Tragis, 25 Juta Keluarga Muda Indonesia Tidak Sanggup Beli Rumah

Rumah RESimak data yang kelam ini : terdapat 25 juta keluarga Indonesia yang masih belum memiliki rumah sendiri secara permanen.

Dengan kata lain, jutaan keluarga masih nebeng tinggal di Pondok Mertua Indah atau selamanya akan tinggal dalam Griya Kontrakan Abadi.

Atau yang lebih muram : tinggal dalam rumah petak kecil yang dijejali puluhan orang (kakek, nenek, ayah ibu, anak, mantu, dan cucu, plus cicit mungkin).

Kenapa data kelam nan nestapa itu muncul? Atau jangan-jangan, Anda salah satu orang yang belum sanggup beli rumah sendiri?

Data yang dirilis oleh Kementerian PU dan Perumahan itu juga menyebut : jika satu keluarga dihuni 4 orang anggota, maka total ada sekitar 100 juta penduduk negeri ini yang belum tinggal di rumahnya sendiri secara permanen.

Kenapa jutaan orang tidak sanggup beli rumah? Sederhana alasannya : harga rumah, yang kecil sekalipun, mahalnya minta ampun.

Sebuah rumah dengan ukuran 36 (tipe 4L, lu lagi, lu lagi saking kecilnya) yang terletak di ujung Bekasi Timur (sekitar 2,5 jam kalo ke Jakarta – jadi 5 jam PP kalau kantor di Jakarta) – harganya sudah 250 juta. Sebuah angka yang acap tak terjangkau bagi karyawan dengan gaji hanya 5 jutaan.

Kenapa harga rumah makin mahal? Sederhana : makin banyak orang kawin.

Data menunjukkan, setiap tahun ada 800 ribu pasangan baru yang menikah. Artinya setiap weekend ada sekitar 14 ribu pasangan yang menikah.

Dengan kata lain, setiap tahun ada 800 ribu keluarga muda baru. Dan pasti dong, mereka semua ingin membeli rumah sendiri (kan malu kalau nebeng mertua terus).

Nah berapa pasokan rumah baru yang dibangun di tanah air dalam setahun? Hanya 100 ribu unit.

Jadi bayangkan gap pasokan – permintaannya : ada 800 ribu permintaan rumah baru, sementara pasokan hanya ada 100 ribu.

Maka berlaku hukum dasar ekonomi : saat demand (permintaan) jauh diatas supply (pasokan), maka harga barang pasti akan naik. Dan persis itulah yang terjadi dengan harga rumah di tanah air.

Harga rumah terus naik karena memang laju permintaan selalu jauh diatas laju pasokan.

Jadi setiap tahun ada 800 ribu pasangan baru menikah >> membuat permintaan rumah baru terus meningkat >> sementara pasokan kecil >> sehingga harga rumah naik terus.

Maka mungkin jomblo punya peran penting dalam menahan laju kenaikan harga rumah. Lho kok bisa begitu?

Statement tentang jomblo ini mungkin agak lucu, namun riset-riset dalam the science of property price membuktikan hipotesa seperti ini :

Populasi jomblo meningkat >> angka pernikahan sedikit menurun >> permintaan rumah baru ikut menurun >> harga rumah menjadi lebih stabil.

Disitulah, sebenarnya jomblo punya peran kunci dalam “stabilisasi harga properti”. 🙂 🙂

Kembali ke harga rumah.

Tadi saya sudah menyebut, harga rumah tipe 4L (tipe 36 yang kecil maksudnya) harganya sudah tembus 250 juta. Padahal lokasi sudah di ujung Bekasi Timur – yang amat jauh jaraknya ke Jakarta. Kalau kantornya di Kuningan, Jakarta, hidupmu bisa habis di jalanan karena bisa 5 jam PP.

Oke jika kita tetap mau beli rumah 250 juta itu, dengan DP 20 %, bunga 14% per tahun, dan jangka atau tenor 10 tahun, maka cicilan per bulan adalah Rp 3 juta.

Artinya untuk membeli rumah kecil di ujung planet sana (Bekasi ujung maksudnya), Anda harus siapkan DP 50 juta, dan cicilan 3 juta per bulan selama 10 tahun (lama banget).

Nah, dalam ilmu financial planning ada prinsip : cicilan maksimal hanya 30% total gaji. Jadi kalau mau nyicil KPR sebesar 3 juta/bulan, maka gaji Anda minimal 9 juta per bulan.

Dengan kata lain, gaji Anda minimal harus 9 juta/bulan agar sanggup beli rumah (jauh diatas UMR yang hanya 3 jutaan).

Di usia berapa sebaiknya gaji sudah menembus 9 juta/bulan? Semestinya di usia 29 tahun atau maksimal 30 tahun, Anda sudah harus menembus angka itu (dan seperti yang pernah saya tulis, kemudian di usia 35 tahun sudah melampaui income 15 juta/bulan).

Kalau usia sudah 30 tahun, gaji masih dibawah 9 juta, ada dua kemungkinan : 1) strategi karirmu keliru atau 2) kompetensi-mu abal-abal.

Anda mulai kerja selepas lulus kuliah di usia 22 tahun. Masuk kerja gaji pertama mungkin 3 – 4 jutaan. Dalam rentang 7 tahun karir (atau saat usiamu 29), mestinya gajimu sudah tembus 9 atau bahkan double digit (maksudnya diatas 10 juta/bulan).

Sama : kalau Anda bisnis sendiri selepas lulus kuliah di usia 22 tahun, maka di usia 29 atau 7 tahun sesudah itu, Anda harus bisa mendapatkan net profit minimal 9 juta/bulan (syukur bisa 4 kali lipatnya). Kalau belum bisa, artinya strategi bisnismu kurang maknyus. Atau Anda kurang kreatif dalam menjalankan bisnismu.

Itu tadi harga rumah Tipe Lu Lagi Lu Lagi di ujung Bekasi yang harganya 250 juta. Kalau tipe yang lebih besar, misal tipe 120 M (luas rumah lebih manusiawi) di lokasi yang lebih elit, misal di Cibubur, harga mungkin sudah diatas Rp 1.5 M.

Sementara rumah keren yang ditampilkan sebagai ilustrasi gambar artikel ini, kisaran harganya antara 1.5 s/d 2 milyar. Coba lihat lagi gambarnya. Keren yak. Saya suka.

Nah, kalau gaji Anda hanya 10 jutaan, mana sanggup beli rumah indah seperti itu? Kecuali Anda menikah dengan anaknya Chairul Tanjung…

Demikianlah, seringkas informasi kelam tentang kenapa jutaan keluarga muda masih belum sanggup beli rumah sendiri secara permanen.

Namun daripada ngomel-ngomel harga rumah yang makin melangit, sambil menyalahkan pemerintah-lah, spekulasi-lah, developer-lah, atau salahnya orang yang kawin-lah; lebih baik melakukan ini : take action supaya tahun depan income Anda naik dua atau tiga kali lipat.

Dengan kekuatan kreativitas dan kompetesi-mu.

Sebab saya percaya ungkapan ini : dunia ini sama sekali tidak kekurangan uang. Yang sangat kurang adalah orang-orang dengan kreativitas cemerlang untuk mendulang rezeki super masif dari Sang Maha Pemberi Rezeki yang Sangat Pemurah.

Change your mindset. Change your life. Increase your income. Buy your dream house.

30 comments on “Tragis, 25 Juta Keluarga Muda Indonesia Tidak Sanggup Beli Rumah
  1. Kuncinya ada di kompetensi dan kreativitas. Tingkatkan terus kompetensi melalui self development, jangan nunggu dikursuskan.

    Kreativitas = think out of the box.

    Taklukkan dunia melalui mimpimu.

  2. Terlalu banyak faktor.. tergantung melihat dari sisi mana.

    Saat ini, mungkin (saya) lebih bijak untuk mengambil sisi yang sama dengan artikel ini. Ketika mampu, baru melihat dari sisi yang lebih tinggi.

    Bagaimanapun, rumah itu kebutuhan wajib warga negara, sehingga pemerintah ikut bertanggungjawab. Yang kaya nambah rumah banyak, padahal gak dipake, yang miskin terseok-seok karena harga rumah melambung. just saying..

  3. Bisa dipertimbangkan untuk migrasi ke Kalimantan, Sulawesi atau Sumatera aja, masih banyak tanah luas dan kesempatan hidup di sana…gaji 9 juta masih OK kok, kerja lebih santai sambil ibadah.

    Btw, kenapa contohnya Bekasi ya?…bisa makin terkenal dan ramai nanti wkwkwk…

    • Tergantung juga. Harga rumah di Makasaar dan Manado, kenaikannya termasuk yg tertinggi di Indonesia. Dan mahal juga.

      Harga rumah di Balikpapan tipe 36, sudah tembus 400 juta (lihat komen dibawah).

      Di Medan, Palembang dan Aceh, harga rumah juga mahal….

      Kecuali kita cari rumah di pinggiran atau pinggir hutan, mungkin lebih murah 🙂

      Saya kasih contoh Bekasi, karena saya sekarang tinggal di Bekasi 🙂

  4. kalau jomblo makin banyak bagus juga kok.

    biar mereka yg ingin punya rumah jadi gak mahal2 amat haha. sama satu lagi coba aja pindah ke luar jawa yang bagus.

    pengalaman pribadi orangtua beli rumah di perumahan menengah ukuran TP 80 minimalis masih 400an padahal cuman 3 km dari bandara palu.

    masih banyak potensi diluar jawa. alam yang indah plus suasana baru masak dari lahir sampe mati disitu2 aja. indahnya berhijrah

  5. Semakin menambah semangat untuk hidup lebih baik. Alhamdulillah saat ini sudah memiliki rumah. Memang menjalani hidup harus dengan motivasi, kreatifitas dan kompetensi. Agar semakin siap dalam menyongsong era persaingan global.

    Terimakasih blog strategimanajemen.net

  6. Mantap, mengena, dan membumi ulasannya Kang.

    Hidup memang harus diperjuangkan!

    omong-omong kalau di Pekalongan bagaimana Kang, misalnya di seputaran Ndoro atau Kedungwuni? 🙂

    ada analisanya?

  7. Alhamdulillah,,,
    Bulan depan depan, paling lambat awal tahun 2016, insyaAllah saya pindah dari Griya Kontrakan Abadi, ke rumah sendiri.
    Terima kasih atas inspirasinya setiap senin.
    Alhamdulillah, buat saya ngefek dan ada hasilny.
    Barokallah Bang Yodh…

  8. Sekedar curhat aja Om Yodha..

    saya resign dr BUMN des 2013 (usia 24th). dan setelah itu fokus bisnis online dibidang web design. tahun pertama tembus 85jt (kotor).

    itu jg saya sering traveling (otomatis duit berantakan). dan ditahun ke-2 kolaps. wkwkwk..

    nah bulan september barulah SURVIVE (terlalu lama kayaknya) dan skr sudah mulai keliatan membaik.

    skr fokusnya ke market luar krna lbh menjanjikan. bnyk diantara teman-teman seperjuangan di ranah online sudah bisa membangun kantor sendiri (ruko dijakarta).

    disini saya menyimpulkan, yg namanya enterpreneur harus meminimalisir kesenangan (sprti jalan-jalan).

    harusnya lbh fokus ke bisnis bukan malah melancong kemana-mana malah bisnisnya AMBRUK -_-

  9. Saya tinggal di balikpapan kalimantan timur…

    klo rmh tipe 36 sdh tembus 400jt keatas…

    2x harga d bekasi ditambah biaya hidup yg klo gak salah tertinggi di indonesia…

    gaji 10jt gak ada apa2nya, tp klo ada skill dan kreativitas…

    cari uang yg halal insya Allah gampang…alias gampang juga habisnya he..heee

    maklum…balikpapan kota paling dicintai dunia

  10. Nice Artikel Pak Yodhia, Untungnya saya sudah disadarkan dari 5 tahun yang lalu.

    saat umur 23 saya dipaksa suruh beli rumah oleh ortu dimana gaji saya hanya 2,5jt.

    tapi Allhamdulilah bisa dan skrg masuk tahun ke 6 cicilan KPR.

    Kalau ada niat pasti ada jalan…

  11. baca komen2 diatas, ada yg resign lalu sukses menembus angka bisa membeli rumah.

    Bagaimana dengan orang yang resign, lalu ternyata setelah lebih dari 10th, belum menghasilkan uang sama sekali?

    wow…

  12. Saya tinggal ditimur bekasi (mgkn daerah yg pak Yodh maksud). dan saya rasa tidak semua harga rmah tipe 36 disini 250jt, masih banyak yang dikisaran 130-150jt.

    Artinya masih banyak rumah di bekasi(timur) yang terjangkau cicilannya,dan banyak yang berpenghasilan tidak sampai 9jt yang sanggup beli rumah, bahkan punya dua (yang satu dikontrakan).

    Bolehlah Klo artikel ini untuk memotivasi,tapi yang tidak “berlebihan” jg kli pak. Matur swun

    • wah kalau segitu berarti emg juga pinter2 cari. mending rumah cari jgn lqngsung dari dev cari aja yg udh ditinggal.

      bnyk juga kok yg gak itung2an harga. contoh ortu punya rumah di ungaran dekat jalan raya yang rame banget dikontrakkin cuman 11 jutaan padahal rata2 udh 20an.

      yakin pasti banyak juga yg kayak beliau. yg penting niat dlu, pasti ada jalan. pake matematika tuhan pasti tembus

  13. Saya di Pontianak sih Pak Yod masih mampu nyicil rumah dengan gaji 6 jutaan, trus masih bisa beli kendaraan lagi.

    Beda sih ama jakarta, kehidupan lebih dinamis dan jauh lebih kreatif sepertinya.

    Tapi disini mencoba membuka paradigma baru….makasih atas pemaparannya….dan beruntunglah saya yang tinggal di pontianak

  14. Mantab…….kombinasi artikel dan komentar penulis menanggapi kolom koment …maknyuss…request topik sepak terjang BRI yang akan meluncurkan satelit dunk boss….

  15. Yup, makjlub banget.. sumur uang berlimpah, kerekannya yang terlalu kecil.

    ribetny klo usaha memperluas income berpacu dg waktu, solusi atraktifnya nyari rumah dipinggiran yg jauh dr minimarket sekalipun..

    pinter2 mnghadapi tantangan hidup.

    https://kasamago.com/

  16. jadi tambah semangat buat action nya nih,

    memang kita tidak bisa menyalahkan siapapun terhadap kondisi yang ada sekarang, karena memang itu semua diluar kendali kita. satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri bukan ?

    terimakasih informasinya yang berharga, yang bikin saya mulai panas lagi untuk berusaha

  17. Udah lama nggak mampir ke blog ini, dan setelah lama jadi silent reader akhirnya saya mau komen juga di artikel ini untuk sharing.

    Usia saya masih 24, sekarang lagi rencana ambil property, dan alhamdulillah sudah ketemu apartemen mini di kelapa gading 2 kamar.

    Saya ngerasain banget cari property begitu mahalnya, apalagi di tengah jakarta. Akhirnya setelah ditimbang timbang, saya pilih apartemen yang dekat kemana mana (kantor, dkk).

    Ambil apartemen di tengah kota, pertimbangan saya lebih murah, saya sudah hitung biaya bensin, tol dan lain lain kalau beli rumah di cibubur atau bekasi.

    Belum lagi capeknya berangkat subuh pulang petang. Di pusat kota saya bisa pulang cepat dan ada waktu serta tenaga buat iseng cari peluang di internet.

    Kalau keluarga muda, mungkin apartemen bisa jadi solusi tepat dibandingkan cari rumah di pelosok yang jauh.

    Cuma kesulitan yang saya rasakan yaitu, masih muda, kpr susah, apalagi belum nikah, padahal slip gaji sudah masuk cicilan, akhirnya terpaksa beli cash dengan harga unit yang lebih murah.

  18. He heh heh heh he he he..memang benar om, harga rumah biarpun rumah kecil tapi harganya GEDE ga kuku..

    tapi yang penting kita punya mimpi bisa punya rumah, karena banyak yang mempunyai impian menjadi kenyataan..sukses

Comments are closed.