
Satu dekade lalu, Indonesia dijuluki sebagai “surga unicorn” di Asia Tenggara. Startup seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, hingga berbagai perusahaan teknologi lain berhasil meraih valuasi miliaran dolar dan menjadi kebanggaan ekosistem digital Indonesia. Investor global berlomba-lomba menanamkan modal karena melihat potensi pasar Indonesia yang sangat besar.
Namun, situasinya berubah drastis. Banyak unicorn mengalami PHK massal, merugi dalam jumlah besar, melakukan efisiensi, bahkan ada yang kehilangan valuasi hingga puluhan triliun rupiah. Tidak sedikit startup yang akhirnya tutup atau diakuisisi dengan harga jauh di bawah ekspektasi.
Lalu, kenapa banyak unicorn Indonesia seperti hancur lebur? Berikut empat alasan utamanya.
1. Terlalu Lama Bakar Uang, Tapi Sulit Untung
Strategi terbesar unicorn Indonesia sejak awal adalah burning money atau membakar uang untuk mengejar pertumbuhan pengguna.
Diskon besar-besaran, cashback, gratis ongkir, hingga promo tanpa batas berhasil menarik jutaan pelanggan. Masalahnya, pertumbuhan pengguna tidak selalu menghasilkan keuntungan.
Selama investor terus memberikan pendanaan, strategi ini terlihat berhasil. Namun ketika pendanaan mulai mengetat, perusahaan harus menghadapi kenyataan bahwa biaya operasional jauh lebih besar daripada pendapatan.
Akhirnya banyak unicorn dipaksa memangkas promo, menaikkan harga layanan, dan melakukan PHK untuk mengurangi kerugian.
Pertumbuhan ternyata tidak cukup jika bisnis belum menghasilkan laba.
2. Era Uang Murah Berakhir
Selama bertahun-tahun, suku bunga global berada pada level rendah sehingga modal dari investor mengalir sangat deras ke startup teknologi.
Setelah inflasi global meningkat, bank sentral seperti Federal Reserve menaikkan suku bunga. Akibatnya, investor menjadi jauh lebih selektif.
Pendanaan yang sebelumnya mudah didapat berubah menjadi sangat sulit.
Startup yang sebelumnya bisa menggalang dana miliaran rupiah kini harus membuktikan profitabilitas dan arus kas yang sehat. Banyak perusahaan yang bergantung pada pendanaan akhirnya kesulitan bertahan ketika investasi mulai mengering.
Era “uang gratis” telah berakhir.
3. Persaingan Terlalu Ketat, Margin Semakin Tipis
Pasar digital Indonesia memang besar, tetapi juga dipenuhi pemain yang saling menyerang.
E-commerce bersaing dengan e-commerce lain. Layanan transportasi online bertarung soal tarif dan insentif. Fintech bersaing memberikan pinjaman dan promo.
Akibatnya, biaya akuisisi pelanggan menjadi sangat mahal.
Setiap perusahaan harus mengeluarkan biaya pemasaran besar hanya untuk mempertahankan pengguna yang sama. Dalam kondisi seperti ini, keuntungan semakin sulit didapat karena margin terus tergerus oleh kompetisi.
Semakin banyak pemain, semakin kecil ruang untuk menghasilkan laba.
4. Valuasi Terlalu Tinggi, Ekspektasi Tidak Realistis
Banyak unicorn memperoleh valuasi fantastis berdasarkan proyeksi pertumbuhan masa depan, bukan keuntungan yang sudah dihasilkan.
Ketika kondisi ekonomi berubah, investor mulai menilai perusahaan berdasarkan kinerja nyata, bukan sekadar jumlah pengguna atau potensi pasar.
Akibatnya, valuasi banyak startup turun drastis. Beberapa perusahaan publik kehilangan sebagian besar nilai kapitalisasi pasarnya karena pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi investor.
Valuasi yang terlalu tinggi akhirnya menjadi beban ketika bisnis tidak mampu tumbuh secepat yang dijanjikan.
Apakah Semua Unicorn Akan Gagal?
Tidak juga. Sebagian unicorn mulai mengubah strategi dengan fokus pada profitabilitas, efisiensi operasional, dan bisnis yang menghasilkan arus kas positif.
Perusahaan yang memiliki model bisnis kuat, pelanggan loyal, dan kemampuan menghasilkan keuntungan masih memiliki peluang bertahan dalam jangka panjang.
Fase saat ini lebih mirip proses seleksi alam: perusahaan yang mampu beradaptasi akan bertahan, sementara yang hanya mengandalkan pertumbuhan tanpa keuntungan akan semakin tertekan.

