Kenapa Harga Tanah dan Rumah Terus Naik Gila-gilaan?

Ya, kenapa harga rumah sekarang makin melangit? Pergerakan kenaikan harga tanah dan rumah memang suka bikin orang yang tidak punya banyak uang, jadi pening dan termehek-mehek.

Kini tak jarang rumah dengan ukuran hanya 60M2 di daerah pinggiran kota Bekasi atau Tangerang harganya sudah tembus Rp 500 juta. Sering dalam hitungan bulan, harga rumah naik 30%.

Ini berita yang muram bagi pasangan yang baru menikah atau menikah sudah lama tapi masih tinggal di rumah kontrakan. Puluhan juta orang bisa tak pernah sanggup beli rumah seuumur hidupnya. Nebeng terus di rumah orang tuanya sampai ajal menjemput. Doh.

Faktanya, laju kenaikan gaji memang kalah jauh dibanding laju kenaikan harga rumah. Dulu, di tahun 1984 gaji karyawan yang baru masuk hanya sekitar Rp 300 ribu. Namun harga rumah ukuran 100M saat itu hanya Rp 20 jutaan.

Kini, 30 tahun kemudian, gaji karyawan yang baru masuk rata-rata Rp 3 juta atau naik 10 kali lipat. Namun harga rumah ukuran 100M2 saat ini rata-rata harganya sudah Rp 600 juta, atau naik 30 kali lipat.

See, laju kenaikan gajimu hanya sepertiga laju kenaikan harga rumah.

Kalau tren seperti ini terus berlanjut, maka kelak harga rumah ukuran 100M2 akan dengan mudah tembus Rp 3 milyar. Dari mana uangmu untuk bisa beli rumah kalau harga segila itu? Uang cap monopoli?

Kenapa harga rumah dan tanah naiknya gila-gilaan? Ada jawaban sederhana namun fundamental : ledakan jumlah penduduk. Sekedar mengingatkan, jumlah penduduk Indonesia sekarang sudah tembus 250 juta, nomer empat terbesar di dunia.

Ya, harga rumah naik karena makin banyak orang yang hobi bikin anak. Progam KB tinggal kenangan masa lalu. Coba hitung berapa rata-rata jumlah anak di keluarga besar Anda? Rata-rata lebih dari dua orang kan? Iya kan?

Makin banyak suami istri gemar melakukan ritual making love > lahir jutaan bayi dalam setahun > makin banyak anak makin tinggi kebutuhan lahan dan rumah > kebutuhan akan rumah meningkat pesat > akhirnya harga tanah dan rumah naik secara dramatis.

Itulah kenapa saya menyebut bahwa sesungguhnya ada korelasi positif antara frekuensi hubungan intim suami istri dengan laju kenaikan harga properti. Saya menyebut teori ini sebagai “The Theory of Sexual Relationship and Property Price”.

I am not kidding. Data menunjukkan setiap tahun ada 4 juta bayi baru lahir di Indonesia. Artinya setahun sekali kita memproduksi penduduk yang sama besarnya dengan jumlah penduduk negara Singapore. Wattaauww.

Dan karena makin banyak suami istri yang hobi ML, maka diprediksi angka 4 juta bayi pertahun itu akan menjadi 5 juta anak baru lahir per tahun. Itulah kenapa diprediksi pada tahun 2030, jumlah penduduk Indonesia akan makin meledak menjadi 340 juta. #Jebreeettt.

(Dengan jumlah penduduk seperti sekarang saja, macet jalanan sudah bikin puyeng. Apalagi kelak, jika penduduknya menjadi 340 juta).

Dan sejarah di dunia menunjukkan, setiap kali ada ledakan jumlah penduduk, maka harga tanah dan rumah selalu akan ikut meledak. Ini sudah hukum alam.

Jadi jika harga rumah naik gila-gilaan, jangan salahkan spekulan, makelar, atau developer yang dituding hanya cari untung semata. Bukan. Bukan mereka penyebabnya.

Salahkan diri Anda sendiri yang sudah menikah dan hobi bikin anak. Atau saudara dan keluarga besarmu yang punya anak lebih dari dua.

Sebab, kalian keluarga Indonesia yang hobi bikin anak-lah yang menjadi pemicu utama kenaikan harga tanah dan rumah secara gila-gilaan.

Sekali lagi, pemicu paling fundamental dari kenaikan harga rumah dan tanah secara dramatis adalah karena ledakan penduduk. This is the fundamental force behind those crazy prices.

Dan sekali lagi, ledakan penduduk itu terjadi karena makin banyak keluarga Indonesia yang tanpa rasa dosa punya anak lebih dari dua. Sesederhana itu.

Maka bagi pasangan muda yang baru menikah (atau bagi Anda yang kelak akan menikah) : be wise in making love with your spouse. Use condoms or spiral.

Sebab, kerelaan Anda untuk memakai kondom, spiral atau pil KB akan sangat membantu dalam menahan laju kenaikan harga tanah dan rumah. Believe me. It’s true.

Sampaikan salam hangat saya untuk keluarga Anda di rumah.

—–

Download FREE – Buku PANDUAN : 12 Strategi Kunci untuk Meraih Financial Freedom DISINI.

Photo credit by : rumahminimalis

Anda pilih Misqien atau Kaya? Dapatkan Ebook yang Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Kekayaaan dan Financial Freedom. Gratis. Download DI SINI sekarang juga. Atau klik gambar di bawah.

Related Post

Jika Penghasilan “Hanya” Rp 7 juta/bulan, Kapan Bisa Beli Rumah? Rumah. Pada akhirnya, setiap keluarga (atau yang akan menikah) memiliki harapan untuk memiliki rumah sendiri. Sebuah tempat dimana kita bisa berteduh,...
Peringkat Kenaikan Harga 10 Saham Terbaik Indonesia Sepanjang Masa Maukah Anda invest dana Rp 50 juta, dan kemudian dengan sabar menanti; lalu bertahun-tahun kemudian dana itu menjadi Rp 4.1 Milyar? Itulah return o...
Kenapa Artikel tentang the Death of Samurai dan Kegoblokan Kolektif Memancing Kehebohan? Terus terang saya terkejut dan sama sekali tidak menduga jika tulisan minggu lalu berjudul “Ilmu Financial Psychology, Booming Batu Akik dan Kegobloka...
57 comments on “Kenapa Harga Tanah dan Rumah Terus Naik Gila-gilaan?
  1. Gara2 Jakarta penuh Mas Yodia ngelarang org memperbanyak keturunan. Tuhan aja nggak ngelarang lho mas he he.
    Kalimantan, Sumatera, Papua, dan belahan dunia lain masih banyak tanah kosong mas.
    Banyak Program yg bisa dijalankan u problem ini.

  2. Menurut sy kepadatan demografi adlh salah satu faktor, namun bukan yg paling dominan.

    Kenaikan harga rumah yg ‘amazing’ tbt mnrt sy lbh disbbkan krn adanya unsur bisnis yg kuat plus keterbatasan lahan tanah yg tdk bs diperbaharui.

    Bali tdk lebih padat dr Jawa Barat atau Jawa Timur, namun harga tanah & rumah di Bali jauh lbh mahal dibandingkan di Jawa Barat.

    Faktor pengaruh dominan harga tanah & rumah di Bali sgt tinggi adlh industri pariwisata, infra struktur, pengembang & investor yg bertindak sbg spekulan.

    Contoh, Citraland Denpasar, lk. 10km dr pusat kota, hrg rumah type 100/120 start awal Rp700 jt, dlm tempo krg dr 3 thn mjd Rp 2,5M & terus melesat naik namun tetap ada yg mampu membeli. Luar biasa! Sungguh investasi yg mengalahkan saham di pasar modal.

    Sy simpulkan scr sederhana, di Bali (& daerah lain dgn karakteristik yg serupa), industri (pariwisata), infrastruktur yg bagus + spekulan penyebab tingginya harga rumah (di Bali).

  3. Setuju dg mas Yod, emang gak ada larangan tapi akal sehat yg diperlukan. Kasihan anak2nya jgn cuma bisa bikin tapi juga diurusin.

    Yg penting kualitas manusianya bukan jadi buih di ombak lautan…Cuma sy juga kepikiran adanya hukum alam.

    Paling kalo kebanyakan akan punah sendiri karena penyakit, konflik, bencana alam ataupun perang. Ingat, di Eropa itu sepi karena perang dunia 1 dan 2 lho.

    Orang India dan Cina banyak yg berimigrasi ke Kanada atau US karena sudah padet dan merana di negaranya sendiri…hehehe

  4. Oh iya…tambah banyak penduduk bagus bagi pengusaha biar dapat buruh dengan upah murah dan pangsa pasar yg besar. Mantaap mas…si pengusaha bisa tinggal di Singapore atau Eropa biar gak puyeng liat jumlah manusianya…xixixi

  5. Hmm.. postingan Mas Yodhia kali ini sepertinya agak berbeda dengan postingan yang biasanya.. Mohon maaf, agak gimanaaa gitu..

    Btw itu banyak anak adalah penyebab mahalnya harga Rumah, apakah memang based on survey langsung dari para seller/makelar, atau baru hipotesis doang ya Mas?

    Soale yg namanya hipotesis tak akan bisa mengimpact keyakinan 100%.. Kalau pun bisa, it’s not long term.. Tunggu mereka melihat faktanya..

  6. banyak anak banyak rezeki…ya gpp to mas banyak anak..biar rame dunia ini, kalo cuman anak 2 sepi….heheheh…btw mari kita kerja keras dan cerdas supaya bisa beli rumah…bagi yg belum..ya berusaha dunk..jgn cuman berdoa….heheh tks mas yod

  7. Terima kasih atas pencerhaannya Pak. Kali ini sy berbeda pendapat dgn bahasa Bapak :

    ” Maka bagi pasangan muda yang baru menikah (atau bagi Anda yang kelak akan menikah) : be wise in making love with your spouse. Use condoms or spiral.

    Mungkin akan lebih tepat jika redaksionalnya adalah pengaturan kelahiran dan perencanaan keuangan utk antisipasinya.

    Karena setiap mahluk sudah dijamin rezekinya, tinggal proses ikhtiarnya yg perlu Bapak share ke kami.

    Salam,
    Mury

  8. saya pembaca setia blog ini.

    Dan mungkin untuk kali ini saya kurang 100% setuju dengan tulisan mas yodh.. sy tinggal di desa pelosok gunung kidul….banyak diantara mereka yang punya anak banyak dan banyak pula anaknya jadi (sukses) merantau rata-rata jualan bakso/mie ayam atau misal kontraktor, biro jasa listrik dsbnya.

    artinya kalo jumlah besar manusia diiringi dengan peningkatan kualitas manusianya akan menjadikan bangsa ini adalah bangsa yang besar dan punya bargaining tinggi terhadap bangsa yang lain..

    ayo pak yodh…

    kembali sebarkan virus energi positif yg dulu sering pak yod tularkan….misal entrepreuner…semangat belajar dsbnya…

    salam hangat pak yod…(mudah2xan dengan semakin banyak orang seperti pak yodh, negeri ini makin menjadi-jadi )

  9. Ini pandangan ke depan seorang Yodhia Antariksa, saya kira ada benarnya….

    saat ini banyak yang tinggal di sekitaran Bekasi…Depok ..Tangerang maka kalo cuman mikirin diri sendiri ya ga masalah…

    bagaimana dengan anak kita kelak dimana mereka tinggal …. mampu ga anak – anak kita kelak membeli rumah di sekitaran jakarta, depok …

    atau mampu ga kita memberikan warisan kepada anak-anak kita untuk membeli rumah di Jakarta dan sekitarnya….

    dua puluh tahun dari sekarang rumah di Bogor akan menyentuh 1 Milyar untuk ukuran type 60 M2 dan dalam waktu itu anak kita baru fresh graduate…

  10. Melihat dri komentar2, ternyata banyak yg tidak/kurang setuju utk membatasi banyaknya anak (program KB).

    Penulis hanya ingin menggugah kepada kita bahwa dgn meledaknya penduduk, masalah di depan akan sangat kompleks, tidak hanya perumahan saja tetapi pendidikan dan lapangan pekerjaan.

    Ledakan penduduk ini juga yg membuat demand pembelian properti selalu ada dan menyebabkan tingginya harga. Salah satu solusi adalah program KB pemerintah yg tepat.

  11. tulisan anda kali ini sungguh salah kaprah mr Yodhia, karena argumen bahkan teori of Sexual Relationship and Property Price yang asal anda cetuskan diatas benar benar nyeleneh,hehehe

    saya berharap semoga anda bisa berfikiran terbuka untuk membaca komentar atau kritik untuk tulisan anda diatas.

    Karena saya hanya khawatir ada segelintir pembaca pembaca blog setia anda yang asal mengamini karena mindset mereka sudah latah dengan sajian artikel anda yang biasanya selalu luar biasa menggugah.

    thanks

  12. Dian (15) : wkwkwkwkwkw……

    Buat semua :
    inti argumen tulisan ini amat sederhana : ledakan jumlah penduduk adalah sesuatu yang amat serius….dan sangat-sangat berdampak pada harga tanah.

    Simpel : Anda punya lahan 1 hektar, dan hanya ada 2 penduduk didalamnya…..pasti harga tanah 1 HA akan sangat murah. Karena yang mau beli hanya 2 orang.

    Sekarang : anda punya lahan 1 hektar, dan ada 1 juta pendududk di dalamnya. Semua berebut, demand naik, dan dan harga pasti akan melambung.

    Ini prinsip ekonomi dasar yang dipelajari anak SMA dlm Pelajaran Ekonomi.

    Saat permintaan tinggi, harga naik. Permintaan rendah, harga turun.

    Dan FAKTOR UTAMA penentu permintaan adalah JUMLAH KONSUMEN (dalam kasus ini adalah JUMLAH PENDUDUK).

    ———-

    Kalau Anda mau punya banyak anak, oh ya ndak masalah. Pilihan ada di tangan Anda.

    Hanya perlu diingat : saat anak Anda yang nomer lima atau nomer 7, lulus kuliah, mungkin harga rumah sudah Rp 3 MILYAR.

    So, kalau Anda punya tabungan Rp 15M, ndak masalah mau punya anak 2 atau 27. Semua anak Anda bisa anda belikan rumah.

    Lhah kalau gajinya masih Rp 10 juta/bulan atau kurang, terus mau beli rumah dari mana? Dari Hongkong?

  13. Mas yodha sendiri sudah punya anak ? dan berapa ? kali ini saya tidak setuju banget kalo bikin anak dihubungkan dengan laju kenaikan. Ga pa pa…keturunan itu baik ko…KALI INI TULISAN MAS YODHIA SAYA BUANG KE BAK SAMPAH…DAN DIBUANG LAGI KE BANTAR GEBANG!!! LALU DIBAKAR…(soryy nih…)

  14. creative destruction, harap dimaklumi…pemikiran – pemikiran setiap tulisan tidak harus di amini, setidak nya ini adalah gambaran pemikiran mas Yodhia disertai dengan Pengalaman kehidupan mas Yodhia…mas yodhia menginginkan anak-anaknya sekolah sampai S3 dan punya rumah di Jakarta, sementara penghasilan mas Yodhia perbulan hanya 25 Juta, so pantas Beliau Risau melihat harga rumah di Jakarta.

    Coba Mas Yodia beli rumah di Pulau Madura…pasti dapet 100 M2 dengan harga cuman 25 Juta.

    so,, kita ambil hikmahnya saja, ada orang yang lagi galau, kan yang baca blog ini masih banyak menyimpan optimisme bisa kebeli kok rumah dengan cara lain ( punya mantu Orang Kaya ; Punya Nasib baik tiba – tiba diangkat jadi Direktur ; Anaknya bisa dapat beasiswa dsb)

  15. He he … Betul sekali. Pengendalian diri itu penting. Makanya namanya KB Keluarga Berencana, rencanakan dengan baik keluarga kita. Tapi bukan berarti mengurangi unsur sex kan…cuman kelahiran aja yg dikendalikan.

  16. Saya setuju dengan mas Yodia.. Ini prinsip ekonomi dimana2..

    Tenang Mas Yod kenyataan memang pahit, jadi banyak yg komentar isinya Denial dan Anger..

    Saya Aja yg gaji 17 juta belum punya mobil dan rumah hehehe..

    Tahun depan harus Gaji naik 100% kalo gitu…

  17. Salam kenal mas Yodh,

    Menambahkan pendapat, sebagai Agen Properti, kenaikan harga rumah dan tanah cukup banyak faktor penyebabnya.

    Selain yang disebutkan mas Yodh (lonjakan jumlah penduduk), juga memang sangat terkait lokasi dan perkembangan bisnis di wilayah tsb.

    Di Cikarang sendiri, yang notabene adalah kota dengan kawasan industri terbesar se Asia tenggara, harga rumah dan tanah sudah cukup tinggi (tapi belum semahal di Jakarta atau Bali). Untuk rumah ukuran 100M masih 100-300 juta (tergantung lokasi).

    Tempat tinggal adalah kebutuhan pokok bagi setiap orang. Dan seiring pertumbuhan ekonomi, harganya pasti akan semakin melambung.

    Dibutuhkan peran pemerintah dalam mengatur kenaikan harga properti agar tidak menggila dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

  18. Terima kasih atas pencerhaannya Pak. Kali ini sy berbeda pendapat dgn bahasa Bapak :
    ” Maka bagi pasangan muda yang baru menikah (atau bagi Anda yang kelak akan menikah) : be wise in making love with your spouse. Use condoms or spiral.

    Mungkin akan lebih tepat jika redaksionalnya adalah pengaturan kelahiran dan perencanaan keuangan utk antisipasinya.
    Karena setiap mahluk sudah dijamin rezekinya, tinggal proses ikhtiarnya yg perlu Bapak share ke kami.

    Salam,
    Mury

  19. Hehe…mantap tulisan Mas Yodhia ini. Dengan gaya tulisan yang provokatif dan rada-rada Oxymoron..cukup berhasil memancing respons pembaca! 🙂

    Lanjutkan, Mas Yodh. Ide atau gaya penulisan out-of-the-box (baca: nyeleneh) seperti ini perlu lebih sering dilakukan. Saya akan menikmati membacanya 🙂

    Salam dari Riau,
    Fahri.

  20. Saya tidak sependapat
    2 anak saya rasa kurang dalam kehidupan rumah tangga
    terlalu sedikit

    dan mempunyai anak lebih dari 2 menurut saya itu bukan dosa seperti tulisan di atas , anak adalah anugerah dari Allah

  21. Makin banyak suami istri gemar melakukan RITUAL MAKING LOVE (“sesuatu”)
    Kualitas lebih penting daripada Kuantitas.

  22. perlu dipikirkan juga mengenai program 2 anak cukup, karena teman ada yg anaknya 12, tapi masing2 sudah ada jatah mobil dan rumah.

    Namun bagaimana yg lain? perlu penanganan serius

  23. komentar sy, segala sesuatu sudah ada yang mengatur, terkadang rijki itu tidak bisa di hitung dengan hitungan matematika.

    kalo Allah sudah tetapkan orang punya rumah sekalipun gaji kecil ataupun belum bekerja , maka harga dan segala macamnya tidak berpengaruh.

    soal berbeda persepsi itu hal yang wajar karena masing2 kepala juga berbeda isinya, inilah sebetulnya yg disebut strategi manajemen yg diinginkan, banyak komentar banyak pendapatan.

  24. tulisan Mas Yodhia bisa diterima bisa juga tidak…tergantung persepsi pembaca…

    secara prinsip ekonomi benar adanya bahwa akibat banyaknya permintaan melambungkan harga properti…meningkatnya permintaan bisa diakibatkan dua hal : 1) ledakan penduduk. 2) naiknya daya beli masyarakat.

    Saya cenderung melihat nomor dua, memang kenyataan begitu saat ini daya beli masyarakat Indonesia meningkat.

    Tidak hanya properti, harga lainnya pun melambung tinggi, tas merk terkenal aja terbeli.

    Yang jadi masalah adalah adanya para opportunis yang melambungkan harga seenaknya yaitu developer.

    So solusinya bukan membatasi anak tapi lebih ke meningkatkan pendapatan, sehingga pendidikan meningkat otomatis pola pikir masyarakat berubah ‘banyak anak (bukan lagi) banyak rejeki’.

    Jadi?

  25. Kalau diliat, masih banyak banget tanah kosong di daerah serpong. Jadi ini bank tanah yang disimpan oleh para developer.

    Trus kalau diliat lagi, rumah yang sudah laku, kaga ada penghuni, jadi yang beli rumah tuh para investor yang punya banyak duit.

    Jdi kurang tepat juga sih harga naik karena orang rajin ml.

    Yang ada karena banyak orang rakus pengen dapet untung investasi dan perusahaan developer yang dengan taktik jitunya berhasil memperkaya diri sendiri dengan signifikan. Bangun rumah seiprit2, tiap seminggu sekali harga dinaikkan.

    Jadi kesannya banyak demand.Karena banyak penduduk tapi penghasilan rata rata segitu segitu doang, maka harga tanah kaga akan naik signifikan, pada gak mampu beli.

    Hanya segelintir orang yang punya banyak duit aja beli rumah sebanyak banyaknya.

    Wong pernah pas gw ikutan acara booking penjualan rumah sebuah perusahaan properti terkenal yang kalau menjual sampai harus diundi, ada satu nenek nenek yang beli 10 rumah cash.

    Dan ketika ditanya buat apa, dia dengan enteng iseng aja. Dalam hati gw mau beli satu aja kaga bisa kebeli (waktu itu aku ikutan acaranya untuk beli rumah tapi buat orang lain, bukan buat gw sendiri).

  26. Satu lagi bukti bahwa artikel ini tidak relevan adalah di china, yang jumlah penduduknya 5 kali lipat indonesia, harga rumah malah turun.

    Karena harganya sudah terlalu tinggi, orang pada gak ada yang mampu beli. Di singapore juga sama.

    Memang sih singapore jumlah penduduk gak sebesar indo, tapi lahan mereka sudah sangat terbatas.

    Nih buktinya: http://properti.kompas.com/read/2014/07/01/1355514/Harga.Rumah.di.Singapura.Turun.Tapi.Masih.yang.Termahal. http://ekbis.sindonews.com/read/875348/35/harga-rumah-di-china-turun.

  27. Udah pernah hitung blom pak jumlah penambahan rumah/tempat tinggal di Indonesia?

    Jumlah penduduk blom sampe 2x lipat, jumlah rumah kayaknya malah udah 2x lipat deh.

    Terlalu banyak orang tajir yg invest rumah dan tanah, jd harganya melambung.

    Suatu saat harganya pasti terkoreksi saat pembangunan makin merata. Angin tidak selamanya berhembus ke arah yang sama.

  28. Kita Umat Manusia yang masih punya Iman. Setiap kelahiran bayi ke dunia sudah diatur oleh Allah.

    Manusia hidup di dunia berjuang menghadapi realita vs idealita.

    Ada keluarga yang berjuang ingin punya anak…ternyata belum juga diberi….Allah yang menentukan.

    Ada juga yang ingin membatasi anaknya….ternyata jadi juga. Karena Allahlah semuanya yang menentukan.

    Ada juga yang kaya raya…anaknya cuman satu saja.

    Ada yang cuman satu….itu saja dapatnya penuh perjuangan, kepingin menambah, tapi tidak dikasih, Allahlah yang menentukan.

    Ada juga teman saya, anaknya sudah 9. Subhanallah….. Manusia bolehlah berencana sesuai kemampuannya masing-masing.

    Tapi Allahlah yang menentukan segala-galanya. Allahlah yang menentukan rezeki, kehidupannya didunia, dan menentukan kematiannya kelak.

    Wallahu”alam Bishowab.

  29. wah tulisan yang ngeri yang gak mendatangkan promosi. kalau rumah mahal mending bikin rusun gpp lah. impian punya taman sudah hampir mustahil di negeri ini.

  30. Saya blum menikah, tinggal di desa. Dan saya sudah kpengen pindah dari kampung halaman karena sudah PADAT.

    Akibat ledakan penduduk yg sudah terasa di desa:
    – Macet
    kecelakaan sampai meninggal sudah biasa
    – Banyak pengangguran
    tapi cari tenaga buat ngurus sawah susahnya minta ampun
    – Sampah dimana”
    di pinggir jalan, sungai, blakang rumah
    – Banjir
    sungai berubah jadi Selokan karena berada di depan rumah
    – Polusi:
    -> Udara
    dari pembakaran sampah rumah tangga
    -> Suara
    radio/musik dari desa sebelah kedengeran
    -> Air
    air sungai penuh obat”an sawah, air tanah berbau minyak (SUMPAH!)
    – Persoalan sosial menumpuk
    perselisihan muncul, DUKUN bertindak!

    dan-banyak-lainnya

  31. faktor anak bukan faktor utama, manakala orang yg punya banyak anak harus bertanggung jawab dengan anak2nya keluarganya, kembali kepada pribadi orangnya, banyak anak banyak rizki…

  32. Om Yodhia, coba sekali2 main ke pelosok kalimantan tengah, disana ada kabupaten yang sepi banget (5 jam dari ibukota propinsi pake mobil), dan kayaknya kehidupan disana kurang meriah 😀 dan disana harga tanah masih relatif murah, yg mahal malah biaya tenaga kerja….jadi masalahnya persebaran penduduk yg timpang. pulau jawa terlalu padat

  33. Tidak seperti tulisan biasanya, bahasa penyampaian dan analisa nya bukan seperti tulisan mas yod…di hack kah blog nya?

  34. indonesia masih bisa menangani kok dengan yang namanya ledakan penduduk, tanah negeri ini sangatlah luas

    mungkin yang pak Yodha maksud adalah, Kota2 besar di indonesia (apalagi di jawa) yang sudah tidak bisa lagi menahan laju ledakan penduduk, ini yg membuat tanah semakin mahal di kota-kota besar

    saya setuju kalau “jangan bikin anak seenaknya” bisa menjadi solusi untuk mengatasi ini

    alternatif lain adalah Program Transmigrasi digalakkan kembali sehingga penyebaran penduduk jadi lebih merata

    atau bangun infrastruktur internet yang capable lalu persilahkan karyawan untuk kerja secara remote, saya pikir 25% kerjaan kantor di negeri ini sesungguhnya bisa dikerjakan secara jarak jauh, dengan demikian para karyawan ini tidak harus tinggal dekat kota yang memang harga tanahnya sangat mahal

  35. Hukum ekonomi klasik, bs berlaku jk Anda tdk pertimbangkn faktor lain..
    Faktanya: Saya punya 2 teman.
    Yang satu adlh dosen lulusan s2 luar negeri.
    Punya 2 (Dua) Anak , sampai usia hampir 50th, tetap tdk mempunyai rumah.
    Yang kedua adlh petugas TU (tata usaha) dikampus yg sama,
    sehari-hari kerjanya byk mengantar/fotocopy berkas mahasiswa.
    Punya 4 (Empat) Anak , usia hampir sama. Sekarang memiliki 2 rmh. dan satu kos-kosan dibelakang tempat tinggal nya..

    Wallahua’lam.

  36. ikut nimbrung mas n mbak blogger,untuk masalah mampu atau ngk mampunya orang orang di indonesia untuk membeli rumah ,sebenarnya bukan dari faktor keturunan yang mendorong harga rumah maupun tanah melangit di indonesia.

    pada umumnya masalah sex/hobby bikin anak /banyak keturunan en so on itu suatu kebutuhan dan kewajiban( walaupun diganjal pakai (spiral),di basmi pakai (pil kb) dan di bunkus pakai karet(kondom),

    kalau yang kuasa kehendaki tetep aja jadi)sebenarnya yang kuasa udah kasi durasi untuk suatu kelahiran 1 tahun 1 anak

    jadi secara matematise maupun logis itu semua normal

    cuman pola pikir kita lah yang harus dibalik dari yang sebenarnya terjadi di sekitar kita /di indonesia.langsung aja dah nih masalahnya kenapa harga rumah maupun tanah di indonesia begitu melejit,faktor pertama adalah pemerintah kenapa?

    ni uraiannya 1 – hukum pertanahan maupun aturan yang ada saat ini selalu miring sebelah

    jadi dinegara kita banyak/oknum yang selalu mengkomercialkan/dagang aturan contoh seseorang dan teamnya yang membuat surat tanah atau sertifikat selalu lama dan mahal/proses bisa tahunan/dan harga bisa jutaan rupiah.

    kalau saya bayangkan ni bingung buatnya atau sengaja di ulur supaya antri,antri antri n suap /harga up …

    pembuatan suatu dukumen yang memakan waktu hingga tahunan,kan cuma biaya pengantian biaya cetak blanko sertifikat,pegawainya kan udah digaji ama uang pajak

    sementara rumah yang terbangun hanya butuh waktu bulanan aja,ngk masuk akal.kalau di cermati dari dukument tersebut juga ngk profisonal,tanah sebelah barat pak adi sebelah timur pak ucok sebelah selatan jalan sebelah utara ranah negara

    kalau begeser 100 meter saya rasa masih ngk berubah bahkan 1 kilo meter pun masih sama asalkan di satu desa/1 rt,kan bisa gunakan gps /kordinat.

    akhirnya yang punya uang aja yang bisa beli dukumen/sertifikat,saat jalan raya(uang pajak,) terbangun nilai investasi tinggi jadi banyak yang ikut nebeng investasi negara.itu satu contoh faktor terpengaruhnya harga rumah.

    trus faktor kedua dari pertambangan/pemerintah yg beri ijin,kenapa harga beras 1 ton sekitar 10 juta dibandingkan batu-bara hanya 500 rebu per ton

    sementara mencarinya didalam bumi,jauh jauh inggris,belanda dan jepang yang risih ama tanah di negaranya yang sering di ayun ama gempa menjajah indonesia yang subur

    (sebar 100 biji lombok tumbuh 90 bibit lombok ,yang kuasa kasih kemakmuran tapi polafikir kita yang dangkal/malas)…

    trus faktor ketiga upah yang murah/harga murah sebuah skill maupun karier di indonesia di karenakan UMR/UMP yang di buat pemerintah sama sama pengusaha

    dari sekolah kita udah di ajarkan makan 4 sehat 5 sempurna,kenyataanya dalam seminggu 4 hari makan tepung ciptaan jepang/mie instant ama telur omega paksa

    bagaimana mungkin seorang laki laki indonesia bisa memplaning /goal setting /perencanaan 5 tahun kedepan di dalam suatu pekerjaan kalau mindseatnya di dapur rumah….

    menabung untuk membeli sepeda kalau udah naik kelas/sesudah besar ambil motornya/mobil /rumahnya baru bayar ,kan banyak bunga bunga

    bunga kan riba itu, gemana peran MUI, jangan mau membicarakan rokok /haramkan rokok (cara pengusaha di indonesia yang bisa ngelipat gandakan laba dan semau gue manfaatin duit nya untuk usaha,yang berganti ganti akhirnya ngk langgeng/profesional selanjutnya bangkrut)

    trus masih banyak faktor lagi yang mempengaruhinya.trus pajak yang tinggi (semua dibuat 10% akhirnya pada rekayasa bayarnya bahkan ngk mau tau dengan pajak)cukup 3 faktor aja dah pusing mbenahinnya.

    maaf mas yodhia saya agak beda pendapat dengan anda dan para komentator

  37. Penyebabnya bukan krn jmlh penduduk mas, karena kesenjangan sosial yg tinggi buktinya rmh harga berapapun laku ajah, yg utama adalah nilai rupiah yang semakin menurun,tp lebih utama lagi penyebaran penduduk yg tidak merata

  38. gak nyangka strategi manajemen bikin tulisan kayak gini… very very un-educated writing…

    tak ada riset, hanya bekal data gaji dan harga rumah lalu bawa-bawa urusan ranjang, kok bisa masuk jadi teori manajemen…

    Belum lagi tulisan ini sangat bias “orang kota”. Penulisnya harus banyak-banyak berkunjung ke daerah “non-kota”.

    Tentang sexual relationship, analisanya kurang tajam dan logikanya kurang nyambung… bahkan terlalu vulgar…

    Saya sungguh tidak menikmati membaca ini…

  39. Statemen anda tentang orang yang memiliki anak banyak sungguh sangat jauh dari pengetahuan dan standar ilmiah. lihat apa yang dialami eropa, amerika, dan jepang, mereka sangat khwatir karena kehilangan angkatan muda, lihat china karena memiliki angkatan muda yg banyak. Sesungguhnya Rasulullah sangat bangga dengan jumlah umatnya yang banyak. anak bukanlah beban tapi sumberdaya bagi keluarga dan negara

  40. Masalahnya sebetulnya pd kenaikan gaji, kebijakan pemerintah yang tidak merata

    negara ini kapitalis, pihak swasta yg kaya makin kaya, yg miskin dr sononya tetep aja miskin..brlomba2 ambil keuntungan tanpa mendepankan Humanisme..bukan sodara ini hajar ajaa..mencret-mencret..

    pemerintah bukannya bijaksana, tapi malah pada korupsi..

    Prinsip orang sukses itu bukan lari dari masalah, tapi hadapi masalah..para penguasa bisa nya menyalahkan..bukan cari solusi.

    kalau cari2 kesalahan semuanya punya salah.

    masa anda menyalahkan manusia yg baru lahir, sementara para koruptor penjahat berdasi adem ayem aja…

    menurut sya admin berfikir subyektif dah..

    kalau anda cari kesalahan, semua pasti punya

Comments are closed.

Pilih Kaya atau Misqien?

Dapatkan Buku yg Sangat Mencekam tentang Jurus Meraih Financial Freedom yg Barokah. GRATIS!