Problem Sandwich Generation dan Pilihan Solusinya

Sandwich Generation adalah istilah yang merujuk pada fenomena generasi keluarga muda yang menanggung biaya hidup orang tuanya yang sudah pensiun dan tidak punya penghasilan lagi.

Pada sisi lain, keluarga muda ini sebenarnya masih butuh banyak dana untuk membesarkan anak-anaknya sendiri yang masih kecil atau tumbuh remaja.

Disebut sandwich generation karena seolah keluarga muda tersebut menanggung dua beban biaya hidup : yakni biaya buat membesarkan anak-anaknya sendiri; dan biaya buat menanggung hidup orangtuanya.

Generasi sandwich mungkin bukan problem kalau penghasilan keluarga muda tadi besar. Namun bisa menjadi tantangan finansial, jika keluarga muda tadi penghasilannya sebenarnya tidak gede-gede amat.

Karena harus menanggung beban biaya hidup dua keluarga, maka penghasilannya selalu habis, dan tidak lagi tersisa buat investasi masa depan.

Fenonema sandwich generation muncul karena perencanaan keuangan yang buruk.

If you fail to plan, then you plan to fail.

Jika Anda gagal merencanakan keuangan masa depan, maka Anda sedang merencanakan sebuah kegagalan finansial.

Survei yang pernah HSCB Bank menunjukkan hanya sekitar 30% pekerja formal di Indonesia yang sudah menyiapkan investasi buat masa depan saat pensiun.

Sementara 70% responden bilang akan mengandalkan bantuan keuangan dari anak-anaknya kelak ketika dirinya pensiun. Wadoh.

Realitas muram semacam itu yang membuat fenonema Sanwhich Generaton terus muncul di tanah air.

Data survei HSBC Bank juga menunjukkan kebutuhan biaya hidup setelah pensiun itu tidak menurun signifikan, yakni sekitar 94% dari pengeluaran rutin ketika aktif bekerja.

Dengan kata lain, setelah pensiun, seseorang tetap butuh biaya tinggi untuk menghidupi dirinya; sementara penghasilan sudah menurun drastis atau bahkan nol (karena gaji tidak ada lagi).

Bagaimana solusi untuk mengatasi lahirnya Generasi Sandwich kemudian hari?

Artikel ini saya tujukan untuk Anda yang masih muda usianya; katakan masih di bawah usia 40 tahun.

Jika memang usia Anda masih muda; maka sejak sekarang juga Anda harus menyiapkan rencana finansial masa depan, agar kelak Anda tidak nestapa ketika tua dan sudah pensiun.

Usahakan agar kelak ketika usia Anda sudah 55 tahun atau lebih, Anda tetap bisa mandiri secara finansial; dan tidak bergantung pada dukungan finansial dari anak-anak Anda.

Semakin muda Anda menyiapkan diri, makin bagus. Bahkan idealnya, mikir keuangan saat pensiun itu sudah harus Anda lakukan sejak usia 28 – 30an tahun.

Jangan baru mikir nanti setelah mendekati injury time, atau saat sudah dekat dengan masa pensiun. Ini kesalahan yang dilakukan banyak orang.

Akhirnya, mereka gagal menyiapkan diri, dan terpaksa mengandalkan dukungan finansial dari anak-anaknya.

Berikut 3 alternatif solusi untuk menyiapkan DANA PENSIUN agar kelak Anda punya tabungan yang lumayan cukup untuk menghidupi masa tua Anda.

Dana Pensiun #1 : Ikut Program JHT (Jaminan Hari Tua) BPJS Ketenagakerjaan

Intinya dalam program ini, Anda menyetor dana rutin setiap bulan untuk dikelola oleh JHT BPJS; agar bisa menghasilkan return on investment yang optimal. Kelak uangnya baru bisa diambil ketika Anda pensiun.

Bagi karyawan, perusahaan wajib mengikutkan Anda dalam program JHT (jika belum tanyakan ke bagian HRD).

Besarnya iuran bulanan adalah 5,7% dari gaji Anda (2% dari Anda, dan 3,7% disumbang oleh perusahaan tempat Anda bekerja).

Bagi yang wiraswasta, bisa ikut juga, dan besaran iuran bulanan bebas ditentukan sesuai kemampuannya.

Program JHT ini bisa “memaksa” Anda untuk disiplin melakukan investasi, dan prosesnya autodebet. Jadi setiap bulan, secara otomatis, gaji Anda dipotong agar rajin investasi.

Investasi 5,7% dari gaji tiap bulan, lumayan juga (apalagi jika gaji pokok Anda sudah besar, katakan Rp 10 juta/bulan). Melalui JHT ini, setidaknya kelak bisa membuat Anda punya dana pensiun yang bisa diandalkan.

Anda bisa daftar JHT BPJS DISINI.

Dana Pensiun #2 : Menabung Emas Tiap Bulan

Harga emas selama 5 tahun terakhir naik 71%, sebuah kenaikan yang lumayan tinggi. Emas juga relatif lebih aman risikonya dibanding investasi sahama dan reksadana.

Anda bisa mengikuti program menabung emas secara rutin tiap bulan. Manfaat program ini adalah membuat Anda menjadi DISIPLIN dalam melakukan investasi.

Proses menabung juga dilakukan secara autodebet; sehingga Anda tidak harus ribet setor setiap bulan, yang sering lupa dan telat. Dengan autodebet emas, Anda secara otomatis punya habit menabung emas setiap bulan secara rutin.

Nilai tabungan emas tentu bisa disesuaikan dengan kemampuan Anda. Jika harga emas terus naik, maka kelak ketika pensiun, Anda akan bisa punya dana pensiun yang lumayan buat modal hidup.

Anda bisa ikut program menabung emas di Tokopedia DISINI.

Dana Pensiun #3 : Investasi Buat Modal Usaha Sampingan

Melalui opsi ketiga ini, Anda mulai investasi sendiri sejak sekarang. Misal tiap bulan Anda menabung sekian rupiah; lalu hasilnya digunakan buat merintis usaha sampingan.

Harapannya, usaha sampingan ini sukses, dan kelak bisa menghasilkan income lumayan saat Anda pensiun.

Misal usaha sampingannya adalah punya kos-kosan di dekat kampus. Bangun mulai dari 1 kamar, 2 kamar, 3, 4, dst. Bangun satu kamar baru setiap ada uang lebih (misal pasa dapat bonus dari kantor).

Kelak pas pensiun sudah punya 20 kamar, disewakan Rp 1 juta per bulan. Mantappp.

Alternatif lain usaha sampingan banyak jenisnya : bisa jualan kuliner secara online; bisa mulai usaha ternak kambing di kampung; atau bisa juga mulai merintis usaha jualan fashion via Shopee.

Intinya dalam opsi ketiga ini adalah adalah Anda mengumpulkan uang agar kelak punya modal cukup buat merintis usaha sampingan.

Idealnya usaha ini sudah dimulai sejak Anda berusia 30-an tahun. Jangan nunggu saat mendekati pensiun atau saat usia usah 55 tahun; terlambat langkahnya. Kalau rugi, maka uangnya bisa habis semua, dan malah bangkrut pas saat pensiun.

Kalau sejak muda sudah mulai melangkah action, maka kalaupun gagal, masih ada waktu panjang buat mencoba usaha yang lain. Demikian juga masih ada uang dari gaji yang bisa diandalkan.

Demikianlah tiga pilihan solusi untuk mengatasi fenonema Sandwich Generation.

Sekali lagi, jadilah orang tua yang mandiri secara finansial sampai tua. Usahakan agar kelak ketika usia 60 tahun, Anda semua tetap punya income sendiri yang bisa diandalkan.

14 comments on “Problem Sandwich Generation dan Pilihan Solusinya
  1. Mantap inspiras dii awal pekan.

    Selalu menggugah semangat untuk nge-gawe dengan lebih baik.

    Sedikit numpang nanya pengalaman sobat-sobat di sini:

    Kalau daftar Indihome berapa lama pasangnya?
    Seminggu, sebulan atau berapa?

    Saya sudah daftar dan bayar deposit untuk anak saya tanggal 30 Juni 2020,
    Sampai hari belum dipasang.

    Terima kasih info dan sharing pengalamannya.

    • Biasanya sehari setelah kita bayar deposit akan di pasang di rumah mas, kalo belum di pasang coba tanyakan ke pihak marketingnya apakah data kita sudah di acc oleh pusat/belum. Kemarin pengalaman saya 1 minggu tidak di pasang2 , saya tanya ternyata data masih nyangkut di pusat belum bisa di acc

  2. Menarik sekali. Saham dapat jadi salah satu pilihan instrumen, khususnya jika targetnya jangka panjang.

    Untuk risiko tentunya dapat diminimalisir dengan pemahaman ttg strategi investasi saham yang baik. Plus dengan memilih saham-saham dengan kualitas bagus.

    Terima kasih atas tipsnya. Semoga semakin banyak yang bisa mengelola keuangan dengan baik. Jadi bisa terhindar dari generasi sandwich.

  3. Faktor penting lain yang tidak bisa dilupakan tentu saja adalah fokus meningkatkan income. Tentunya income yang naik, akan menambah modal untuk bisa nabung dan investasi.

  4. sebuah dilema yang terjadi turun temurun,sudah menjadi budaya malahan,sebuah kebangga saat anak balas budi kepada orang tua.
    dan keluarga besar atau tetangga mengetahui nya,..saat kita membaca sandwich generation,semoga kita tersadar..bahwa generasi pembaca blog ini bisa mempersiapkan hari tua nya,agar tidak merepotkan anak cucu.

Comments are closed.