5 Pilar Koentji untuk Membangun Kekayaan Bangsa dan Kekayaan Dirimu

kid-imagination-wallpaperKekayaan dirimu saat ini sebenarnya dipengaruhi juga dimana kamu hidup, atau apa negaramu saat ini.

Jika Anda saat ini hidup sebagai warga negara Singapore misalnya, mungkin Anda akan lebih kaya dibanding hidup sebagai warga negara Zimbabwe, Timor Leste atau Suriah.

Dus, kekayaan bangsa yang kamu tinggali amat menentukan jalan rezeki hidupmu.

Berikut 5 pilar koentji untuk meningkatkan level kekayaan bangsa, dan pada gilirannya kekayaan dirimu juga.

Alurnya sederhana : jika level kekayaan bangsamu meningkat, maka kekayaanmu juga akan ikut meningkat. Kecuali Anda selama ini cuma bengong, ngalamun dan sibuk main medsos, dan no action.

Pertanyaannya : apa saja pilar kunci untuk meningkatkan level kekayaan bangsa? Ada lima pilar yang layak ditelisik.

Salah satu ukuran untuk menentukan level kekayaan bangsa adalah PDB atau Produk Domestik Bruto negara kita. Bahasa awamnya, inilah omzet bisnis atau nilai total produksi negara kita.

Saat ini, PDB Indonesia (berdasar harga konstan) adalah sekitar Rp 12 ribu triliun. Lumayan besar. Tertinggi no 8 dunia.

Jadi kalau Anda suka dengar, angka pertumbuhan ekonomi 5%, basisnya adalah PDB yang 12 ribu triliun itu.

Jadi kalau pertumbuhan ekonomi naik 5%, artinya PDB naik jadi 5% x 12 ribu triliun = atau naik menjadi Rp 12.600 triliun (omzet nambah Rp 600 triliun setahun, lumayan)

Idealnya, pendapatan bisnis kita naik 10% dari angka Rp 12 ribu atau Rp 1.200 triliun per tahun. Namun selama ini sulit dilakukan. Makin besar angka PDB-nya, maka makin sulit menaikkan persentase pertumbuhan ekonominya. The law of big number.

Nah, lima pilar kunci pembentuk PDB itu dikenal dengan rumus :

PDB = C + G + I + Nx (Export – Import)

C = consumption
G = Government spending
I = Investment
Nx = Net Export atau export dikurang import

Mari coba kita ulik satu demi satu.

Pilar # 1 : Consumption
Consumption itu ya daya beli sampeyan semua. Semua belanja Anda sehari-hari. Anda beli pulsa, beli odol di Indomart, beli Indomie rebus, beli kondom, beli nasi uduk di warung kakilima, beli baju bekas di Bukalapak, atau beli Vario yang cicilannya ndak lunas-lunas. Ini semua disebut consumption.

And you know what? Daya beli konsumsi Anda itu punya peran lebih dari 60% pembentukan PDB. Jadi makin konsumtif dan hedonis Anda, sebenarnya makin bagus buat ekonomi bangsa 🙂 🙂

Saat pasar Tanah Abang ramai, dan semua mall tetap dipenuhi pengunjung, dan Indomaret tumbuh dimana-mana, maka inilah simbol kekuatan daya beli konsumen Indonesia. Daya beli Anda-anda semua. Dan sekali lagi, sektor konsumsi rumah tangga ini punya peran masif bagi PDB Indonesia.

Saat daya beli Anda kuat, maka para produsen akan happy juga. Sebab jualannya bisa tetap laris.

Pilar #2 : Government Spending
Ini dimuat dalam APBN kita. Tahun 2017 ini, anggaran belanja negara tembus Rp 2000 triliun. Angka yang cukup masif.

Sebagian anggaran dialokasikan untuk membangun jalan raya, jembatan, bendungan, rel kereta api hingga jaringan listrik. Pembangunan infrastruktur ini akan memberikan multiplier effect yang bagus buat masa depan bisnis dan ekonomi.

Infrastruktur pada akhirnya adalah pahlawan utama ekonomi bangsa, demikian mendiang Deng Xiao Ping pernah bilang, saat membangunkan raksasa China dari tidur panjangnya.

Sebagian anggaran dialokasikan untuk pendidikan. 20% wajib dialokasikan pada sektor Pendidikan, atau sekitar Rp 400 triliun. Angka yang juga masif.

Makanya guru PNS sekarang jadi profesi pilihan, lantaran gajinya sudah makin maknyuss. SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang bermutu juga makin banyak.

Anggaran ratusan triliun untuk sektor pendidikan itu mungkin akan kelihatan impaknya 10 sd 20 tahun kedepan. Think positive. Feel optimistic.

Sebagian anggaran lain dibelanjakan buat gaji PNS. Banyak yang bilang gaji PNS yang terlalu banyak adalah pemborosan. Mungkin nggak juga. Sebab gaji PNS itu pada akhirnya dibelanjakan ke pasar-pasar, ke Indomaret – dus, ujungnya ikut menggerakkan sektor konsumsi juga.

Pilar # 3 : Investment
Wujud dari pilar ketiga ini adalah investasi pabrik baru yang datang dari pengusaha dalam negeri atau juga pengusaha luar negeri (foreign direct investment).

Investasi, baik dari PMA atau PMDN merupakan kunci kemajuan kekayaan bangsa. Makin tinggi pertumbuhannya, makin bagus.

Salah satu kawasan industri yang digadang-gadang akan lebih besar dari Singapore adalah koridor segitiga emas Karawang – Cikarang – Bekasi.

Masa depan ekonomi bangsa akan ikut dirajut di segitiga emas itu. Cikarang – Bekasi adalah ikon emas masa depan (makanya ngawur kalau ada orang mem-bully Bekasi. Dia ndak paham ilmu ekonomi).

Salah satu kabar baik lainnya tentang investasi asing : Apple sebentar lagi akan mendirikan Apple Research Center di Kawasan Bumi Serpong Damai Green Office milik Sinar Mas. Mantap juga kalau kelak Anda lihat desain bangunannya. Kawasan green office ini didesain mirip Silicon Valley.

Pilar #4 dan #5 : Export dikurangi Import
Sejauh ini kita surplus. Artinya nilai eksport kita masih lebih tinggi dibanding nilai import.

Import sejatinya juga ndak jelek-jelek amat, sepanjang yang di-import adalah mesin produktif. Bukan barang konsumtif seperti Tas Bottega Venetta seharga Rp 50 juta atau motor Harley Davidson seharga Rp 500 juta.

Komoditi ekspor unggulan kita antara lain adalah tekstil, kelapa sawit, karet, kakao dan kopi. Kalau saja kita sukses dalam proses pabrikasi dan penciptaan nilai tambah produk sawit, kakao dan kopi, bangsa kita akan jauh lebih makmur.

Sayangnya, Starbucks yang sukses ciptakan value added itu. Beli kopi dari petani Rp 500 per cangkir, lalu dijual Rp 50 ribu per cangkir. Value added sebanyak 100 kali lipat. Mantapppp.

Harusnya start up tidak hanya muncul dalam ranah life style yang serba digital. Kita lebih perlu inovator modern dalam dalam dunia komoditi jadul : sawit, kakao dan kopi. Inilah tiga produk masa depan ekonomi bangsa kita.

DEMIKIANLAH, ulasan tentang lima pilar kunci untuk membangun kekayaan bangsa. Jika lima pilar ini tumbuh dengan cetar membahana, maka kekayaan bangsa akan ikut melesat.

Dan saat kekayaan bangsa melesat, maka dijamin kekayaan dirimu juga akan ikut berkibar-kibar.

Sebab dalam bangsa yang makmur, pasti akan muncul banyak warga yang kaya dan makmur juga – kecuali warga yang cuma bengong, ngalamun dan plonga – plongo.

Related Post

Korelasi Agama dengan Kemakmuran Bangsa dan Kekayaan Individu Adakah korelasi antara agama yang dianut sebuah bangsa dan komunitas dengan kemakmuran bangsa itu? Lalu adakah juga korelasi tingkat religiusitas sese...
27 comments on “5 Pilar Koentji untuk Membangun Kekayaan Bangsa dan Kekayaan Dirimu
  1. Berarti koruptor2 kelas menengah ke bawah juga turut berkontribusi di PDB kita ya Mas, mereka biasanya gak mikir kalau belanja karna duitnya gampang didapat..

  2. Dalam pertumbuhan ekonomi negara yang tinggi ini ……

    Kalau ada seorang anak lahir di sebuah desa terpencil, dalam keluarga ekonomi lemah, pendidikan rendah,dan kepintaran seadanya apakah bisa kaya Pak Yodhia ?

  3. kebetulan saya suka belajar tentang ilmu ekonomi makro. tulisan ini membangun khasanah baru akan pertumbuhan ekonomi ke depan.

    Pertanyaannya pertumbuhan ekonomi yang 5% berapa orang yang menikmati ? seperti istilah kaum kapitalis trickle down effect

    best regard,

    Mau penghasilan online di rumah ?
    Join www. BisnisDirumahan.com

    • Betul …
      Seharusnya televisi atau koran-koran dijelaskan begini supaya orang semakin paham tentang pertumbuhan ekonomi.

      Saya jujur baru paham tentang pertumbuhan ekonomi dari mas Yodhia. Meski sering dengar di Tv,
      Saya malah acuh-acuh aja, hehe..

      Saya pikir ngapain memperhatikan pertumbuhan ekonomi negara toh itu urusan pemerintahan saja…

  4. Pilar # 1 : Consumption

    ini nih pilar #1 yang banyak disukai para penjual, karena sebaik apapun produknya, secanggih apapun kemasan dan logonya, dan segencar serta semasif apapun iklannya, kalau calaon pembeli tidak memiliki UANG maka tidak akan membeli 🙂

    Terima kasih dan mencerahkan Kang.
    https://manajemenkeuangan.net | tempat gratis belajar akuntansi keuangan online |

  5. Mas Yodhia ..hutang negara apakah tidak termasuk indikator kemakmuran bangsa? Kalo dengan seluruh beban hutang Indonesia apakah Indonesia masih di bilang Makmur?

  6. Memang setelah saya perhatyikan masyarakat kita sukanya konsumtif, tapi kesempatan buat para pembisnis atau pedagang karena secara tidak langsung barang-barang mereka akan laris, dan tetntunya harus putar otak untuk bersaing di dunia bisnis, mengingat persaingan saat ini sangat banyak

  7. Kalau kita mau kaya, sebaiknya membangun usaha sendiri terutama usaha Micro dulu kalau sudah sukses pindah ke usaha Macro.
    Makasih strategimanajemen.net yang sudah memberi wawasan banyak tentang ide bisnis ini.
    sangat bermanfaat bagi saya

  8. Wah, analisanya mirip dengan yang saya tulis di blog saya. Bedanya, saya berfokus sama daya beli anak muda di industry e-commerce. Btw, saya juga pakai rumus itu sebagai dasar asumsi. Hahaha

  9. Kita tidak bisa memilih dimana kita lahir, tapi bisa berusaha untuk menjadi sukses..
    PDB yang segitu masih menyisakan ruang, makanya pertumbuhan Indonesia salah satu yang tertinggi.. Belum sampai titik jenuhnya..
    itu bagus banget buat yang baru mulai berbisnis..

    Thanks for this article

  10. Semakin tinggi tingkat konsumsi berarti semakin tinggi tingkat ekonomi bangsa. Semakin tinggi tingkat konsumsi, juga dapat menggerakan tingkat inflasi. Apakah artinya semakin tinggi inflasi jugaberpengaruh terhadap tingkat ekonomi suatu bangsa?

  11. Artikelnya mencerahkan. Semoga ekonomi Indonesia makin tahun makin membaik.

    Lalu bagaimana dengan hutang piutang negara ini. Barangkali pak Yodhia punya bahasan yg menarik tentang ini.

  12. Masih bnyk komoditi jadul yg wajib mendapat sentuhan digital..

    Bangsa yang luar biasa. 5 kunci diatas mkin mantab bila di genjot dengan semangat Trisakti nya Bung Karno

    Negara Maju Rakyat Makmur

    Selamat Berjuang meraih Kesuksesan Dunia dan Akherat

  13. Cina dengan jumlah penduduk mencapai 1,3 milyar bisa melakukan pertumbuhan ekonomi 6-7%.
    Indonesia dengan penduduk 250 juta. Seharusnya juga bisa.
    Pemerintah dan rakyat harus bersinergi.
    Orang kaya jangan itu-itu saja. Semoga akan muncul saat OKB-OKB baru, terumasuk saya.
    Amin.

Comments are closed.