas Yodh dan Bang Muamar.

  6. Tks mas Yodhi,
    Kebetulan minat riset saya juga PsyCap, dan sedang menulis disertasi tentang “Resilience”. Lewat blog ini, sy mhn izin mas Yodhi untuk memberikan informasi ini. Berharap bisa mendapatkan rekan2 yg mungkin punya minat sama juga. Baik untuk berdiskusi tentang aplikasinya di organisasi, atau untuk kerjasama riset.

  7. Sangat menarik untuk membaca bukunya..Btw omong-omong pakar manajemen SDM, bisa ga Mas Yodhi memberikan sajian senin pagi depan dengan profil para begawan manajemen SDM dunia dan indonesia..maksih

  8. Dik Yodhia, perkenankan saya memberi feed back dari aspek KM.

    Baik dari aspek Tacit (Individual) Knowledge maupun dari Explicit (Organizational) Knowledge, Psychological Capital (PC) adalah juga bagian dari Knowledge Capital. Dalam praktek PC ada perbedaan pada level Individu dengan level Organizational, maklumlah kedua-duanya sama-sama “learning” dan memiliki kesadaran (consciousness) walaupun berbeda mekanismenya ( silahkan kunjungi https://mobeeknowledge.ning.com/forum/topics/blooms-taxonomy-of-learning?xg_source=activity )

    Dari aspek Bloom’s learning taxonomy, aspek-aspek Resiliency. Self-Efficacy. Hope. Optimism bisa diklarifikasikan sebagai domain Affective pada level 5 atau Internalizing Value yang memerlukan “pengetahuan dengan kesadaran tinggi” (Knowledge with Higher Consciousness) dan kemampuan sebagai manusia berperilaku social (Human Social Behavior) (lih. garis besar Human Learning dan Organizational Learning serta hubungannya dengan KM pada https://mobeeknowledge.ning.com/forum/topics/blooms-taxonomy-of-learning?xg_source=activity terutama pada Attachment)
    PC yang bagus pada gilirannya akan menghasilkan apa yang disebut sebagai

    Knowledge Capital Gain yang bahkan nilai “monetizing”nya jauh melampaui Equity Capital Gain seperti pada perusahaan-perusahaan yang sifatnya “Knowledge Intensive Capital” (ikuti K-base https://www.delicious.com/mobeeknowledge/knowledgecapital )

    Salam,
    Md Santo – https://mobeeknowledge.ning.com

  9. Mas Agus (1) : belum buku ini belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

    Mas Taufiq (8) : disertasi anda pasti menarik, tentang positive organizational behavior : sebuah ikhtiar untuk mengaplikasikan pendekatan psikologi positif dalam dunia kerja.

    Bagi yang berminat menjadi subyek riset mas Taufik, bisa langsung visit his blog. Kantor Anda pasti beruntung kalau bisa bisa terlibat dalam kegiatan riset ini.

  10. Apa yang dibutuhkan (bagaimana caranya) agar keempat dimensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang dalam diri individu? Ada yang bersedia sharing?

  11. klo di agama saya (Islam) bahasanya menjadi Tawakal, Bersabar, yakinlah karena yang Maha Kuasa pasti memberikan jalan keluar oleh karena itu beroptimisme lah. yang penting usaha dan kerja keras mencari kesempatan guna meraih kesuksesan….

    salam

  12. buku pshicology capital kiranya perlu disampaikan ke para pejabat kita, dimana ketika rakyat mengeluh malah pemerintah juga ikut mengeluh. sekarang di indonesia ada kecenderunan orang lebih banyak mengeluh dari pada mencari solusi atas problem yang ada. kalau rakyat dan pemerintah sama sama optimis pasti ada jalan keluar untuk problem bangsa sekarang mulai kemacetan, lapangan pekerjaan, tindakan korupsi, sampai para TKI yang ada diluar negeri.

  13. Salah satu kiat hidup bahagia adalah iman dan amal shalih. Bagi yang memadukan iman dan amal shalih ketika mendapat nikmat dia bersyukur. jika mendapat cobaan dia bersabar. Dari sinilah akan menumbuhkan nilai-nilai kebahagiaan hidup dengan kebahagiaan yang berganda (dikala diberi nikmat dan cobaan)

  14. halo bung Yodhia,

    terima kasih atas ulasan ringkas tentang konsep psycap (HERO) prof Luthans. sama seperti bung Taufiq, saya juga sedang melakukan disertasi untuk melihat hubungan psycap dengan kesiapan seseorang untuk berubah. kapan-kapan saya undang bung Yodhia ke PPM ya untuk knowledge sharing.

    halo bung Taufiq. waaahhh, sudah mulai sebar kuesioner ya. semoga sukses studinya ya.

    salam.

  15. Nice share, Pak Yodhi….

    Sama seperti dengan Pak Taufik dan Ibu Eva, saya juga sedang melakukan penelitian untuk thesis saya mengenai Psycap ini…

    Pak Taufik dan Ibu Eva, rasanya ingin berdiskusi dan bertuka pikiran dengan anda…. boleh kah?

  16. Saya senang membaca artikel Psy-cab ini secara ringkas sbg awal pengeth utk memacu sy menelusuri lbh lanjut. Kebetulan bagi yg sedang meneliti ini mohon sharing infonya krn saya sedang menyusun desertasi saya tentang psy-cab ini dengan bahan rujukan salah asatunya adalah desertasi dari psikologi UGM.

Comments are closed.