Citilink vs Pelita Air vs Lion Air: Mana yang Layak Jadi Pilihan?

Di era mobilitas tinggi seperti sekarang, memilih maskapai penerbangan bukan sekadar soal harga tiket. Kenyamanan, ketepatan waktu, pelayanan, hingga reputasi juga memainkan peran penting. Di antara maskapai penerbangan domestik yang paling sering wara-wiri di langit Indonesia, ada tiga nama yang kerap jadi pilihan utama: Citilink, Pelita Air, dan Lion Air.

Saya akan mencoba membandingkan ketiganya secara singkat, jujur, dan berbasis pengalaman langsung maupun data publik.

Continue reading

Minggu Ini Tarif Tinggi Trump Berlaku Permanen bagi RI: So What?

Minggu ini, kebijakan tarif tinggi era Presiden Donald Trump resmi ditetapkan permanen bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Artinya, berbagai produk ekspor RI, seperti tekstil, aluminium, dan produk manufaktur tertentu, akan tetap dikenai bea masuk tinggi saat masuk ke pasar Amerika Serikat (tarif Trump terhadap Indonesia akan tembus hingga 47% !!).

Langkah ini mengonfirmasi bahwa pendekatan proteksionis AS tidak lagi hanya bersifat sementara atau politis, tetapi telah menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang Washington dalam merespons persaingan dagang global.

Continue reading

Janji Manis Pemerintah, Luka Pahit Investor: Curhat KCC Glass dan Realita Investasi di Indonesia

Investasi adalah tentang kepercayaan. Ketika sebuah perusahaan asing memutuskan untuk menanamkan modal di suatu negara, mereka datang bukan hanya membawa uang, tapi juga harapan, rencana jangka panjang, dan ekspektasi akan stabilitas serta kepastian.

Namun, apa jadinya jika janji-janji manis pemerintah berubah menjadi kenyataan pahit? Inilah yang terjadi pada pabrik KCC Glass di Batang, Jawa Tengah — sebuah investasi besar dari Korea Selatan yang kini justru menyuarakan kekecewaan mendalam.

Pabrik KCC Glass masuk ke Indonesia dengan semangat besar. Mereka dijanjikan kawasan industri Batang yang strategis, fasilitas infrastruktur yang siap pakai, dan berbagai insentif investasi yang menggiurkan. Tapi seiring waktu, kenyataan berkata lain.

Continue reading

Pertarungan Cita Rasa & Strategi: Kopi Kenangan, Fore Coffee, dan Kopi Tuku

Dalam beberapa tahun terakhir, industri kopi di Indonesia bukan cuma soal secangkir espresso atau latte yang enak, tapi juga soal siapa yang paling cepat, paling cerdas, dan paling dekat di hati pelanggan. Tiga nama besar yang jadi sorotan adalah Kopi Kenangan, Fore Coffee, dan Kopi Tuku. Masing-masing punya gaya, pendekatan, dan target pasar yang berbeda—tapi tujuannya sama: merebut hati para penikmat kopi.

Continue reading

Strategi Pengembangan SDM di Bank Mandiri

Bank Mandiri sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Strategi pengembangan SDM di Bank Mandiri bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang berkualitas, profesional, serta mampu beradaptasi dengan perubahan di industri perbankan.

Dengan berbagai program pelatihan, pengembangan karier, serta kebijakan berbasis teknologi, Bank Mandiri terus berupaya meningkatkan kapabilitas karyawan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Continue reading

Kenapa Danantara adalah Game Changer Ekonomi Indonesia?

Danantara, atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, diluncurkan pada 24 Februari 2025 sebagai dana kekayaan negara kedua Indonesia setelah Otoritas Investasi Indonesia (INA). Dengan modal awal sebesar USD 20 miliar dan target pengelolaan aset hingga USD 980 miliar, Danantara diharapkan menjadi pengubah permainan (game changer) dalam perekonomian Indonesia.

Mengapa Danantara Dianggap Sebagai Game Changer?

Pengelolaan Aset Negara yang Lebih Efisien

Danantara mengambil alih pengelolaan tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar, termasuk Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, PLN, Pertamina, BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID. Dengan total aset gabungan mencapai IDR 14.720 triliun (USD 900 miliar), pengelolaan yang terpusat di bawah Danantara diharapkan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan aset negara.

Continue reading

Drama Stagnasi Bisnis Unilever Indonesia

PT Unilever Indonesia Tbk, sebagai salah satu perusahaan barang konsumen terkemuka di Indonesia, telah mengalami penurunan kinerja bisnis yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini tercermin dari laporan keuangan tahun 2024 yang menunjukkan penjualan sebesar Rp35,14 triliun, turun 8,99% dibandingkan tahun sebelumnya, serta laba bersih yang anjlok hampir 30% menjadi Rp3,36 triliun.

Faktor-faktor Penyebab Penurunan Kinerja

Melemahnya Permintaan Konsumen

Direktur Utama Unilever Indonesia, Benjie Yap, menyebut bahwa penurunan kinerja penjualan disebabkan oleh pertumbuhan harga dasar yang negatif sebesar 3,6% dan pertumbuhan volume dasar yang melemah 5,2%. Hal ini menunjukkan adanya penurunan permintaan konsumen yang dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan perubahan prioritas belanja masyarakat.

market.bisnis.com

Persaingan dengan Merek Lokal

Continue reading

DOWNLOAD GRATIS sekarang juga !!