5 Buku Bisnis yang Layak Anda Baca

Membaca buku, terutama buku dengan mutu bagus, tentu merupakan sebuah lelakon yang kudu terus disuntuki. Sebab dengan itu, maka jagat pengetahuan kita bisa terus mekar dan bentangan wawasan bisa terus ditumbuhkan. Membaca buku dengan kata lain, merupakan elemen penting dalam proses self development and self learning yang terus berkelindan tanpa kenal letih.

Itulah kenapa disela-sela kesibukan kerja yang acap padat, saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku – khususnya buku bisnis dan manajemen yang berkualitas mak nyus. Seperti bulan lalu misalnya, saya menyempatkan diri untuk membeli dan membaca lima buku bisnis manajemen yang saya kira bagus-bagus.

Seluruh lima buku bisnis ini mendedahkan sebuah pengetahuan penting tentang budaya perusahaan, tentang rahasia dibalik peak performance, dan tentang sisi gelap irasionalitas manusia dalam mengambil keputusan bisnis. Mari coba kita bahas satu per satu disini.

Buku yang pertama bertajuk : Delivering Happiness: A Path to Profits, Passion, and Purpose. Buku ini merupakan sebuah kisah tentang toko sepatu online zappos.com yang sangat terkenal dengan budaya layanan pelanggan yang wow. Tony Hsieh penulis buku ini dan sekaligus CEO Zappos, masih berumur 35 tahun, mengisahkan perjalanan bisnisnya dengan sangat memikat. Ringan dan mengalir.

Didalam bukunya Tony menceritakan dengan detil bagaimana ia membangun budaya kerja yang mampu mendeliver wow experience bagi para pelanggannya. Salah satu kuncinya adalah ini : sebuah perjuangan tanpa henti dari dirinya untuk membangun lingkungan kerja yang penuh dengan fun, minim birokrasi dan membebaskan karyawannya untuk melakukan improvisasi. Buku ini saya kira layak dibaca oleh semua pengelola bisnis di tanah air yang pengin mempersembahkan layanan pelanggan nan cemerlang.

Buku kedua bertajuk : The Upside of Irrationality: The Unexpected Benefits of Defying Logic at Work and at Home. Sebuah buku yang membongkar sisi irasionalitas manusia dalam bertindak dan berpikir – utamanya dalam dunia kerja. Salah satu temuan buku ini layak disimak : ternyata memberi bonus yang terlalu tinggi bagi karyawan justru berdampak negatif bagi kinerja dan produtkivitas.

Pelajaran penting dari buku yang ditulis oleh pakar behavior economics ini adalah kepekaan untuk selalu menguji dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang mungkin selama ini sudah dianggap taken for granted. Kita harus selalu sadar dan peka terhadap sisi emosi dan irasionalitas yang setiap saat selalu menyelinap dalam keseharian kita. Think clearly and objectively memang acap mudah untuk diucapkan namun duh kadang amat sulit untuk diterapkan.

Buku ketiga berjudul The Facebook Effect: The Inside Story of the Company That Is Connecting the World. Buku setebal 380 halaman ini secara sangat elok menggambarkan sejarah Facebook sejak embrio pendiriannya. Di-narasikan dengan indah, buku ini menceritakan drama perjuangan dan pergulatan gagasan dibalik setiap perubahan bisnis Facebook (mulai dari proses kelahiran, visi bisnis mereka higga fitur-fitur apa yang perlu diubah dan ditambahkan). Buku ini dengan sangat baik memberi pelajaran penting tentang bagaimana mengelola pertumbuhan bisnis yang meroket, dan bagaimana memadukan idealisme dengan ide bisnis yang visioner.

Buku keempat berjudul Talent Is Overrated: What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else. Buku ini mengulik rahasia dibalik setiap peak performance. Rahasianya ternyata tidak terletak pada bakat (talent) seperti yang selama ini banyak dipercaya. Studi after study menunjukkan bahwa kehebatan Mozart, Tiger Woods atau musisi legendaris John Lennon ternyata lebih bertumpu pada prinsip 10,000 hours of deliberate practice yang panjang, melelahkan, dan acap membutuhkan ketangguhan mental.

Deliberate practice bukan sekedar latihan (practice) biasa namun proses berlatih yang difokuskan pada area tertentu, dan semua itu terus diulang selama 10,000 jam (atau sekitar 5 jam selama lima tahun tanpa pernah berhenti). Setiap insan unggul dalam beragam bidang ternyata selalu melewati rute 10,000 jam itu sebelum mereka benar-benar menjelma menjadi top performers.

Buku kelima atau yang terakhir berjudul The Checklist Manifesto: How to Get Things Right. Buku ini mau mendedahkan sebuah prinsip yang sederhana : bahwa menggunakan checklist sebelum memulai pekerjaan – apapun pekerjaan itu, mulai dari operasi pembedahan hingga menjalankan pesawat atau mesin turbin – ternyata memberikan dampak signifikan bagi produktivitas kerja.

Ceklist adalah sesuatu yang sederhana, namun begitu sering dilupakan. Padahal seperti ditunjukkan dalam buku ini, perannya dalam meningkatkan mutu pekerjaan sungguh tak terbantahkan.

Demikianlah lima buku yang selama sebulan ini menemani saya. Tak ada yang lebih saya nikmati selain duduk leyeh-leyeh di Sabtu atau Minggu sore yang teduh, lalu membaca lima buku ini sambil menunggu bedug Maghrib berkumandang. Bagi saya, momen sederhana semacam inilah yang membuat hidup terasa begitu indah.

Yes, life is so beautiful.

25 comments on “5 Buku Bisnis yang Layak Anda Baca
  1. Pingback: Twitter Trackbacks for 5 Buku Bisnis yang Layak Anda Baca | blog strategi + manajemen [strategimanajemen.net] on Topsy.com

  2. HAri ini serasa lain ya , momentnya dah lebaran kok gak ada ucapan lebaran untuk temen – temen pembaca setia blog ini , apa lupa moment sekarang sudah mendekati idul fitri . kenapa tidak memuat moment yang sangat penting .

    thank’s See you the top !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11

  3. Checklist adalah sesuatu yang penting dalam pekerjaan saya di kantor, krn begitu banyak hal yang harus dilakukan dalam satu hari…dan saya lebih mengandalkan penggunaan Post – It, tempel di depan monitor, daripada HP,PDA,dan sejenisnya…Nice Post…Salam selalu

  4. Wow… nice info…Buku 4 dan 5 bikin saya ngiler…
    Temans, ada yang pernah liat buku itu dipajang di The Times ga?

  5. Mas Yodhie, buku kedua lebih menggelitik saya. Terutama temuannya tersebut, hampir sama apa yg terjadi dgn perusahaan di tempat teman saya bekerja, dimana karena bonus yg diberikan sedemikian besarnya maka pada waktu awal tahun ketika kita membangun BSC/KPI terjadilah KPI Gaming. Dimana KPI yg dipilih adalah KPI yg mudah di capai dan dgn mudah dicapai maka score yg didapat bisa maksimum. Sehingga Improvement yg diharapkan tidak terjadi krn hanya mengejar score saja. Nice info.

  6. Buku yang keempat sepertinya penjelasan lebih lanjut dari “Outliers” – Malcolm Gladwell. tentang kaidah 10.000 jam.

    Btw, terima kasih atas review-nya mas. saya tertarik dengan buku yang pertama dan yang ketiga.

  7. Bro Yodhia,

    Big thanks ya atas infor buku dan resumenya. Membaca resumenya saja sudah membuat sangat tertarik.
    Again, terima kasih

Comments are closed.