The Rise of Indonesian Middle Class

Tiap pagi, kita menyaksikan ribuan atau mungkin jutaan orang bergegas, pergi berangkat ke kantor. Ada yang naik mobil Honda Jazz, ada yang naik sepeda motor Supra X, ada yang naik angkot butut, dan ada pula yang melenggang dengan sepeda Polygon. Di setiap saku mereka pasti sudah tersimpan handphone (ada yang pake BB ada pula yang pake Nexian murahan). Tiap pagi jutaan orang ini – dan Anda mungkin termasuk didalamnya – berangkat untuk bekerja, menggerakkan roda ekonomi bangsa.

Jutaan orang itu adalah potret middle class di Indonesia. Dan hari-hari ini, kita tengah menyaksikan kebangkitan raksasa jumlah kaum kelas menengah di tanah air. Tahun depan diprediksi jumlah kelas menengah di Indonesia akan berjumlah 100 juta orang, naik dua kali lipat dibanding sepuluh tahun silam.

Tak pelak, pertumbuhan jumlah kelas menengah yang sedemikian masif itu akan memberikan impak dramatis bagi masa depan negeri ini. Gelombang kemakmuran dalam skala raksasa mungkin tengah menunggu untuk dipentaskan. Dan kita – saya dan Anda semua – mestinya tidak hanya termangu menjadi penonton belaka. Continue reading

Perempuan Muda, Cantik dan Kaya itu Bernama Merry Riana

Malam terasa begitu megah. Ribuan pendaran cahaya tampak begitu gemerlap menerangi langit. Di salah satu sudut bangunan tertinggi di Orchard Road, Singapore, tampak berdiri perempuan muda nan cantik asal Jakarta bernama Merry Riana.

Sambil menyaksikan pemandangan malam hari yang begitu indah, pandangannya menerawang jauh. Air matanya terlihat mulai menetes. Malam itu, di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia telah berhasil merengkuh impiannya menembus financial freedom : di-usia yang sangat muda itu, ia telah berhasil memperoleh penghasilan 1 juta dollar. Media terkemuka di Singapore menobatkannya sebagai the young female millionaire.

Padahal, beberapa tahun sebelumnya, perempuan yang besar di Pulomas, Jakarta itu harus setiap hari sarapan indomie rebus lantaran kekurangan biaya kuliah. Padahal beberapa tahun sebelumnya, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan di hotel dan penjaga toko bunga untuk membiayai hidupnya.

Kisah tentang Merry Riana adalah kisah tentang impian besar, tentang keteguhan hati, dan tentang doa sepanjang hari yang terus dilantunkan. Continue reading

Earn More. Spend Less. And Give More.

Berapa income yang mestinya kita peroleh agar bisa melakoni hidup dengan penuh rasa tentram, gemah ripah loh jinawi? Perhitungan yang pernah saya tuliskan disini, membawa kita pada angka 16 juta rupiah per bulan. Wah lumayan tinggi juga ya.

Benar, angka itu jauh lebih tinggi dibanding UMR kota Jakarta yang hanya 1,5 juta per bulan. Mengapa segitu tinggi? Pan katanya mau hidup lumayan tentram?

Eniwei, hidup di kota-kota besar rasanya memang kian mahal. Harga rumah sepetak di pinggiran kota Bekasi sudah mencapai 250 juta rupiah. Hanya dengan mendapatkan segenggam nafkah yang memadai, kita mungkin baru bisa membangun biduk rumah tangga yang sejahtera.

Dan persis disitulah, kita dikenalkan dengan 3 kredo atau prinsip utama perencanaan keuangan yang mak nyus. Tiga kredo magis itu berbunyi : Earn more. Spend less. And Give More. Mari kita menghampirinya satu per satu. Continue reading

Ratio 3 to 1 : Magic Formula behind Positive and Happiness Life

Hasrat untuk diguyur kuyup dengan kebahagiaan di dunia dan akherat. Demikian lantunan doa dan harapan yang terus menerus kita suarakan dengan sepenuh sukma. Sebab tidakkah itu memang merupakan salah satu tujuan puncak yang hendak kita daki, dalam kehidupan yang amat fana ini?

Happiness. Joy of life. Excitement. Passion. Kedamaian. Rasa syukur yang terus membuncah. Inilah berderet elemen positif yang mestinya bisa terus mengalir dalam setiap jejak langkah kehidupan yang kita tapaki.

Ditengah udara pagi Jakarta yang mendung, sembari ditemani secangkir teh hangat, kita ingin berbincang tentang tema penting itu. Tentang sebuah pertanyaan krusial : formula ampuh apakah yang mesti kita reguk untuk melampiaskan dahaga kita akan kidung hidup yang penuh kebahagiaan? Continue reading

Tranformasi BUMN dan Impian tentang Indonesian Incorporated

Minggu lalu, saya diundang oleh Kantor Kementerian BUMN untuk memberikan public speaking di depan 200 jajaran direksi dari 40 BUMN besar di tanah air (bicara didepan 200 audiens yang seluruhnya adalah top management level, terus terang memicu adrenalin juga). Tema pertemuan saat itu adalah tentang transformasi BUMN demi terwujudnya impian tentang Indonesian Incorporated.

Indonesian Incorporated kita tahu merupakan sebuah gagasan tentang sinergi antara sektor government dengan sektor perusahaan (baik swasta nasional ataupun BUMN) dalam menggelindingkan kejayaan ekonomi bangsa. Sebuah gagasan penting ditengah gemuruh kebangkitan ekonomi Asia.

Dan kita tahu, peran BUMN dalam ekonomi nasional sungguh sangat masif. Sebagai info, pendapatan total dari 10 BUMN terbesar di Indonesia lebih besar dibanding total pendapatan dari semua perusahaan non BUMN Indonesia yang sudah go public.

Lalu, poin fundamental apa yang layak di-stabilo kalau kita mau proses transformasi BUMN berakhir dengan kegemilangan? Kita akan membahas tiga poin penting disini. Continue reading

Talent War dan Predatory Recruitment

Pagi itu gerimis membelah jalanan kota Jakarta. Di salah satu ruang gedung perkantoran di bilangan Sudirman, seorang CEO sebuah perusahaan finansial berdiri dengan penuh rasa masygul. Minggu lalu, 25 karyawan terbaiknya dibajak oleh perusahaan pesaing. 25 orang sekaligus dalam waktu yang sama.

Peristiwa itu sungguh membikin sang CEO shock. Di tengah target pertumbuhan bisnisnya yang dipatok tinggi, kehilangan 25 orang terbaik sungguh merupakan pukulan yang signifikan (apalagi mereka semua dibajak oleh kompetitor yang sama). Ia hanya bisa memandang sendu ke jendela kantornya yang megah. Di luar sana, langit mendung masih saja menggantung dan gerimis masih saja turun.

Selamat datang di era Talent War. Inilah sebuah era dimana beragam perusahaan bertarung dan berjibaku untuk memperebutkan karyawan dan manajer-manajer ulung. Di tengah pertempuran yang acap sengit itu, tak jarang sejumlah perusahaan tergoda untuk melakukan predatory recruitment : membajak satu batalion karyawan terbaik milik para pesaingnya. Continue reading

Kenapa Internet telah Menghancurkan Thinking Skills Kita?

Beberapa pekan lalu, sambil duduk leyeh-leyeh di serambi rumah, saya melakoni apa yang selalu saya lakukan di kala sore yang senggang dan teduh : membaca buku yang isinya kira-kira bagus.

Kali ini sembari ditemani keripik goreng yang renyah, saya hampir tersedak ketika membaca kesimpulan buku yang tengah saya baca : internet secara masif telah menghancurkan kecakapan berpikir kita. Yes, internet has destroyed our thinking skills.

Buku yang menjadi New York Time Best Seller itu bertajuk : What the Internet is Doing to Our Brains. Judulnya menarik dan mengundang rasa ingin tahu. Begitulah, di akhir pekan yang teduh itu, sambil sesekali mengunyah keripik goreng, saya menikmati halaman demi halaman buku ini dengan sungguh-sungguh.

Dan di pagi ini saya ingin membagikan esensi isi dari buku itu kepada Anda semua. Continue reading